Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 77


__ADS_3

Leon baru pulang dari kantor, setibanya di rumahnya, dia tidak mendapati Shania di tempat biasa istrinya itu menonton drama korea kesukaan.


"Dimana istriku?" tanya Leon kepada Bik Inem.


"Di kamarnya. Tadi Bu Rea muntah-muntah dan katanya tubuhnya merasa lemas jadi dari siang beliau tidak keluar dari kamarnya," jelas Bik Inem.


"Apa, kenapa tidak meneleponku atau dokter?"


"Saya sudah menawarkan untuk menelpon dokter atau Anda, tapi Bu Shania melarang saya."


Leon menghela nafasnya lalu membuangnya perlahan.


Dengan langkah panjangnya, Leon berjalan menuju kamarnya yang terdapat di lantai dua rumahnya.


Leon membuka pintu kamarnya perlahan pandangannya langsung tertuju pada Shania yang sedang terbaring di atas tempat tidur.


"Kamu udah pulang?" tanya Shania namun tak merubah posisinya.


"Kamu sakit, tapi tidak menelpon ku?"


Leon berjalan menghampiri Shania lalu duduk di bibir ranjang.


"Aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya butuh istirahat saja."


Leon meraih tangan Shania lalu menggenggamnya dengan lembut.


"Kamu, kalau ada apa-apa telpon aku ya, aku gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita."


"Iya, aku juga kalau merasa tidak kuat menahan ketidak nyamanan pada diriku, aku pasti menelepon mu atau pun dokter. Saat ini aku baik-baik saja aku hanya ingin ...." Shania menggantung ucapannya.


"Apa? Kamu mau apa hmm?" ucap Leon sembari menatap Shania.


"Aku mau ...."


"Mau apa? Katakan saja."


"Aku pengen nyentuh kumis Pak Polisi yang waktu itu ada di kantor polisi."


"Apa!" Leon terkejut dengan keinginan Shania yang sangat aneh.


"Entah kenapa aku selalu terbayang dengan kumis Pak Polisi itu."


"Kamu aneh-aneh aja deh. Ngidamnya ganti sama yang lain saja, masa mainin kumis orang. Kamu mau bikin aku cemburu?"


"Nggak dimainin, Leon. Aku cuma pengen megang kumis nya sebentar kok, gak sampai dua menit."


"Nanti habis megang kamu minta dicium lagi."


"Nggak, Leon. Aku maunya dicium sama kamu saja gak sama orang lain."


"Kamu serius penasaran sama kumis Pak Polisi itu?"


"Iya," ucap Shania dengan gaya manjanya.


"Kumis, Pak Satpam saja. Dia kan juga punya kumis."


"Gak mau, Pak Satpam udah tua sedangkan Pak Polisi itu tidak tua."


"Kamu ngidam atau kegenitan sih. Mau megang kumis saja harus orangnya yang masih muda."


Leon terlihat kesal dan cemburu. Belum juga istrinya itu megang kumis polisi itu, Leon sudah terbakar api cemburu.


"Kalau gak boleh ya udah, nanti anak kamu ileran," ucap Shania.


"Nggak-nggak. Kita cari waktu yang tepat untuk menemui polisi itu ya," ucap Leon.


Shania segera duduk di samping Leon lalu menatap Leon dengan tatapan berbinar tangannya menegang tangan Leon dengan erat. Raut wajahnya terlihat begitu berbeda dari saat Leon belum mengizinkannya untuk menemui polisi itu.


"Serius? Kamu nge_bolehin aku ketemu sama polisi itu?"


"Gimana lagi, daripada anakku ileran. Mau ngelarang juga gak bisa kan, karena kamu terus memaksa."


Shania tersenyum lalu memeluk Leon.


...****************...


"Aku antar kamu pulang ya," ucap Galang pada Biani.

__ADS_1


"Gak usah. Aku naik angkutan umum saja," sahut Biani.


"Karyawan di sini berebut penghargaan diantar pulang sama aku. Kenapa kamu malah menolak ku?"


"Kenapa kamu menawarkan pada orang yang tidak ingin diantar pulang olehmu, kenapa tidak menawarkan diri pada karyawan lain yang mau diantar pulang oleh dirimu?"


"Aku maunya nganter kamu bukan mereka."


"Maaf, Tuan Muda Galang, saat ini saya tidak bisa menerima tawaran Anda mungkin lain kali saja."


Biani masuk ke dalam angkutan umum yang kebetulan lewat di depannya.


Galang menatap mobil angkutan umum itu dan mengingat plat nomornya setelah itu dia berlari menuju mobilnya!


"Aku harus mengikuti dia!"


Galang segera melajukan mobilnya untuk mengikuti angkutan umum yang ditumpangi Biani.


"Lang! Mau kemana Lo?" ucap temannya Galang.


Galang tak menjawab perkataan temannya karena dia tidak mendengarnya.


"Mau kemana dia?" tanya teman yang satunya lagi.


"Gak tahu, kelihatannya buru-buru banget."


"Udah ah, mending kita pulang yuk!"


Dua temannya Galang itu pun pergi dari tempat itu.


Indah yang masih berdiri menunggu dijemput oleh Ayahnya, terus menatap ke arah jalan yang baru dilalui oleh Galang.


"Dari dulu, aku suka sama kamu Galang, malah sekarang kamu ngejar-ngejar Biani yang baru bekerja dua hari," gumam Indah.


