Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 94


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima belas lewat dua puluh lima menit sore waktu setempat.


Rio dan Biani sudah selesai dengan keperluannya di tempat itu.


Mereka sudah mendapatkan pakaian masing-masing yang akan mereka gunakan ke acara pernikahan Elvan dan Kayla.


"Capek?" tanya Rio.


Biani mengangguk pelan dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Ayo kita pulang!"


"Hampir seharian loh kita di sini," ucap Biani.


"Maaf ya, kamu pasti capek banget belum lagi nanti malam kita harus pergi lagi."


"Tidak, untuk kamu aku tidak pernah capek dan aku juga tidak pernah mengeluh."


Mereka terus berjalan menuju parkiran! Mereka akan segera pulang karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka cari.


...****************...


"Jam segini, kakak belum balik juga, pasti dia keasyikan pacaran sama Biani," gumam Galang setelah melihat jam di tangannya.


Saat itu Galang sedang berada di dalam kamarnya, setelah hampir seharian dia galau di taman yang terdapat di halaman depan rumahnya kini dia berpindah ke dalam kamarnya karena takut dicurigai oleh anggota keluarganya.


Galang yang sedang duduk di sofa itu, mengacak rambutnya frustasi.


"Aaargh! Kenapa, kenapa aku menjadi bodoh seperti ini, hanya karena gara-gara satu wanita aku sampai tidak bisa tenang," ucap Galang didalam hatinya.


Athalya membuka pintu kamar Galang tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Galang, dia berdiri di ambang pintu sambil menatap putranya.


Beberapa menit Athalya hanya berdiri dengan tanpa bersuara sedikitpun. Ditatap nya sang putra bungsunya yang terlihat sedang kacau itu.


"Sayang Mama! Boleh Mama masuk?" tanya Athalya pada Galang.


Galang menatap ke arah suara! "Mama," ucapnya.


"Dari kapan, Mama di situ?" sambung Galang.


"Baru saja. Boleh Mama masuk ke dalam?"


"B_boleh dong, masuk saja."


Athalya melangkahkan kakinya menghampiri sang putra lalu duduk di sebelahnya!


"Sayang, kamu kenapa, Nak?" tanya Athalya sembari mengusap bahu Galang.


"Tidak kenapa-kenapa kok, Ma," sahut Galang.


Athalya terus mengusap bahu Galang! "Kalau kamu sedang ada masalah, cerita sama Mama siapa tahu Mama punya solusi dari masalah kamu."


"Aku tidak apa-apa kok, Ma. Serius."


"Tapi dari tadi, Mama perhatikan kamu seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu. Mama hanya ingin membantu, Mama tidak ingin terjadi apa-apa pada putra Mama ini."


Galang tersenyum sembari meraih tangan Athalya dari pundaknya!


Digenggamnya tangan Athalya dengan lembut.


"Mama, serius aku gak kenapa-kenapa. Mama jangan khawatir ya."


"Serius?"


Galang mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


Athalya tersenyum manis kepada sang putra.


"Syukur deh kalau kamu gak kenapa-kenapa. Habis dari siang Mama lihat kamu tuh, seperti ada yang sedang dipikirkan, Mama kan jadi khawatir sama kamu."


"Ma, aku udah besar, Mama gak harus mengkhawatirkan aku terus seperti ini dong."


Athalya menarik nafasnya panjang lalu membuangnya lewat mulut.


"Kamu ini gimana sih, seorang Mama tidak pernah bisa tidak mengkhawatirkan anaknya, semua orang tua pasti sama. Sama-sama selalu mengkhawatirkan anak-anaknya."


"Maaf ya, Ma aku sudah membuat, Mama khawatir. Lain kali aku tidak akan membuat Mama khawatir lagi."


"Iya, sayang. Kamu tidak perlu meminta maaf karena kamu gak salah."


...****************...


Di rumah Biani.


