Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 38


__ADS_3

Setengah selesai dengan urusannya, Biani berjalan menghampiri Mananya yang sedang sibuk di dapur!


"Mama, mau bicara apa padaku?" tanyakan Biani setelah tiba di dapur.


Jenny yang sedang mencuci piring, menghentikan gerakan tangannya, ia segera mencuci tangannya lalu mengajak Biani duduk di kursi meja makan.


"Duduklah!"


Biani menuruti perkataan Mananya, dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Mamanya!


Jenny masih terdiam, dia tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, sedangkan Biani masih setia menunggu apa yang hendak di bicara padanya.


"Ma, katanya ada yang ingin dibicarakan denganku?" ucap Biani karena Mamanya tak kunjung berbicara.


"Biani, tadi Leon kesini," ucap Jenny.


"A_apa, Leon kesini?"


Rasa takut mulai menghampiri Biani lagi.


"Dia bicara yang Mama gak ngerti. Dia bicara tentang percobaan bunuh diri, dia juga bawa-bawa nama polisi dan dia menyuruhmu untuk meminta maaf pada istrinya. Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?"


Biani terkejut mendengar semua perkataan yang Leon sampaikan kepada Mamanya.


"M_mama gak usah dengerin kata-kata Leon ya. Mungkin dia lagi banyak pikiran."


"Tapi gak biasanya, Leon berbicara kasar sama Mama."


"Mama tahu kan orang tuanya Leon gak suka sama kita, mungkin saja Om Rendy berkata yang tidak-tidak kepada Leon."


"Om Rendy tidak seperti itu."


Jenny tak sengaja membela Rendy didepan Biani.


Jenny mengenal Rendy dengan baik. Rendy memang tidak mungkin menjelek-jelekan orang lain didepan putranya sendiri.


"Maksud Mama?"


Biani menatap Jenny penuh tanya.


"M_maksud Mama, gak mungkin seorang Ayah atau Ibu berkata sesuatu yang membuat anaknya menjadi orang yang tidak baik dan membenci orang lain."


Jenny kesulitan mencari alasan untuk membuat Biani tidak bertanya-tanya lagi padanya.


Biani masih menatap Jenny dengan bibir yang tertutup rapat. Dalam hatinya ia bertanya, apakah Mamanya pernah mengenal Rendy.


"Sudahlah, jangan dipikirkan. Mungkin memang benar Leon sedang banyak pikiran," ucap Jenny mengalihkan pembicaraan.


Biani menarik nafasnya lega karena Mananya tida memperpanjang soal perkataan Leon kepadanya.


"Kalau gitu aku izin pergi ke rumah Tasya ya, Ma."


"Boleh, asal jangan pulang malam karena Kakakmu pasti akan marah kalau kamu pulang malam."


"Iya, Ma paling aku pulang sekitar jam lima sore dari rumah Tasya," jelas Biani.


"Ya udah. Hati-hati ya, sayang."


Biani segera masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas kecil yang selalu menemaninya pergi kemana-mana!


"Ma, aku pergi ya!" ucap Biani sembari terus berjalan menuju pintu utama rumahnya.


"Iya, sayang."


Biani sengaja pergi dari rumah karena takut Mamanya akan bertanya lagi tentang perkataan Leon padanya.

__ADS_1


...****************...


"Gimana, sudah mulai enakkan badannya?" tanya Leon kepada Shania.


"Aku sudah sembuh, kapan aku boleh pulang dari rumah sakit ini?" ucap Shania.


"Kamu belum mendapatkan izin untuk pulang. Dokter masih harus melakukan perawatan intensif pada dirimu."


"Tapi aku sudah sembuh, Leon. Kamu bisa kan bilang sama dokter kalau aku ingin dirawat di rumah saja?"


"Nanti aku bicarakan sama dokter ya, sekarang kamu makan dulu."


Leon menyodorkan sesendok makanan ke mulut Shania!


"Aku makan sendiri saja," ucap Shania sambil. meraih sendok dari tangan Leon.


"Kamu masih sakit, biar aku suapi kamu."


Leon tak memberikan sendok yang ia pegang kepada Shania.


"Tapi ...."


"Ssstt. Makan," ucap Leon sembari menyodorkan sesendok berisi makanan itu lagi ke mulut Shania.


Shania tak bisa menolak, ia harus minum obat setelah makan. Dengan terpaksa Shania melahap makanan itu.


Leon menyuapi Shania dengan sabar dan telaten, hingga setelah beberapa siap, Shania tidak ingin makan lagi.


"Aku sudah kenyang," ucap Shania.


"Kamu baru makan sedikit, satu kali lagi ya," sahut Leon.


"Leon, jangan memaksaku untuk makan lagi, aku sudah kenyang."


Leon memberikan beberapa butir obat kepada Shania tak lupa ia menyiapkan air minumnya juga.


"Terimakasih."


Shania segera meminum obat itu, ia ingin cepat sembuh dan segera pulang dari tempat yang biasa ia sebut hotel menyebalkan itu.


