Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
ban 51


__ADS_3

"Ken gue pulang duluan ya," ucap Rendy.


Baru Ken tiba di kantor, Rendy sudah berpamitan ingin pulang padahal waktu masih jam 13:32 wib.


"Belum waktunya Ren," sahut Kendra.


"Gue kangen sama Liana," ucap Rendy sembari terus melangkahkan kakinya.


"Aneh tadi seolah masih cinta banget sama Jenny, sekarang malah rindu berat sama Liana," ucap Ken.


Rendy hanya tersenyum menanggapi perkataan Kendra.


Setelah Rendy sudah pergi meninggalkannya, Ken segera masuk ke ruangan kerjanya.


Ken duduk di kursi tempat ia bekerja tatapannya langsung tertuju kepada laptopnya yang berada diatas meja kerjanya.


Ken langsung fokus dengan laptopnya.


Rendy sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang sesekali senyuman Liana melintas dipikirannya membuat Rendy semakin ingin cepat bertemu dengan istrinya itu.


Sepanjang perjalanan Rendy senyum-senyum sendiri saat mengingat momen kebersamaannya dengan Liana.


"Jenny cantik tapi Liana juga gak kalah cantik," ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy mengingat kembali saat Liana bersikap manja kepadanya. Tak terasa sebuah senyuman terukir lagi di bibir Rendy.


"Cewek galak yang menggemaskan," gumam Rendy.


Sepanjang perjalanan Rendy terus mengingat tentang Liana sesekali ia mengingat Jenny namun ingatannya itu selalu kembali mengingat Liana.


Rendy memang masih merasakan adanya getaran cinta untuk Jenny, tapi ia juga semakin mencintai dan menyayangi Liana.


Hingga saat ini otaknya terus dipenuhi oleh bayangan Liana.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya Rendy tiba di depan rumahnya.


Rendy turun dari mobilnya lalu memberikan kunci mobilnya kepada satpam yang berjaga di rumahnya untuk memarkirkan mobil ditempat yang semestinya.


Rendy segera masuk kedalam rumahnya, sesekali ia menatap ke arah tertentu untuk mencari istrinya namun ia tak menemukan sosok Liana.


Rendy berjalan menaiki anak tangga untuk tiba di kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya lalu segera masuk ke dalamnya.


Rendy menatap sekeliling namun tak ada Liana di kamarnya, Rendy melihat pintu kamar mandi tertutup dan ia mendengar suara gemercik air didalam kamar mandi.


"Mungkin Liana di kamar mandi," gumam Rendy, lalu ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Liana keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya. Liana berjalan santai menuju lemari pakaiannya, ia tak menyadari bahwa suaminya sudah berada di kamarnya.


Liana memilih baju yang hendak ia kenakan.


"Grep!" tiba-tiba Rendy memeluknya dari belakang sembari mencium pundak Liana.


Seketika Liana berubah menjadi gugup dan kaku.


"M-mas, K-kamu kok udah pulang?" ucap Liana terbata-bata.


"Aku kangen sama kamu," bisik Rendy sambil terus memeluk Liana dari belakang.

__ADS_1


Liana mulai tak nyaman dengan perlakukan Rendy karena tangan suaminya mulai nakal.


Liana menggeliatkan tubuhnya, "mas lepasin aku," ucapnya.


"Gak mau." Rendy mengeratkan pelukannya lalu mencium leher belakang Liana.


Perlakuan Rendy membuat Liana semakin gugup apalagi sebelah tangan suaminya itu mulai menyusuri lekuk tubuhnya.


Liana meneguk ludahnya membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.


"M-mas apa yang kau lakukan?"


Rendy memutar tubuh Liana hingga kini mereka berhadapan. Rendy terus melingkarkan tangannya di pinggang Liana agar istrinya itu tak melarikan diri.


Rendy mulai ******* bibir ranum milik Liana dengan satu tangannya yang terus menyusuri tubuh Liana.


"Apa-apaan ini?"


"Ikh dasar laki-laki."


"Sukanya memaksa."


"Ngapain sih jam segini udah pulang."


Kira-kira seperti itulah ucapan Liana, ia terus menggerutu didalam hatinya.


Sementara Rendy mulai terhanyut dalam kenikmatan yang baru ia rasakan.


