Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 15


__ADS_3

Liana berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Leon diperiksa oleh dokter!


"Leon," ucap Liana.


Shania berdiri dari duduknya lalu mempersilahkan Mama mertuanya duduk di kursi itu!


"Duduk disini, Ma!" ucap Shania.


"Terimakasih, sayang," ucap Liana.


Liana duduk di kursi itu sambil terus menatap Leon yang babak belur.


Shania berdiri di samping Liana dengan tatapan terus menuju Leon yang penuh luka.


"Leon, kenapa bisa gini, nak?" tanya Liana.


"Kejadiannya begitu cepat, aku tidak tahu apa yang mereka inginkan. Mereka langsung mengeroyokku sesaat setelah aku keluar dari mobilku," jelas Leon.


"Apa kamu tidak melakukan perlawanan kepada mereka?"


"Aku sempat melawan tapi mereka tidak memberikan kesempatan aku untuk melakukan serangan balik," ucap Leon lagi.


"Untung kamu gak apa-apa. Apa perlu bodyguard?" ucap Liana.


"Tidak perlu, aku hanya harus lebih waspada saja, Ma."


"Siapa yang membawamu ke rumah sakit?" tanya Liana.


Setelah mengobrol cukup lama, Liana baru ingat dengan siapa yang membawa putranya ke rumah sakit.


"Seorang gadis. Karena panik aku sampai lupa menanyakan namanya," ucap Shania.


Liana terdiam seakan berpikir sesuatu.


"Ma," ucap Shania karena Liana tak kunjung berucap.


"Shania, kamu ingat gak sama wajah gadis itu? Kita harus memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih kita kepadanya," ucap Liana.


"Kalau bertemu dengannya satu kali lagi, aku pasti kenal," sahut Shania.


"Semoga kita punya kesempatan untuk berterimakasih kepadanya," ucap Liana.


"Kata dokter, Leon boleh langsung pulang hari ini juga," ucap Shania.


"Syukurlah," ucap Liana.


Shania dan Liana membantu Leon untuk berdiri karena mereka akan langsung pulang!


"Aku mau ke kantor saja," ucap Leon.


"Kamu istirahat saja dulu, Mama sudah kabari Elvan kalau kamu gak bisa ke kantor karena mengalami penyerangan," jelas Liana.


"Baiklah, terserah, Mama."


...****************...


"Bagaimana dengan kerja kami?" tanya seseorang kepada Jacky.


"Untuk permulaan, kerja kalian oke. Ingat jangan sampai ada orang yang tahu tentang hal ini," ucap Jacky.


"Beres, Anda tidak usah khawatir."


"Uangnya sudah saya transfer."


Setelah merasa obrolan mereka selesai, preman itu pergi meninggalkan Jacky di tempat itu!


"Lihat saja Leon, mulai saat ini kamu gak akan hidup tenang karena aku tidak akan membiarkan kamu bahagia diatas penderitaan adikku," gumam Jacky.


Jacky tersenyum licik, ia sudah menyiapkan rencana selanjutnya untuk terus membuat hidup Leon berada dalam masalah.


...****************...

__ADS_1


Biani sedang dalam perjalanan menuju rumah Leon! Biani memang sudah tahu dimana rumah Leon yang baru karena dirinya pernah Leon ajak ke rumah itu.


Saat itu Leon mengajaknya ke rumah itu untuk memperlihatkan rumah yang akan mereka tinggali bersama saat sudah menikah nanti.


Namun kini Leon menempati rumah itu dengan wanita lain, wanita pilihan orang tuanya.


...****************...


Shania dan Leon sudah tiba di rumah mereka.


"Mama langsung pulang saja ya, sayang. Mama ada urusan sama teman," ucap Liana.


"Ya udah, Mama hati-hati ya," ucap Leon.


Shania tersenyum. "Terimakasih sudah mengantar kami pulang," ucap Shania.


Mereka pulang dengan diantar oleh supirnya Liana karena Leon tidak mungkin nyetir sendiri sedangkan mobil Leon diurus oleh orang kepercayaan Liana yang lain.


Shania dan Leon turun dari mobil mamanya!


Setelah memastikan anak dan menantunya sudah berada di luar mobil, Liana segera meminta supirnya untuk segera melajukan kendaraannya.


Setelah mobil itu sudah tidak terlihat lagi Shania mencoba membantu Leon untuk berjalan namun Leon menolaknya.


Shania memegang lengan atas Leon dengan maksud memapah Leon agar tidak terlalu mengeluarkan tenaga untuk berjalan!


"Lepaskan!" Leon menepis tangan Shania.


"Aku hanya ingin membantu," ucap Shania dingin.


"Aku bisa jalan sendiri!" Leon berjalan mendahului Shania yang sedang berdiri didepannya.


Shania terdiam sejenak, sedetik kemudian dia berjalan mengekor di belakang Leon!


Leon langsung masuk kedalam kamarnya sedangkan Shania memilih untuk pergi ke balkon rumahnya!