Rio dan Biani sudah tiba di halaman rumah Biani. Sebagai laki-laki yang bertanggungjawab, sebelum pulang ke rumahnya, Rio mengantarkan kekasihnya pulang terlebih dahulu.


Setibanya di sana, Rio tidak mampir terlebih dahulu ke rumah sang kekasih karena sebentar lagi juga dia akan kembali lagi ke rumah sederhana itu.


Biani turun dari mobil Rio! Dia tak langsung masuk ke dalam rumahnya, dia berdiri di samping pintu mobil bagian kemudi.


"Mampir dulu, cintaku," ucap Biani.


"Tidak, terimakasih. Aku mau langsung pulang saja," sahut Rio.


"Serius?"


"Iya, sayang kan sebentar lagi juga aku harus ke sini lagi untuk menjemput kamu."


Biani tersenyum, "ya udah hati-hati di jalan ya cintaku."


Rio tersenyum bahagia mendengar perkataan Biani.


"Gitu dong, masa sama pacar sendiri manggilnya Pak Bos?"


"Kamu kan emang Bos aku."


"Udah ah, aku pergi ya sayang."


Biani menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati," ucap Biani sembari melambaikan tangannya.


Rio mulai melajukan mobilnya! Perlahan dia mulai menjauh dari rumah Biani.


Biani menatap mobil yang dikendarai oleh Rio itu, hingga sampai mobil itu sudah hilang dari pandangannya, barulah dia akan masuk ke dalam rumahnya.


...****************...


Di pesta pernikahan Elvan dan Kayla.


"Sudah mau maghrib, kalian istirahatlah dulu," ucap Shila kepada Elvan dan Kayla.


"Baik, Mam," sahut Elvan.


"Iya, istirahat saja dulu, kalian pasti capek," sambung Arkhana.


"Ya udah kalau gitu aku sama Elvan ke kamar dulu ya," ucap Kayla.


"Iya. Iya silahkan sayang," ucap Shila.


"Iya, sayang kalian beristirahatlah karena kami juga mau beristirahat sebentar sebelum menyambut tamu undangan kita yang lain," sambung Arkhana.


Elvan dan Kayla langsung berpamitan untuk beristirahat di kamar mereka yang sudah disiapkan sebelumnya!


Sesampainya di kamar pengantin. Elvan duduk di sofa sedangkan Kayla di bibir ranjang.


"Lelah?" tanya Elvan pada Kayla.


"Pastinya. Seharian penuh kita menyambut tamu-tamu undangan," sahut Kayla.


"Istilah, sebentar lagi kita lanjut untuk menerima doa terbaik untuk kita dari para tamu undangan."


"Kamu juga istirahatlah."


Karena lelah tak terasa Kayla tertidur dengan posisi bersandar di kepala ranjang sedangkan Elvan dia juga tertidur di sofa tempat semula ia duduk.

__ADS_1


...****************...


Hari sudah mulai memasuki malam hari.


Di kediaman keluarga Wijaya.


Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan belas lewat lima belas menit, Rio sudah siap untuk pergi menjemput Biani ke rumahnya untuk selanjutnya mereka akan pergi menghadiri pernikahan Elvan dan Kayla.


"Anak, Mama mau ke mana udah rapi gitu?" tanya Athalya.


"Ma aku mau pergi ke pesta pernikahan teman bersama Biani," jelas Rio.


"Oh, pantas anak, Mama sudah rapi dan keren gitu. Semoga kamu cepat nyusul teman kamu itu ya."


"Nyusul ke mana?" tanya Rio pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Athalya.


"Ya ke pelaminan dong, sayang masa ke rumah sakit?"


Rio tersenyum melihat wajah Mamanya yang terlihat kesal itu.


"Aku pergi ya, Ma."


"Iya, sayang. Hati-hati di jalan ya jangan lupa bawa calon menantu Mama pulang lagi jangan sampai di ambil orang karena gak kunjung dibawa ke KUA."


"Iya, ih Mama jangan bilang gitu, nanti calon menantunya hilang beneran loh."


