Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
bab 49


__ADS_3

Rendy sudah tiba di kantor, ia segera pergi ke ruangan Ken! setibanya di ruangan Ken, Rendy duduk dikursi yang ada didepan meja kerjanya Ken.


"Ruang kerjamu sudah kembali seperti semula," ucap Rendy sembari menghempaskan bokongnya ke kursi.


"Gara-gara elu, gue jadi repot," ucap Ken.


"Maaf," saut Rendy singkat.


Ken tak menghiraukan perkataan Rendy.


"Gimana?" tanya Rendy.


"Gimana apanya?" Ken bertanya balik.


"Jadi gak, ketemu Shila?" ucap Rendy sambil menatap Ken penuh harap.


"Jadi." Ken menatap Rendy sekilas lalu kembali menatap layar laptopnya.


"Ketemuan dimana?" tanya Rendy penasaran.


"Belum tahu. Udah dua hari ini lo ganti profesi jadi wartawan ya?" ucap Ken karena ia mulai bosan menjawab setiap pertanyaan Rendy.


Rendy nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Maaf Ken."


"Sekarang selain bertanya, minta maaf juga jadi kebiasaan lo yang baru." ucap Ken tanpa menatap Rendy.


Rendy tertawa kecil, "kalau bukan minta tolong sama lo, gue harus minta tolong sama siapa lagi? adik gue kan cuma elu satu-satunya Ken," ucap Rendy.


"Lagi butuh aja ngomongnya kayak gitu," ucap Ken.


Rendy tak menjawab ucapan Ken, ia langsung pegi ke ruangannya meninggalkan Ken sendiri di ruangan itu.


Ken menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus pada laptopnya.


Di ruangan Rendy.


Rendy sudah tak sabar ingin bertemu dengan Shila berbagai pertanyaan sudah ia siapkan untuk si wanita pengintai itu.


"Jenny setega itu kah dirimu padaku?" lirih Rendy sembari mengacak rambutnya frustasi.


Selama ini Rendy selalu setia kepada kekasihnya itu namun kesetiaan dan ketulusannya dibalas dusta oleh Jenny.


"Kenapa begitu sulit untuk melupakanmu," ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy tidak fokus bekerja bayangan Jenny yang sedang bercumbu mesra terus terbayang di kepalanya.


Apalagi yang jadi selingkuhan Jenny adalah sahabatnya sendiri, hal itu membuat Rendy semakin marah dan tak bisa mengontrol emosinya.


Rendy membanting gelas berisi air minum yang ada di mejanya.


Diana ketakutan saat melihat sikap bosnya, ia langsung berlari ke ruangan Ken untuk memberi tahukan kejadian yang ia lihat barusan.


Diana mengetuk pintu ruangan Ken dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Masuk!" ucap Ken.


Diana membuka pintu dengan tangan gemeteran!


"Pak," ucap Diana setelah masuk ke ruangan Ken.


"Diana ... kamu kenapa ketakutan gitu, ada apa?" tanya Ken yang mulai khawatir kepada karyawannya itu.


"I-itu Pak. Tadi saya mau masuk ke ruangan Pak Rendy karena ada berkas yang harus beliau tandatangani tapi dia malah membanting gelas ke arah pintu jadi saya takut," jelas Diana.


"Astaga, kenapa lagi tuh anak?" ucap Ken dalam hati.


"Yaudah Diana kamu kembali kerja aja lagi ya. Biar saya lihat dulu Pak Rendy kenapa kan kita bisa repot kalau kakak saya itu stres," ucap Ken sembari tersenyum kepada Diana.


Bisa-bisanya Ken bercanda disaat Diana sedang ketakutan.


Ken berjalan menuju ruangan Rendy, ia membuka pintu dengan perlahan!


"Kenapa lo? masih sayang sama Jenny? masih cinta sama Jenny? gak mau kehilangan Jenny?mau gue bogem lo?" Ken menghujani Rendy dengan pertanyaan dan sedikit mengancam kakaknya itu.


Rendy menatap Ken.


"Gue gak nyangka, sahabat yang udah gue anggap seperti saudara sendiri tega menusuk gue dari belakang," ucap Rendy dengan nada lirih.


