Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 84


__ADS_3

Saat tiba di jam makan siang, Biani keluar dari kafe itu untuk menemui Rio yang mungkin sudah menunggunya di salah satu restoran yang terletak tidak jauh dari tempat Biani bekerja.


"Bi kamu kemana?" tanya Galang.


"Bukan urusan kamu," ketus Biani.


Biani terus berjalan meninggalkan Galang yang belum selesai bicara dengannya!


Galang semakin merasa tertantang dengan Biani. Sikap Biani yang jutek dan tidak mudah didekati nya membuat Galang merasa sangat memiliki Biani.


"Gadis itu sangat membuatku merasa tertantang," gumam Galang.


"Woi, udahlah kalau dia gak mau sama lo," ucap temannya Galang.


"Dia pasti akan gue dapatkan," ucap Galang sembari terus menatap punggung Biani.


"Kalau lo berhasil mendapatkan dia. Sepuluh juta akan gue hadiahkan buat lo pergi liburan bersama Biani."


"Gue pegang ucapan lo ini. Awas kalau lo bohong."


"Kapan sih gue ingkar janji."


Teman-temannya Galang tertawa renyah.


...****************...


"Hai, udah lama nunggu ya?" ucap Biani saat tiba di restoran tempat dirinya bertemu dengan Rio.


"Tidak. Aku juga baru saja tiba kok," sahut Rio."


Tanpa diminta, Biani duduk di kursi yang berhadapan dengan dengan Rio!


"Kamu mau makan apa?" tanya Rio.


"Kamu udah pesan makanan?" Biani bertanya balik kepada Rio.


"Belum."


"Kalau gitu samain saja sama kamu."


Rio memanggil waitress untuk memesan makanan.


...****************...


"Mau kemana, Van?" tanya Leon.


"Ketemu sama Kayla," sahut Elvan singkat sembari terus berjalan.


Leon berjalan cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah Elvan.


"Jangan ketemu terus, nanti cepat bosan."


"Kayla bukan barang atau makanan yang kalau dipakai atau dimakan terlalu sering akan merasa bosan."


"Bisa saja kan?"


"Kamu tiap hari ketemu sama Shania, pernah merasa bosan gak?"


"Tidak."


"Nah, itu. Kalau kamu tidak pernah merasa bosan pada pasangan mu maka aku juga akan merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan."


"Aku pergi duluan ya, Van!"


Leon masuk ke dalam mobil lalu mulai melajukan mobilnya.


Elvan menatap Leon yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkan dirinya.


"Aku yang duluan mau pergi malah dia yang lebih dulu meninggalkan aku," gumam Elvan.


Elvan masuk ke dalam mobilnya dan perlahan meninggalkan kantornya!


Setelah beberapa menit berkendara, Elvan tiba di sebuah tempat lembaga penyediaan bodyguard wanita maupun laki-laki. Dia berjalan memasuki tempat itu untuk menemui Kayla yang sedang melatih orang-orang yang berada dibawah pimpinannya!


"Kay, kamu udah makan?" tanya Elvan.


Kayla menatap ke arah suara! "Van, kamu di sini?"


"Aku sengaja datang untukmu."


"Kenapa gak bilang dulu kalau kamu mau ke sini."


"Kalau bilang dulu namanya bukan kejutan dong."


Kayla tersenyum tipis. "Iya juga ya."


"Makan yuk!"


"Boleh, makan di mana?"


"Kamu maunya di mana?"


"Di tempat makan lah bukan di kolam renang."


"Orang lagi serius juga."


"Maaf-maaf. Kita makan bakso di pinggir jala saja, gimana?"


"Mmmm." Elvan berpikir sejenak.


"Terjamin gak kebersihannya?"


"Orang jualan gak mungkin sembarangan. Ya pastinya terjamin lah, kalau makanan nya gak sehat dan kotor orang-orang yang beli semuanya bisa sakit perut dong."


Kayla adalah seorang penjelajah, dia biasa makan apa pun dan di mana pun. Kayla juga bisa memakan makanan mentah dalam keadaan tertentu, seperti saat sedang bertugas di hutan yang tidak ada orang berjualan makanan.


Sedangkan Elvan, selain dia terlahir dari keluarga kaya-raya dia juga bukan tipe laki-laki yang hobi nongkrong di luar. Saat sedang tidak bekerja dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah dibandingkan dengan bergaul dengan teman-temannya. Dia hanya bertemu dengan teman-temannya hanya saat tertentu saja dan dari segi makan dia adalah tipe orang yang suka memilih-milih makanan yang akan ia konsumsi.

