Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 120


__ADS_3

Setelah berkendara selama dua puluh menit Rendy tiba di kantornya.


Rendy langsung berjalan menuju ruangannya!


"Dari mana aja lo, jam segini baru tiba di kantor?" tanya Ken yang baru tiba di ruangan Rendy.


"Ketemu sama Jenny," sahut Rendy jujur.


"Rendy, gue udah peringatkan sama lo untuk segera mengakhiri hubungan lo dengan wanita ular itu ... ." (Ken)


"Dia punya nama," sarkas Rendy disela ucapan Kendra.


"Aku tidak sudi menyebut namanya," ucap Ken dengan nada kesal.


"Sudahlah, Ken jangan ikut campur urusanku," ucap Rendy sembari terus fokus menatap sekeliling ruangannya.


"Gue gak mungkin ikut campur urusan pribadi lo kalau lo tau bagaimana cara menghargai cinta sejati," ucap Ken.


"Gue yang memaksa Liana untuk nikah sama lo, gue juga yang akan memastikan kebahagiaannya. Jika lo tetap memilih Jenny, sebaiknya lo segera ceraikan Liana biarkan orang lain yang membahagiakan Liana," sambung Ken.


"Tidak akan. Liana akan tetap menjadi milik gue gak ada orang lain yang boleh memiliki Liana," ucap Rendy.


"Kalau gitu lepaskan Jenny. Jangan sakiti Liana terus-menerus, ingat dia sedang mengandung anak lo," ucap Ken.


Karena terlalu marah Ken tak segan menunjuk wajah sang kakak.


Rendy menepis tangan Ken yang sedang menunjuk tepat kebagian wajahnya.


"Gue pastikan Liana akan bahagia bersama gue," ucap Rendy, "silahkan keluar dari ruangan gue," sambung Rendy.

__ADS_1


Ken mendengus kesal, lalu pergi meninggalkan Rendy di ruangan itu.


Setelah Ken pergi, Rendy mengelilingi ruangannya seolah sedang mencari sesuatu.


"Gue harus cari tempat yang cocok," gumam Rendy.


Di rumah Rendy.


Liana sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat.


Liana duduk didepan meja riasnya, ia memoles wajahnya dengan make_up sembari bernyanyi.


Jika biasanya Liana menangis karena memiliki suami yang masih belum melupakan mantannya, tapi hari ini tidak seperti biasanya Liana terlihat sangat bahagia.


Setelah selesai berdandan Liana keluar dari kamarnya.


"Bik, aku mau pergi," ucap Liana kepada asisten rumah tangganya.


"Katakan saja aku pergi ke rumah orang tuaku," ucap Liana.


Hari ini memang Liana akan pergi ke rumah orang tuanya karena hari ini adalah hari ulang tahun ibunya.


Liana mulai pergi meninggalkan rumahnya dengan dikawal oleh dua bodyguard pribadinya.


Diperjalanan Liana kebingungan harus memberi kado apa kepada ibunya.


"Berhenti di toko perhiasan itu ya," ucap Liana kepada bodyguardnya.


Bodyguard itu langsung menuruti perintah Liana, ia segera memarkirkan mobilnya tepat didepan toko perhiasan yang ditunjuk Liana.

__ADS_1


Liana memilih perhiasan untuk ia hadiahkan kepada ibunya.


Setelah mendapatkan perhiasan yang cocok untuk ibunya Liana segera membelinya lalu melanjutkan perjalanannya.


Di tempat lain.


"Sayang, kamu lihat ini," ucap Jenny sembari memperlihatkan secarik kertas.


"Apa itu?" tanya Bram tanpa ekspresi apapun.


Grep!


Jenny memeluk Bram.


"Ini adalah catatan nomor pin brankas milik Rendy," ucap Jenny dengan penuh kebahagiaan.


"Apa! kau serius?" ucap Bram yang merasa terkejut.


Jenny menganggukkan kepalanya.


Bram memeluk Jenny dengan erat! dua sejoli itu tertawa bahagia.


"Kita bisa lebih mudah mendapatkan harta milik Rendy," ucap Jenny sembari tertawa bahagia.


"Dari mana kamu dapat ini?" tanya Bram.


"Kertas itu jatuh dari dompetnya Rendy saat dia ngambil uang untuk aku," jelas Jenny.


"Kita harus menyusun rencana untuk mengeruk isi brankas Rendy," ucap Bram.

__ADS_1


"Iya, sayang. Kita tunggu waktu yang tepat," ucap Jenny.


Bersambung


__ADS_2