
Rendy tersenyum tipis ada rasa bersalah karena ia sudah menduakan Liana.
"Hubungan kami baik-baik saja, kami sedang berusaha untuk memberikan cucu untuk kalian," ucap Rendy.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Herdiawan mengalihkan pembicaraan.
Liana menggelengkan kepalanya, "Belum. Tadi mau makan tapi gak jadi karena keburu dikejar-kejar sama orang-orangnya kakek," jelas Liana.
"Kalau gitu kita makan bersama. Ibu sudah masak atau belum?" ucap Herdiawan.
"Sudah, Yah. Tapi cuma sedikit karena Ibu gak tahu Liana dan Rendy mau datang," jelas Ratih.
"Mau makan di luar?" tanya Herdiawan.
"Aku kangen masakan Ibu," sahut Liana.
"Kalau gitu, Ibu masak dulu," ucap Ratih sembari beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
Liana mengekor dibelakang sang ibu, ia hendak membantu ibunya memasak untung mereka makan siang.
Sudah lama Liana tidak menemani ibunya memasak karena memang semenjak dikejar-kejar oleh kakeknya, Liana jadi takut untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Waktu berjalan begitu cepat tak terasa matahari mulai tenggelam dan dalam waktu beberapa jam lagi akan berganti dengan sinar rembulan.
Ken sedang dalam perjalanan untuk mengantarkan Shila pulang ke rumah mananya.
"Bosan gak jalan sama aku, Shil?" tanya Ken sembari terus menyetir.
"Tidak. Jalan dengan anda, menyenangkan," sahut Shila.
Ken tak menjawab ucapan Shila, ia hanya menatap Shila sebentar lalu tersenyum.
"Boleh saya bertanya?" ucap Shila.
"Tentu. Tanya saja," sahut Ken.
"Anda bilang, Pak Rendy terlihat aneh. Anehnya seperti apa?" ucap Shila tanpa menatap bos mudanya itu.
"Aneh aja gitu, seperti ada yang disembunyikan. Gimana ya ngejelasinnya? dia tuh gak pernah berbohong sama aku jadi sekarang ini dia seperti orang yang sedang berbohong, kalau bicara seperti dipikirkan terlebih dahulu dan sering melamun," jelas Ken.
"Sebelumnya dia selalu terbuka terhadap anda?" tanya Shila lagi.
"Iya. Dia punya masalah sekecil apapun pasti dia cerita sama saya dan selalu saya yang jadi orang pertama yang mengetahui keluh kesahnya dia," jelas Ken lagi.
"Cepat atau lambat dia akan cerita sama anda," ucap Shila dengan mantap.
"Kenapa kamu begitu yakin?" tanya Ken.
"Karena dia selalu menceritakan semua masalah yang dia alami. Biasanya orang seperti itu tidak bisa menyimpan masalahnya sendiri," jelas Shila.
"Semoga saja," sahut Ken lirih.
"Sepertinya anda begitu sayang terhadap keluarga," ucap Shila.
"Saya hanya menjalankan tugas seorang anak dan adik yang baik yang bisa siap kapan saja saat dibutuhkan," ucap Ken dengan senyumannya.
Karena asyik mengobrol tak terasa mereka sudah tiba di rumah Elma.
__ADS_1
Ken segera memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobilnya.
Ken dan Shila berjalan beriringan masuk kedalam rumah Elma!
"Udah pada pulang?" ucap Elma yang sedang duduk di kursi ruang keluarga.
"Maaf, Bu. Saya perginya kelamaan," ucap Shila yang merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Shil. Gimana?" ucap Elma.
"Gimana apanya?" tanya Ken yang tak mengerti dengan ucapan mamanya.
"Kalian udah pacaran belum?" tanya Elma to the poin.
Ken tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Shila terlihat salah tingkah.
"Udah ya, Ma aku pamit," ucap Ken sembari melangkahkan kakinya ke luar rumah.
"Hei, kamu belum jawab pertanyaan Mama," ucap Elma dengan nada kesal.
Elma menggelengkan kepalanya! "dasar anak itu," gumamnya.
"Bu, saya permisi mau mandi dulu," ucap Shila.
"Iya, Shil. Langsung istirahat aja ya, kamu pasti lelah seharian ngikutin Ken terus," ucap Elma.