Rio langsung pergi meninggalkan Athalya di dalam rumahnya!


"Kakak mau ke mana, Mam?" tanya Galang saat Rio sudah keluar dari rumahnya.


"Katanya mau menghadiri acara pesta pernikahan temannya," sahut Athalya.


"Oh." Galang hanya mengucapkan oh saja setelah tahu Rio akan pergi ke mana.


"Kita makan malam bersama ya, Nak," ucap Athalya kepada Galang.


"Iya, Mam."


Galang melihat jam di tangannya.


"Belum waktunya makan," gumam Galang.


"Mama ke dapur dulu ya, Galang."


"Iya, Mam hati-hati nyasar ya," ucap Galang dengan senyum terbaiknya.


Athalya tertawa kecil. "Nyasar. Kayak rumah kita luasnya sepuluh hektare saja."


Galang juga tertawa renyah. "Ya takutnya, Mama nyasar ke ruang kerja Papa gitu, kan biasanya Mama godain Papa jam segini," ucap Galang.


"Kamu ini apa-apaan sih, bikin Mama jadi kangen sama Papa."


Galang tertawa lagi. "Mama bisa saja."


"Udah ah, Mama ke dapur dulu."


Athalya mulai melangkahkan kakinya menuju dapur meninggalkan Galang yang masih berdiri di tempat itu!


...****************...


Di rumah keluarga Biani.


Rio duduk di ruang tamu rumah Biani, dia sedang menunggu Biani yang masih berdandan.


Di sana Rio duduk dengan ditemani oleh Jenny, satu gelas kopi sudah tersedia di meja untuk Rio.


"Tante, aku minta izin untuk mengajak Biani pergi bersamaku," ucap Rio pada Jenny.


"Boleh, tapi ingat jangan pulang larut malam ya," sahut Jenny.


"Iya tante, lagian kami hanya akan pergi sebentar kok. Hanya menghadiri acara pesta pernikahan teman setelah itu langsung pulang lagi," jelas Rio.


Tak lama, Biani keluar dari kamarnya dengan sudah berdandan dan mengenakan gaun yang tadi siang dibelikan oleh Rio.


Rio dan Jenny menatap Biani dengan tatapan terpesona.


"Luar biasa, kamu sempurna," gumam Rio.


"Kalian kenapa si, memangnya biasanya aku jelek ya? Karena sekarang aku pakai gaun mahal aku berubah menjadi lebih cantik bahkan sangat cantik," ucap Biani.


"Setiap hari kamu selalu terlihat cantik, tapi malam ini berbeda. Kamu membuat aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya," ucap Rio.


"Rio kamu apaan sih? Malu tahu ada Mama," ucap Biani dengan senyum tipis di bibirnya.


Jenny tersenyum bahagia melihat Rio yang menyayangi Biani apa adanya.


"Tante, karena putri tante sudah keluar dari tempat semedi nya, kami pamit ya," ucap Rio pada Jenny.


"Iya, hati-hati ya," sahut Jenny.


Biani tertawa kecil mendengar perkataan Rio yang nyeleneh.


"Tempat semedi, memangnya aku siapa sampai harus bersemedi segala," ucap Biani.


"Kamu sudah siap?" tanya Rio.


"Sudah, kamu lihat sendiri aku sudah cantik gini."


"Yakin?"


"Yakin seratus persen."


"Lalu dimana sandal atau sepatumu?"


Biani melihat kakinya! Dia tersenyum malu karena ternyata dia belum memakai high heels nya.


"Lupa."


Biani berjalan memasuki kamarnya lagi untuk memakai high heels nya!


Beberapa menit kemudian Biani kembali dengan sudah menggunakan pakaian dan aksesoris lengkap.


Mereka berdua langsung berpamitan kepada Jenny dan langsung pergi karena waktu semakin malam.


...****************...


