Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 80


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, Kayla langsung menghampiri polisi muda yang memiliki kumis itu.


Shania terus menatapnya tanpa berkedip, entah kenapa dia sangat menyukai kumis Pak Polisi itu.


"Hei jangan sampai kamu jatuh cinta ya," ucap Leon pada Shania.


"Tidak akan," sahut Shania.


"Aku cemburu melihat mu menatapnya seperti itu."


"Tidak udah cemburu. Aku gak akan jatuh cinta sama dia."


"Shania, sini!" Kayla memanggil Shania sembari melambaikan tangannya.


Shania menghampiri Kayla dan Leon segera membuntuti istrinya itu!


"Pak, ini Kakak sepupu saya yang tadi saya ceritakan," ucap Kayla kepada polisi itu.


"Oh, jadi ini wanita yang ngidamnya pengen menyentuh kumis saya," ucap polisi itu dengan senyum ramah.


"Pak, maaf ya. Istri saya ini merepotkan Anda," ucap Leon.


"Tidak, Pak. Wanita hamil memang lebih istimewa dari wanita yang sedang tidak hamil. Istri saya juga begitu saat dia hamil dulu."


Leon tersenyum lebar selebar bibirnya.


"Silahkan, Mbak mau pegang yang mana?" ucap polisi itu pada Shania.


Shania berjalan mendekati polisi itu lalu mulai menyentuh kumis milik Pak Polisi itu.


Shania menatap netra pekat milik sangat polisi dan polisi itu juga membalas tatapan Shania.


Leon yang melihat kejadian itu merasa sangat cemburu dan ingin sekali menampar polisi itu dengan sangat keras karena sudah berani menatap istrinya seperti itu. Namun keinginannya untuk menampar polisi itu, ia abaikan karena memang dia tidak mungkin melakukan kekerasan pada seorang yang sudah menolongnya dengan mengizinkan istrinya menyentuh kumisnya.


Setelah hampir tiga menit, Shania dan polisi itu masih bertatapan, Leon merasa tak kuat menahan rasa cemburunya.


"Ehem!"


Leon berdeham mengisyaratkan pada Shania dan polisi itu agar menghentikan tatapan mereka.


Shania menghentikan pergerakan tangannya, dia menarik tangannya yang sedang asyik memainkan kumis Pak polisi itu.


"Terimakasih, Pak," ucap Shania dengan senyuman manis di bibirnya.


"Sama-sama. Sebenarnya tidak perlu berterimakasih karena saya tidak melakukan apa-apa untuk Anda," sahut polisi itu.


"Udah?" ucap Leon.


Shania tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Leon.


"Sudah selesai?" ucap Elvan.


"Kamu dari mana, Van?" ucap Leon.


Bukannya menjawab pertanyaan Elvan, Leon malah bertanya balik pada Elvan.


"Aku habis menemui Jacky," sahut Elvan.


"Untuk apa kamu menemuinya?"


"Aku hanya ingin melihat keadaannya saja."


"Aku mau bertemu dengannya," ucap Shania.


"Untuk apa?" ucap Leon.


"Aku hanya ingin memastikan bahwa dia masih ada dipenjara ini," sahut Shania.


"Dia masih ada kok, Shania. Kamu gak percaya sama polisi?" ucap Kayla.


"Bukan seperti itu, kamu jangan salah faham padaku. Mungkin saja Jacky sudah dipindahkan ke lapas yang lain kan?" ucap Shania.


"Baiklah. Silahkan temui dia, waktumu hanya lima menit."


"Tidak sampai se_lama itu. Aku hanya ingin melihatnya dari kejauhan saja."


Kayla mengantarkan Shania ke tempat Jacky ditahan!


Shania berhenti melangkah saat dirinya sudah bisa melihat Jacky dari jarak yang lumayan jauh.


"Kenapa berhenti?"


"Aku melihatnya cukup dari sini saja."


Kayla tak berucap lagi, dia memberikan waktu untuk Shania melihat Jacky.


Jacky menatap Shania dengan tatapan penuh permohonan, dia menang tak berucap tapi matanya mengisyaratkan sesuatu pada Shania.

__ADS_1


...****************...


Di rumah sakit.


Hari ini, Jenny sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisi kesehatannya sudah membaik.


"Bi, seharusnya kamu gak perlu libur kerja. Mama bisa pulang sendiri kok," ucap Jenny pada Biani.


"Aku gak libur kok, Ma aku izin untuk masuk siang."


