
"Kenapa tuh muka? Kayak baju belum disetrika?" tanya Elvan.
"Papa gak merestui pertunangan aku sama Biani," ucap Leon lirh.
"What! Bukannya Papa udah sayang sama Biani, kenapa tiba-tiba jadi berubah?" tanya Elvan.
Sebelumnya Rendy memang sangat menyayangi Biani karena sifat Biani yang baik dan sopan terhadap orang tua. Namun setelah bertemu dengan orang tuanya Biani, Rendy jadi benci dan melarang Leon berhubungan lagi dengan gadis itu.
"Aku gak tahu, Van kenapa tiba-tiba Papa melarang aku meneruskan hubungan yang lama aku jalin bersama Biani," sahut Leon.
"Papa pasti punya alasan, kenapa tiba-tiba dia seperti ini," ucap Elvan.
"Gak ada satu alasan pun yang Papa ucapkan padaku."
"Aneh juga, kalau Papa gak kasih satu alasan pun." Elvan berpikir keras.
"Om Ken! Ya, Papamu Van." Leon berdiri dari duduknya!
"Ada apa dengan Papaku? Kenapa nyambungnya ke Papa?" ucap Elvan.
"Papa Rendy gak pernah menyimpan rahasia dari Om Ken. Mungkin dia tahu kenapa Papa melarang aku melanjutkan hubunganku dengan Biani," ucap Leon.
Leon berjalan menghampiri mobilnya!
"Mau kemana?" Elvan berjalan membuntuti Leon.
"Mau ke rumah kamu. Aku ingin bicara dengan Papamu," ucap Leon sembari terus berjalan!
"Ini masih jam kerja, Leon!" tegas Elvan.
"Aku gak perduli. Kamu gak ngerti gimana perasaan aku," ucap Leon.
Elvan menghentikan langkahnya! Membiarkan Leon pergi sendiri, ia tahu saat ini pikiran Leon sedang kacau.
...****************...
Di kediaman Biani.
Biani terlihat murung, ia kehilangan semangat karena penyengat nya sebentar lagi tidak akan jadi miliknya lagi.
"Bi, sudahlah, mungkin Leon bukan jodohmu," ucap Jenny sembari mengelus kepala putrinya.
"Aku cinta sama Leon, Ma." Biani memeluk Mamanya dengan air mata yang mulai menetes.
"Mama tahu. Jodoh gak akan kemana, kalau kalian berjodoh Tuhan pasti memberikan kemudahan untuk kalian bersatu," ucap Jenny.
"Aku gak tahu kenapa Om Rendy membatalkan pertunangan kami secara tiba-tiba. Aku salah apa, Ma? Apa aku tidak baik dimata Om Rendy tapi kenapa sebelumnya Om Rendy memberiku harapan kalau akhirnya akan seperti ini." Biani menangis dipelukan mamanya.
Jenny terdiam tanpa kata, tidak mungkin ia mengatakan masa lalunya kepada Biani ia tidak ingin putra dan putrinya tahu tentang masa lalunya yang tidak baik, ia takut putra dan putrinya akan membencinya jika tahu yang sebenarnya.
Biani terisak sambil terus memeluk mamanya.
"Apa orang seperti kita tidak berhak bahagia? Apa hanya orang kaya saja yang berhak bahagia?" tanya Biani.
"Semua orang berhak untuk bahagia tapi kebahagiaan orang berbeda-beda, sayang. Tidak semua orang mendapatkan kebahagiaannya dengan mudah sebagian orang harus berusaha untuk mendapatkan kebahagiaannya," jelas Jenny.
Semenjak Bram meninggal, Jenny mencoba memperbaiki hidupnya dan usahanya berhasil setelah beberapa tahun hidup dalam kesulitan. Jenny yang dulunya gila harta dan akan melakukan apa pun demi harta, kini tidak lagi. Jenny yang sekarang adalah Jenny yang tak ingin mengulangi kesalahannya lagi dan menjauhi semua perbuatan buruk.
__ADS_1
"Mama akan temui Papanya Leon. Mama akan berusaha meyakinkan dia agar merestui hubungan kamu sama Leon lagi," ucap Jenny.
...****************...
Di tempat kerjanya, Jacky terus mengingat tangisan adiknya. Sejak Ayahnya meninggal dia lah satu-satunya orang selalu ada untuk Biani.
Sebagai seorang Kakak, Jacky bertanggungjawab atas susah dan senangnya Biani. Saat Biani menangis ia juga ikut merasa tersakiti.
"Jangan melamun nanti kemasukan lalat lo," ucap teman kerjanya Jacky.
"Siapa yang melamun. Gue lagi fokus kerja," ucap Jacky.
"Lo gak bisa bohong sama gue," ucap Dion.
