
Pagi hari, saat itu jam menunjukkan pukul sembilan pagi waktu setempat.
"Kapan kita ketemu sama Pak Polisi berkumis itu?" ucap Shania.
Leon menatap Shania dengan senyuman di bibirnya.
"Aku pikir kamu sudah lupa sama Pak Polisi itu," sahut Leon.
"Aku gak mungkin lupa sebelum aku merasakan kumisnya."
"Apa! Merasakan? Memangnya kamu mau memakan kumisnya?"
"Tidak. Maksudku memegang mencolek atau menyentuhnya."
Leon tertawa, "harus selengkap itu ya?"
"Biar jelas, agar kamu tidak cemburu."
"Kita temui Kayla dulu deh."
"Kenapa ketemu Kayla? Aku kan maunya sama Pak Polisi itu."
"Kan Kayla yang kenal sama Pak Polisi itu. Masa kita tiba-tiba datang ke sana terus minta sesuatu yang aneh dan tidak lazim."
"Iya juga ya. Ya udah ayo cepat siap-siap!"
"Kamu gak siap-siap?"
"Kamu gak lihat apa, dari pagi aku udah cantik gini?"
"Aku gak tahu kalau kamu udah siap. Karena setiap hari juga kamu selalu cantik dimata ku."
"Gombal."
"Serius, sayang. Kamu memang selalu cantik."
Shania tersenyum ke arah Leon. "Terimakasih, suamiku yang baik, yang manis, yang perhatian yang selalu membuatku bahagia. Tolong cepat siap-siap ya, karena aku sudah gak tahan ingin bertemu dengan Pak kumis itu."
"Iya-iya aku ganti baju dulu. Giliran ada maunya saja, suaminya dipuji-puji."
Leon segera masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya!
Shania menunggu Leon dengan sabar di kursi ruang tamu rumahnya.
Setelah beberapa menit, Leon keluar dari kamarnya lalu perlahan menuruni anak tangga.
"Aku sudah siap. Ayo kita berangkat!"
Shania beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Leon!
"Nah, ganteng kan suamiku," ucap Shania.
Mereka berdua berjalan bergandengan menuju mobilnya yang masih terparkir di parkiran rumahnya.
Setelah keduanya sudah berada di dalam mobil, Leon segera melajukan mobilnya perlahan.
"Pertama-tama kita ke rumah Kayla dulu," ucap Leon sembari terus fokus menyetir.
"Memangnya kamu tahu di mana rumahnya?" tanya Shania.
"O, iya ya aku tidak tahu rumahnya." Leon nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
"Telpon saja, ajak dia ketemuan di kantor polisi."
"Aku juga gak punya nomor ponselnya. Kita telpon Elvan saja deh."
Leon mengambil ponselnya yang dia taruh di dalam saku celananya lalu memberikan ponselnya kepada Shania!
__ADS_1
"Cari nomor ponsel Elvan terus kamu telpon dia," ucap Leon.
Shania meraih ponsel itu dari tangan Leon lalu mulai mencari nama Elvan.
"Siapa namanya, Kok gak ada kontak yang bernama Elvan?" tanya Shania sembari terus mengotak-atik ponsel milik Leon.
"Ada, namanya Elvan huruf e nya aku ganti pakai angka tiga," jelas Leon.
Shania mencari kontak yang diberitahu kan oleh Leon.
"Nah ini dia."
Shania langsung menelpon Elvan.
"Aneh-aneh saja, masa huruf e diganti dengan angka tiga bikin susah tahu gak," ucap Shania sembari menunggu Elvan menerima telepon darinya.
Leon tersenyum tipis sambil menatap Shania lalu sedetik kemudian dia kembali fokus pada jalan yang sedang mereka lalui.
Tak perlu menunggu lama Elvan menerima telepon dari Shania.
📞 "Halo Leon! Ada apa menelpon ku? Sekarangkan hari libur jadi kamu jangan ganggu aku," ucap Elvan dari sebrang telepon.
📞 "Aku Shania," ucap Shania.
📞 "Oh, Shania aku pikir Leon. Ada apa menelpon ku?"
📞 "Aku mau ketemu Kayla tapi gak tahu rumahnya dan juga nomor teleponnya."
📞 "Ada perlu apa? Kebetulan aku sedang bersama Kayla."
