Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Ban 4


__ADS_3

Jenny pulang ke rumahnya dengan raut wajah sedih.


Saat Jenny masuk ke rumahnya, Jacky melihat air mata menetes dari mata Jenny.


"Mama dari mana?"


"Kenapa Mama menangis?"


"Siapa yang membuat Mama menangis?" Jacky menghujani Mamanya dengan pertanyaan.


Jenny mengusap air matanya!


"Siapa yang menangis, Mama kelilipan."


"Mama habis bertemu teman yang lama tidak pernah bertemu," ucap Jenny.


"Tumben kamu sudah pulang?" sambung Jenny lagi.


"Aku pulang cepat, Mam sebenarnya ini juga baru sampai sih."


"Biani belum pulang?" tanya Jenny mengalihkan pembicaraan.


"Belum. Memangnya dia kemana?" Jacky bertanya balik.


"Tadi dia pamit mau bertemu dengan teman-temannya," sahut Jenny.


Jacky tak berucap lagi, ia beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamarnya!


"Jack, ada apa?" ucap Jenny yang melihat putranya bersikap tidak seperti biasanya.


"Tidak ada apa-apa, Mam semua baik-baik saja," ucap Jacky tanpa menghentikan langkahnya.


Jacky menutup pintu kamarnya lalu menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia berbaring terlentang matanya menatap langit-langit kamarnya pikirannya terus dibayangi oleh bayangan Biani yang sedang menangis.


"Kakak akan membuat perhitungan dengan siapapun yang sudah menyakitimu baik hati maupun fisikmu, Bi," ucap Jacky didalam hatinya.


Karena terlalu sayang, Jacky tidak bisa melihat Biani menangis dan lagi ia sudah berjanji kepada Papanya yang sudah meninggal kalau ia akan selalu menyayangi dan membahagiakan Biani dengan cara apa pun.


...****************...


"Dari mana?" tanya Rania saat Leon tiba di rumahnya.


"Dari kantor lah adikku, masa dari pantai dandan seperti ini," sahut Leon.


"Oh, dari kantor." Rania berjalan memutari Leon! "Tadi Kak Elvan kesini nyariin Kakak," sambung Rania. l


"A_apa?" (Leon)


"Leon! Sudah berapa kali Papa bilang, jauhi Biani," ucap Rendy dengan nada tinggi.


Leon dan Rania menatap Papanya secara bersamaan.


"Papa tahu, tadi kamu tidak ke kantor tapi kamu menemui gadis itu kan!" ucap Rendy masih dengan nada bicara yang tinggi.


"Pa." Liana mencoba meredam emosi suaminya.


Rania meraih tangan Leon lalu mengelus lengan atas Leon.


Leon menatap Rania dan Rania menggelengkan kepalanya mengisyaratkan agar jangan berdebat dengan Papanya.

__ADS_1


"Mama gak usah ikut campur!" Rendy membentak Liana.


"Papa!" (Rendy)


Rendy tak suka mamanya dibentak meski oleh papanya dengan tidak sengaja Leon membentak papanya.


"Mulai berani bicara lantang kamu, sama Papa," ucap Rendy sembari menunjuk ke arah Leon.


"Aku gak suka ya, Papa bentak-bentak Mama. Iya tadi aku tidak ke kantor, tadi aku bertemu dengan biani," ucap Leon.


"Jauhi Biani atau Papa ... ." Rendy menggantung ucapannya.


"Apa? Papa mau apa?" ucap Leon.


"Sudah! Sudah!" (Liana)


Baru Rendy membuka mulutnya, hendak berucap, Liana berteriak meminta agar suami dan anaknya menghentikan perdebatan itu.


"Leon, masuk kamar!" titah Liana.


Tanpa berkata Rania menggandeng tangan Kakaknya lalu sedikit menarik Leon agar mengikuti langkahnya!


"Pa, tenang," ucap Liana yang mulai merendahkan nada bicaranya.


"Anak itu," ucap Rendy.


"Pa, jangan terlalu memaksakan kehendak Papa, kasihan Leon," ucap Liana.


"Papa gak mau Leon merasakan apa yang Papa rasakan dulu. Kamu tahu kan dulu aku sangat mencintai Jenny tapi apa yang aku dapat? Ternyata Jenny hanya memanfaatkan aku," ucap Rendy.


"Aku tahu, Mas tapi mungkin saja Biani tidak seperti itu," ucap Liana.