Hati Liana ingin sekali berlari menghindari suaminya namun tubuhnya mengatakan tidak, karena tubuhnya menikmati perlakuan dari suaminya.


Rendy membawa Liana ke tempat tidur lalu merebahkan tubuh Liana di tempat tidur! Rendy menindih tubuh Liana lalu mulai membuka handuk yang melilit di tubuh istrinya itu.


Sedikitpun tak ada perlawanan dari Liana padahal kalau Liana mau, ia bisa menyingkirkan tubuh suaminya yang kini tengah menindihnya.


Namun Liana memilih membiarkan suaminya meneruskan pergerakannya karena sebenarnya ia pun menikmati perlakuan dari suaminya.


Rendy membuka pakaian yang ia kenakan satu-persatu lalu mulai bermain-main dengan sesuatu yang sejak lama ingin ia nikmati itu.


Perlahan Rendy membuka seluruh handuk yang menutup sebagian tubuh Liana! Rendy menelan salivanya dengan susah payah, baru kali ini ia melihat pemandangan yang membuat sesuatu miliknya menjadi on.


"Boleh aku melakukannya?" ucap Rendy.


"Mas."


Rendy menempelkan jari telunjuknya dibibir Liana!


"Aku tidak ingin ada penolakan," bisik Rendy.


Liana menelan salivanya.


"Apa-apaan ini, minta izin tapi maksa," ucap Liana didalam hatinya.


Tanpa menunggumu jawaban dari istrinya, Rendy memulai permainan panasnya.


Keduanya terhanyut dalam kenikmatan, yang baru mereka rasakan untuk pertama kalinya.


Liana menutup mulutnya agar tak mengeluarkan suara, namun karena ini yang pertama kalinya dalam hidupnya, Liana meringis kesakitan.

__ADS_1


"Maaf," ucap Rendy sembari terus melanjutkan aksinya.


Dua puluh menit berlalu Rendy mulai mencapai titik puncak permainannya, ia mempercepat gerakannya hingga akhirnya ia memenangkan permainannya.


"Terimakasih," ucap Rendy lalu mengecup bibir Liana sekilas.


Liana tak menjawab ucapan suaminya.


Karena lelah keduanya tertidur tanpa mengenakan sehelai benang pun hanya ada selimut yang menutupi tubuh Rendy dan Liana.


Waktu menunjukkan pukul 17:02 wib.


Rendy sudah terbangun dari tidurnya tapi ia enggan berpindah posisi karena Liana memeluk tubuhnya.


Rendy menatap wajah istrinya yang masih tertidur itu.


"Aku mencintaimu, aku yakin kalau aku mencintaimu," ucap Rendy didalam hatinya.


"Aku janji akan membuang jauh-jauh kenanganku bersama Jenny," sambung Rendy lagi.


Tak lama Liana mulai membuat matanya dan langsung disuguhkan sebuah senyuman manis dari sang suami.


"Mas?" Liana membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya.


Liana mendapati tubuh keduanya tanpa pakaian, ia menatap suaminya lalu bersembunyi didalam selimut karena malu.


Rendy membuka selimut itu agar ia bisa melihat wajah sang istri.


"Kenapa bersembunyi hem?" ucap Rendy.


"Aku pikir tadi cuma mimpi," ucap Liana, ia enggan menampakkan wajahnya.


Rendy terus memaksa agar Liana membuka selimutnya karena ia ingin memandang wajah sang istri.


"Kamu malu?" ucap Rendy.


Liana tak menjawab ucapan Rendy, ia masih bersembunyi dibalik selimut yang menjadi saksi bisu atas bersatunya cinta diantara mereka.


"Jangan malu, aku sudah melihat semuanya," ucap Rendy.


"Mas," ucap Liana sembari menampakkan wajahnya.


Rendy memeluk tubuh istrinya lagi lalu mengecup kening Liana berkali-kali.


"Kamu ingkar janji," ucap Liana.


"Maksudmu?" tanya Rendy tanpa merasa bersalah.


"Ini belum dua minggu tapi kamu sudah melakukannya," ucap Liana.


Rendy nyengir, menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.


"Maaf," ucapnya.


Liana mengerucutkan bibirnya beberapa centi.


"Ronde kedua ya," ucap Rendy menggoda Liana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2