Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 76


__ADS_3

Hari ini Rendy sudah diperbolehkan untuk pulang oleh dokter.


Rendy dan Liana sudah siap untuk pulang kerumahnya setelah satu minggu lebih Rendy dirawat di rumah sakit.


"Sudah siap untuk pulang?" ucap Ken yang baru tiba di ruangan Rendy dirawat.


"Ken?" ucap Liana penuh tanya.


"Aku datang untuk menjemput kalian," jelas Ken.


Tanpa diminta, Ken berinisiatif untuk menjemput kakaknya ke rumah sakit.


"Bukannya lo harus ke kantor?" ucap Rendy.


"Nganterin kalian pulang dulu kan gak ada salahnya setelah itu baru gue ke kantor," ucap Ken dengan senyum bahagia karena kakaknya sudah benar-benar pulih.


"Yaudah, kita pulang sekarang," ucapan Liana.


Rendy berjalan lebih dulu dan Ken berjalan dibelakang Rendy untuk berjaga-jaga kalau kakaknya tidak kuat berjalan karena masih lemas.


Liana mengekor dibelakang Ken, ia tak terlalu banyak mengeluarkan suara jika tidak terlalu penting ia tidak akan berbicara.


Diperjalanan pulang tak ada percakapan diantara Ken, Rendy ataupun Liana, ketiganya asyik dengan pemikiran masing-masing.


Setelah hampir setengah jam akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Ken tiba dihalaman rumah kakaknya.


"Akhirnya sampai juga," ucap Ken.


Rendy dan Liana segera turun dari mobil setelah Ken menghentikan mobilnya!


"Ken, mampir dulu," ucap Liana.


"Nggak usah, aku mau langsung ke kantor aja. Udah siang juga," ucap Ken yang sedang duduk dibangku kemudi.


"Terimakasih karena sudah mengantarkan kami pulang," ucap Liana lagi.


Ken tersenyum, "tidak perlu berterimakasih. Ini memang sudah tugasku sebagai seorang adik," ucap Ken.


Liana tersenyum tipis.


"Aku permisi ya, assalamu'alaikum," ucap Ken.


"Wa'alaikumsallam," sahut Liana.


Ken segera melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman Rendy!


Setelah Ken sudah tak terlihat lagi Liana baru masuk kedalam rumah sementara Rendy sudah masuk kedalam rumah lebih dulu.


Dikamar Rendy.

__ADS_1


"Mas istirahat saja dulu ya," ucap Liana.


"Liana aku mau bicara sama kamu," ucap Rendy.


"Nanti saja, aku lelah. Aku mau istimewa di kamar sebelah," ucap Liana sembari berjalan meninggalkan Rendy di kamar itu.


"Liana!" (Rendy)


Liana tak menghiraukan suaminya yang memanggilnya, ia terus melangkahkan kakinya meninggalkan sang suami.


Di kamar Liana.


Liana merebahkan tubuhnya di tempat tidur, ia memejamkan matanya sesaat untuk menetralkan hati dan pikirannya yang masih diselimuti kebencian terhadap suaminya sendiri. Meski begitu ia selalu bersikap baik terhadap Rendy karena bagaimanapun juga Rendy masih bersetatus sebagai suaminya.


Tak terasa air mata yang coba ia tahan agar tidak keluar akhirnya lolos juga dari pelupuknya.


"Aku gak boleh lemah, gak ada kebahagiaan yang didapat dengan cuma-cuma," ucap Liana didalam hatinya.


Liana mengusap air matanya yang membasahi pipinya, ia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Liana berjalan menuju meja rias yang berada di kamar yang dulu pernah ia tempati itu, ia berdiri didepan cermin sembari menatap pantulan dirinya dari cermin itu.


"Kurang apa aku, sehingga kamu kembali kepada mantanmu, mas?" ucap Liana pada dirinya sendiri.


Liana mendekatkan wajahnya ke cermin itu! "aku cantik, aku akan buktikan kalau aku bisa merebut kembali apa yang sudah aku miliki. Jenny jangan kamu pikir aku akan melepaskan suamiku untukmu," ucap Liana sembari mengepalkan tangannya.


