
Jacky sudah mendapatkan pertolongan medis, kini ia sedang dalam perjalanan menuju pulang ke rumahnya dengan diantarkan oleh Dion.
"Jack, lo kenapa bisa begini, siapa yang mengeroyok lo sampai babak-belur gini?" tanya Dion sembari terus menyetir.
"Gue kalah saat bertarung dengan Rania," sahut Jacky.
"What! Lo kalah sama gadis kecil itu?"
"Kekuatannya sungguh luar biasa, dia tidak seperti yang kita lihat. Tatapan matanya yang tajam seolah memberi tahu bahwa dia sangat berbahaya."
"Gue gak percaya. Rania tidak seperti gadis yang memiliki kemampuan dalam bela diri, penampilannya yang ... ah sulit dipercaya."
"Lo gak akan percaya kalau lo gak ngalamin apa yang gue alami."
Dion tak berkata apa pun lagi, ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Jacky.
Jacky langsung turun dari mobil Dion lalu berjalan memasuki halaman rumahnya.
"Lo gak ngajak gue mampir?" ucap Dion.
"Kalau lo mau mampir, mampir saja. Biasanya juga gak perlu diajak," ucap Jacky.
"Nggak deh, gue langsung pulang saja. Udah sore ni."
Dion langsung melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Jacky dan keluarganya.
...****************...
Leon baru tiba di rumahnya setelah setengah hari bertemu dengan Biani. Ia berjalan memasuki rumahnya dengan langkah santai!
"Baru pulang?" ucap Shania datar.
Leon menatap Shania. "Shania."
"Dari mana?" tanya Shania pura-pura tidak tahu.
"Dari ... aku dari. Aku habis bertemu dengan teman lama," ucap Leon.
Leon sengaja tidak memberitahu yang sebenarnya karena takut Shania salah faham padanya.
"Oh, bertemu kawan lama." Shania mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Sampai lupa sama janji kepada istri ya," ucap Shania lagi.
"Aku ... aku tidak lupa Shania, aku hanya pergi sebentar kok."
"Ya, hanya sebentar. Hanya tiga sampai empat jam kan ya?"
"Maaf, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Terserah!"
Shania berjalan meninggalkan Leon, ia berpura-pura marah kepada Leon.
"S_Shania!" Leon mengejar Shania yang sedang berjalan menuju kamarnya.
"Shania, maafkan aku. Aku mohon," ucap Leon.
"Aku lemas, mau istirahat. Kamu kalau mau makan, makan sendiri saja."
"Shania, Shania."
Shania tak menghiraukan Leon, dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Di dalam selimut itu, Shania tersenyum puas karena berhasil mengerjai suaminya.
"Ternyata Leon benar-benar takut sama aku, apa mungkin dia benar-benar sudah mencintaiku?" ucap Shania didalam hatinya.
Leon masih berdiri di samping tempat tidur itu sambil menatap Shania yang tertutup dengan selimut.
"Shania, aku ...." Leon tak melanjutkan perkataannya, dia lebih memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Shania mendengar suara pintu yang tertutup, ia membuka selimutnya lalu duduk di atas tempat tidurnya.
"Huhh, pengap juga," gumam Shania.
"Leon kemana ya?" Shania menatap pintu kamarnya lalu menatap pintu kamar mandi.
Shania tertawa kecil namun tak mengeluarkan suara karena takut terdengar oleh Leon.
...****************...
"Hai, Van," ucap Kayla.
Elvan menatap ke arah suara! "Kay, kamu di sini?" ucapnya.
__ADS_1
"Hmmm. Aku kangen sama calon suamiku ini."
"Benarkah?" Elvan menatap Kayla.
"Van, kamu sudah tahu belum tentang hari pernikahan kita?"
"Belum. Kenapa memangnya?"
"Mamaku bilang akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari satu bulan lagi."
Uhuk!
Uhuk!
Elvan tersedak air yang sedang ia minum.
"Van hati-hati!" ucap Kayla sembari mengelus punggung Elvan.
"Maaf. Aku terkejut."
"Jadi kamu juga belum tahu?"
"Belum. Kenapa mereka merencanakannya secepat ini dan kenapa mereka tidak bertanya terlebih dahulu kepada kita?"
"Nah itu dia yang mau aku bicarakan sama kamu. Aku pikir kamu tahu tentang ini."
"Tidak, aku sama sekali tidak tahu. Kalau pernikahan kita akan berlangsung dalam waktu kurang dari satu bulan lagi, berarti tinggal beberapa hari lagi dong. Gimana dengan semua persiapannya?"
"Persiapan apa? Semua sudah mereka atur, aku dan kamu hanya perlu menyiapkan diri saja."
"Kamu saja kali, aku kan harus belajar mengucapkan kalimat ijab kabul dulu. Sepertinya aku harus tanya Papa."
"Memangnya harus latihan dulu?"
"Aku gak tahu tapi sepertinya iya."
"Hah ya sudahlah, itu urusanmu, aku gak mau ikutan."
"Kamu tuh ya, mau enak nya saja."
"Siapa yang mau enak nya saja? Nanti kalau udah sah juga, kamu yang enak."
"Kamu juga lah."
"Enggak lah, di mana-mana malam pertama itu pasti wanita yang kesakitan."
...****************...
"Gak nyangka ya kita jadi sering bertemu," ucap Rio.
"Kebetulan saja kali." sahut Biani.
