
Setelah melewati pembicaraan yang begitu panjang, akhirnya Liana menyetujui permintaan Rendy.
"Mulai hari ini sepertinya kehidupanku akan terasa menjengkelkan," gumam Liana didalam hatinya.
"Aku kerja dulu ya sayang. Sebagai permulaan, aku minta peluk, gak lama kok dua menit aja," ucap Rendy sembari merentangkan kedua tangannya.
Liana mengerucutkan bibirnya beberapa centi, "sudah kuduga," ucap Liana namun kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.
Liana berdiri lalu menghampiri suaminya, ia mulai memeluk Rendy walau dengan terpaksa.
"Katanya dua menit? ini udah lebih dari dua menit," ucap Liana karena Rendy tak kunjung melepaskan pelukannya.
Sepertinya Rendy enggan melepaskan pelukannya, ia masih tetap pada posisi semula hingga lima menit telah berlalu, Rendy baru melepaskan tubuh Liana dari pelukannya.
"Kelamaan," ketus Liana.
Rendy hanya tersenyum penuh kemenangan. Ia tak menyangka kejadian yang menimpa Liana dan Ken dapat membuatnya menang banyak.
"Sebentar lagi kita pulang," ucap Rendy kepada Liana.
"Kenapa? kan belum waktunya pulang," ucap Liana.
"Kamu harus mindahin barang-barang kamu ke kamar aku kan, mulai nanti malam kamarku jadi kamarmu juga," jelas Rendy.
"Kenapa harus nanti malam? besok-besok aja kan bisa pindah kamarnya," ucap Liana dengan tatapan malas.
"Syarat yang aku berikan berlaku mulai detik ini, jadi nanti malam kita tidur bareng." Rendy mengedipkan sebelah matanya kepada Liana.
"Apa-apaan ini? kok kesannya aku jadi kaya tawanan. Dipaksa-paksa terus," protes Liana.
Liana kesal kepada suaminya karena suaminya itu terlalu banyak meminta dan mengaturnya.
Rendy hanya menanggapi ucapan Liana dengan senyuman yang sulit diartikan.
Dikediaman Ken.
Saat ini Ken sedang mengerjakan pekerjaannya yang belum sempat ia selesaikan. Meski badannya masih terasa sakit Ken tetap bekerja karena ia ingin yang terbaik untuk perusahaannya.
Terlebih Ken hanya anak angkat dikeluarkannya, karena hal itulah Ken lebih tahu diri siapalah ia dikeluarga itu. Ia selalu melakukan yang terbaik untuk keluarga yang sudah berbaik hati kepadanya.
"Astaga sakit semua badanku ini," ucap Ken sambil terus menatap layar laptopnya.
Kring! suara notifikasi tanda ada pesan masuk ke ponsel Ken.
Ken segera mengecek siapa yang mengirim pesan.
๐ฉRendy, "Maafin gue Ken."
Ken tersenyum setelah membaca pesan dari kakaknya itu.
__ADS_1
"Minta maaf juga ni orang," gumam Ken.
Ken tak membalas pesan dari Rendy, malah ia meletakkan ponselnya dimeja dan membiarkannya begitu saja.
Ken lebih memilih meneruskan pekerjaannya dibanding membalas pesan dari kakaknya.
Setelah lama Ken berkutat dengan laptopnya, Kini pekerjaannya sudah selesai. Ken merebahkan tubuhnya di tempat tidur perlahan ia mulai pergi ke alam bawah sadarnya.
Di kantor.
"Sudah selesai," ucap Rendy lalu menatap Liana yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Sayang, ayo kita pulang," ucapan Rendy, tangannya masih sibuk membereskan berkas-berkas yang berantakan di mejanya.
"Baru juga jam berapa? pulangnya nanti aja." Entah kenapa saat ini Liana merasa kalau suaminya sedang merencanakan sesuatu.
"Aku maunya pulang sekarang!" Rendy menarik tangan Liana membawanya menuju ke tempat parkir.
"Silakan masuk cinta!" ucap Rendy setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Tadi manggil sayang sekarang manggil cinta. Mencurigakan," ucap Liana, namun kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.
Tanpa berkata apa-apa Liana masuk kedalam mobilnya, ia duduk disebelah bangku kemudi.