"Kamu kan baru beberapa hari kerja, masa udah gak masuk kerja? Mama takut nanti kamu dipecat lagi."


"Nggak, Ma. Aku izin baik-baik sama manajernya."


"Yasudah kalau begitu. Ayo kita pulang!"


Saat Jenny dan Biani melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu, Rio datang ke ruangan itu.


"Sudah siap untuk pulang?" ucap Rio.


"Iya, kami sudah mau berangkat untuk pulang," sahut Jenny.


"Aku antar ya."


"Tidak perlu, Rio. Kamu kan harus kerja lagi pula aku sama Mama bisa pulang sendiri kok," ucap Biani.


"Gak apa-apa, aku anterin kalian dulu habis itu kerja lagi. Lagian ada dokter yang lain yang memeriksa pasien di sini."


"Ya udah deh kalau kamu memaksa," ucap Biani.


Setelah berbincang agak lama akhirnya Biani dan Jenny diantar pulang oleh Rio.


...****************...


Setelah tahu bahwa Jacky memang masih ada di ruang tahanan, Shania kembali lagi ke tempat semula ia bersama dengan suami dan Pak Polisi itu.


Kayla membiarkan Shania pergi sedangkan dirinya masih berdiri ditempat semula.


Setelah Shania menjauh darinya, Kayla mulai berjalan mendekati Jacky yang sedari tadi mengarahkan pandangannya kepada Shania meski saat itu Shania sudah tidak ada di tempat itu.


"Kenapa kamu menatap Shania seperti itu? Jangan bilang kalau kamu berniat untuk menjahati dia lagi," ucap Kayla.


"Tidak, aku tidak mungkin melakukan hal yang sama lagi. Ingin sekali aku meminta maaf pada mereka, namun rasanya tidak mungkin karena aku tahu mereka tidak akan memaafkan aku," ucap Jacky.


"Kenapa tidak. Semua orang pernah melakukan kesalahan aku tahu mereka akan memaafkan dirimu meski kamu akan sedikit kesulitan untuk mendapatkan maaf dari mereka."


"Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan padaku."


"Bagaimana dengan keadaan Mamaku dan Biani?"


"Mamamu akan pulang dari rumah sakit hari ini, mungkin sekarang mereka sudah di jalan dan Biani, dia kerja di salah satu kafe yang terdapat tidak jauh dari rumah kalian."


"Kamu tahu semua tentang mereka."


"Aku tahu karena aku yang membayar semua biaya rumah sakit Mamamu dan aku juga yang sudah menyuruh manajer kafe itu untuk mempekerjakan Biani."


"Kayla kamu melakukan semua itu untuk aku dan keluargaku?"


"Iya karena aku tahu kamu adalah satu-satunya tulang punggung keluargamu jadi aku melakukan itu untuk membantu Mamamu dan juga Biani."


"Terimakasih, Kayla."


"Tidak perlu berterimakasih dan jangan beri tahu Mamamu dan juga Biani tentang hal ini. Biarkan ini menjadi rahasia antara aku dan juga dirimu."


"Tapi kenapa?"


"Berbuat baik tidak perlu banyak orang yang mengetahuinya. Aku memberitahu dirimu karena aku tidak mau kamu khawatir pada mereka dan juga agar kamu tidak terus-terusan curiga padaku."


"Kayla terimakasih banyak."


...****************...


Rio tidak mengantarkan Jenny dan Biani ke rumahnya namun Rio mengantarkan mereka ke kantor polisi atas permintaan Jenny.


Jenny ingin sekali menemui putranya, ada banyak pertanyaan yang harus ia tanyakan pada putranya itu.


Belum lagi rindu yang sangat besar pada Jacky membuat Jenny tak sabar ingin bertemu dengan putranya itu.


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka tiba di kantor polisi.


Rio memarkirkan mobilnya didepan kantor polisi itu.


Mereka semua turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki kantor polisi! Saat akan masuk mereka melihat Leon dan Shania ada di sana tak ketinggalan Elvan juga turut hadir di sana.


Leon dan keluarganya terlihat sedang berbicara dengan polisi yang sedang berjaga.


Jenny dan Biani tak menghentikan langkahnya, mereka terus berjalan menghampiri Leon dan keluarganya sedangkan Rio berjalan belakangan.

__ADS_1


"Kalian," ucap Leon.