Shila tersenyum lalu segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Di kamar Shila.
Shila sudah selesai dengan urusan mandinya, kini ia sedang duduk didepan meja riasnya. Shila tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Ken.
"Dasar bodoh, bisa-bisanya aku berpikir kearah sana. Ingat Shila siapa dirimu," lanjut Shila sembari memukul kepalanya sendiri.
Diperjalanan pulang Ken melihat Jenny sedang makan berdua dengan Bram tapi ia tak menghiraukan dua penghianat itu, ia tak terlalu memikirkan mereka karena sekarang Rendy sudah mencintai Liana.
Ken terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
Setelah dua puluh menit Kendra tiba di rumahnya, ia segera masuk kedalam rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya!
Dikediaman Rendy.
Rendy dan Liana sedang tiduran di tempat tidurnya!
"Kamu bahagia banget," ucap Rendy.
"Iya bahagia lah, tadi kan udah ketemu sama ibu dan ayah," sahut Liana.
"Sekarang kamu tidur. Kamu pasti capek abis berkelahi sama orang-orangnya kakekmu," ucap Rendy sembari mengelus lembut pipi sang istri.
"Kamu juga pasti capek, kan kamu juga ikut berkelahi tadi," sahut Liana.
"Yaudah kita tidur bareng," ucap Rendy lalu mencium kening Liana mesra.
Rendy dan Liana terlelap dan mulai bertualang dialam mimpi.
*** *** ***
__ADS_1
Pagi hari telah tiba, matahari mulai menampakkan sinarnya.
Setelah selesai sarapan Rendy bersiap untuk berangkat ke kantor.
Rendy berjalan menuju mobilnya dengan diantar oleh Liana.
Setelah Rendy berada di dalam mobilnya, ia berpamitan kepada istri tercintanya.
"Ada yang ketinggalan gak?" tanya Liana.
"Kayaknya gak ada deh. Semua sudah aku bawa termasuk cintamu juga aku bawa," ucap Rendy.
"Iih, mas Rendy, orang lagi serius juga," ucap Liana.
"Iya, sayang aku juga serius. Aku berangkat ya," ucap Rendy dengan senyumnya.
"Iya. Hati-hati di jalan ya," ucap Liana.
"Sayang sini dulu sebentar, itu di pipimu ada sesuatu," ucap Rendy.
Liana mengusap pipinya! "apa?" ucapnya.
"Sini, biar aku yang bersihin," ucap Rendy.
Liana mendekatkan wajahnya ke suaminya! "ada apa sih?" ucapnya.
Setelah wajah Liana mendekat padanya, Rendy mencium pipi Liana dengan tiba-tiba.
"Udah," ucap Rendy sembari tersenyum nakal.
"Mas, kalau mau cium tinggal bilang aja gak usah banyak alasan," ucap Liana.
"Kalau bilang dulu namanya bukan kejutan," sahut Rendy.
"Ish. Udah berangkat sana," ucap Liana.
Di Kantor.
Kendra sudah tiba di kantor lebih awal, hal ini memang sudah menjadi kebiasaannya sejak ia menjadi orang kedua di perusahaan milik orang tuanya Rendy.
Ken sedang duduk di kursinya dengan tatapan yang terus tertuju pada layar laptopnya. Kendra sedang sibuk dengan segudang pekerjaannya sebagai orang kepercayaan Rendy di perusahaan milik orang tuanya Rendy.
Saat Kendra sedang fokus memeriksa berkas yang harus ditandatangani oleh Rendy tiba-tiba suara Rendy membuyarkan fokusnya.
"Hem!" Rendy berdeham.
Ken menolih ke arah suara! "lo. Dari tadi disitu?" ucap Ken.
"Baru aja," sahut Rendy singkat.
"Tumben masih pagi udah nyampe di kantor," ucap Ken sembari terus fokus pada laptopnya.
"Lagi ada urusan di luar," ucap Rendy.
Ken menatap Rendy penuh tanya, biasanya jika ada keperluan diluar kantor, Rendy suka minta tolong padanya.
"Biasanya juga lo minta tolong gue," ucap Ken.
__ADS_1
"Sekarang gak bisa di wakilkan," ucap Rendy.
Bersambung.