__ADS_1


"Oke deh, ayo kita berangkat!" seru Elvan.


"Oke."


Mereka berdua pergi dari tempat itu!


Tak perlu waktu lama, mereka tiba di tempat makan yang direkomendasikan oleh Kayla.


"Berhenti di sini saja," ucap Kayla.


Elvan menuruti perkataan Kayla. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.


Kayla turun lebih dahulu dari mobilnya sedangkan Elvan masih duduk di bangku kemudi.


Kayla berjalan menghampiri gerobak bakso itu dan menyapa abang tukang bakso itu.


"Hai Bang," ucap Kayla.


Elvan memperhatikan Kayla yang terlihat sudah akrab dengan penjual bakso itu.


"Eh, Neng. Silahkan duduk," ucap Abang itu.


Elvan turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri Kayla.


Ini adalah pertama kalinya Elvan makan di tempat seperti itu, ada rasa takut dan tidak yakin dengan rasa makanan pinggir jalan, belum lagi tempat yang terbuka tak menjamin kebersihan makanan tersebut.


Kayla meraih tangan Elvan dan menariknya agar duduk di sampingnya!


"Duduk, Van," ucap Kayla pada Elvan.


Elvan duduk di samping Kayla tanpa penolakan.


"Rupanya sekarang, Neng Kayla ke sini tidak sendirian," ucap Abang tukang bakso itu.


"Iya, Bang sekali-kali bawa teman. Bakso porsi biasa ya, Bang. Dua ya," ucap Kayla.


"Siap, Neng."


Abang itu langsung pergi untuk menyiapkan bakso pesanan Kayla!


"Sepertinya kamu sudah kenal lama sama Abang nya," ucap Elvan.


"Lama sih, nggak. Cuma kenal baik saja."


Tak lama Abang itu datang mengantarkan bakso yang mereka pesan.


"Silahkan, Neng, Mas," ucap Abang itu.


Kayla langsung melahap bakso itu, sedangkan Elvan masih terdiam sambil menatap bakso itu.


"Kenapa gak dimakan?" tanya Kayla.


"Yakin nih, Kay."


Elvan menatap Kayla.


Elvan tak berucap lagi, dia menyendok sedikit kuah bakso itu lalu menyeruput nya.


"Enak," ucap Elvan didalam hatinya.


Elvan mulai memakan bakso nya.


"Mmm. Enak, Kay," ucap Elvan.


"Nah, enak kan. Habiskan deh."


"Aku baru pertama makan di tempat kayak gini."


"Jadi laki-laki, main mu kurang jauh dan pulang mu kurang malam."


"Maksud kamu?"


"Tidak ada maksud. Makanlah, kalau dingin bakso nya gak enak."


...****************...


"Kamu mau bicara apa? Katanya ada yang mau kamu tanyakan sama aku?"


Rio menatap Biani dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Aku mau tanya, kamu cinta gak sama aku?"


Biani menatap Rio dengan tatapan yang dipenuhi dengan kebingungan.


Mereka sudah mengakui perasaan Masing-masing tapi kenapa Rio menanyakan hal itu.


"Kamu sedang tidak bercanda kan?" ucap Biani dengan penuh tanya.


"Aku ... aku hanya ingin memastikan sekali lagi."


Sebenarnya Rio bukan ingin menanyakan hal itu, namun ada hal lain yang ingin ia tanyakan pada Biani, namun dia urungkan niatnya untuk bertanya karena merasa saat itu bukanlah waktu yang tepat.


Biani tersenyum manis kepada Rio.


"Aku cinta sama kamu bahkan aku sangat mencintai kamu. Kamu tahu, kalau pun ada seribu laki-laki yang datang untuk mendekati aku. Aku akan menolak mereka karena kamu satu-satunya yang ada didalam hati aku."


"Serius?"


"Ya."


"Kok kamu jadi gombal sih, Bi, belajar dari mana?"


"Dari siaran televisi."


Biani tertawa kecil.


"Ish, aku pikir beneran terucap dari hati kamu."

__ADS_1


"Tapi aku beneran cinta sama kamu kok."


...****************...


Galang meninggalkan kafe karena merasa hari ini sudah cukup untuk mengganggu Biani. Dia akan pergi ke suatu tempat untuk menemui seseorang yang dapat membawanya ke rumah Biani.


Dalam hal ini, Galang terbilang nekat karena ingin datang ke rumah Biani tanpa persetujuan dan tanpa sepengetahuan Biani.


