Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 65


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Sayang, nanti siang dandan yang cantik. Aku akan mengajakmu makan siang bersama klien," ucap Rendy sebelum berangkat ke kantor.


"Baik, suamiku," sahut Liana tanpa protes.


Rendy mencium kening dan kedua belah pipi Liana lalu segera bergegas pergi.


"Hati-hati dijalan, mas." Liana tersenyum manis pada sang suami.


"Iya, sayang," sahut Rendy.


"Jaga hati, jaga mata, jaga cintamu untukku. Berangkat bawa cinta pulangnya juga bawa cinta untukku," ucap Liana dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Iya, bawel. Cinta dan sayang aku cuma buat kamu kok," ucap Rendy berbohong.


"Maaf Liana, aku tidak bisa melepaskan Jenny begitu saja," ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang!


Diperjalanan ponsel Rendy berdering tanda adanya panggilan masuk.


Rendy melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi seperti ini. Dilihatnya layar handphonenya tertera nama Jenny disana.


Rendy segera mengangkat telepon dari kekasihnya itu.


📞 "Halo," ucap Rendy.


📞 "Halo, sayang. Nanti kita ketemu kan?" ucap Jenny dari sebrang telepon.


📞 "Nanti siang, gak bisa, sayang. Aku ada acara penting yang gak bisa ditinggalkan," sahut Rendy.


📞 "Acara apa? aku ikut ya," ucap Jenny.


📞 "Tidak,sayang ini acara keluarga. Aku mau ketemu sama kakeknya Liana," jelas Rendy.


📞 "Oh jadi sekarang kamu lebih mementingkan wanita itu dibanding aku?" ucap Jenny kesal.


📞 "Jenny ... Jenny jangan marah gitu dong. Aku harus menemui mereka karena sekarang Liana adalah istriku, bukannya aku gak mau ketemu sama kamu," ucap Rendy yang mulai panik karena Jenny marah padanya.


📞 "Pokoknya aku pengen ketemu sama kamu," ucap Jenny lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Rendy mulai cemas karena Jenny tetap memaksa ingin bertemu dengannya.


Rendy mengetik sebuah pesan untuk Jenny.


📩 "Sayang mengertilah, aku benar-benar tidak bisa menemuimu nanti siang." > kirim.


📩 "Saat ini setatusmu hanya sebagai simpanan sedangkan Liana istri sah aku. Aku tidak bisa meninggalkan tugasku sebagai seorang suami." > kirim.


Setelah mengirim pesan pada kekasihnya, Rendy kembali fokus berkendara sesekali ia menatap ponselnya berharap Jenny membalas pesan darinya.


Setelah hampir sampai ke kantor, Jenny tak kunjung membalas pesan dari Rendy sepertinya wanita itu benar-benar marah kepada Rendy.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobilnya Rendy terdiam sejenak didalam mobilnya, ia mengacak rambutnya kasar.


"Aaah!" teriak Rendy gusar.


"Kenapa Jenny tidak mau mengerti," gumam Rendy.


Setelah hampir setengah jam Rendy terdiam didalam mobilnya, kini ia mulai bisa mengendalikan dirinya. Rendy kembali merapikan rambutnya lalu turun dari mobilnya.


Saat Rendy sedang berjalan menuju ruangannya ia berpapasan dengan beberapa karyawannya yang menyapanya ramah.


Jika biasanya Rendy tersenyum ramah pada mereka, kali ini tidak. Sedikitpun Rendy tak menghiraukan mereka dan senyum yang setiap hari menghiasi bibirnya kini tiada lagi.


"Pak Rendy kenapa? tumben asem," ucap salah satu karyawannya.


"Iya, gak biasanya dia seperti itu," sahut karyawan lain.


"Tapi gantengnya gak ilang biarpun gak senyum juga," sahut karyawan yang lain lagi.


"Lagi pada ngomongin apa? seru banget," ucap Diana yang baru tiba.


"Ngomongin, Pak Rendy yang gantengnya kelewatan," ucap Cici temannya Diana.


"Lewat mana, lewat jalan tol?" ucap temannya yang satu lagi.


"Lewat hati gue," ucap Cici sambil cengengesan.


"Dasar genit. Lo mau jadi pelakor? ingat, Pak Rendy udah punya Bu Liana yang cantiknya berkali-kali lipat dari lo," ucap Diana.


Di ruangan Rendy.


