
"Astagfirullah, badan kakak panas banget. Apa jangan-jangan kakak demam" panik Mita menutupi tubuh Yudi dengan selimut agar tak merasa menggigil.
Mita segera keluar kamar mengambil air dan segera mengompres Yudi, setelah itu baru ia menuju ke mushola.
"Kakak kok bisa demam!" Seru Mita yang berjalan dengan lesunya.
"Lho suami kamu mana kok gak ikut turun sama kamu?" Tanya Hendra.
"Kakak demam pah! Badannya panas" ucap Mita dengan wajah yang sedikit sedih.
"Yaudah nanti baru kamu jagain ya, sekarang kita magrib dulu" ucap Hendra menenangkan Mita.
Kini mereka sudah berada di meja makan ya tentunya untuk makan lah. Mita bergegas menghabiskan makanan nya dan setelah itu ia akan pergi ke kamar untuk mengecek keadaan Yudi.
Mita terlihat sudah menghabiskan makanan nya, dirinya langsung pamit untuk pergi ke kamarnya.
"Pah, Mah! Mita ke kamar duluan ya" ucap Mita setelah makanannya habis.
"Kok kamu buru-buru" tanya Elis.
"Mau lihat keadaan kak Yudi sudah turun atau belum panasnya" ujar Mita.
"Kamu ambilkan dia obat demam di laci sana" tunjuk Elis pada meja yang tak jauh darinya. Setelah mengambil beberapa obat, Mita pun berjalan menaiki tangga dan tak lupa dengan membawa air minum untuk Yudi.
"Beruntungnya anak kita punya istri yang perhatian seperti Mita" gumam Elis namun masih terdengar oleh Hendra dan Zura.
"Itukan pilihan kita mah" sambung Hendra tersenyum.
Sesampainya Mita di kamar, ia melihat Yudi yang masih tertidur dengan lelapnya, perlahan ia mengambil handuk yang sudah sedikit mengering di kening Yudi bekas kompresan tadi.
"Kak, bangun dulu minum obat" perlahan ia membuka mata, dilihatnya Mita yang duduk di samping ranjang miliknya. Mita membantu Yudi untuk duduk agar bisa lebih mudah untuk meminum obat.
"Sekarang kakak tidur aja lagi, semoga saja besok udah sembuh ya kak" ujar Mita membaringan Yudi seperti semula.
Mita ingat sesuatu bahwa kemarin ada tugas dari gurunya yang belum ia kerjakan. Ia pun mengambil buku dan kembali seperti semula, duduk di samping ranjang Yudi dengan memandangi buku-buku yang ia pegang, namun ia sama sekali tak mengerti.
Sudah hampir satu jam ia mencoba untuk mengerjakan soal-soal tersebut, bukannya dapat jawabannya ia malah mengantuk, akibat tak bisa menahan kantuk di matanya, ia pun ketiduran dengan posisi masih duduk di kursi dan buku-buku yang masih berserakan.
Jam menunjukan pukul 1 malam, Yudi terbangun karena badannya sudah jauh lebih enak dan sudah tidak merasa panas lagi. Saat ia ingin duduk, ia melihat Mita yang terlelap tidur sambil memegang tangannya membuat senyum Yudi begitu mengembang. Yudi bangkit dan segera memindahkan Mita ke tempat yang nyaman agar tidurnya tidak terganggu, Yudi melihat sekilas buku-buku yang masih berserakan dengan menggelengkan kepala, ia pun langsung memberikannya. Dilihatnya tugas Mita yang masih belum ia isi membuat Yudi mengambil alih dan mengerjakan semua tugas Mita.
Mita terbangun saat adzan subuh sudah berkumandang. Ia heran saat bangun sudah berada di kasur, dan lebih terkejutnya lagi saat melihat ke sekeliling ia malah tak menemukan orang yang ia jaga semalam.
"Kakak kemana ya kok gak ada? Apa kakak sudah sembuh" gumam Mita melihat sekeliling kamarnya.
Tanpa berpikir panjang ia pun segera keluar kamar dan mencari Yudi.
__ADS_1
"Kak Mita ngapain mondar-mandir kesana-kemari" Zura menepuk pundak Mita dari belakang membuat Mita reflek.
"Eh ayam, ayam, ayam" kaget Mita mengelus dadanya yang sudah berdebar-debar.
"Kamu nih ngagetin aja" ucap Mita syok.
"Lagian sih kak Mita subuh-subuh udah heboh sendiri" ujar Zura.
"Soalnya kak Yudi gak ada di kamar! Kira-kira dia kemana ya?" Ucap Mita menatap Zura.
"Cie cie kak Mita nyariin bang Yudi! Takut bang Yudi selingkuh ya" goda Zura menyenggol-nyenggol bahu Mita.
"Ih bukan gitu, Zura!" Sangkal Mita malu dengan pipi yang sudah merona.
"Tenang aja, bang Yudi ada di mushola tuh" tunjuk Zura ke arah mushola dengan senyum jahilnya.
"Ya-yaudah deh kalau gitu, Mita balik ke kamar dulu mau wudhu" ucap Mita gugup dan salting bergegas menuju kamarnya, sedangkan Zura sudah puas tertawa menggoda Mita.
