Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 118


__ADS_3

Shila memasuki ruang tempat penyekapan itu! lalu mulai mengintrogasi dua preman yang berhasil ia tangkap.


"Siapa nama lo?" tanya Shila.


Preman itu tak menjawab pertanyaan Shila.


"Jawab pertanyaan gue atau ... mereka akan tiada," ucap Shila sembari memperlihatkan sebuah foto seorang perempuan yang sedang menggendong anak kecil.


Shila mengancam preman itu dengan mengatakan ia akan melukai keluarga dari preman itu.


"Jangan. Jangan sakiti mereka," ucap laki-laki itu.


"Siapa yang sudah menyuruh lo mencelakakan orang ini," ucap Shila.


Shila kembali memperlihatkan sebuah foto, namun kali ini bukan foto keluarga preman itu melainkan foto Kendra.


Arman dan temannya terkejut saat melihat foto Kendra. Terlihat raut wajah cemas pada wajah keduanya.


"Tidur tahu," sahut preman itu.


Plakk!


Shila menampar laki-laki itu dengan sangat keras!


"Gue tanya satu kali lagi. Siapa yang menyuruh kalian melukai orang ini?" Shila kembali bertanya, kini dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.


Dua preman itu masih menutup mulutnya. Mereka enggan mengatakan siapa yang sudah menyuruh mereka untuk melukai Ken.

__ADS_1


"Gue kasih waktu sampai besok, kalau kalian tetap diam jangan salahkan gue jika gue melakukan hal yang sama kepada keluarga lo," ucap Shila lagi karena dua laki-laki itu tidak juga membuka suaranya.


Shila meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang masih diselimuti kemarahan.


Shila mengunci pintu ruangan itu agar tawanannya tidak melarikan diri dan dua rekannya ia tugaskan untuk menjaga tawanannya.


Shila mengetik sebuah pesan yang akan ia kirim kepada seseorang.


📩 "Saya sudah menangkap dua orang laki-laki yang salah satunya adalah pelaku yang melakukan penusukan kepada pak Kendra."


📩 "Saya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap dua orang ini."


📩 "Saya targetkan satu minggu ini saya selesaikan dengan tugas saya."


Setelah mengirim pesan itu Shila segera kembali ke rumah Elma karena tak mungkin ia menginap mengingat keamanan dan keselamatan Elma adalah tanggung jawabnya sebagai seorang bodyguard pribadinya Elma.


"Makan dulu, kalau gak nanti kamu sakit," ucap Rendy sembari menyodorkan sesendok nasi ke mulut Liana!


Liana menggelengkan kepalanya.


"Perutku mual. Aku gak mau makan," ucap Liana.


"Kamu harus makan. Sedikit aja, demi bayi yang ada dalam kandunganmu, demi anak kita," ucap Rendy.


Dengan sabar Rendy membujuk sang istri untuk makan.


"Seandainya kamu tidak pernah menduakan cinta, mungkin aku akan jadi wanita yang paling bahagia karena memiliki suami yang perhatian seperti kamu, mas," ucap Liana didalam hatinya.

__ADS_1


"Makan ya, satu suap saja," ucap Rendy lagi.


Karena Rendy terus memaksa akhirnya Liana makan dengan disuapi oleh sang suami yang sebenarnya ia benci.


Setelah beberapa suap, Liana meminta minum dan tak ingin makan lagi.


"Aku mau tidur," ketus Liana.


Rendy menaruh piring bekas makan Liana di meja lalu menutup tubuh sang istri dengan selimut!


"Kamu jangan tidur disini. Tidur di kamar kamu sana," ucap Liana.


Baru Rendy mau membaringkan tubuhnya di samping istrinya malah ia diusir oleh sang istri.


Rendy segera bangkit!


"Baiklah. Kamu istirahat ya," ucap Rendy lalu mengecup kening Liana sembari mengusap lembut kepala sang istri.


Tak ingin membuat Liana marah, Rendy menuruti perintah Liana untuk tidur pisah kamar.


Rendy melangkahkan kakinya meninggalkan Liana di kamar itu lalu ia berjalan menuju kamarnya.


Didalam kamarnya, Rendy berbaring sambil menatap langit-langit kamarnya sembari memikirkan sesuatu yang entah apa itu.


"Sebentar lagi Liana, kumohon bersabarlah kita akan menjemput kebahagiaan kita," ucap Rendy didalam hatinya.


Sebuah senyuman terukir dibibir Rendy. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2