Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 90


__ADS_3

Suatu hari di kafe tempat Biani bekerja.


Biani sedang melakukan pekerjaannya, siang itu Biani hendak mengantarkan pesanan pelanggan. Dia berjalan sembari membawa nampan yang diatasnya terdapat jus pesanan pengunjung kafe itu!


Tiba-tiba Biani terpeleset hingga dia akan terjatuh.


Dengan sigap Galang menangkap tubuh Biani dan akhirnya Biani jatuh ke dalam pelukan Galang.


Untuk sesaat mereka saling bertatapan, disaat yang bersamaan, Rio datang ke kafe nya. Dia berdiri tepat di dekat Galang dan Biani.


"Biani!" ucap Rio dengan sedikit berteriak.


Galang dan Biani berdiri lalu melihat ke arah suara.


"Rio," ucap Biani.


Rio berjalan dengan langkah cepat, menghampiri Galang dan Biani!


"Kak, ini gak seperti yang kamu lihat," ucap Galang.


"Kurangajar!"


Bugh!


Rio memberikan bogem mentah tepat pada bagian wajah Galang.


Galang mundur dua langkah karena kerasnya pukulan dari kakaknya itu.


"Aaaa!" Biani berteriak melihat kejadian itu.


"Kamu salah faham kak."


"Dari awal aku sudah curiga sama kamu ya, dan ternyata kecurigaan aku benar. Kamu berusaha merebut Biani dari aku."


"Rio, kamu salah faham. Tolong dengarkan aku dulu," ucap Biani.


Rio tidak menghiraukan Biani yang berbicara padanya, dia terus menatap Galang dengan tatapan yang dipenuhi kemarahan.


Rio kembali memukul Galang namun saat itu, Galang menghindari pukulan kakaknya!


Beberapa pengunjung yang berada di sana, memilih pergi karena takut dengan suasana di dalam kafe itu!


"Rio! Rio sudah!" teriak Biani.


Beberapa karyawan lain hanya melihat kejadian itu, mereka tidak berani ikut campur dalam urusan pribadi bos mereka.


Rio terus berusaha menyerang Galang, rasa cemburunya membuat dirinya lupa dengan hubungan mereka.


"Kak, dengar dulu penjelasan aku," ucap Galang sembari terus berusaha menghindari serangan dari Rio.


"Semua sudah jelas Galang. Kamu suka kan sama Biani!" Galang berucap sembari terus melakukan penyerangan terhadap Galang.


"Iya, aku cinta sama Biani!" seru Galang.


Rio menghentikan semua pergerakannya, dia berdiri dengan nafas yang terengah-engah tatapannya tertuju pada netra sang adik.


Biani membuka mulutnya sedikit, dia terkejut dengan pernyataan Galang pada Rio. Biani terpaku, dia tidak percaya Galang akan mengakui perasaannya dihadapan Rio.


Tatapan Rio yang tajam, tak lantas membuat Galang ketakutan.


"Aku memang cinta sama dia, aku sayang sama Biani tapi aku berusaha untuk melupakan dia untuk kamu kak. Aku tahu kamu yang lebih dulu mencintainya karena itu aku mengalah."


"Kamu bilang mengalah? Terus apa yang kamu lakukan barusan?"


"Aku hanya berniat menolong Biani."


"Alasan."


Rio kembali melakukan penyerangan terhadap Galang!


Merasa tidak ada jalan lain, Galang melakukan perlawanan untuk membela dirinya dan akhirnya perkelahian antara adik dan kakak itu tidak bisa terhindarkan.


"Aaaa!" teriak Biani.


Biani berlari menghampiri Galang dan Rio!


"Jangan, Bi itu berbahaya!"


Indah mencegah Biani dengan memegangi tangan Biani.


Biani terus berusaha agar terlepas dari genggaman Indah!


Melihat Indah yang sudah kewalahan, temennya Indah membantu Indah untuk menahan Biani agar tidak menghampiri dua orang yang sedang berkelahi itu.


"Lepaskan aku. Aku harus menghentikan mereka," ucap Biani.


"Nggak. Kamu gak boleh ke sana," ucap Indah.


"Mereka bisa terluka. Aku gak mau hubungan mereka rusak gara-gara aku."