Di luar ruangan sesekali Kayla memperhatikan Leon dan Shania tanpa sepengetahuan mereka berdua.


"Katanya gak cinta, kok sampai seperhatian itu sama Shania," gumam Kayla.


Kayla kembali ke tempat persembunyiannya setelah memastikan Leon dan Shania baik-baik saja.


Di dalam ruangan tempat Shania dirawat.


"Leon, kamu gak ke kantor?" tanya Shania."


"Aku ingin disini saja menjagamu."


"Kalau mau ke kantor, ke kantor saja. Aku gak apa-apa kok sendiri disini."


"Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri, kalau Biani datang lalu menyakitimu lagi gimana? Aku gak mau dibilang suami yang gak becus menjaga istrinya."


"Kamu jangan dengarkan perkataan Rania, dia belum mengerti dengan kehidupan orang dewasa," ucap Shania.


Rania memang mengatakan perkataan yang begitu membuat Leon merasa tertampar hingga Leon menyadari bahwa selama ini yang ia lakukan pada Shania adalah kesalahan besar.


Seiring berjalannya waktu, Leon mulai mengenali Shania lebih jauh lagi dan perasaan cinta mulai tumbuh dihatinya namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya terhadap Shania.


Leon yang mulai mengetahui sifat aslinya Biani mulai tidak menyukai gadis itu dan perlahan cinta untuk Biani hilang bersamaan dengan datangnya cinta untuk Shania.


...****************...

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan selama sepuluh menit, Biani akhirnya tiba di rumahnya Tasya.


Biani mengetuk pintu rumah sahabatnya itu!


Tak lama seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk Biani.


"Neng, Biani. Cari Non Tasya ya?" ucap wanita yang usianya kira-kira empat puluh tahunan itu.


"Iya, Bik. Tasya nya ada?" ucap Biani.


Tak lupa senyum ramah ia suguhkan untuk asisten rumah tangga di rumah sahabatnya itu.


"Ada. Silahkan masuk!"


Biani masuk ke dalam rumah Tasya. Karena sudah bersahabat lama, Biani sudah tahu keadaan rumah itu, Biani langsung berjalan menuju kamar Tasya karena tahu Tasya pasti sedang di kamarnya. Orang rumahnya Tasya pun sudah tak asing lagi dengan Biani karena Biani sering berkunjung ke rumah itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Tasya!"


Biani mengetuk pintu kamar Tasya!


"Masuk! Pintunya gak dikunci," ucap Tasya dari dalam kamarnya.


Biani membuka pintu kamar Tasya lalu berjalan memasukinya.


"Bi, duduk disini!" ucap Tasya sembari menepuk-nepuk sofa disebelahnya.


"Tasya, boleh aku tinggal sehari saja?"


"Biani, kamu boleh menginap selama yang kamu mau."


Biani berjalan menghampiri Tasya lalu duduk di sampingnya!


"Ada apa, Bi? Kamu terlihat begitu lesu?"


"Aku takut Mama tahu apa yang sudah aku lakukan kepada Shania. Mama pasti marah dan kecewa sama aku," ucap Biani.


"Mamamu gak akan tahu, selama kita menyimpan rahasia itu dengan rapat-rapat."


"Tadi Leon datang ke rumahku, dia mengatakan kalau dia akan melaporkan aku ke polisi kalau aku tidak segera meminta maaf kepada Shania," jelas Biani.


"Apa! Leon datang ke rumahmu? Bi, secepatnya kita harus minta maaf sama Shania sebelum Mamamu tahu yang sebenarnya."


"Orang tuanya Leon gak akan membiarkan aku menemui Shania. Aku pasti kesulitan untuk menemui wanita itu."


"Kita harus berusaha Bi karena kalau kamu ketangkap polisi aku juga pasti ketangkap karena aku juga ikut membantumu."


"Tasya aku gak tahu lagi harus berbuat apa? Aku gak nyangka akan begini akhirnya, aku hanya ingin mendapatkan Leon kembali tapi sepertinya akibat perbuatan aku sendiri aku akan kehilangan Leon dan juga kepercayaan dari Mamaku."


Biani menangis menyesali perbuatannya. Awalnya ia hanya ingin menakut-nakuti Shania dan hanya memberi peringkat saja agar Shania tidak berani mencintai Leon.


"Bi, Mamamu pasti mengerti dengan perasaan kamu, aku tahu Mamamu orang yang baik yang gak akan bisa marah kepada anak-anaknya."


"Aku takut, takut kehilangan orang yang aku sayangi. Kak Jacky juga akan sangat marah padaku kalau tahu aku sudah berbuat jahat."


"Mamamu orang baik, Kakakmu juga orang baik. Mereka pasti memaafkan kamu."


Tasya memeluk Biani, dua sahabat itu menangis bersama, menyesali perbuatan yang sudah mereka lakukan terhadap Shania.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2