Shania berdiri sembari memegangi pagar tralis balkon rumahnya dengan tatapan yang tertuju pada taman kecil yang berada di halaman rumahnya.


"Lihat saja Leon, setelah aku berhasil membuat kamu jatuh cinta padaku aku akan membuatmu merasakan apa yang aku rasakan saat ini," ucap Shania didalam hatinya.


Shania mengambil ponselnya dari dalam saku celananya! Ia membaca pesan dari Mamanya.


📩 "Sayang, apa kabar?"


📩 "Gimana hubungan kamu sama Leon?"


📩 "Mama harap kamu baik-baik saja."


Setelah membaca rentetan pesan dari mamanya, Shania segera membalas pesan itu agar mamanya tidak khawatir padanya.


📩 "Aku baik-baik saja, Ma."


📩 "Mama tidak perlu khawatir."


📩 "Leon laki-laki yang baik, dia tidak pernah menyakiti aku meski kami belum saling mencintai."


Shania sengaja berbohong kepada mamanya, selain karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir, Shania juga tidak ingin hubungan antara keluarganya dengan keluarga Leon rusak.


Di ruang utama rumahnya.


Biani berteriak memanggil nama Shania.


"Shania! Shania! Keluar kamu!"


Karena pintu tidak dikunci dan tidak adanya penjaga ataupun pelayan di rumah itu, dengan mudahnya Biani memasuki rumah itu tanpa adanya penolakan.


"Shania!"


Mendengar seseorang berteriak memanggil namanya, Shania segera bergegas untuk melihat siapa yang datang ke rumahnya!


"Siap ya?" ucap Shania dengan ramah.

__ADS_1


"Dasar pelakor! Berani-beraninya lo rebut Leon dari gue!" ucap Biani dengan nada tinggi.


"Maaf, saya tidak pernah merebut siapapun dari Anda. Ada pun pernikahan saya dengan Leon itu bukan keinginan saya tapi itu murni keinginan keluarganya Leon," ucap Shania masih dengan nada ramah.


Shania tahu Leon akan mendengar keributan di rumahnya, sebisa mungkin dia harus bersikap baik kepada wanita yang tidak dikenalnya itu.


"Munafik. Sebenarnya lo suka kan sama Leon."


Di kamar Leon.


Leon berdecak kesal karena mendengar suara keributan di rumah. Leon berjalan keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang membuat keributan di rumahnya!


"Ada apa sih, ribut-ribut?"


Leon berjalan menuruni anak tangga, ia langsung mendapati Biani yang sedang menjambak rambut Shania.


"Aaah, sakit," ucap Shania.


"Lo harus tinggalin Leon sekarang juga!" Biani menyeret Shania ke luar rumahnya.


"Aaaw, lepasin aku," ucap Shania.


Shania sengaja tidak melawan karena ia ingin tahu apakah Leon akan perduli padanya atau tidak.


Shania mulai meneteskan air matanya karena merasakan sakit akibat ulah Biani.


"Biani! Lepaskan!" ucap Leon.


Leon berjalan menghampiri Biani dan Shania! Ia menarik tangan Biani agar melepaskan cengkraman nya dari rambut Shania.


"Leon," Biani memeluk Leon tepat dihadapan Shania.


Leon yang rindu kepada Biani, membalas pelukan sang kekasih dengan sangat erat.


Shania hanya terdiam menyaksikan pemandangan yang sangat tidak ia sukai.


"Leon, aku rindu," lirih Biani.


"Aku juga rindu sama kamu," ucap Leon.


Karena tak ingin melihat Leon dan Biani, Shania pergi dari tempat itu dengan perasaan marah.


"Kenapa kamu bisa sekasar itu sama Shania?" ucap Leon.


Selama berpacaran dengan Biani, Leon tidak pernah melihat sikap Biani yang ternyata bisa berbuat kasar kepada orang lain.


"Aku kesal karena dia telah merebut kamu dari aku," sahut Biani.


Leon mengajak Biani untuk duduk di ruang tamu!


"Shania, buatkan minum untuk aku dan Biani!" teriak Leon kepada Shania


Shania tak menjawab, namun ia menuruti permintaan sang suami.


Tak lama Shania datang dengan dua gelas air minum ditangannya!


Tanpa kata, Shania meletakkan gelas itu di meja lalu segera pergi meninggalkan Leon dan Biani.


"Meskipun aku sudah menikah, aku tetap mencintai kamu," ucap Leon.


"Aku gak bisa hidup tanpa kamu Leon, aku sangat mencintai kamu," ucap Biani.


"Shania tidak akan bisa menggantikan posisi kamu di dalam hatiku," ucap Leon sembari mengelus pipi Biani!


Shania yang mendengar percakapan mereka, mengepalkan tangannya dengan sangat erat.


"Lihat saja Leon, kamu akan bersimpuh dihadapanku memohon untuk dicintai," ucap Shania didalam hatinya.


"Leon, kamu kenapa? Kenapa banyak luka lebam di wajahmu?" ucap Biani yang baru menyadari keadaan Leon.


"Ada orang yang tiba-tiba menyerang aku," ucap Leon.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2