"Terserah apa mau Papa, kalau terjadi apa-apa terhadap Leon, Papa orang pertama yang akan Mama salahkan."


Liana pergi meninggal Rendy di ruang utama rumahnya.


...****************...


"Capek banget anak Mama," ucap Shila kepada Elvan.


"Iya, Mam. Banyak pekerjaan di kantor," sahut Elvan.


"Van kapan Papa punya menantu? Jangan pekerjaan saja yang kamu urusin keperluan pribadimu juga harus diperhatikan," ucap Ken.


"Papa apa sih. Aku belum ketemu sama gadis yang cocok," ucap Elvan.


"Iya, Mama iri tahu sama Tante Liana yang sebentar lagi mau punya menantu," sambung Shila.


"Tante Liana gak jadi punya menantu, Mam." Dengan santainya Elvan bicara seperti itu.


"Maksudmu? Kenapa bicara seperti itu?" ucap Ken.


"Mama sama Papa belum tahu kalau Om Rendy membatalkan rencana pertunangan Leon sama Biani?" Elvan bertanya balik.


"Elvan, kamu jangan sembarang bicara ya," ucap Shila.


"Pa, bukannya Leon sudah menemui Papa ya? Untuk mencari tahu alasan Om Rendy membatalkan pertunangan mereka," ucap Elvan.


"Tidak."

__ADS_1


Elvan menarik nafasnya panjang lalu membuangnya perlahan.


"Aku capek, mau istirahat dulu," ucap Elvan sembari beranjak dari duduknya.


"Van, Mama belum selesai bertanya," ucap Shila.


"Jangan mengurusi urusan orang lain, urus saja keperluan masing-masing," ucap Elvan sambil terus berjalan menuju kamarnya!


"Bukan tentang Leon tapi tentang kamu."


"Nanti saja." (Elvan)


Elvan menutup pintu kamarnya.


"Kalau benar, apa alasan Kak Rendy membatalkan pertunangan Leon dengan Biani?" ucap Kendra.


"Entahlah. Jangan pikirkan itu, pikirkan saja bagaimana cara agar cepat punya menantu. Jangan sampai anakmu itu menikah dengan pekerjaannya," ucap Shila.


"Kamu ini, ngebet banget pengen punya menantu," ucap Ken.


Di kamar Elvan.


Elvan duduk di sofa ia terus teringat dengan kata-kata yang Leon ucapkan padanya. Ada rasa kasihan karena tiba-tiba Leon dipaksa berpisah dengan orang yang disayanginya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya Leon dan Papanya yang bisa menyelesaikan masalah ini.


Karena lelah tak terasa perlahan Elvan menutup matanya pergi mengarungi alam mimpi.


...****************...


"Istirahatlah, Kak. Jangan pikirkan perkataan Papa, aku mendukung Kakak apapun keputusan Kakak," ucap Rania setelah tiba di kamar Leon.


Leon tak berucap, mulutnya tertutup rapat seakan enggan untuk berucap.


Karena Leon hanya diam, Rania memilih pergi dari kamar kakaknya itu, memberi waktu untuk Leon menyendiri.


Rania turun dari lantai dua rumahnya dan berjalan menghampiri Papa dan Mamanya!


Rania menatap papanya yang terlihat masih diselimuti amarah lalu berjalan menghampiri mamanya yang tengah berada di kamarnya!


Rania membuka pintu kamar itu lalu menyembulkan kepalanya ke dalam kamar mamanya!


"Mam, boleh aku masuk?" ucap Rania dengan nada pelan.


Gadis yang mulai beranjak dewasa itu merasa serba salah dengan keadaan keluarganya saat ini.


"Masuk saja, sayang," ucapan Liana dengan senyuman yang dipaksakan.


Liana kesal kepada sang suami karena tidak sepemikiran dengannya.


"Mam, kenapa jadi seperti ini? Sejak Papa memutuskan untuk membatalkan rencana pertunangan Kakak, rumah ini terasa seperti panas, setiap hari ada keributan," ucap Rania.


Liana tak menjawab ucapan Rania karena ia tidak tahu harus berkata apa.


"Kalau boleh tahu, apa alasan Papa melakukan semua ini? Kenapa Papa ingin merusak kebahagiaan anaknya sendiri? Kasihan Kakak," ucap Rania panjang lebar.


"Mama tidak tahu, apa alasan Papa," ucap Liana berbohong.


Terpaksa Liana harus berbohong karena tidak ingin putrinya itu tahu yang sebenarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2