Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 69


__ADS_3

Di salah satu restoran, Biani dan Rio sedang makan bersama.


Siang itu, Rio sengaja mengajak Biani bertemu karena ada hal yang ingin ia bicarakan kepada Biani.


"Kamu mau bicara apa sama aku?" tanya Biani karena Rio tidak juga bicara.


"Makan saja dulu, setelah makan baru aku bicara," sahut Rio.


Biani menatap Rio dengan tatapan aneh. "Untuk mendengarkan ucapan mu,aku harus makan dulu? Memangnya kamu mau bicara apa?"


Biani menyendok makanannya lalu mengunyah nya.


Setelah mereka selesai makan siang, Rio meraih tangan Biani dengan sentuhan lembut.


"Bi, sejak aku kenal sama kamu, aku merasa nyaman bersamamu rasanya kalau sedang dekat dengan kamu aku jadi tenang, damai dan bahagia rasanya beban hidupku hilang gitu aja."


Biani mendengarkan setiap perkataan yang Rio ucapkan tanpa satupun yang terlewatkan.


"Kamu mau gak jadi pendamping hidupku?" tanya Rio.


"Kamu tidak sedang bercanda kan Rio? Kita belum kenal lama loh, kamu belum tahu siapa aku dan bagaimana keluargaku," ucap Biani.


"Aku tahu kamu gadis yang baik dan aku yakin keluargamu juga pasti baik-baik."


"Tapi Rio, kamu lihat keadaan keluargaku. Kami hidup dalam kesederhanaan sedangkan kamu, keluargamu hidup dalam kemewahan. Aku rasa tidak mungkin kita bersama."


"Saat ini yang aku ingin dengar dari mulutmu yaitu iya atau tidak. Tentang bagaimana dengan keluargaku atau keluargamu kita bisa urus itu nanti tapi yang jelas aku pastikan orang tuaku tidak akan pernah menghalangi apa yang aku inginkan."


"Ya, aku mau menjadi pacarmu," ucap Biani dengan senyum yang menghiasi bibirnya.


Rio tersenyum bahagia. "Syukurlah kalau kamu mau, Bi aku tidak ingin bermain-main dengan hubungan kita ini. Secepatnya aku akan mengenalkan kamu pada orang tuaku dan setelah mendapat restu dari mereka, kita akan menikah dalam waktu dekat," ucap Rio.


"Jangan terburu-buru, jangan sampai kamu menyesal di akhir nanti. Ada baiknya kita sama-sama memberi waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Aku pernah gagal dalam hubungan percintaan, aku tidak ingin hal itu terulang lagi," ucap Biani.


"Hal itu tidak akan terjadi lagi, Bi. Karena aku tulus mencintaimu."


Biani tersenyum tipis. "Dulu laki-laki yang kini menjadi mantan kekasih ku juga berkata hal yang sama dengan yang kamu ucapkan barusan. Waktu itu kami sudah merencanakan pertunangan kedua keluarga sudah setuju dengan hubungan kami tapi karena ada masalah yang kami tidak tahu, akhirnya hubungan kami berhenti ditengah jalan."


"Kamu masih mencintai dia?"


"Tidak. Dia sudah menikah dan sekarang istrinya sedang hamil."


"Apa kalian pernah memperjuangkan cinta kalian."


"Tentu saja, tapi takdir membawa dia pada wanita lain wanita yang kini menjadi istrinya."


"InsyaAllah aku akan membahagiakan kamu."


"Kita jalani saja hubungan kita ini, biar waktu yang menentukan kemana arah hubungan kita. Ada banyak kisah tentang keluargaku yang kamu harus tahu sebelum kamu merasa yakin ingin menikahi diriku."


"Baiklah, mulai saat ini kamu adalah kekasihku tapi aku berharap kamu menjadi istriku yang akan menemani aku sampai tua nanti."


...****************...


"Kay, gimana kamu udah menemukan titik terang dalam misi yang sedang kamu kerjakan?" tanya Shila.


"Besok atau lusa, misi itu akan selesai," sahut Kayla.


"Sudah kamu pastikan kalau kamu tidak melakukan kesalahan?" tanya Arkhana.


"Aku yakin, aku tidak melakukan kesalahan. Mama tenang saja."


Shila dan Arkhana sedang makan bersama di salah satu restoran ternama di kotanya. Karena hari itu Kayla tidak melakukan pencarian dan penyelidikan, akhirnya gadis itu ikut bersama Mamanya untuk menghabiskan waktu bersama.


"Pernikahan kamu sama Elvan tinggal beberapa hari lagi loh, Kay tidak sampai sepuluh hari lagi," ucap Arkhana.


"Iya, aku tahu, Mam. Kenapa tiap hari harus diingatkan begitu."


"Setelah kamu menyelesaikan misi mu ada baiknya kamu pergi ke salon untuk melakukan perawatan diri," ucap Arkhana.

__ADS_1


"Ish, aku malas garus berlama-lama di tempat itu-itu saja," sahut Kayla.


"Kayla, selama ini kamu tidak melakukan perawatan diri?" tanya Shila.


"Pernah sih, tante tapi aku lupa kapan-kapannya."


"Kayla selalu sibuk, Shil jadi dia jarang melakukan perawatan tubuhnya," ucap Arkhana.


"Dirawat gak dirawat aku tetap cantik kok, buktinya Elvan klepek-klepek," ucap Kayla dengan tawa kecilnya.