"Gue kepikiran Biani. Sekarang dia pasti lagi nangisin si Leon," ucap Jacky jujur.
Bagi Jacky, air mata Biani sangat berharga, setiap orang yang membuat Biani menangis akan menerima akibatnya.
"Sudahlah Jack, putus cinta kan hal biasa bagi anak muda apalagi Biani yang usianya terbilang masih muda banget," ucap Dion.
"Lo gak ngerti perasaan gue," ucap Jacky.
"Lihat saja, gue pasti akan menghancurkan keluarganya Leon terutama Tuan Rendy yang terhormat karena sudah membuat Biani menangis," sambung Jacky.
Jacky mengepalkan tangannya! Rahangnya mengeras dan tatapannya sangat tajam.
...****************...
Leon memarkirkan mobilnya di halaman rumah Ken! Leon berjalan memasuki rumah tanpa dipersilahkan oleh sang pemilik rumah!
"Aden, ada apa Den?" ucap asisten rumah tangga Ken.
"Bik, Om dan Tante mana?" tanya Leon.
"Mereka tidak ada di rumah, Den. Mereka sedang ada acara di luar," jelas asisten rumah tangga itu.
Leon menatap asisten rumah tangga itu.
"Kira-kira lama gak ya, Bik?"
"Kurang tahu, Den," sahutnya.
Leon terdiam dalam posisi semula, ada rasa kecewa karena ia tidak berhasil menemui Kendra.
"Den, duduk biar Bibik ambilkan minum dulu," ucap asisten rumah tangga itu karena Leon berdiri dalam waktu yang cukup lama.
"Ng_gak usah Bik. Aku mau kembali ke kantor saja, lain kali aku kesini lagi," ucap Leon.
"Oh, baik, Den."
Leon melangkahkan kakinya menuju halaman!
"Oh, ya, Bik. Kalau Om dan Tante pulang, katakan kalau aku ingin bertemu dengan Om ya," ucap Leon setelah menghentikan langkanya.
"Baik, Den."
Leon segera pergi meninggalkan kediaman Ken dan keluarga.
__ADS_1
Leon melajukan kendaraannya tanpa arah tujuan, pikirannya melayang entah kemana hingga setelah hampir dua puluh menit berkendara mobil yang Leon kendarai tiba di depan rumah Biani.
Rumah yang tidak begitu mewah dan ukurannya juga sangat kecil jika dibanggakan dengan rumahnya, Rumah Biani belum ada apa-apanya.
Entah bagaimana Leon bisa tiba di depan rumah Biani.
Karena sudah terlanjur berada di halaman rumah sang kekasih akhirnya Leon turun dari mobilnya! Berniat menemui sang kekasih yang sangat ia cintai.
Tok!
Tok!
Tok!
Leon mengetuk pintu utama rumah sang Kekasih.
Leon berdiri didepan pintu itu, tak lama pintu terbuka dan nampak sosok wanita patuh baya yang membukakan pintu untuknya.
"Leon?" ucap Jenny.
Karena tidak memiliki asisten rumah tangga, Jenny lah yang membuka pintu tersebut.
Leon tersenyum ramah, seperti biasa Leon akan mencium punggung tangan wanita itu.
"Tante, aku mau ketemu sama Biani," ucap Leon.
"Duduk dulu, Nak," ucap Jenny.
Jenny mengajak Leon untuk duduk di kursi ruang tamu.
"Tante ambil minum buat kamu dulu," ucap Jenny lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan teh atau kopi untuk Leon!
Leon setia menunggu berharap ia bisa bertemu dengan sang kekasih.
Tak butuh waktu lama akhirnya Jenny tiba dengan segelas teh ditangannya!
"Minum dulu," ucap Jenny.
"Terimakasih tante. Boleh aku bertemu dengan Biani?" ucap Leon.
"Nak, Papamu tidak merestui hubungan kalian. Baiknya kamu cari gadis yang lain yang sepadan dengan keluarga kalian," ucap Jenny.
"Tante, aku sayang sama Biani, aku serius sama dia," ucap Leon.
"Leon!"
Biani berjalan cepat menghampiri Leon dan Jenny! Raut wajahnya terlihat begitu bahagia kala melihat Leon ada di rumahnya.
"Bi," lirih Leon.
Melihat Biani dan Leon yang saling mencintai ada rasa kasihan dan tidak tega dalam hati Jenny jika harus memisahkan dua sejoli itu.
"*Jika Mama tahu akan seperti ini, mama gak akan melakukan kesalahan dimasa lalu yang membuat kalian harus berpisah dengan paksa. Maafkan Mama, Bi," ucap Jenny didalam hatinya.
Jenny pergi meninggalkan Leon dan putrinya, rasanya ia tak bisa melihat pasangan kekasih itu harus berpisah.
Bersambung*
__ADS_1