Indah dan temannya itu terdiam dan pada saat itulah Biani mempunyai kesempatan untuk terlepas dari genggaman mereka.


Biani berlari ke arah Galang dan Rio!


"Hentikan!" teriak Biani.

__ADS_1


Galang dan Rio tidak menghiraukan Biani yang berteriak kepada mereka meminta untuk menghentikan perkelahian diantara mereka.


"Aku mohon hentikan! Hentikan Rio, hentikan Galang!"


Biani berjalan lebih dekat lagi hingga tanpa sengaja Rio meninju pipi Biani.


Seketika pandangan Biani terlihat suram, kepalanya pun terasa sangat pusing dan sakit.


"Biani!" teriak Rio dan Galang.


Bruk!


Biani terjatuh ke lantai.


"Biani!" teriak Indah dan satu temannya.


Mereka berlari menghampiri Biani yang sudah tergeletak di lantai.


Rio dan Galang segera duduk di samping Biani lalu segera menolong Biani.


Rio meraih kepala Biani lalu meletakan nya di atas pahanya.


"Bi, Biani bangunlah," ucap Rio.


Galang meraih tangan Biani lalu menggerak-gerakkan tangan Biani.


"Bi, bangunlah. Biani," ucap Galang.


"Jangan sentuh dia!" ucap Rio sembari melepaskan tangan Galang yang sedang menggenggam tangan Biani.


Galang tak berkata apa pun, dia membiarkan Rio melakukan apa yang diinginkannya.


Rio segera memangku tubuh Biani lalu membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Indah, buka pintu mobilnya!" ucap Rio pada Indah.


Tanpa kata, Indah segera membuka pintu mobil milik bosnya itu!


Setelah Rio memasukkan tubuh Biani ke dalam mobilnya, dia langsung masuk juga ke dalam mobilnya untuk segera membawa Biani ke rumah sakit.


"Kamu ikut saya. Jagain Biani di belakang," ucap Rio tanpa menghentikan langkahnya.


Indah langsung masuk ke dalam mobil milik bosnya!


Setelah memastikan Indah sudah berada di dalam mobilnya, Rio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Meski dirinya seorang dokter tapi saat itu Rio tidak membawa peralatan medis karena menang saat itu dia bukan mau bekerja namun saat itu dia berniat mengajak Biani makan siang berdua.


Galang menatap mobil yang dikemudikan oleh Rio hingga sampai mobil itu sudah tidak terlihat lagi.


Satu temannya Indah masih berada di kafe itu. Dia berjalan menghampiri Galang!


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Kamu tolong bereskan saja tempat yang berantakan ini," ucap Galang.


Galang mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar dengan menggunakan punggung tangannya.


...****************...


Di kediaman Kayla dan keluarganya.


Arkhana sedang menyiapkan semua kebutuhan di hari pernikahan putrinya yang akan dilangsungkan besok hari.


"Kay, sini deh!" ucap Arkhana sembari melambaikan tangannya pada Kayla!


"Iya, Mam ada apa?"


Kayla berjalan menghampiri Arkhana!


"Kamu udah siapin pakaian mu?"


"Udah, Ma. Hanya untuk satu malam kan?" ucap Kayla.


"Iya, untuk malam nya saja, siangnya kan kamu pakai gaun pengantin."


Kayla tersenyum tipis. "Perasaan, Mama dari kemarin sibuk terus?" ucap Kayla.


"Iya, memang sudah menjadi resikonya kalau mau mengadakan acara nikahan."


"Perasaan orang lain yang menikah gak sibuk-sibuk seperti ini deh."


"Itu orang lain. Sebenarnya semua sama Kay, hanya saja kalau pernikahan orang lain kita gak ikut ngurus segala sesuatu kebutuhannya."


"Mungkin iya, ya Mam."


"Iya lah, masa nggak. Semua orang pasti merasakan saat-saat seperti ini."


...****************...


Di kediaman Elvan.


Elvan sedang menghafalkan jawaban ijab qobul yang harus ia ucapkan pada saat akad nikah besok.


Saat itu Elvan sedang menghafalkan sekaligus latihan agar besok dirinya tidak gugup.


Dengan ditemani oleh Leon, Elvan berlatih di dalam kamarnya.

