Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 37


__ADS_3

Ken dan Liana menoleh ke arah suara secara bersamaan, "Rendy!" ucap Liana dan ken berbarengan.


Ken segera berdiri tak lupa ia membantu Liana untuk berdiri.


"Ren, gue bisa jelasin semuanya. Ini gak seperti yang kamu lihat," ucap Ken kepada Rendy.


Sementara Rendy terus berjalan menghampiri Ken dengan tatapan penuh amarah.


"Mas, dengar dulu penjelasan aku," ucap Liana yang melihat suaminya murka.


Tanpa menghiraukan ucapan Liana, Rendy menarik kerah kemejanya Ken! "Dasar kurangajar!" ucap Rendy yang tengah dilanda kemarahan.


Rendy terus memukuli Ken, sementara Ken hanya bisa pasrah ia tidak bisa melawan karena Rendy tidak memberinya kesempatan untuk menyerang balik.


"Mas, apa yang kamu lakukan?" ucap Liana yang mulai panik.


Rendy terus menghujani Ken dengan pukulan sampai wajah Ken babak belur karena ulahnya.


Melihat Ken yang mulai mendapat luka akibat pukulan dari Rendy, Liana menangkis tangan Rendy yang akan memukul tepat dibagian wajah Ken.


"Mas! kalau marah, marah sama aku jangan sama Ken, dia gak bersalah!" teriak Liana, suaranya bergetar karena terlalu takut dan panik.


"Mas," ucap Liana lirih.


Tak terasa air mata Liana mengalir begitu saja. Entah kenapa ia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi saat ini.


"Jangan bersembunyi dibalik air mata Liana. Pantas saja selama ini kamu tidak bisa mencintai aku, ternyata kamu mencintai Ken," ucap Rendy yang masih dikuasai rasa marah.


"Mas, tidak seharusnya kamu melakukan ini pada Ken," ucap Liana dengan air mata yang terus mengalir.


"Aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cemburu liat kamu sama Ken begitu dekat. Apa kamu tidak merasa aku sudah jatuh cinta sama kamu Liana!"


Secara tidak sengaja Rendy mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya sudah beberapa bulan terakhir ia pendam.


Setelah melupakan emosinya Rendy pergi begitu saja tanpa menghiraukan istrinya dan Ken yang terluka parah akibat perbuatannya.


Sementara Liana masih berdiri mematung, ia merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rendy barusan.


Ken mulai berdiri sembari mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah!


"Ken, maaf ya," ucap Liana sembari menghampiri Ken.


"Jangan dekati aku Liana. Nanti Rendy bisa semakin cemburu," ucap Ken sembari meringis kesakitan.


"Tapi Ken, kamu terluka."


"Aku baik-baik saja. Kamu samperin Rendy aja."

__ADS_1


"Tapi Ken ... ."


"Aku baik-baik saja, serius. Pergilah Liana, aku tahu kamu juga cinta kan sama Rendy. Jangan biarkan kisah kalian berhenti sampai disini," ucap Ken.


"Maaf." Liana berlari mengejar Rendy kedalam kantor!


Sementara Ken duduk di kursi tempat tadi ia duduk.


Ken tersenyum meski ia merasa kesakitan, ada rasa bahagia dihatinya kala mendengar pengakuan Rendy.


"Akhirnya kamu mengakuinya juga, Ren."


Kendra berjalan perlahan menghampiri salah satu karyawannya lalu meminta tolong untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Pak. Pak Ken kenapa?" tanya karyawan wanita itu.


"Tolong antarkan saya ke rumah sakit," ucap Ken, suaranya mulai melemah.


"Pak! Pak! bertahanlah. Saya akan mengantar Bapak ke rumah sakit," ucap wanita itu.


Wanita itu segera menghentikan tasi yang kebetulan lewat lalu segera membantu Ken untuk masuk ke taksi itu.


Selama diperjalanan menuju rumah sakit wanita itu membersihkan darah yang mengalir dari sudut bibir dan lubang hidung Ken sesekali wanita itu juga memberi minum kepada Ken.


"Pak tolong cepat sedikit. Bos saya sudah mulai lemah," ucap wanita itu kepada sopir taksi.


