Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 66


__ADS_3

"Gini nih kalau punya Bos yang kurang bertanggungjawab, jam segini baru tiba di kantor," celetuk Elvan saat melihat Leon yang sedang berjalan memasuki ruangan pribadinya.


Leon menatap Elvan yang sedang berdiri di depan pintu ruangannya lalu berjalan ke arahnya!


Leon tersenyum. "Maaf, Van akhir-akhir ini aku sibuk," ucap Leon.


Elvan berjalan memasuki ruangannya lalu duduk di kursi kerjanya.


Leon membantu Elvan dari belakang!


"Semua orang punya kesibukan, Pak Bos."


"Aku tahu, Van masalahnya semenjak Shania hamil selalu ada saja yang dia minta dan dia inginkan. Semalam saja masa dia pengen makan es kelapa tapi es kelapanya pakai bakso."


"Mana ada yang jualan es kelapa pakai bakso kalau bakso kelapa aku pernah dengar."


"Nah itu dia, Van. Semenjak Shania hamil dia tuh minta yang aneh-aneh terus."


"Kamu yang sabar ya, itu ujian." Elvan menatap Leon lalu tersenyum setelah selesai berucap.


"Nanti, anak aku jadi aneh gak sih? Soalnya Mamanya ngidam yang aneh-aneh terus."


"Hahaha!" Elvan tertawa geli.


"Ya, nggak lah, masa bayinya ikut-ikutan aneh," sambung Elvan lagi.


"Kamu yakin, emang kamu tahu?"


"ya nggak lah, istri saja aku belum punya mau tahu dari mana."


"Dasar aneh."


"Kenapa jadi aku yang aneh ya."


"Dah lah, gak ada gunanya juga nanya sama kamu. Ngomong-ngomong gimana dengan hubungan kamu sama Kayla?"


"Baik, baik-baik saja aku rasa."


"Surat undangan pernikahan kalian udah disebar ke mana-mana, bisa-bisanya kamu belum mengundangku secara pribadi," ucap Leon.


"Apa! Udah disebar? Kapan?"


Plak!


Leon memukul kepala Elvan dengan lembaran berkas yang terdapat di atas meja kerjanya Elvan.


"Yang mau nikah siapa? Bisa-bisanya kamu gak tahu tentang ini," ucap Leon.


"Aduh! Kamu jadi Kakak tega banget. Sakit nih," rutuk Elvan.


"Aku benar-benar tidak tahu, orang tuaku dan orang tuanya Kayla yang mengurus semua itu."


"Aneh banget kalian ini, yang mau nikah siapa yang sibuk siapa."


"Memang aneh. Aku sama Kayla itu seperti orang yang dijodohkan tahu gak, semua diurus sama orang tua."


"Ini momen yang tak akan terulang lagi, Van ada baiknya kamu rancang sendiri konsep pernikahan kalian biar mengesankan bagi kamu dan Kayla."


"Ah biasa saja, kamu juga waktu nikah dulu Mama sama Papa yang ngurus segalanya."


"Itu karena aku dan Shania memang dijodohkan, waktu itu tidak ada cinta diantara kami. Beda dengan kalian, kalian kan sudah saling kenal dan memang sama-sama saling mencintai satu sama lain."


"Gak tahu ah. Pusing aku, jadinya."


"Dibilangin gak ngerti juga. Ya udahlah aku kerja dulu."


Leon beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja Elvan!


"Surat undangan sudah disebar, kok gak ada yang ngasih tahu aku?" gumam Elvan.

__ADS_1


Elvan meraih ponselnya lalu menelpon Mamanya.


📞 "Halo,Van," ucap Shila dari sebrang telepon.


📞 "Ma, surat undangan pernikahanku udah disebar ya?"


📞 "Iya sayang, kenapa menangnya?"


📞 "Kenapa aku gak dikasih tahu? Leon jadi marah kan, gara-gara gak aku kasih surat undangan terlebih dahulu."


📞 "Maaf sayang, Mama lupa."


📞 "Karena yang ada dipikirkan Mama hanyalah pernikahan aku."


📞 "Maaf, abisnya Mama udah gak sabar pengen punya menantu."


📞 "Udah dulu ya, Ma. Aku lanjut kerja dulu."


Elvan memutuskan sambungan teleponnya karena tak ingin berdebat dengan Mamanya.


...****************...


Di salah satu jalanan perkotaan, Kayla melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


Sebelum menangkap Jacky, terlebih dahulu ia akan mencari tahu tentang kebenaran dari pengakuan para preman itu dan juga Irwan, ia tak ingin melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaannya.