Rendy mulai kewalahan membagi waktu antara Liana dan Jenny. Kekasih gelapnya itu selalu menuntut Rendy untuk menemuinya setiap hari.


Rendy memejamkan matanya beberapa saat berharap semua beban pikirannya berkurang.


Tok! Tok! Ken mengetuk pintu ruangan Rendy sembari nyelonong masuk kedalamnya!


"Kenapa lo? kusut banget kayak baju belum disetrika," ucap Ken sembari berjalan menghampiri Rendy.


"Tidak," sahut Rendy singkat.


"Gue tahu apa yang ada dalam pikiran lo." Ken duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya Rendy.


"Baiknya lo cepat tinggalkan Jenny sebelum semuanya terlambat. Ingat Rendy cinta sejati hanya datang satu kali dalam seumur hidupmu," ucap Ken yang memang mengetahui tentang hubungan Rendy dengan Jenny.


"Gak bisa. Gue sayang sama dia," sahut Rendy dengan nada lirih.


"Kalau gitu lepasin Liana, biar gue yang ngebahagiain dia lahir batin," ucap Ken dengan santainya.


Rendy menggebrak meja dengan kasar!


"Kurangajar lo Ken. Lo mau rebut Liana dari gue?" ucap Rendy yang mulai tersulut emosi.


Ken masih duduk tenang ditempat semula, Ken tertawa terbahak didepan kakaknya yang sedang marah padanya.

__ADS_1


"Yang lo rasakan sekarang ini bukan cinta, Rendy tapi nafsu. Nafsu yang akhirnya akan membawa penyesalan diakhir kisahmu," ucap Ken.


Rendy masih dikuasai oleh amarah sehingga ia tak dapat mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Kendra.


"Gue gak peduli. Gue yakin gue bisa memiliki keduanya," ucap Rendy dengan amarahnya.


"Terserah! jika nanti Liana memilih pergi dari lo, jangan harap gue akan membantu lo untuk mendapatkan dia lagi," ucap Ken.


"Antara Liana dan Jenny. Gue gak bisa pilih salah satu diantara mereka," lirih Rendy.


Ken menggelengkan kepalanya, ia tak mengerti dengan pola pikir Rendy.


"Udah siang. Lo jadi gak ajak Liana ketemu sama kakeknya?" ucap Ken mengalihkan pembicaraan.


"Lo urus aja sesuai dengan rencana kita kemarin. Gue mau urus Jenny dulu," ucap Ken.


"Istri lo dalam bahaya, masih aja mikirin wanita ular itu," ketus Ken.


"Jaga bicaramu Ken! biar bagaimanapun juga dia adalah kekasihku." (Rendy)


"Sampai kapanpun, gue gak akan menerima Jenny dan gue akan buktikan kalau dia memang ular betina yang menjijikkan." Kendra pergi meninggalkan Rendy dengan emosi yang ia pendam.


Saat ini jam menunjukkan pukul 11:00 wib.


Ken segera bergegas pergi menjemput Shila ke rumah mamanya.


Dengan emosi yang belum reda, Ken mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tak butuh waktu lama, Ken sudah tiba di rumah mamanya.


Didepan pintu sudah ada Shila yang sedang menunggu kedatangannya, Ken tersenyum mencoba menyembunyikan kekesalannya kepada kakaknya.


"Sudah siap?" ucap Ken.


"Seperti yang anda lihat," ucap Shila.


"Ayo kita berangkat!" ucap Ken sembari menggenggam tangan Shila.


"Gak mau ketemu dulu sama, Ibu?" ucap Shila.


"Aku buru-buru. Ketemu sama mama, nanti aja," ucap Ken sembari terus berjalan menuju mobilnya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Shila.


Shila tak berucap, ia mengikuti langkah Ken tanpa penolakan.


Setelah keduanya sudah berada didalam mobil, Ken segera melajukan kendaraannya menuju kafe yang sudah dipesan oleh Ridwan terlebih dahulu.


Dua puluh menit berlalu, kini Kendra dan Liana sudah tiba di tempat tujuan.


Ken mengajak Shila duduk di tempat yang agak jauh dari tempat yang akan digunakan untuk pertemuan antara Liana dan kakeknya.


"Kita duduk disini dan disana adalah tempat pertemuan antara Liana dan kakeknya. Aku harap kamu dapat membantuku untuk menjaga keamanan Liana disini," jelas Ken.


Shila mengangguk paham meski sebenarnya ia tidak tahu bahaya apa yang mencintai Liana.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2