Setelah tertidur untuk beberapa saat, kini Kayla sedang dirias lagi oleh seorang perias karena mereka akan kembali melanjutkan menyambut para tamu undangan mereka yang belum sempat datang untuk memberi restu kepada mereka.


Tak butuh waktu lama akhirnya Kayla sudah selesai dengan semua urusannya.


Kayla dan Elvan segera kembali ke pelaminan karena beberapa tamu sudah mulai berdatangan.


Mereka duduk bersebelahan dengan didampingi oleh orang tua masing-masing yang duduk di samping mereka.


Seorang tamu naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada Elvan dan Kayla.


Di ruangan yang sama namun tempat yang berbeda, Leon dan Shania sedang mengobrol dengan teman Elvan yang baru tiba di sana.


"Akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu tidak datang," ucap Leon kepada laki-laki itu.


"Aku pasti datang lah, masa gak datang ke acara pesta semewah ini," ucap laki-laki itu.


"Terimakasih sudah datang. Silahkan masuk dan nikmati hidangan yang sudah kami sediakan," ucap Shania dengan senyuman ramah.


"Terimakasih. Kalau gitu saya permisi," ucap temannya Elvan.


Laki-laki itu pun memasuki gedung pesta itu!


"Sayang, jadi pengen mengulang saat-saat seperti ini ya," ucap Leon kepada Shania.


"Maksud kamu?" tanya Shania.


"Ya pengen naik pelaminan lagi. Aku ingin kita merasakan pernikahan yang bahagia yang dipenuhi oleh cinta."


"Terlambat. Sebentar lagi kita punya anak."

__ADS_1


"Saat kita menikah dulu, perasaan aku biasa saja, tidak ada rasa bahagia seperti yang terlihat di wajahnya Elvan dan Kayla."


"Karena dulu kamu terus memikirkan Biani bukan aku."


"Tapi sekarang aku terus memikirkan kamu."


Saat keduanya sedang berbincang. Rio dan Biani berjalan menghampiri mereka!


Rio menggandeng Biani, mereka berjalan berdampingan, mereka terlihat sangat serasi dengan pakaian yang berwarna senada.


Beberapa tamu menatap Rio dan Biani dengan tatapan penuh kekaguman.


"Dokter Rio terlihat sangat tampan," ucap tamu yang kebetulan mengenali Rio.


"Dia istrinya ya? Mereka sangat serasi," ucap pengunjung yang lainnya.


"Sepertinya bukan, dokter Rio belum menikah."


"Biani, dia panjang umur juga. Lagi diomongin malah nongol orangnya," ucap Shania sembari menatap Rio dan Biani yang berjalan menghampiri mereka.


Leon mengikuti arah pandangan Shania.


"Dia datang bersama dokter Rio?" ucap Leon.


"Mereka berpacaran," ucap Shania.


"Apa!"


"Kenapa terkejut begitu? Kamu masih sayang sama dia?"


"Tidak. Hanya saja bagaimana kalau Bi–"


"Jangan berprasangka buruk terhadap orang lain," sarkas Shania.


"Aku hanya takut saja, Shania."


Shania tidak menjawab lagi perkataan Leon karena Rio dan Biani sudah dekat dengan mereka.


"Selamat malam, Shania, Leon," ucap Rio kepada pasangan suami istri itu.


Leon dan Shania tersenyum ramah. "Selamat malam," sahut Leon dan Shania secara berbarengan.


Biani yang awalnya terlihat bahagia tiba-tiba wajahnya terlihat lesu saat melihat keluarga Leon ada di sana.


"Rio, aku pikir kamu tidak datang," ucap Shania.


"Aku tidak mungkin mengabaikan undangan dari kalian," sahut Rio.


"O, ya perkenalkan ini Biani. Kekasih aku."


Rio pura-pura tidak tahu dengan masa lalu mereka, Dia mengenalkan Biani kepada Leon dan Shania.


Shania menatap Rio dengan tatapan penuh pertanyaan.