Liana kembali ke tempat tidurnya lalu mulai memejamkan matanya, pergi ke alam bawah sadarnya.


Di kamar Rendy.


"Dimana ponsel ku," ucap Rendy sembari terus mencari-cari ponselnya.


Sejak Liana pergi, ia memang tak pernah lagi memegang ponselnya karena ia merasa kesal Liana tidak pernah menerima telepon darinya, hingga saat ia dibawa ke rumah sakit oleh Ken, ia masih tak membutuhkan ponselnya.


Setelah beberapa menit mencari ponselnya akhirnya Rendy menemukan ponsel itu dibawah tempat tidurnya, ia baru ingat kalau waktu itu ia membanting ponselnya ke sembarang tempat.


"Ini dia, untung tidak rusak," ucap Rendy sembari memegang ponselnya.


Saat Rendy menyalakan handphonenya ada banyak notifikasi dari Jenny.


Puluhan telepon tak terjawab dan ada banyak pesan yang belum ia baca.


"Aku berharap ada satu saja telepon atau pesan darimu, Li," ucap Rendy sembari mengecek ponselnya.


Setelah mengecek semua pesan dan telepon masuk ternyata Liana tidak ada menelpon ataupun mengiriminya pesan.


"Liana apa kamu tidak merindukan aku selama kamu pergi?" gumam Rendy.


Rendy meletakkan ponselnya di meja, ia tak menghiraukan semua pesan dari Jenny bahkan ia tak membaca semua pesan dari kekasih gelapnya itu.


Rendy mondar-mandir tidak jelas, ia gelisah karena memikirkan kesalahan yang sudah ia perbuat kepada Liana.

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 23:22 wib.


Rendy belum juga bisa menutup matanya.


Rendy berjalan menuju kamar sebelah, kamar tempat Liana beristirahat! tangannya sudah bersiap untuk mengetuk pintu yang berada di hadapannya itu.


"Liana udah tidur belum ya?" ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy mengurungkan niatnya untuk menemui Liana, karena mungkin istrinya itu sudah tertidur ia memilih kembali ke dalam kamarnya.


Waktu terus berjalan hingga matahari mulai terbit untuk menerangi dunia.


"Apa tugas kami, bos?" ucap salah satu dari tiga orang preman.


Bram memberikan sebuah foto kepada orang-orang itu!


"Kalian cegat orang ini, terserah mau diapain mau dimatiin juga gakpapa," ucap Bram kepada tiga orang preman itu.


Ketiga preman itu menatap foto yang diberikan oleh Bram.


"Beres, bos," ucap preman itu.


"Ini uang muka buat lo pada," ucap Bram sembari memberikan segepok uang.


Sonny, ketua preman itu menerima uang dari Bram. "Banyak juga," ucapnya sembari mengipas-ngipaskan uang itu.


"Itu sepuluh juta, kalau kalian berhasil nanti gue tambahin sepuluh juta lagi," ucap Bram.


"Siap, bos. Kita pastiin orang ini masuk rumah sakit atau mungkin masuk lubang kuburan," sahut Sonny lalu mereka tertawa terbahak.


"Gue balik dulu. Jangan lupa lo kabarin gue kalau orang dalam foto itu sudah tepar dan satu lagi jangan ninggalin bukti sedikitpun apalagi sampai nama gue kebawa-bawa," ucap Bram.


"Tenang aja, kayak baru pertama aja kerja sama dengan kita-kita," sahut Sonny.


Bram pun pergi meninggalkan tiga preman bayaran itu.


"Siap mengerjakan tugas masing-masing?" ucap Sonny kepada dua anak buahnya.


"Siap bos," sahut keduanya.


"Oke kita jalankan rencana kita sekarang," ucap Sonny.


Dikediaman Ken.


Ken sudah selesai sarapan ia segera bersiap untuk ke kantor. Hari ini Rendy juga akan ke kantor setelah hampir dua minggu kakaknya itu tidak masuk kantor.


Ken mulai melangkahkan kakinya hendak berangkat ke kantor.


"Den, ini tasnya ketinggalan," ucap Bik Onah.

__ADS_1


"O, ia. Makasih ya, Bik," ucap Ken sembari meraih tasnya dari tangan Bik Onah!


Bersambung.


__ADS_2