Siang itu, Kayla sedang mencari tahu tentang apa pekerjaan Jacky, dimana Jacky kerja, dan dimana Jacky tinggal tentunya dia juga mencari tahu tentang keluarganya Jacky juga.


"Mulai dari mana aku?" gumam Kayla.


Kayla menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu mampir ke sebuah warung kecil untuk membeli minuman!


Kayla berjalan menghampiri warung itu lalu mengambil satu botol air mineral!


Kayla duduk di bangku yang terdapat di depan warung tersebut!


Mereka duduk di tempat yang lumayan jauh dari tempat Kayla duduk.


Kayla melihat laki-laki yang bau memesan kopi itu.


"Jacky," ucap Kayla didalam hatinya.


"Bu, saya pesan es teh manis deh," ucap Kayla kepada ibu pemilik warung.


Setelah mengantarkan kopi pesanan Jacky dan temannya, ibu itu langsung membuatkan es teh manis pesanan Kayla.


Tanpa menunggu lama, ibu itu datang mengantarkan pesanan Kayla.


"Silahkan, Neng!" ucap Ibu itu.


"Terimakasih, Bu," ucap Kayla dengan senyum ramahnya.


Kayla meminum es tehnya sambil terus mendengarkan percakapan antara Jacky dan temannya.


"Dia benar Jacky bukan ya?" ucap Kayla didalam hatinya.


Kayla mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu memeriksa foto Jacky yang ia dapatkan dari Irwan.


"Memang benar, dia adalah orang yang aku cari."


Kayla memainkan ponselnya agar tidak dicurigai oleh Jacky.


"Gimana, kondisi lo?" tanya Dion.


"Gini lah, seperti yang lo lihat."


"Kenapa lo masuk kerja kalau masih sakit."


"Di rumah juga mau ngapain? Yang ada gue diceramahin sama Nyokap."

__ADS_1


"Emang, Nyokap lo tahu kalau lo ...." Dion tidak melanjutkan perkataannya.


"Nggak. Gak mungkin gue kasih tahu dia, nanti yang ada Nyokap gue jantungan."


"Apa yang sedang mereka bicarakan?"


Kayla terus mendengarkan pembicaraan antara Dion dan Jacky. Ia ingin tahu apakah memang benar Jacky adalah orang yang berada dibalik semua kejadian yang menimpa Leon dan Shania.


Setelah setengah jam lebih mereka menikmati istirahatnya. Mereka pergi untuk kembali bekerja.


"Berapa, Bu?" tanya Jacky.


"Biasa, Mas kayak belum tahu saja," sahut ibu pemilik warung itu.


Jacky tertawa kecil. "Siapa tahu harganya udah beda, Bu."


Jacky memberikan uang kepada ibu itu lalu segera pergi ke tempat ia bekerja.


Setelah Jacky dan temannya pergi, Kayla menghampiri ibu itu!


"Bu, maaf boleh saya bertanya?" ucap Kayla.


"Boleh, Neng tanya apa?" sahut ibu itu.


"Ibu kenal dengan laki-laki itu?"


"Laki-laki yang mana?"


"Yang barusan bayar."


"Oh, Mas Jacky. Saya kenal sama dia udah lama, Neng."


"Dia kerja dimana, Bu?"


"Itu, di perkantoran didepan jalan sana, memangnya kenapa ya?"


Kayla tersenyum tipis, "tidak apa-apa, Bu. Saya pikir dia Kakak saya yang hilang beberapa tahun lalu, karena wajahnya sangat mirip," ucap Kayla berbohong.


"Oh gitu."


"Ibu tahu di mana tempat tinggalnya?"


"Tidak, tapi Ibu pastikan dia bukan Kakaknya, Neng yang hilang karena, Mas Jacky punya Mama dan seorang adik."


"Ibu tahu?"


"Tahu. Adiknya sering datang ke sini untuk menemui, Mas Jacky."


"Waw, mereka dekat sekali."


"Mas, Jacky orang yang baik dan ramah kepada semua orang mungkin karena itulah adiknya sampai sedekat itu sama, Mas Jacky."


Kayla tersenyum tipis, dia tak berucap lagi.


Setelah menghabiskan minumannya, Kayla segera pergi dari warung itu, tak lupa sebelum pergi ia membayar pesanannya itu.


Kayla melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!


Setelah lima menit berkendara ia tiba di depan sebuah gedung perkantoran.


Kayla menepikan mobilnya, pandangannya tertuju pada gedung tinggi itu.


"Rupanya di sini dia kerja," gumam Kayla.


Kayla terus menatap gedung itu dalam waktu yang lama.


"Aku akan memulai penyelidikan dari sini dari tempat ini," gumam Kayla.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2