"Awas aja kalau dia macam-macam, akan aku hajar nanti," ucap Liana lagi masih didalam hatinya.
"Siap? kita berangkat."
"Mas, kita mau kemana?" tanya Liana penuh penasaran.
"Nanti juga kamu tahu setelah kita tiba di tempat itu," saut Rendy, pandangannya terus fokus kepada medan jalan yang sedang dilewatinya.
"Mas, kalau kamu macam-macam jangan harap aku akan diam saja." Liana mengancam suaminya.
Rendy tersenyum mendengar ucapan Liana.
"Aku gak akan ngapa-ngapain kamu. Jangan berpikir aneh-aneh terus tentang aku, gini-gini aku ini suamimu Li," ucap Rendy dengan gaya nakalnya.
Liana memalingkan wajahnya, ia tak ingin melihat suaminya yang menurutnya menyebabkan itu.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Rendy berhenti ditengah hamparan bunga-bunga.
Tempat itu terlihat seperti taman namun sangat luas dan ada danau juga ditempat itu, kupu-kupu yang beterbangan menambah keindahan tempat itu.
Rendy mengajak sang istri turun dari mobilnya, tanpa penolakan Liana segera turun dari mobil.
Liana mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia sangat terpesona akan indahnya tempat itu.
"Kita duduk disana," ucap Rendy sembari mengarahkan jari telunjuknya kearah pohon besar yang ada didekat danau.
__ADS_1
Rendy melingkarkan tangan kanannya di pinggang Liana lalu mereka berjalan berdampingan menuju pohon besar itu!
Setelah tiba dibawah pohon yang rindang itu mereka duduk diatas rerumputan sembari memandang indahnya pemandangan ditempat itu.
"Kamu suka?" tanya Rendy sembari memandang wajah istrinya yang terlihat begitu cantik menurutnya.
"Tempat ini sangat indah, aku suka," ucap Liana sembari terus mengedarkan pandangannya ke semua arah.
"Liana, maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? aku mencintaimu dan ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin kita bersama selamanya," ucap Rendy sembari memegang kedua tangan Liana.
"Mas, aku sudah menjadi istrimu kan?" ucap Liana.
"Kemarin-kemarin kamu adalah pacarku dan sekarang aku minta agar kamu bersedia untuk menjadi istriku. Liana maukah menjadi bidadari dalam hatiku?"
Liana terdiam ia hanya menanggapi ucapan suaminya dengan anggukan tanda ia bersedia menjadi istrinya.
Rendy tersenyum bahagia setelah Liana mengiyakan permintaannya.
Rendy mencium kening Liana dengan waktu yang lama, ini kali pertama ia mencium istrinya itu.
"Aku janji akan menjadi suami yang baik dan bertanggungjawab, aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu," ucap Rendy dengan tatapan bahagia.
"Aku mencintaimu," sambung Rendy sembari menatap lekat netra coklat milik sang istri.
"Aku juga mencintaimu, mas."
Rendy kembali mencium kening Liana lalu memeluknya erat.
Tak ada penolakan dari Liana atas perlakuan Rendy padanya, tempat itu menjadi saksi bisu menyatunya cinta mereka.
"I love you selamanya," bisik Rendy ditelinga Liana.
Dua insan yang sedang dimabuk cinta itu terhanyut dalam kemesraan hingga tak mereka sadari beberapa orang tengah memperhatikan mereka.
"Enak ya pacaran ditempat sepi kaya gini," ucap salah satu dari mereka.
"Boleh dong joinan? cewek lo boleh juga," ucap satunya lagi.
"Kayaknya seru kalau kita pake bersama," sambung teman satunya lagi.
Rendy mengepalkan tangannya ia tak terima dengan ucapan-ucapan kotor yang keluar dari tiga laki-laki itu.
Liana yang merasa dilecehkan terlihat sangat marah Liana mengeratkan rahangnya bahkan gemeltuk giginya yang beradu satu sama lain terdengar dengan jelas.
"Jaga ucapan kalian. Dia istri gue," ucap Rendy dengan nada tinggi.
Ketiga laki-laki itu malah tertawa setelah mendengar ucapan Rendy.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir, untuk mendukung author agar bersemangat dalam berkarya jangan lupa tinggalkan jejak dengan Like, komen, hadiah atau vote nya ya.
๐๐