Ken melangkah mendekati Rendy yang tengah terduduk dilantai dengan rambut yang kusut dan penampilan yang berantakan.


Ken berjongkok didepan Rendy! "Lo tau gak kelakuan lo barusan membuat orang ketakutan? ingat Ren lo seorang direktur utama di perusahaan ini lo harus jaga sikap jangan sampai urusan pribadi, lo campur adukkan dengan urusan perusahaan." Ken memberi perhatian kepada kakaknya itu.


"Gue gak bisa ngontrol emosi saat gue ingat apa yang Jenny dan Bram lakukan divideo itu," jelas Rendy masih dengan nada lirih.


"Sebesar itukah cinta lo ke Jenny? jika lo gak bisa lupain Jenny ada baiknya lo lepasin Liana sebelum semuanya terlambat. Wanita kalau sudah sakit hati akan sulit terobati," ucap Ken.


"Terus yang lo lakuin sekarang ini apa?" ucapan Ken lagi.


"Aku tidak tahu," ucap Rendy sudah menggelengkan kepalanya.


Ken menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Rapikan penampilanmu. Kita ketemu Shila sekarang," ucap Ken sembari menepuk pundak Rendy.


Rendy melihat jam ditangannya! waktu masih menunjukkan pukul 10:30 wib.


"Belum waktunya makan siang," ucap Rendy.


"Gue sengaja mempercepat pertemuan elu dan Shila," saut Ken sembari melangkahkan kakinya, ia hendak menjemput Shila ke rumah mamanya.


"Lo mau kemana?"


"Jemput Shila. Satu jam lagi kita ketemu di kafe xxx," ucapan Ken.


Rendy tak menjawab perkataan Ken, ia membiarkan adiknya itu pergi untuk menjemput orang yang akan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.


Rendy segera bangkit dari posisi semula, lalu ia masuk ke ruangan pribadi yang ada di dalam ruangannya.


Rendy mengganti pakaiannya dan mulai merapikan kembali rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu kini Ken sudah tiba di rumah mamanya.


Ken memasuki rumah Elma dan mulai mencari dimana keberadaan Shila.


"Ken! kamu ngapain kesini jam segini?" ucap Elma yang melihat Kendra seperti sedang mencari sesuatu.


"Mam, aku mau jemput Shila," ucap Ken tanpa basa basi.


"Baru juga jam berapa? belum waktunya makan siang Ken," ucap Elma.


"Aku sengaja jemput Shila lebih awal Ma, biar aku bisa ngobrol lebih lama sama dia," ucap Ken berbohong.


Baru kali ini Ken membohongi mamanya demi membantu kakaknya.


Elma tersenyum tipis, "kamu duduk dulu ya! Mama mau panggil Shila dulu," ucap Elma sembari berjalan menuju kamar Shila.


Ken tak menjawab ucapan Elma, ia duduk di kursi untuk menunggu Shila.


Tak lama Elma kembali dari kamar Shila.


"Tunggu sebentar sayang. Shila sedang bersiap dulu."


"Oke," saut Ken singkat.


"Ken, kamu suka sama Shila?" tanya Elma.


"Biasa aja," saut Ken.


"Sepertinya kamu cocok sama dia," ucap Elma.


"Sudah kuduga, Mama pasti mengatakan hal itu," ucap Ken.


"Mama ingin kamu cepat nikah Ken."


"Ma, nanti juga kalau sudah ada yang cocok pasti aku kenalin sama Mama dan secepatnya akan menikah," ucap Ken.


"Jawaban yang sama dengan sebelumnya. Gak ada jawaban yang lain ya," ucap Elma.


"Pertanyaan Mama juga selalu sama pasti jawabanku juga sama," ucapan Ken.


Saat Ken dan Elma berbincang Shila datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya.


Ken menatap Shila dari ujung rambut sampai ujung kaki, "kamu cantik mengenakan dress itu," ucap Ken.


Shila tersenyum, "terimakasih."


"Shil, kamu lebih cantik berpenampilan seperti ini," ucap Elma sembari menatap Shila.


"Terimakasih."


Ken dan Shila pun segera pergi dari rumah Elma.


Bersambung.


Teman-teman mampir juga ya ke karya teman ceritanya seru loh.

__ADS_1




__ADS_2