Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 91


__ADS_3

Rio menggenggam tangan Biani, sesekali dia mencium tangan sang kekasih dengan penuh kasih sayang.


"Aku takut kehilangan kamu, Bi. Entah kenapa aku sangat merasa takut," ucap Rio.


"Rio, aku juga takut kehilangan kamu, aku sangat mencintai kamu tapi apa pun yang terjadi pada hubungan kita nanti, aku akan berusaha untuk ikhlas menerimanya."


"Maksud kamu apa? Kenapa kamu berucap seolah hubungan kita ini akan berakhir?"


"Dari awal aku merasa ragu dengan kelanjutan hubungan kita karena masa lalu ku dan juga karena kondisi keluarga aku. Kita bisa menjalin hubungan seperti sekarang ini karena orang tuamu belum tahu tentang aku dan keluarga ku. Bisa saja mereka akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh orang tuanya Leon."


"Biani, kenapa kamu berkata seperti itu? Orang tuaku tidak akan tahu tentang kamu dan keluarga kamu jika kita tidak memberitahu mereka."


"Waktu yang akan membawa mereka pada sesuatu yang kita coba sembunyikan. Kamu tenang saja, Rio meski nanti orang tuamu tidak merestui hubungan kita, aku tidak akan berbuat seperti yang aku lakukan pada Leon dan Shania, aku merasa sudah cukup penderitaan dalam hidupku."


Rio menatap Biani, satu tangannya masih menggenggam tangan Biani dan satunya lagi mengelus pucuk kepala Biani.


"Aku akan memperjuangkan cinta kita. Aku tidak perduli dengan semua tentang kamu dan keluarga kamu, aku tidak perduli dengan semua masa lalu kalian."


Di depan pintu ruangan yang terbuka sedikit itu, Galang melihat Rio yang sedang mengelus pucuk kepala Biani dengan lembut.


Tadinya Galang ingin melihat kondisi Biani, tapi dia urungkan karena takut mengganggu mereka.


Rio menyandarkan punggungnya di dinding ruangan itu.


"Kenapa aku merasa tidak rela melihat kalian sedekat itu," ucap Galang didalam hatinya.


Galang menghela nafasnya panjang lalu mengeluarkannya dari mulut.


"Tidak, Galang. Kamu tidak berhak untuk cemburu pada mereka," gumam Galang.


Galang berjalan dengan terburu-buru, dia tidak ingin ketahuan oleh Rio kalau dirinya ada di rumah sakit itu untuk melihat keadaan Biani.


Bruk!


Tiba-tiba Galang menabrak seseorang.


Dia seorang gadis, dia terlihat sangat kerepotan dengan barang bawaannya.


"Aduh! Mas kalau jalan hati-hati dong," ucap gadis itu sembari memegangi lututnya yang terbentur ke lantai.


"Maaf-maaf, saya tidak sengaja," ucap Galang


Gadis itu tidak berucap lagi, dia membereskan buku-bukunya yang berserakan di lantai.


"Biar saya bantu!" ucap Galang sembari mengambil satu-persatu buku itu.


Saat akan mengambil buku terakhir Galang menyentuh tangan gadis itu yang juga akan mengambil buku itu.


Gadis itu menatap Galang dan Galang pun membalas tatapan gadis itu.


Mereka saling bertatapan dalam waktu beberapa detik dengan tangan yang masih pada posisi semula.


Sesaat kemudian, gadis itu memalingkan wajahnya lalu menarik tangannya!


"M_maaf, saya tidak sengaja," ucap Galang.


"Tidak apa-apa," sahut gadis itu.


Saat gadis itu akan berdiri tiba-tiba dia jatuh menindih Galang yang masih berjongkok di tempat semula.


"Aaa!" teriak gadis itu.


Galang terlentang dan Gadis itu menindih nya dari atas.


Untuk ke dua kalinya mereka saling beradu pandang dalam waktu yang lumayan lama.


"Aw, maafkan saya," ucap gadis itu sembari meringis kesakitan.


Gadis itu segera bangkit dari atas tubuh Galang!


"Sepertinya kaki kamu kesakitan," ucap Galang.


Gadis itu tersenyum tipis mengiyakan perkataan Galang.


"Mari saya bantu!"


Galang membantu gadis itu berdiri lalu memapahnya untuk berjalan.


"Galang! Sedang apa kamu di sini?"


Galang menatap ke arah suara yang terdengar tak asing baginya.


"Kakak," gumam Galang.


Galang sudah berusaha untuk tidak ketahuan oleh kakaknya, namun sepertinya semesta tidak mendukungnya.


