
Disepanjang perjalanan pulang Liana sama sekali tak membuka suara meski suaminya terus mengajaknya berbicara dalam hatinya ia terus menggerutu mengapa nasib buruk menimpanya.
"Ini bukan menuju rumah," ucap Liana dengan wajah datar.
Jalan menuju rumah mereka seharusnya bukan ke arah yang sedang Sam lewati.
"Kita pulang ke rumah mama," ucap Rendy.
"Aku tidak mau," ketus Liana.
"Sayang, kamu sedang hamil kalau kita pulang ke rumah, kamu pasti sering melamun. Kata dokter kamu gak boleh banyak pikiran," jelas Rendy yang tak ingin Liana dan bayinya kenapa-napa.
Liana tak berucap lagi, karena terlalu kesal ia kembali meneteskan air mata.
"Tuh kan, didepan aku aja kamu nangis," ucap Rendy sembari menghapus air mata yang mengalir di pipi Liana.
Rendy yang merasa tidak bersalah terus berbicara manis kepada istrinya itu.
Sementara Sam hanya diam ia memang sudah mengetahui permasalahan diantara Rendy dan Liana sejak beberapa hari terakhir.
"Kamu pilih aku atau dia?" ucap Liana dengan air mata yang tak pernah surut dari matanya.
Rendy terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Jawab, Mas. Kalau gak biar aku yang mengalah," ucap Liana lagi karena Rendy tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Dari awal kita ketemu, kamu sudah menjadi wanita yang kuat. Tidak bisakah kamu bertahan sebentar lagi saja?" ucap Rendy.
Dengan gampangnya Rendy mengatakan hal itu kepada Liana dan tanpa rasa bersalah ia meminta agar Liana tetap bertahan.
"Ya. Aku memang wanita yang kuat, aku tangguh dan aku hebat. Aku bisa mengalahkan sepuluh penjahat yang menghalangi jalanku tapi satu hal yang harus kamu tahu, Mas. Aku tidak bisa menghapus nama wanita yang sudah tertulis di hati kamu dan sampai saat ini pun ternyata aku tidak bisa menggantikan posisi wanita itu di hati kamu," ucap Liana dengan sedikit kesombongan diawal ucapannya dan tangis di akhir ucapannya.
__ADS_1
"Sekarang aku mau jujur sama kamu. Aku belum bisa melepaskan Jenny tapi aku juga gak mau kehilangan kamu aku minta izin untuk melanjutkan hubunganku dengan Jenny," ucap Rendy.
Dengan tanpa bersalah, Rendy mengatakan hal itu kepada Liana tanpa memikirkan perasaan Liana yang serasa tercabik-cabik bahkan rasanya ingin berhenti bernafas.
Liana tersenyum dalam luka hati yang terasa sangat perih.
"Sam, apa kamu akan melakukan hal yang sama seperti laki-laki ini?" ucap Liana, kali ini ia mencoba menghentikan tangisnya.
Sam hanya diam, ia tak tahu harus menjawabnya atau tidak.
Sam mengeratkan pegangan tangannya pada setir mobil rasanya tangannya ingin menghantam wajah tuanya itu karena sudah menyakiti istrinya sendiri dan disaat istrinya sedang hamil dengan gampangnya Rendy meminta izin untuk melanjutkan hubungannya dengan kekasih gelapnya.
"Tolong, Liana kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk aku berusaha melepaskan Jenny dengan perlahan," ucap Rendy sembari menggenggam tangan Liana.
Liana menarik tangannya!
"Aku sudah kasih kamu kesempatan tapi kesempatan itu tidak kamu pergunakan dengan baik," ucap Liana tanpa menatap Rendy.
Saat jam makan siang Ken mengajak Shila ke suatu tempat.
"Kita mau kemana?" ucap Shila.
"Nanti juga tahu sendiri," sahut Ken.
Shila hanya diam, ia terus memperhatikan jalan yang sedang mereka lalui.
Tepat di sebuah taman yang luas Ken menghentikan laju kendaraannya.
"Ngapain kesini, bukannya kita mau makan siang?" ucap Shila.
"Ikut aku!" ucap Ken sembari menarik tangan Shila.
__ADS_1
"Kebiasaan, sukanya memaksa," ucap Shila didalam hatinya.
"Duduk!" ucap Ken.
Shila menurut saja apa kata tuan mudanya itu.
"Boleh saya minta sesuatu?" ucap Ken.
"Apa? saya tidak bawa apa-apa," ucap Shila.
"Boleh, tidak?" (Ken)
"Iya, boleh," sahut Shila.
"Saya ingin, kamu jadi bodyguard saya," ucap Ken.
"Saya sudah jadi bodyguard di keluarga anda," Jelas Shila.
"Maksud saya bodyguard pribadi," ucap Ken.
"Gak bisa, Pak. Saya sudah terikat kontrak dengan ibu Elma," ucap Shila.
Ken meraih tangan Shila lalu meletakkannya di dadanya!
"Jadi penjaga hati saya," ucap Ken.
"M_maksud anda?" ucap Shila.
Shila mulai gugup saat merasakan detak jantung Ken yang terasa begitu kencang.
"Saya tidak ingin pacaran. Maukah kamu menjadi istri saya," ucap Ken.
__ADS_1
Bersambung