Gadis yang sudah hampir satu tahun bekerja di kafe itu memang memendam rasa cinta untuk Galang, dia tidak berani mengutarakan perasaannya karena dia sadar dirinya siapa dan Galang siapa.


"Aku cemburu melihat kamu begitu perhatian pada Biani. Kenapa kamu tidak dapat melihat cinta yang aku punya untukmu Galang?"


Tak lama Ayahnya datang menjemputnya.


"Tidak apa-apa Ayah. Kita langsung pulang saja."


"Gak mau beli bakso kesukaan kamu dulu."


"Tidak, Ayah. Aku sedang tidak menginginkannya."


...****************...


Galang terus mengikuti mobil angkutan umum itu sampai mobil itu berhenti di depan sebuah rumah sakit.


Galang terus memperhatikan mobil itu, dia ingin tahu siapakah yang turun didepan rumah sakit itu.


Biani turun dari mobil itu.


"Terimakasih Bang," ucap Biani kepada sopir angkutan umum itu.


Dari kejauhan, pandangan Galang terus mengikuti kemana arah Biani pergi.


"Rumah sakit? Kenapa dia pulang ke rumah sakit," gumam Galang.


Setelah Biani berjalan memasuki area rumah sakit itu, Galang mulai melajukan mobilnya lagi, dia memasuki area rumah sakit itu untuk mengetahui semua tentang Biani.


Galang keluar dari mobilnya lalu segera berlari untuk mengejar Biani.


Galang berlari masuk ke dalam rumah sakit itu namun sayangnya dia tidak melihat Biani di semua tempat.


Galang berjalan ke sana kemari untuk menemukan Biani namun tetap saja dia tidak berhasil menemukannya.


"Kemana dia?" gumam Galang.


Dari kejauhan Rio menatap ke arah Galang yang terlihat sedang kebingungan.


Rio berjalan menghampiri Galang!


"Galang! Sedang apa kamu di sini?" tanya Rio.


"Kak Rio, Kakak kok Kakak ada di sini?" Galang malah bertanya balik pada Rio.

__ADS_1


"Ditanya malah balik nanya."


Galang tersenyum tipis, dia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Aku mau jenguk temanku yang sedang sakit," ucap Galang berbohong.


Tidak mungkin dia mengatakan pada Kakaknya bahwa dia ke rumah sakit itu untuk mengejar seorang gadis.


"Oh, terus udah jenguk nya?"


"Udah, aku mau pulang sekarang. O, ya Kak, rumah sakit ini tempat kerja Kakak yang baru ya?"


"Iya, sekarang Kakak kerja di sini. Cepat pulang sana! Awas kalau kelayapan dulu."


"Iya aku pulang. Kakak gak mau pulang juga?"


"Kakak masih ada pekerjaan."


"Ya udah aku pulang ya!"


Galang pergi meninggalkan Rio di tempat itu.


"Ternyata Kak Rio kerja di rumah sakit ini," gumam Galang.


"Dia tahu gak ya sama Biani?"


"Gak mungkin Kak Rio tahu sama Biani, Biani kan bukan pasien."


Galang terus berbicara sendiri sembari terus berjalan menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat ia berjalan.


...****************...


Kayla sedang berada di salah satu butik tempat keluarganya memesan gaun pengantinnya.


Saat itu Kayla sedang mencoba gaun yang sudah jadi sejak satu bulan lalu, dirinya baru sempat mencoba gaun pengantin itu setelah belakangan ini sibuk dengan misi penyelidikannya.


Kayla berputar didepan cermin, memperhatikan setiap lekuk tubuhnya.


"Ma, gimana?" tanya Kayla.


"Waw, cantik sayang," ucap Arkhana.


"Anak Papa cantik banget pakai gaun ini," ucap Sam.


"Oh, jadi kalau gak pakai gaun ini, aku gak cantik?" ucap Kayla.


"Kamu tetap cantik meski menggunakan baju yang sudah lama. Bedanya ini gaun spesial yang hanya dibuatkan khusus untuk kamu," ucap Arkhana.


"Elvan ke sini gak, Ma?" tanya Kayla.


"Iya dong, dia kan juga harus mencoba pakaiannya."


Kayla tak berucap lagi, dia terus menatap dirinya dari pantulan cermin.


"Ternyata aku cantik juga, gak kalah dari Mama," ucap Kayla didalam hatinya sembari senyum-senyum sendiri.


"Kenapa, terpesona dengan kecantikan sendiri atau kamu baru tahu kalau ternyata kamu jelek?" ucap Elvan yang tiba-tiba muncul.


"Elvan, kamu ngagetin saja."


Kayla terperanjat karena tiba-tiba Elvan melingkarkan tangannya di pinggang Kayla.


"Saking fokusnya liatin dirimu dari cermin sampai gak sadar ada orang yang sedang memperhatikan dirimu."


"Kamu kan datang tiba-tiba kayak hantu, jadinya aku kaget."


"Kamu cantik sekali, sayang," ucap Elvan sembari memeluk Kayla dari belakang.


"Sayang? Serius kamu manggil aku dengan sebutan itu?"


"Iya. Kenapa, ada yang salah?"


"Tidak, aku hanya merasa agak aneh saja gitu."


Elvan terus memeluk Kayla dari belakang sambil menatap pantulan mereka dari cermin besar yang ada didepan mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2