Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 68


__ADS_3

"Kejahatan apa yang dia lakukan sehingga dia berusaha melenyapkan bukti dan menyembunyikan motornya?" ucap Kayla didalam hatinya.


"Gue harus cepat pergi dari sini, sebelum ada orang yang mencurigai gue. Gue sudah menghilangkan semua bukti, Polisi gak akan menemukan pelaku kekerasan terhadap Rania," ucap Jacky.


Jacky segera pergi meninggalkan rumah tua itu, karena motornya ia tinggalkan di rumah itu, Jacky berjalan kaki untuk sampai ke jalan raya.


Setelah Jacky pergi, Kayla keluar dari tempat persembunyiannya!


"Kekerasan kepada Rania?" gumam Kayla.


Kayla berpikir sesuatu, mengingat-ingat siapa itu Rania.


"Ah, ya. Rania adalah adiknya Leon. Apa motif Jacky melakukan kekerasan kepada Rania?" ucap Kayla.


Kayla berjalan menghampiri mobilnya yang ia parkiran ditempat yang lumayan jauh dari tempat itu.


Setelah berjalan beberapa menit, Kayla tiba di mobilnya, ia langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Saat itu Kayla tidak ingin mengikuti Jacky lagi karena ia merasa sudah cukup pencariannya malam itu. Kayla memilih pergi ke rumah Elvan untuk menemui kekasihnya itu.


...****************...


Di rumah Leon dan Shania.


Tok!


Tok!


Tok!


Seseorang mengetuk pintu rumah Leon dan Shania.


Tak perlu menunggu lama, seorang asisten rumah tangga membukakan pintu rumah itu!


"Non Rania, mari masuk!" ucap asisten rumah tangga itu.


Rania tersenyum ramah, lalu masuk ke dalam rumah Kakaknya itu!


"Kak Leon ada, Bik?" tanya Rania.


"Ada di kamarnya. Mau Bibik panggilkan atau, Non sendiri yang ke kamarnya?"


"Aku langsung ke kamarnya Kak Leon saja, Bik."


Rania langsung menaiki tangga untuk sampai ke kamar Leon dan Shania!


Setelah tiba di depan pintu kamarnya Leon, Rania langsung mengetuk pintu itu!


"Kak! Kak Leon!" seru Rania sembari mengetuk pintu.


Pintu kamar itu terbuka dan langsung nampak sosok Shania berdiri di dalam kamarnya.


"Rania," ucap Shania.


"Kak Leon ada Kak?" tanya Rania.


"Ada, ayo masuk!"


Rania mengekor di belakang Shania lalu duduk di sofa yang ada di samping tempat tidur Shania!


"Wajahmu kenapa? Kenapa ada bekas luka?"


"Tidak apa-apa Kak."


Shania tidak berucap lagi, ia hanya diam dengan banyak pertanyaan didalam kepalanya.


"Apa kabar keponakanku?" ucap Rania.


"Keponakanmu banyak maunya," ucap Leon.


Leon berjalan menghampiri Shania dan Rania!


"Kamu ngapain malam-malam bertamu ke rumah orang?" tanya Leon.


"Aku malas pulang ke rumah. Boleh aku nginap di sini?"


"Boleh dong," sahut Shania.


"Tidak boleh," ucap Leon.


Shania dan Rania menatap Leon. "Kenapa?" ucap kedua wanita itu berbarengan.


"Karena kamu tidak izin sama Papa dan juga Mama."

__ADS_1


"Kalau Kakak ngebolehin aku menginap di sini nanti aku izin sama mereka."


"Rania, kenapa kamu malas pulang ke rumah kamu sendiri?" tanya Shania dengan nada pelan.


"Beberapa hari lalu ada yang berusaha menculik ku," ucap Rania.


"Apa! Kamu serius?" tanya Leon.


"Astaga, Rania. Untung penculik itu gagal dalam rencana jahatnya," ucap Shania.


"Kalian lihat kan, saat ini aku baik-baik saja. Aku lagi kesal sama Mama sama Papa juga karena tanpa sepengetahuan aku, mereka melaporkan kasus itu ke polisi."


"Kenapa harus kesal, memang seharusnya lapor polisi kan?" ucap Leon.


"Iya Rania, Mama dan Papa melakukan itu semata-mata demi keselamatan kamu," sambung Shania sembari memegang bahu Rania.


"Tapi aku jadi merasa terancam Kak. Orang itu pasti beneran akan menculik aku sebelum dia tertangkap oleh polisi."


"Kamu kan bisa menjaga dirimu sendiri, ngapain harus takut?" ucap Leon dengan santainya.


"Kakak, aku serius."


"Kakak juga serius," ucap Leon lagi.


"Gini nih kalau punya Kakak gak sayang sama adiknya. Udah punya Kakak satu-satunya, gak perduli lagi sama aku. Emang ngenes nasibku," ucap Rania dengan nada kesal.


"Leon, kamu apaan sih, malah godain Rania," ucap Shania kepada Leon.


"Rania, kamu boleh nginap di sini. Kamu jangan takut, atau kamu mau dilindungi oleh bodyguard? Kalau mau besok kita cari bodyguard," ucap Shania kepada Rania.