"Bisa jadi kita ini memang berjodoh."
"Amin. Aminin saja dulu kali ya." Biani tersenyum tipis.
"Kalau dimainin berarti ada harapan dong."
"Aku ...." Biani menggantung ucapannya.
"Kenapa, Bi, hmm?" Rio menatap Biani dengan sedikit menundukkan kepalanya agar sejajar dengan wajah Biani.
"Ah tidak, tidak usah dipikirkan." Biani tersenyum lebar ke arah Rio sembari mendorong pipi Rio agar sedikit menjauh darinya.
"Kamu membuat aku gugup," ucap Biani lagi.
"Maafkan aku. Oh ya, kamu dari mana atau mau kemana?" tanya Rio.
"Aku, habis bertemu dengan teman yang lama tidak bertemu karena aku lapar jadi aku mampir dulu deh ke sini," jelas Biani.
"Oh, gitu. Terus sekarang kamu udah selesai atau baru mau mulai makan?"
"Aku baru mau mulai, ini lagi nunggu pesanan ku."
"Sebenarnya aku udah beres dengan urusanku di sini tapi karena aku ketemu kamu jadinya aku gak mau pulang. Boleh aku temani kamu?"
"Tentu saja boleh tapi aku makan nya lama emang kamu mau nungguin aku?"
"Seberapa lama sih, gak sampai satu jam kan?"
Biani tertawa kecil. "Nggak lah. Gak selama itu juga, paling sepuluh menit."
Tak lama seorang pelayan restoran datang mengantarkan pesanan Biani! Ia menata pesanan Biani di atas meja.
"Silahkan," ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Kamu gak mau makan lagi?" ucap Biani kepada Rio.
"Tidak, terimakasih."
Biani mulai menyendok makanannya lalu mulai makan.
...****************...
Jacky keluar dari kamarnya setelah selesai dengan semua urusan pribadinya! Ia ingin makan malam dan setelah itu meminum obat yang diberikan oleh dokter kepadanya.
"Astaga, Jacky kamu kenapa, Nak?" ucap Jenny yang baru melihat wajah putranya.
"Aku jatuh dari motor, Ma," sahut Jacky berbohong karena tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada Mamanya.
"Ya, ampun. Kamu kalau bawa kendaraan hati-hati dong, masa sampai kayak gini."
"Iya, Ma aku selalu hati-hati kok. Tadi tuh aku menghindari mobil yang rem nya blong jadinya aku yang jatuh deh."
Jenny duduk di samping Jacky lalu memperhatikan setiap luka yang terdapat pada wajah putranya itu!
"Mama obati ya."
"Tidak perlu, Ma. Tadi aku udah ke dokter kok, Dion yang mengantarku."
"Kenapa bisa sampai separah ini luka nya, Nak?"
Jenny menatap Jacky dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Biani datang dengan membawa bungkusan makanan yang ia bawa dari restoran tempat tadi ia makan.
Biani langsung menuju meja makan dan alangkah terkejutnya ia saat melihat kondisi Kakaknya.
"Kakak, Kakak kenapa? Kenapa terluka seperti ini?" ucap Biani.
Biani meletakkan kantung plastik yang ia bawa di atas meja makan.
"Kakakmu baru mengalami kecelakaan," ucap Jenny.
"Astaga, Kakak kalau bawa motor hati-hati dong, jangan sampai Kakak kenapa-kenapa."
"Ini sudah terjadi, Bi," ucap Jacky.
Biani menyentuh luka lebam di pipi Kakaknya! "Sakit ya?" ucapnya.
"Sakit lah, pakai nanya lagi. Udah tahu ini sakit," ucap Jacky.
Biani tersenyum tipis lalu membuka bungkusan makanan yang ia bawa!
"Ini aku bawa makanan untuk Kakak dan Mama," ucap Biani.
Meski Biani membenci Jenny, namun ia selalu berusaha bersikap baik terhadapnya karena ia tahu Jenny adalah orang tua satu-satunya yang masih ia miliki.
"Tumben, bawain makanan," ucap Jacky.
"Terimakasih, sayang," ucap Jenny.
Biani membuka makanan itu dan memindahkannya ke piring lalu ia berikan kepada Jacky dan Mamanya.
"Makan, Ma, Kak. Sayang loh kalau gak dimakan," ucap Biani.
"Kamu gak makan lagi?" ucap Jenny.
"Aku udah kenyang, Ma."
"Punya duit dari mana, beli makanan mahal gini?" tanya Jacky.
"Ini dibayarin orang Kak, Aku mana punya uang buat bayar ini semua. Kakak tahu kan aku gak kerja."
"Oh, dibayarin sama siapa?"
"Ada lah, temanku."
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Jenny.
"Rahasia," sahut Biani.
"Kak, aku mau kerja dong."
"Kalau kamu sudah selesai kuliah, Kakak gak bakal ngelarang kamu untuk kerja, makanan Kakak akan nyuruh kamu untuk cepat-cepat bekerja," sahut Jacky.
"Kuliahku kan tinggal beberapa bulan lagi, apa salahnya aku cari kerja dari sekarang."
"Tidak, Biani. Sekarang kamu fokus dengan belajarmu dulu saja," ucap Jacky.
"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi. Biani kamu sabar sebentar lagi ya, Nak. Nanti juga Kakakmu gak akan melarang kamu untuk kerja kalau udah waktunya tiba."
__ADS_1
Bersambung