Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 122


__ADS_3

Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi! membelah ramainya jalanan perkotaan.


Tak sampai setengah jam Rendy berkendara, ia sudah tiba di kediaman sang mertua.


Rendy menatap dua bodyguard pribadinya.


"Kalian, kenapa gak bilang ke saya kalau Liana kesini," ucap Rendy pada bodyguardnya.


"Maaf," ucap salah satu bodyguard itu.


Rendy tak berucap lagi, ia langsung masuk ke rumah mertuanya!


"Assalamu'alaikum," ucap Rendy sembari memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Ratih, Herdiawan dan Liana secara berbarengan.


Rendy mencium punggung tangan Ratih dan Herdiawan secara bergantian lalu mengelus kepala Liana dengan lembut!


"Mas, kamu kesini?" ucap Liana.


"Tadi aku pulang tapi kamu gak ada," ucap Rendy kepada Liana.


"Maaf, aku lupa izin sama kamu," ucap Liana.


Hubungan diantara Rendy dan Liana memang sedang tidak baik, Liana sering membatasi pertemuan dan pembicaraannya dengan sang suami.


"Aku khawatir sama kamu. Kamu udah makan?" ucap Rendy.


Liana menggelengkan kepalanya.


Rendy menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan.

__ADS_1


"Ayah, Ibu. Sekarang Liana susah makan, kalau gak dipaksa dia gak makan," ucap Rendy mengadu kepada orang tuanya Liana.


"Orang hamil memang suka begitu kadang gak mau makan sama sekali. Dulu waktu Ibu hamil juga seperti itu," jelas Herdiawan.


"Jadi Liana sudah memberitahu kalian tentang kehamilannya?" tanya Rendy.


"Liana menghadiahkannya kepada Ibu. Hari ini Ibu ulang tahun," ucap Herdiawan lagi.


"Ibu ulang tahun? Liana gak ngasih tahu aku. Maaf ya Bu, aku gak bawa kado buat Ibu," ucap Rendy.


"Kalian sudah memberi kado yang sangat istimewa," ucap Ratih dengan senyum bahagia.


Drrt! drrt! drrt!


Ponsel Rendy bergetar tanda ada pesan masuk.


Rendy melihat siapa yang mengirim pesan padanya dan tertera nama mamanya di layar ponselnya.


"Sayang, makan dulu ya. Ayah, Ibu. Mau makan bareng diluar?" ucap Rendy.


"Bibik, sudah masak untuk makan siang. Kita makan di rumah aja," ucap Ratih.


Di tempat lain.


Shila melajukan motornya ke perkampungan mencari letak persembunyian para preman yang sedang ia cari!


Saat akan memasuki sebuah gang sempit tiba-tiba ada beberapa orang yang menghalangi jalannya.


"Mau kemana?" tanya laki-laki itu.


Shila turun dari motornya!

__ADS_1


"Mau cari alamat teman," ucap Shila.


"Dimana alamatnya? tanya laki-laki itu lagi.


"Di daerah sini. Teman saya namanya Sonny," ucap Shila.


Shila memang sedang mencari ketua preman yang sedang ia sekap.


"Dia tidak ada disini. Silakan cari ke tempat lain saja," ucap laki-laki itu.


"Kalian menghalangi jalanku. Tolong menyingkir karena aku mau lewat," ucap Shila yang tak ingin membuang waktu.


"Sudah saya katakan, dia tidak ada disini!" laki-laki itu berteriak kepada Shila.


Tak ingin berlama-lama, Shila menodongkan senjata api kepada tiga laki-laki itu!


"Menyingkir dari jalanku," ucap Shila dengan tatapan tajam.


Ke_tiga laki-laki itu melakukan perlawanan terhadap Shila, namun bukan Shila namanya jika ia kalah oleh preman jalanan.


Shila mulai melakukan aksinya, ia menyerang satu-persatu lawannya hingga tak dapat melawannya lagi.


Setelah mengalahkan tiga laki-laki itu, Shila mengikat mereka lalu menginterogasi mereka.


Setelah sepuluh menit mengorek informasi dari tiga laki-laki itu, ternyata mereka juga adalah anak buahnya Sonny.


Shila menelpon rekannya untuk menjemput tiga laki-laki yang sudah ia lumpuhkan.


"Sebentar lagi tugasku selesai," ucap Shila didalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2