"Mas Galang, mau ke mana?" tanya Indah.


"Pergi dari sini," ketus Galang.


"Gak mau nungguin Biani dulu?"


"Nggak. Temanmu itu nyebelin."


"Tapi, Mas Galang suka kan?"


Indah berucap dengan sedikit nada menggoda adik dari bosnya itu.


"Tidak."


Galang langsung pergi meninggalkan Indah!


"Dari wajahnya saja udah ketahuan kalau dia suka sama Biani, masih saja ngelak," ucap temannya Indah.


"Biasa, malu untuk mengakui sebelum memiliki," ucap Indah.


"Wih, kata-kata mutiara tuh."


"Kamu baru tahu, kalau aku ini emang pandai berkata-kata."


Mereka tertawa renyah lalu kembali ke tempat masing-masing.


Tak lama, Biani datang dengan raut wajahnya yang berbinar. Dia berjalan menghampiri teman-temannya dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Heppy banget. Abis ketemu sama siapa?" tanya Indah.


"Kepo."


"Dikit doang. Boleh dong," ucap temannya yang satu lagi.


Biani tersenyum, "aku habis bertemu dengan teman," ucap nya.


"Teman apa? Teman biasa atau teman yang lebih dari sekedar teman biasa?" tanya Indah.


"Teman biasa saja, tidak lebih dari itu."


...****************...


Rio sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tempat ia bekerja, saat itu dia berkendara dengan kecepatan sedang karena kondisi jalan yang cukup ramai.


"Sebenarnya mereka hanya kenal biasa atau memang mereka memiliki hubungan yang spesial? Kenapa mereka terlihat sudah saling kenal?" gumam Rio.


Rio terus memikirkan tentang pertemuan antara keluarga nya Biani dengan keluarga Leon saat di kantor polisi, pagi itu.


Sebenarnya Rio ingin menanyakan hal itu pada Biani, namun ia merasa tidak enak karena tiba-tiba dirinya menanyakan hal itu.


Rio menyimpan rasa ingin tahunnya untuk sementara waktu, saat ini dia sedang mencari waktu luang untuk bertemu dengan Shania. Rio berpikir bahwa dia akan menanyakan hal yang ingin ia tanyakan kepada Shania. Rio lebih nyaman bicara sama Shania dibandingkan dengan Biani.


"Aku harus bertemu Shania," gumam Rio.


"Ya, sepertinya aku bertanya kepada Shania saja. Gak mungkin aku menanyakan ini pada Biani, aku takut membuat Biani merasa tersinggung dengan pertanyaan. Lagi pula, kesannya kayak aku sedang cemburu, yang ada nanti Biani semakin besar kepala." Rio terus berbicara sendiri dalam perjalanannya menuju tempat kerjanya.


...****************...


Galang sedang bertemu dengan seseorang di pinggir jalan.


Mereka berdiri di jalan yang lumayan sepi.


"Siapa namamu?" tanya Galang.


"Hans," sahut laki-laki itu.


"Kamu siapanya Biani?"


"Bukan siapa-siapa nya. Aku temannya kakaknya Biani."


"Oke. Dimana alamat rumah Biani?"


Hans menulis alamat rumah Biani di atas kertas lalu memberikannya pada Galang!


"Ini alamatnya!" ucap Galang sembari memberikan kertas berisi tulisan alamat rumah Biani.


Rio meraih kertas itu! "Yakin nih?"


"Yakin seratus persen. Aku pernah ke sana beberapa kali bersama kakaknya Biani."


Galang menatap kertas itu dan membacanya di dalam hatinya.


"Oke, terimakasih. Ini duit untuk kamu."


Galang memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada Hans.


"Terimakasih. Kalau ada apa-apa yang perlu aku kerjakan, hubungi aku di nomor yang sudah aku tulis dibalik kertas itu," ucap Hans.


Galang membalikkan kertas itu! Sebuah senyuman terukir di bibirnya.


"Oke."


Hans langsung pergi dari tempat itu setelah mendapatkan sejumlah uang dari Galang.


Galang menatap kertas itu. "Datang gak ya, ke rumah Biani?" ucap nya.


Galang kembali masuk ke dalam mobilnya! Dia akan membuktikan bahwa Hans menang benar-benar memberikan alamat rumahnya Biani.


"Aku akan ke rumah Biani nanti saja deh, sekarang nongkrong dulu di tempat biasa, mungpung teman-temanku ada di sana," gumam Galang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2