Rio melihat Galang sedang berada di salah satu tempat di rumah sakit itu.


"Kakak, aku ... aku ...." Galang tahu harus berkata apa.


"Siapa gadis ini? Sepertinya dia sedang kesakitan?" tanya Rio.


"Dia ... dia ...."


"Saya Rania, kak dokter. Temannya Galang," ucap Rania.


Galang menatap Rania dengan tatapan penuh pertanyaan.


Rania juga menatap Galang seulas senyuman terukir di bibir Rania.


"Oh, kamu kenapa?" tanya Rio pada Rania.


"Tadi aku terjatuh dan kakiku terasa sakit."

__ADS_1


"Apa terasa sakit banget?"


"Sebenarnya tidak."


"Sakit kak. Tadi dia kesakitan," ucap Galang.


Rio menatap Galang lalu menatap kaki Rania yang nampak tidak berdarah itu.


"Keseleo?" ucap Rio.


"Tidak kak, aku hanya terbentur saja, tidak perlu mendapatkan penanganan khusus. Nanti juga sembuh sendiri kok," ucap Rania.


"Permisi dokter," ucap salah satu suster.


"Iya, Suster ada apa?" tanya Rio.


"Ada pasien yang ingin bertemu dengan anda."


"Pasien yang mana?"


"Pasien yang dirawat di ruangan nomor dua puluh satu."


"Oh, oke saya ke sana sekarang."


Suster itu segera pergi meninggalkan mereka.


"Galang, Rania kalau gitu kakak pergi dulu ya."


Rio langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.


Galang menatap kepergian kakaknya. Setelah Rio sudah tidak terlihat lagi, Galang membawa Rania duduk di kursi yang berada di tempat itu!


"Terimakasih ya," ucap Galang.


"Terimakasih untuk apa?" Rania bertanya balik kepada Galang.


"Karena kamu sudah membantu menjawab pertanyaan dari kakakku."


Rania menatap Galang, "segitu takutnya kamu sama orang itu. Memangnya dokter itu siapa?" tanya Rania.


"Dia itu kakakku," sahut Galang.


"Kakak kandung?"


"Ya, tentu saja."


"Aneh sama kakak sendiri sampai takut seperti itu? Aku juga punya kakak tapi aku tidak pernah takut sama dia."


"Kalau boleh tahu nama kamu siapa?"


"Tadi aku udah sebutin nama aku."


"Tadi itu bukan kenalan kan?"


Galang membalas senyuman Rania lalu menjabat tangan Rania! "Galang," ucapnya.


...****************...


Indah baru tiba di kafe tempat dirinya bekerja. Terlihat teman-temannya sedang membereskan tempat itu.


"Gimana dengan keadaan Biani?" tanya temannya Indah saat melihat Indah sudah kembali ke sana.


"Aku gak tahu, saat aku pulang dia sudah tersadar dari pingsannya baru aku mau bertanya tentang keadaannya, Pak Bos menyuruh aku balik ke sini," jelas Indah.


"Tapi dia udah diperiksa sama dokter kan."


"Ya udah lah, orang Pak Bos kita itu seorang dokter."


"Aku capek tahu membereskan tempat yang berantakan ini."


"Udah kamu istirahat saja, biar aku yang bersihkan."


"Gak apa-apa, Ndah lagian kamu juga pasti capek habis dari rumah sakit."


"Ya udah kita kerjakan sama-sama ya."


Mereka berdua langsung melanjutkan pekerjaannya dengan dibantu oleh karyawan-karyawan kafe yang lainnya juga.


...****************...


Biani tidak perlu dirawat inap, setelah kondisinya membaik dia sudah bisa pulang dari rumah sakit namun Rio ingin berlama-lama dengan sang kekasih.


Rio sengaja meminta Biani untuk tetap di rumah sakit dengan alasan kondisinya belum stabil. Rio baru akan mengizinkan Biani pulang jika dirinya sudah selesai dengan semua pekerjaannya hari itu.


"Rio aku lapar," ucap Biani.


"Aku belikan kamu makanan ya. Kamu mau makan apa?" tanya Rio.


"Aku mau pulang saja, aku sudah merasa baik-baik saja kok."


"Tidak, nanti kalau tiba-tiba kamu pusing gimana? Pukulan aku itu sangat keras bisa saja nanti pas di jalan tiba-tiba kamu merasa sakit lagi."


"Tapi aku–"


"Ssst!" Rio menempelkan jari telunjuknya di bibir Biani.