Tiga wanita beda usia itu tertawa renyah.


Saat mereka sedang berbincang,tanpa sengaja Kayla melihat Rio dan Biani keluar dari restoran itu.


"Biani? Sama siapa dia?" ucap Kayla didalam hatinya sembari menatap Biani dan Rio.


"Siapa, Kay?" tanya Arkhana.


"Bukan siapa-siapa, Mam."


"Jangan bohong, tatapan kamu terlihat sangat tajam," ucap Shila.


Kayla tersenyum lalu meminum jus nya.


"Kalian memang tidak bisa dibohongi," ucap Kayla.


"Siapa mereka?" tanya Arkhana.


"Perempuan itu mantan kekasihnya, Leon."


"Lalu laki-laki itu?" tanya Shila.


"Aku tidak tahu. Dia tampan juga ya, tante," ucap Kayla.


"Kamu ... udah punya Elvan masih melirik laki-laki lain," ucap Arkhana.


"Tante tahu gak, kalau aku lagi menginterogasi preman-preman itu, Elvan sering cemburu."


Shila dan Arkhana tertawa kecil mendengar perkataan Shila.


"Kamu jangan terlalu nakal gitu, nanti Elvan pergi baru tahu rasa," ucap Arkhana.


"Aku gak akan nakal lagi setelah kami menikah nanti."


Shila menggelengkan kepalanya melihat sikap Kayla yang sangat jarang dimiliki oleh perempuan lain.


...****************...


"Tumben lo gak bawa motor?" tanya Dion kepada Jacky.


"Motor gue mogok," sahut Jacky.


"Kenapa gak dibawa ke bengkel?"


"Gue gak ada duit."


"Gak ada duit? gak salah, bukannya biasanya lo punya uang simpan?"


"Uang simpan gue sudah habis."


"Kalau mau, lo boleh pakai duit gue dulu."


"Tidak, terimakasih. Sekarang gue lebih nyaman naik angkutan umum atau ojek online."


"Terserah lo deh, yang penting gue udah nawarin diri sama lo. Lo ingat ya, kalau lo butuh duit bilang saja ke gue kalau buat membayar biaya motor lo yang rusak, ada lah sedikit."


"Terimakasih, Lo emang teman gue yang selalu ada disaat gue sedang sulit."


...****************...

__ADS_1


"Tumben, makan siang kamu gak pulang?" tanya Elvan pada Leon.


"Di rumah ada Rania yang mengingatkan Shania untuk makan."


"Rania di rumah kalian?"


"Iya. Van tahu gak beberapa hari lalu ada yang berusaha menculik Rania," ucap Leon.


"Apa! Terus gimana dengan keadaan Rania?"


"Sekarang dia baik-baik saja, tinggal bekas luka yang masih terlihat di wajah Rania."


"Siapa yang melakukan itu pada Rania?"


"Aku gak tahu, Van tapi yang pasti dia ada masalah pribadi sama keluarga aku."


"Maksud kamu?"


"Rania bilang, orang itu mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan keluarga aku bahagia."


"Siapa ya? Selama ini kita tidak punya musuh dalam perusahaan kita.".


"Entahlah, aku juga tidak tahu siapa orang dibalik semua kejadian ini."


"Apa mungkin Biani?"


Leon menatap Elvan dengan tatapan penuh tidak percaya.


"Tidak mungkin. Biani tidak mungkin melakukan itu."


"Bisa saja, dia pernah hampir membunuh Shania kan, bukan tidak mungkin dia juga melakukan hal yang sama pada Rania."


"Tidak mungkin, Elvan itu sangat tidak mungkin. Aku sudah bertemu dengan Biani untuk membicarakan hubungan kami, dia sudah tidak mencintaiku lagi, aku rasa dia juga sudah tidak menyimpan dendam pada aku dan juga keluargaku."


"Kita lihat nanti, Leon. Sekarang Kayla sedang berusaha untuk mencari orang dibalik semua kejadian yang menimpa kamu dan Shania."


"Kayla masih mencari pelakunya?"


"Tentu saja, dia tidak akan berhenti sebelum menangkap pelaku yang sebenarnya."


"Aku harap bukan Biani," ucap Leon.


"Aku harap juga begitu, tapi kalau seandainya memang Biani, aku harap kamu tidak menghalangi proses hukumnya karena siapapun yang melakukan kejahatan harus menerima akibat dari perbuatannya."


"Van aku ...."


"Jangan bilang kamu masih mencintai dia."


"Aku sudah tidak mencintai dia, tapi aku rasa aku tidak akan bisa melihat dia dipenjara."


"Semua belum pasti, Leon. Bisa saja ada orang lain lagi yang punya dendam pribadi sama kamu ataupun keluargamu."


...****************...


"Kak, aku bosan di rumah, kita jalan-jalan yuk!" ucap Rania kepada Shania.


"Jalan ke mana?"


"Kemana saja, yang penting pergi dari rumah."


"Kemana ya, Kakak gak tahu kita harus kemana?"


"Gimana kalau kita nonton?"


"Nonton? Sepertinya seru juga. Boleh deh, ayo kita pergi!"


Mereka berdua bersiap-siap untuk pergi untuk nonton bioskop bersama. Tak lupa sebelum pergi Shania menelpon Leon untuk meminta izin pada suaminya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2