"Leon, aku sama Mama mau menemui Kak Jacky. Aku harap kamu tidak melarang aku sama Mama untuk bertemu dengan Kak Jacky," ucap Biani.


Rio tiba di tempat itu, dia berdiri di belakang Biani dan Jenny.


"Shania, Leon? Kalian ngapain di sini?" tanya Rio kebingungan.


"Rio!" ucap Shania dan Leon secara bersamaan.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" ucap Shania.


"Aku ... aku ...." Rio kesulitan untuk menjawab pertanyaan Shania.


"Apa, mereka saling kenal?" ucap Biani didalam hatinya.


"Leon, tolong izinkan kami bertemu dengan Jacky," ucap Jenny.


"Bukan aku yang menentukan kalian boleh atau tidaknya untuk menemui Jacky. kalau kalian ingin menemuinya, temui saja tapi sebelum itu kalian harus lapor dan meminta izin dari polisi yang sedang berjaga," ucap Leon.


"Kenapa mereka terlihat seperti sudah kenal lama? Ada hubungan apa mereka?" ucap Rio didalam hatinya.


"Pak terimakasih karena Anda sudah bersedia memenuhi keinginan istri saya yang aneh," ucap Leon pada Polisi berkumis itu.


"Sama-sama, Pak Leon. Semoga bayinya sehat ya dan tentunya Ibu yang sedang mengandungnya juga selalu sehat," ucap Pak Polisi itu.


"Pak kalau gitu kami permisi dulu," ucap Leon.


Leon dan Shania menjabat tangan Polisi itu secara bergantian lalu mulai pergi meninggalkan kantor polisi itu.


"Aku duluan ya, Rio," ucap Shania.


"Iya, silahkan," ucap Rio.


"Leon hati-hati bawa mobilnya," ucap Rio lagi pada Leon.


"Leon, Shania! Kalian gak nunggu Kayla dulu?" ucap Elvan.


"Nggak. Kamu saja yang menunggunya," ucap Leon.


"Kalian gimana, ke sini barengan perginya sendiri-sendiri."


"Ada apa?" tanya Kayla yang baru tiba di tempat itu.


"Leon sama Shania sudah pulang duluan. Kamu udah selesai belum? Kita pulang yuk!" ucap Elvan pada Kayla.


"Rupanya benar gadis itu adalah seorang polisi," ucap Rio didalam hatinya.


"Kalian pasti mau menemui Jacky?" ucap Kayla pada Jenny dan Biani.


"Iya. Tolong jangan larang kami untuk bertemu dengannya," ucap Jenny.


"Pak tolong antar kan mereka ya, saya mau pergi karena ada keperluan pribadi," ucap Kayla pada polisi itu.


Polisi itu tidak menjawab perkataan Kayla, dia hanya menanggapi dengan anggukan saja.


Kayla dan Elvan langsung pergi meninggalkan kantor polisi itu! Mereka ada rencana untuk mengecek gedung tempat mereka akan melangsungkan acara pernikahan mereka yang akan di langsung kan satu minggu lagi.


Sebenarnya semua sudah diurus oleh orang tua mereka tapi Kayla dan Elvan ingin mengeceknya lagi.


"Jacky," ucap Jenny.


"Mama, maafkan aku karena aku tidak bisa merawat Mama di rumah sakit," ucap Jacky.


Jenny menggenggam erat tangan Jacky dari celah-celah besi yang memisahkan mereka.


Air mata Jenny terus mengalir melihat putranya yang tinggal dibalik jeruji besi.


Jacky pun menangis. Dia sangat ingin memeluk Mamanya namun ia tak bisa.


Penyesalan yang besar membuat Jacky sangat merasa bersalah pada Mamanya.


"Kak, maafkan aku ya karena aku tidak bisa membantu Kakak untuk keluar dari sini," ucap Biani.


"Tidak, jangan minta maaf. Ini bukan salahmu."


Jenny tak bisa berkata-kata lagi karena ia terlalu bersedih hingga lidahnya terasa kaku yang membuat dirinya sulit berucap.


"Mama jangan nangis, aku tidak bisa melihat Mama menangis," ucap Rio pada Jenny.


"Bi, Kakak titip Mama ya. Maaf karena Kakak gagal menjadi Kakak yang baik untukmu," ucap Jacky.


Mereka bertiga menangis sembari saling menggenggam tangan satu sama lain.


Rio hanya berdiri tanpa kata dan pergerakan, matanya terus menyaksikan kejadian pilu itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2