📞 "Benarkah? Syukurlah,kalian di mana kita ketemu ya."
📞 "Boleh, kami sedang di jalan xxx."
📞 "Tunggu kami di sana ya! Sebentar lagi kami sampai kebetulan kami juga akan melewati jalan itu."
...****************...
"Ada apa?" tanya Kayla.
"Shania ingin bertemu denganmu," ucap Elvan.
"Bertemu denganku? Mau apa?"
"Tidak tahu, dia gak bilang."
Elvan menepikan mobilnya karena akan menunggu Leon dan Shania tiba di sana.
"Kita tunggu mereka di sini," ucap Elvan.
"Baiklah. Aku penasaran, Shania mau apa bertemu denganku."
"Aku juga penasaran."
Mereka berdua menunggu Leon dan Shania di dalam mobilnya.
...****************...
Galang duduk di tempat biasa ia nongkrong bersama teman-temannya sembari terus memperhatikan Biani yang sedang sibuk bekerja.
"Dia cantik, meski tidak menggunakan make_up," gumam Galang.
"Woi, siapa yang cantik?" tanya temannya Galang.
"Tuh, karyawan baru!" Galang mengarahkan jari telunjuknya ke arah Biani.
Dua temannya Galang mengarahkan pandangannya mengikuti jari telunjuk Galang.
__ADS_1
"Wah, pantas tiap hari kamu pengennya di sini terus. Ternyata ada yang diincar."
"Dia beda dari gadis-gadis yang pernah aku temui."
"Maksud kamu?"
"Dia gak gampang didapatkan. Gak seperti gadis lain yang bisa dengan mudahnya aku jadikan pacar."
"Segitu berbedanya kah? Sampai Galang kesulitan untuk mendapatkan gadis yang hanya seorang pelayan kafe."
"Dia membuat aku penasaran dengan cintanya. Aku akan berusaha mendapatkannya."
"Gak salah? Untuk mendapatkan anak Sultan kamu tidak perlu bersusah payah tapi kamu harus berusaha keras untuk mendapatkan gadis pelayan kafe."
"Aku gak perduli dia siapa, yang aku tahu aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya."
"Astaga, seorang gadis biasa bisa membuatmu Galang tak berdaya dalam cintanya. Sungguh luar biasa."
...****************...
Leon menepikan mobilnya di samping mobil milik Elvan lalu mereka turun dari mobilnya untuk menemui Kayla.
Elvan dan Kayla pun turun dari mobil mereka untuk menemui Leon dan Shania!
"Ada apa? Segitu pentingnya ingin bertemu dengan Kayla," ucap Elvan.
"Emm. Gimana ya ngomongnya?"
"Apa? Katakan saja," ucap Kayla.
"Kay, kamu kenal kan sama polisi yang waktu itu berjaga di kantor polisi?" tanya Shania.
"Yang mana? Aku kenal sama mereka semua."
"Yang berkumis itu," ucap Leon.
"Kenapa menanyakan dia? Aku kenal dengannya."
"Jadi, Shania itu ingin ...." Leon menggantung ucapannya.
"Apa? Siapa tahu aku bisa membantu."
"Apa sih? Jangan buat aku jadi penasaran," ucap Elvan.
"Shania ingin menyentuh kumis Pak Polisi itu," ucap Leon.
"Apa!" Elvan dan Kayla terkejut mendengar perkataan Leon.
Mereka berdua tertawa kecil karena merasa keinginan Shania itu aneh.
"Kay, kamu bisa bantu aku untuk meminta izin sama polisi itu gak?" ucap Shania.
"Calon anakku memang sukanya yang aneh-aneh. Semenjak Shania hamil aku sering melakukan yang aneh dan kadang tidak masuk akal," ucap Leon.
"Leon, kamu kok gitu," ucap Shania.
"Gak apa-apa, ibu hamil memang suka begitu. Katanya sih bawaan bayi," ucap Kayla.
"Baiklah, ayo kita ke kantor polisi! Aku akan membantumu untuk ini," sambung Kayla lagi
"Benarkah? Terimakasih Kay," ucap Shania penuh kegembiraan.
"Tidak usah berterimakasih, aku ikhlas melakukan ini untukmu."
Mereka masuk ke dalam mobil masing-masing lalu mulai melaju menuju kantor polisi!
Bersambung
__ADS_1