"Gak perlu Kak. Aku cuma khawatir saja lagi pula yang Kak Leon katakan ada benarnya juga, ngapain aku takut sama penjahat kan? Toh akhirnya penjahat akan berakhir dipenjara."


"Nah itu kamu tahu," ucap Leon.


"Udah, jangan berdebat terus. Lebih baik kita makan malam bersama yuk!"


Shania mengajak Leon dan Rania makan malam bersama.


...****************...


Drrt!


Drrt!


Drrt!


Elvan mengambil ponselnya dari atas meja dan segera melihat siapa yang mengirim pesan padanya.


"Kayla ... tumben ngirim pesan," gumam Elvan.


Elvan segera membuka pesan itu lalu membacanya.


📩 [Sayang, kamu lagi apa?]


📩 [Aku kangen,kita ketemuan yuk!]


📩 [Mmuacch! Sun jauh aku suguhkan untuk dirimu]


Elvan tersenyum setelah membaca pesan dari kekasihnya itu.


"Dadar gadis aneh," gumam Elvan.


Belum sempat Elvan membalas pesan dari Kayla, ponselnya kembali bergetar.


Sebuah pesan dari Kayla kembali masuk pada ponselnya.


📩 [Cintaku, jangan cuma dibaca saja pesan dariku. Kamu gak tahu apa kalau aku sedang menunggu balasan darimu.]


📩 [Jangan membuat diriku menunggu lama nanti aku pergi bersama si Agus preman ganteng yang masih aku sekap.]


"Ah, Kayla bisa-bisanya mengancam aku," gumam Elvan setelah membaca pesan itu.


Elvan segera membalas pesan dari Kayla.


📩 [Ketemu dimana?]


📩 [Nanti kamu share lock saja ya!]


📩 [Aku jalan sekarang.]


Setelah mengirim pesan, Elvan langsung meraih kunci mobilnya dari atas meja lalu segera bergegas keluar dari kamarnya!


Saat Elvan sudah berada di parkiran rumahnya.

__ADS_1


Baru Elvan akan memasuki mobilnya tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang!


Elvan terkejut sekaligus bingung dengan apa yang sedang terjadi padanya.


Elvan memegang tangan seseorang yang melingkar di perutnya lalu melepaskan tangan yang memeluknya dengan erat!


"Siapa kau?" ucap Elvan sembari menarik tangan itu.


"Aku pencuri hatimu," ucap Kayla.


"Kamu. Dasar nakal, kalau sudah di sini, kenapa tidak langsung masuk kedalam rumah?" ucap Elvan.


Kayla tersenyum manis kepada Elvan.


"Sengaja, aku ingin memberikan kejutan untukmu," ucap Kayla.


Elvan menatap Kayla tanpa berkedip dan tanpa kata yang terucap dari mulutnya.


"Aku rindu," ucap Kayla berbisik.


Elvan mencubit pipi Kayla dengan sedikit keras!


"Aku juga," sahut Elvan.


Kayla mengusap pipinya yang terasa sakit karena dicubit oleh Elvan.


"Rindu, tapi nyubit. Sakit tahu," ucap Kayla dengan gaya manjanya.


"Kalau mau cium, nanti saja kalau udah halal. Aku gak mau merusak pipimu yang halus ini."


Kayla meletakkan tangannya di kening Elvan!


"Kamu gak panas, kok tumben bicaranya benar," ucap Kayla.


"Kamu pikir aku sakit?"


"Iya, waktu itu kamu pernah mencium aku di sini," ucap Kayla sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Elvan.


"Kenapa sekarang gak mau mencium pipiku? Bukannya kamu akan lebih merusak diriku kalau ciumnya di bagian itu?"


"Waktu itu aku Khilaf."


"Bisa ya khilaf sampai dua kali.


Elvan tersenyum lebar sambil terus menatap Kayla.


"O, ya Kay, kamu tahu gak kalau undangan pernikahan kita sudah disebar?"


Elvan berucap sembari berjalan memasuki rumahnya dengan tangan yang menggenggam tangan Kayla!


"Nggak. Emang udah disebar?"


"Udah. Aku juga gak tahu kapan undangan itu disebar."


"Van sepertinya dalam beberapa hari ini aku akan menyelesaikan misi ku."


"Benarkah? Bagus dong itu. Berarti kamu sudah tahu siapa orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa Leon dan Shania?"


"Aku belum yakin, aku masih menyelidiki orang itu. O ya, Van boleh aku tanya sesuatu?"


"Boleh, tanya saja."


"Biani punya Kakak laki-laki gak ya?"


"Punya. Kenapa menangnya?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja."


"Jangan bohong sama aku. Gak mungkin kamu bertanya kalau gak ada alasan tertentu."


Saat keduanya sedang berbicara, Shila datang menghampiri mereka.


"Ada Kayla ternyata. Kay, kapan datang?" tanya Shila.


Kayla tersenyum ramah lalu mencium punggung tangan calon ibu mertuanya itu.


"Baru saja, Tante," ucap Kayla.


"Maaf, Elvan lupa kasih tahu, Mama kalau Kayla datang," ucap Elvan.


Shila tersenyum sembari mencubit lengan Elvan.


"Kamu, giliran ketemu sama Kayla saja, langsung lupa segalanya," ucap Shila.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2