"Kamu diam di sini, aku mau keluar sebentar untuk membeli makanan untuk kita berdua."


"Baiklah kalau begitu."


Rio tersenyum penuh kemenangan lalu dia segera pergi meninggalkan Biani di ruangan pribadinya itu!


"Jangan lama-lama ya," ucap Biani.

__ADS_1


Rio menghentikan langkanya lalu berbalik badan menjadi menghadap Biani.


"Iya sayangku. Kamu tunggu sebentar ya."


Rio melanjutkan langkahnya lagi untuk pergi membeli makanan untuk mereka berdua.


...****************...


Galang dan Rania masih berada di parkiran rumah sakit, Rania masih merasakan sakit pada lututnya hingga membuat dirinya kesulitan untuk berjalan.


"Kalau masih sakit, biar aku antar kamu pulang saja," ucap Galang.


"Gak usah, lagian sebenarnya gak terlalu sakit, aku bisa pulang sendiri."


"Boleh aku bertanya?"


"Tanya apa?"


"Kamu mau ngapain ke rumah sakit dengan membawa buku sebanyak itu?"


"Teman ku sedang sakit, dia dirawat di rumah sakit ini. Aku ke sini mau mempelajari mata kuliah bareng dia, kebetulan dia orangnya cukup pintar," jelas Rania.


"Sedang sakit, kenapa diajak belajar?"


"Karena dia yang meminta bukan aku yang mengajaknya."


"Teman kamu laki-laki atau perempuan?"


"Dia perempuan," jawab Rania singkat.


"Rania, salam kenal. Semoga kita dapat menjadi teman yang baik," ucap Galang.


Rania tersenyum manis, "salam kenal juga. Aku gak janji kita bisa berteman baik, melihat kakakmu yang galak gitu aku merasa takut," ucap Rania dengan tawa kecilnya.


Rania menatap jam di tangannya lalu menatap Galang.


"Sudah siang, aku pulang ya. Terimakasih untuk semuanya," ucap Rania.


"Kamu yakin gak mau di antar?"


"Tidak, aku bisa kok."


"Oke, hati-hati ya."


Rania hanya menanggapi permintaan Galang dengan senyuman lalu dia berjalan menghampiri sebuah motor sport merek ternama dengan harga yang luar biasa!


"Rania!"


Galang memanggil Rania saat melihat gadis itu akan menaiki motor tersebut.


Rania berbalik badan. "Ya, ada apa?" sahut Rania.


"Kamu naik motor ini?" tanya Galang.


"Iya. Kenapa ya?"


"Tidak, aku hanya merasa ... ah sudahlah jangan dipikirkan. Silahkan kamu duluan saja, aku akan mengikuti kamu dari belakang."


"Oke, aku duluan ya."


Rania menaiki motornya lalu menyalakan mesinnya dan perlahan mulai melaju dengan kecepatan rendah.


Galang mengikuti Rania dari belakang dengan menggunakan mobilnya.


Di dalam mobilnya, Galang terus memperhatikan Rania.


"Gadis itu siapa?" gumam Galang.


Galang terus mengikuti Rania, kebetulan arah mereka sama.


Tiba di jalanan yang cukup sepi dari kendaraan yang lewat tiba-tiba beberapa pemotor berusaha menghentikan mobil Galang.


Galang terpaksa berhenti karena mereka menghalangi jalannya.


"Woi! Turun lo!" seru orang itu.


Dari kaca spionnya Rania melihat Galang berhenti dengan tiba-tiba, merasa ada yang tidak beres Rania memutar balik arah kendaraannya.


Tanpa rasa curiga, Galang keluar dari mobilnya!


"Ada apa ya, Bang?" tanya Galang.


"Jangan banyak bacot lo! Serahkan barang-barang berharga lo!"


"Barang berharga apa, Bang? Kalian siapa?" Galang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang ia alami.


Rania menghentikan motornya tepat di dekat mereka!


"Ada apa ini?" tanya Rania tanpa membuka helm nya.


"Jangan ikut campur lo, ini urusan kami," ucap salah satu dari preman itu.


Rania membuka helm nya lalu turun dari motornya!


"Kalau ada urusan jangan dibicarakan di jalan karena itu tidak baik," ucap Rania.


"Banyak omong lo." Laki-laki itu merasa kesal pada Rania.


"B_Bang jangan apa-apakan dia. Saya akan menyerahkan dompet dan ponsel saya," ucap Galang.


"Oh, jadi kalian perampok?" ucap Rania sembari menatap mereka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2