Tiba di rumah sakit, Ken langsung mendapatkan penanganan dokter.


Di kantor.


Liana mengejar Rendy ke ruangannya.


Saat Liana membuka pintu ruangan Rendy, alangkah terkejutnya ia kala melihat ruangan yang tadinya bersih dan rapi kini menjadi berantakan bak pesawat yang baru jatuh dari udara.


Perlahan Liana memasuki ruang suaminya itu ia mendapati suaminya sedang berdiri menghadap tembok dengan tangan yang terkepal.


"Mas, jangan seperti ini. Setidaknya kamu dengar dulu penjelasan dari aku," ucap Liana lirih.


"Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, semuanya sudah jelas kalau sebenarnya kamu dan Ken ... ."


Rendy tidak dapat meneruskan ucapannya karena mulutnya dibekap oleh Liana.


"Buang jauh pikiran burukmu itu, mas," ucap Liana.


"Liana, sudahlah jangan terus membela diri. Aku kecewa sama kamu," ucap Rendy dengan nada tinggi.


Rasa cemburu yang melanda hati Rendy membuat laki-laki itu tidak bisa berpikir jernih dan sulit mengendalikan amarahnya.

__ADS_1


Entah kenapa Rendy merasa begitu cemburu padahal sebenarnya ia masih menyimpan nama Jenny dihatinya.


Di rumah sakit.


Ken sudah ditangani oleh dokter, kini laki-laki itu tengah terbaring di ranjang ruang rawat inap, tubuh Ken masih lemah Ken baru di izinkan pulang besok siang.


"Pak, apa perlu saya kasih tahu Pak Rendy tentang hal ini," ucap Diana, karyawan yang mengantarkan Ken ke rumah sakit.


"Tidak perlu. Kamu kembali saja ke kantor, lanjutkan pekerjaanmu," ucap Ken dengan nada yang hampir tidak terdengar.


"Tapi Pak, siapa yang jagain anda disini?" ucap Diana.


Wanita itu merasa khawatir kepada bos kedua di kantor tempat ia bekerja. Selama ini Ken memang selalu ramah dan selalu memperlakukan karyawannya dengan baik, ia tidak pernah membeda-bedakan status sosial.


"Tidak usah khawatir, saya baik-baik saja," ucap Ken meyakinkan Diana.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit ya, Pak. nanti saya kesini lagi setelah pulang kerja," ucap Diana lalu pergi meninggalkan Ken di ruangan itu.


Setelah Diana pergi kini tinggal Ken sendiri dengan tubuh penuh luka lebam dan beberapa luka yang mengeluarkan darah di area wajahnya.


Ken berbaring sembari menatap langit-langit, pikirannya melayang memikirkan semua yang telah terjadi padanya, saat ini bukan tentang Rendy dan Liana yang ia pikirkan tapi tentang dirinya sendiri.


Tentang gadis-gadis yang pernah dekat dengannya namun tak sampai memiliki hubungan yang serius dengannya.


Karena ketampanannya, Ken banyak didekati para gadis namun entah kenapa dari sekian banyak gadis yang mendekatinya tak ada satupun yang membuatnya tertarik.


Saat Lamunan Ken melayang tiba-tiba ia teringat kepada wanita pengintai yang ia beri nama Markonah di kontak ponselnya.


Ken mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi nomor yang ia beri nama Markonah beberapa kali mencoba menghubungi nomor itu namun tidak ada jawaban.


"Wanita misterius," ucap Ken dalam hatinya.


**** **** ****


Hari sudah mulai sore, kini Rendy dan Liana sudah berada di rumah.


Rendy masih marah kepada istrinya. Tidak ada sedikitpun obrolan diantara keduanya, sementara Liana memilih tidak berbicara dulu kepada Rendy, memberikan waktu untuknya menenangkan diri.


Liana akan menjelaskan semu yang terjadi, nanti pada saat suaminya sudah mulai tentang, agar suaminya lebih mudah mencerna setiap perkataan yang ia ucapkan.


"Kenapa kau lakukan ini padaku Ken," ucap Rendy dalam hatinya.


Bersambung.


Teman-teman jangan lupa mampir juga ya ke novel temanku yang berjudul "Balas dendam istri yang tak dianggap"


__ADS_1


__ADS_2