*****
"Yudi, kamu gak sarapan dulu?" ucap Elis saat Yudi berjalan pergi ke kamarnya.
"Gak mah! Nanti aja, lagian Yudi gak ngantor hari ini" ucap Yudi.
"Nanti Mita dianterin aja sama pak Agus ke sekolahnya" seru Hendra membuyarkan lamunan Mita.
"I-iya pah" ucap Mita dengan senyuman.
"Kamu kenapa hari ini banyak diam?" Tanya Hendra.
"Palingan mikirin Bang Yudi, apalagi hari ini gak diantarkan ke sekolah" sambung Zura membuat Mita tersipu malu, dirinya pun mulai memakan dengan tangan. Tanpa menggunakan sendok.
"Tumben kamu gak pakai sendok makannya?" ucap Elis heran.
"Sunnah nabi juga kan pakai tangan Mah" ucap Mita tersenyum.
"Iya benar itu" ujar Elis langsung ikut menggunakan tangan.
Setelah selesai sarapan Zura dan Mita segera keluar rumah karena sopir yang mengantarkan mereka sudah menunggu di luar.
"Biar kakak aja yang nganterin kamu ke sekolah" ucap Yudi yang akan mengambil motor.
"Eh, gak usah kak! Kakak harus istirahat di rumah, biar pak Agus aja yang nganterin" ujar Mita menolak.
__ADS_1
"Biar kakak aja yang nganterin kamu, lagian kakak udah sembuh" kekeh Yudi.
"Pokoknya Mita maunya kakak istirahat dirumah aja" sahut Mita menatap Yudi tajam.
"Iya-iya Cil, nanti pulang sekolah kakak aja yang jemput kamu! Pak Agus nanti jangan jemput Mita ya biar aku aja" setelah mengalah pada Mita, Yudi berteriak pada Pak Agus.
"Siap, Den!" Ucap pak Agus mengangguk.
Yudi bingung, dirinya memang tidak menyukai Mita saat pertama bertemu. Sejujurnya Yudi tidak suka dengan perjodohan itu, tapi sejak Yudi melihat mata gadis itu, tingkah keluguanya, Dan ketulusan dari dalam hatinya bahkan sifat yang jarang ditemui pada diri orang terdekatnya, seketika membuat Yudi tidak ingin melepaskan Mita begitu saja apalagi berpisah dengannya. Dan entah kenapa? Setiap gadis itu menyebut nama pria lain, Yudi selalu ingin marah. Seperti kejadian saat Aryo main ke rumah Mita di desa PADIAN. Entah bagaimana perasaannya, ia pun tak mengerti dan tak mau memikirkannya lebih jauh, yang terpenting ia bisa selalu disamping Mita.
"Finda, kamu sudah selesai tugas yang kemarin dijadikan PR?" ucap Mita datar dan segera mendekati Finda.
"Kenapa? Kamu mau nyontek ya" sahut Finda menatap wajah Mita yang sudah nyengir kuda.
"Hehe.. iya! Aku mau nyontek dong, semalam mau ngerjain tapi gak tau sama sekali" ujar Mita menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nih ambil" Finda memberikan buku yang berisi tugasnya kepada Mita.
Mita membuka tasnya dan mengeluarkan bukunya, padahal semua tugasnya sudah dikerjakan oleh Yudi.
"Loh kok udah ada jawabannya? Padahal semalam masih kosong. Apa kakak yang udah bantuin Mita ya" ucap Mita pada dirinya sendiri dengan wajah yang heran.
"Gak jadi deh, Fin! Sudah ada jawabannya nih" Mita pun membalikan buku Finda karena tak jadi meminjamnya.
"Katanya tadi belum ngerjain? Mana jawabannya benar semua ini mah!" tanya Finda menatap Mita sambil memeriksa jawaban yang sudah tertulis di buku Mita.
"Gak tau! Sudah ada jawabannya sendiri, padahal semalam gak Mita isi. Masa sih kakak yang ngerjain PR Mita" ucap Mita memegang dagunya seperti detektif aja.
"Kamu punya kakak" ucap Finda lagi menatap Mita lebih tajam, namun malah di balas cengiran oleh Mita.
"Eh, Sandi sudah datang!" Sapa Finda melihat Sandi yang baru memasuki kelas.
"Kok kamu kaya orang habis lari maraton?" ujar Finda heran.
"Kirain Tadi aku telat, jadi harus lari naik tangga, ternyata guru masih belum masuk ke kelas" ucap Sandi masih ngos-ngosan.
"Nih tisu" tawar seorang siswi teman sekelas Sandi memberikan tisu.
"Thanks" ucap Sandi tersenyum
Siswi itupun nampak kegirangan karena mendapatkan senyuman dari Sandi yang mempesona para siswi lain.
"Hay Mita" sapa Sandi yang melihat Mita duduk tak jauh dari meja dan kursi nya. Mita hanya membalas dengan tersenyum, lalu kembali menatap buku Tulisnya dan mempelajarinya.
"Apa cantiknya sih tuh murid pindahan! Cantikan juga aku!" kesal salah satu siswi yang tak suka pada Mita.
__ADS_1