Rio mengisyaratkan Shania untuk mengikuti rencananya dengan mengedipkan matanya dan sedikit senyum hambar.


Shania tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Biani.


"Oh, perkenalkan namaku Shania," ucap Shania.


Dengan senyum yang dilaksanakan Biani menjabat tangan Shania.


Leon pergi meninggalkan mereka di tempat itu! Entah mengapa dirinya masih merasa benci kepada Biani.


Shania dan Rio menatap kepergian Leon.


"Maaf mungkin suamiku ingin menemui tamu yang lain," ucap Shania.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti," sahut Rio.


"Silahkan masuk!"


Rio dan Biani masuk ke dalam gedung itu.


Saat Rio dan Biani akan mengucapkan selamat kepada Elvan dan Kayla tiba-tiba dia bertemu dengan Rania.


"Rania," ucap Rio.


Rania yang sibuk dengan teman-temannya menatap ke arah suara.


"Eh, Kak dokter," ucap Rania.


"Kamu ke sini juga?" ucap Rio.


"Iya kak, ini memang acara pernikahan sepupu aku. Kakak kenal sama Kak Elvan atau sama Kak Kayla?"


"Oh, gitu. Aku ke sini sebagai temannya Elvan."


Rania menatap Biani dengan tatapan sinis, dia memutar bola matanya malas, Rania ingin sekali mengusir Biani dari sana namun keinginannya itu ia kesampingkan karena tidak ingin membuat kekacauan di hari bahagia itu.


"Kalau gitu silahkan nikmati pestanya, aku mau menyambut tamu yang lain."


Rania segera pergi dari sana karena tak ingin berlama-lama melihat Biani!


Rio segera naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua pengantin!


"Kamu saja yang ke sana. Aku tunggu kamu di sini saja," ucap Biani kepada Rio.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku tidak kenal sama mereka jadi tidak perlu menemui mereka."


"Ya sudah. Kamu tunggu sebentar ya."


Rio naik ke atas pelaminan sedangkan Biani berdiri di tempat yang agak jauh dari pelaminan.


"Kalau tahu Rio akan mengajak aku ke pernikahan Elvan, aku gak akan mau ikut," gumam Biani di dalam hatinya.


"Biani, minum," ucap Shania sembari memberikan segelas sirup.


"Terimakasih."


Biani menerima minuman itu namun tidak meminumnya.


"Kenapa tidak diminum? Tenang saja minumannya tidak beracun."


Biani menatap Shania dengan tatapan aneh.


"Aku tidak mungkin meracuni kekasih sahabatku sendiri."


"Kamu kenal sama Rio?" tanya Biani.


"Tentu saja. Sebelum kamu kenal sama Rio, aku sudah lebih dulu kenal sama dia."


Biani terdiam, dia mengirit pembicaraannya di sana.


"Rio itu teman aku sejak SMA, kami berusaha baik," jelas Shania.


"Shania, kamu tidak membenci aku setelah apa yang aku lakukan padamu?"


"Kenapa harus membenci dirimu? Aku sudah melupakan semuanya."


"Kenapa semudah itu kamu memaafkan aku?"


"Kenapa tidak. Aku sudah mendapatkan Leon dan aku rasa aku yang menang."


"Shania, aku minta maaf atas semua kesalahan yang aku lakukan padamu dan juga yang kakakku lakukan kepada kamu dan Leon."


"Aku sudah memaafkan kamu sejak dulu. Tolong jangan ulangi kesalahan itu kepada Rio ya, dia sahabat aku satu-satunya dan aku sangat menyayangi dia.


Biani dan Shania terus berbincang sampai keduanya tidak menyadari bahwa Leon tengah memperhatikan mereka.


"Hati kamu terbuat dari apa, Shania? Kenapa dengan mudahnya kamu memaafkan orang yang hampir saja membunuhmu?" ucap Leon didalam hatinya.


Leon terus memperhatikan Shania dan Biani yang sedang berbincang hangat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2