__ADS_1


Berulang kali Leon dan Elvan mengucapkan kalimat qobul sembari memperagakannya.


"Udah bagus belum kalimatnya?" tanya Elvan pada Leon.


"Bagus gak bagus kalimat qobul kan emang gitu," sahut Leon.


"Maksud aku bukan gitu, maksud ku, aku masih terlihat kurang sempurna gak dalam mengucapkan kalimat qobul?"


"Oh, udah bagus kok. Awas ya kalau besok kamu lupa dengan yang sudah dipelajari dan dihafalkan sekarang."


"Namanya gugup sekaligus terkesima, orang nana bisa mikir jernih."


"Datar bodoh. Tahu gak Van, dulu aku waktu nikah gak pakai latihan ginian segala."


"Aku sama kamu kan beda kak."


"Beda apanya? Kita sama-sama laki-laki."


"Iya, aku tahu. Bedanya kamu memang orangnya sudah biasa bergaul dengan orang banyak, sedangkan aku. Aku malah lebih suka menghindari keramaian."


"Makanya jadi laki jangan ngamar terus. Gaul dong seperti aku."


"Kalau ngomong suka benar."


"Ya benar lah, masa nggak."


...****************...


Tanpa memikirkan lukanya, Rio segera memeriksa kondisi Biani.


Dia tidak ingin kekasihnya itu kenapa-kenapa.


"Gimana, Pak Bos keadaan sahabat saya?" tanya Indah.


"Tidak terlalu parah kamu tidak perlu khawatir," ucap Roi setelah memeriksa Biani.


Saat itu Biani sudah tersadar dari pingsannya. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya juga masih terasa sakit dan pusing.


"Rio," lirih Biani yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.


Rio yang sedang bicara dengan Indah, membalikkan tubuhnya menjadi menghadap Biani.


Rio dan Indah berjalan menghampiri Biani.


"Gimana, kamu udah merasa baikan?" tanya Rio.


"Kepalaku masih sakit," lirih Biani.


Rio menatap Biani dengan tatapan yang dipenuhi dengan kekhawatiran.


"Kamu berdarah, kenapa tidak diobati dulu?"


"Bagi aku, kamu adalah yang utama."


"Aku gak mau ya melihat kalian berkelahi lagi."


Rio menggenggam tangan Biani.


"Aku gak mungkin melakukan hal yang seharusnya tidak aku lakukan, itu semua demi kamu, Bi. Aku gak mau kehilangan kamu."


"Tapi gak seperti itu juga Rio. Kamu lihat, aku jadi ikutan terluka kan."


"Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja melakukan ini padamu.


"Tidak perlu minta maaf, aku hanya ingin kejadian ini tidak terulang lagi."


"Pak Bos, saya izin untuk balik lagi ke kafe ya," ucap Indah yang dari tadi hanya memperhatikan Biani dan Rio.


"Oke, kamu pergi saja," sahut Rio.


"Bi, cepat sembuh ya," ucap Indah pada Biani.


Biani menganggukkan kepalanya perlahan.


Indah langsung pergi meninggalkan Rio dan Biani di dalam ruangan itu.


...****************...


Galang pergi dari kafe itu, dia harus pulang karena lukanya cukup parah jadi harus segera dibersihkan untuk sekalian diobati.


"Saya mau pergi, kalau kamu tidak mau sendirian, kamu pulang saja. Biarkan hari ini kafe tutup," ucap Galang pada temannya Indah.


"Saya gak apa-apa kok. Kalau Anda mau pergi, pergi saja. Saya mau beresin ini dulu."


Galang langsung pergi meninggalkan kafe milik kakaknya itu!


...****************...


"Biani, kamu jangan pergi sama Galang ya. Aku gak mungkin bisa tanpa kamu," ucap Rio.


Biani tersenyum tipis. "Lagian siapa yang mau pergi? Aku dan Galang tidak ada hubungan apa-apa."


"Tapi tadi, kalian ...." Rio tidak melanjutkan pertanyaannya.


"Tadi itu aku hampir terjatuh dan untungnya ada Galang yang membantu aku. Makanya, lain kali kalau mau melakukan sesuatu dengar dulu penjelasan dari orang yang bersangkutan."

__ADS_1


"Maaf, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi."


Bersambung


__ADS_2