Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 9


__ADS_3

Setelah melewatkan beberapa kali pertemuan dengan banyak sekali perdebatan yang menguras tenaga dan pikiran, akhirnya hari pernikahan Leon dan Shania sudah ditentukan.


Persiapan menuju hari pernikahan sudah hampir rampung, surat undangan pernikahan antara putra dan putri dari pemilik perusahaan ternama itu sudah menyebar.


Suatu ketika, Biani sedang bersantai di halaman rumahnya.


"Permisi, Mbak saya mau mengantarkan ini!" ucap seseorang sembari menyodorkan surat undangan pernikahan.


Biani tersenyum ramah lalu menerima surat undangan tersebut!


"Undangan?" Biani bertanya-tanya.


"Terimakasih ya, Pak," ucap Biani.


"Sama-sama." Laki-laki itu segera pergi dari rumah Biani untuk menyebarkan undangan yang lainnya ke tempat lain.


"Undangan dari siapa?" ucap Biani yang masih berdiri di tempat semula.


Biani membaca nama mempelai laki-laki dan perempuan yang akan menikah. Tertera nama Leon dan Shania pada surat undangan yang terkesan mewah tersebut.


Deg!


Jantung Biani terasa seperti berhenti berdetak, hatinya terasa sakit seperti ada yang menusuk, nafasnya tersekat beberapa waktu sesaat setelah membaca nama mempelai laki-lakinya.


"Leon," lirih Biani.


Air mata Biani mulai jatuh tak terbendung lagi. Dengan langkah yang tertatih-tatih, Biani mencoba berjalan memasuki rumahnya!


Rendy sengaja mengundang Biani. Sebenarnya Rendy mengundang Biani bukan meminta gadis itu ataupun keluarganya datang ke acara pernikahan Leon dan Shania, Rendy sengaja mengundang Biani dengan tujuan agar gadis itu menjauhi Leon karena Leon akan segera menikah.


"Bi, kenapa, Nak?" ucap Jenny yang melihat putrinya berjalan seolah kehilangan tenaganya.


Biani tidak menjawab, dia terus berjalan memasuki kamarnya!


Merasa khawatir, takut terjadi apa-apa terhadap putrinya. Jenny berjalan menghampiri sang putri!


"Sayang," ucap Jenny.


"Ma, Leon ... ." Biani tak kuasa meneruskan perkataannya, rasanya ia tak sanggup untuk mengucapkan kalau Leon akan menikah.


Biani duduk di bibir ranjang! Dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Jenny meraih sesuatu yang Biani pegang! Lalu membacanya.


Leon dan Shania, tulisan pertama yang ia baca adalah tulisan yang bertuliskan nama Leon dengan seorang wanita namun nama mempelai wanita itu bukanlah Biani.


Jenny menatap sang putri dengan tatap iba.

__ADS_1


"Sayang!" Jenny memeluk sang putri.


Biani terisak didalam pelukan mamanya. Gadis itu sangat kecewa dan tersakiti oleh surat undangan tersebut.


"Bi, kamu harus bisa melepaskan Leon. Mereka tidak sepadan dengan kita, kamu dan Leon bagaikan langit dan bumi. Keluarga mereka kaya raya sedangkan kita ... kita hanya orang biasa yang untuk makan sehari-hari saja harus bekerja keras terlebih dahulu," jelas Jenny.


"Aku tahu, Ma tapi Leon sudah berjanji akan selalu mencintaiku dalam keadaan apapun," ucap Biani.


"Mama tahu Leon mencintaimu tapi karena kehendak orang tuanya dia harus menikah dengan gadis lain," ucap Jenny sembari mengelus kepala Biani.


Biani tidak berucap lagi, dia terus menangis dipelukan sang ibu.


"Kamu cantik, diluar sana pasti banyak yang mencintaimu lebih dari Leon. Lupakan Leon, Nak karena sudah tidak ada harapan lagi untuk kamu dapat masuk kembali ke kehidupan Leon," ucap Jenny lagi.


"Tapi aku cinta sama Leon, Ma."


"Ada apa ini? Kenapa Biani menangis?" tanya Jacky yang baru tiba dari bekerja.


"Kamu sudah pulang, Nak?" ucap Jenny.


Jacky berjalan memasuki kamar adiknya lalu mencium punggung tangan mamanya! Tak sengaja Jacky melihat surat undangan pernikahan yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Oh, jadi ini yang membuat Biani menangis?" ucap Jacky sembari memegang surat undangan itu.


"Tidak akan aku biarkan pernikahan itu terjadi," ucap Jacky dengan amarah yang memuncak.


"Jangan, Nak. Jangan buat keributan di sana, mereka orang kaya, mereka bisa melakukan apapun terhadapmu nanti," ucap Jenny.


"Jangan, Nak." Jenny mulai khawatir.


Jenny takut Jacky nekat menggagalkan pernikahan Lebih dengan gadis itu, yang lebih ia takutkan lagi adalah ia takut kalau Rendy akan memberitahukan masa lalu dirinya yang tidak baik terhadap Jacky didepan semua orang.


"Mereka gak bisa berlaku seenaknya kepada kita, Ma. Jangan mentang-mentang mereka orang kaya, mereka bisa melakukan apapun terhadap orang miskin seperti kita," ucap Jacky.


Jacky melemparkan surat undangan itu lalu pergi dari kamar Biani dengan emosi yang memuncak!


...****************...


"Pernikahan aku tinggal menghitung hari, tapi kita belum mendapatkan bukti kenapa Papa tidak merestui hubungan aku dengan Biani," ucap Leon kepada Elvan.


"Gimana lagi, kita sudah berusaha sebisa mungkin." Elvan berjalan mendekati Leon!


"Mungkin, Papa memang tidak mengenal mamanya Jenny dan tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Tante Jenny bukan alasan kenapa Papa berubah menjadi tidak merestui hubungan kamu sama Biani," jelas Elvan.


"Lalu apa yang membuat Papa jadi tidak suka sama Biani?" ucap Leon.


"Entahlah. Sekarang kamu tidak mungkin bisa lari dari pernikahan kamu dengan anaknya Om Satya karena surat undangan sudah menyebar dimana-mana," ucap Elvan.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Biani? Aku mencintainya, dia pasti tersakiti kalau tahu aku akan menikah," ucap Leon.


Leon memang tidak mengetahui kalau Papanya sudah mengundang kekasihnya itu.


"Aku tidak tahu. Kamu yang sabar ya," ucap Elvan.


...****************...


Di salah satu butik ternama di kotanya, Shania dan Alisa dengan ditemani oleh Liana, sedang mengambil gaun pengantin yang sudah dipesan dari jauh-jauh hari oleh mereka.


Di ruang ganti.


Shania sedang mencoba gaun pengantinnya.


"Ma, seperti ini?" ucap Shania sembari berputar di hadapan Liana dan Alisa.


"Waw, kamu cantik sayang," ucap Liana.


"Gaunnya bagus, cocok buat kamu," ucap Alisa.


Shania tersenyum mendengar perkataan mamanya dan calon mama mertuanya.


Dalam hatinya ia berkata.


"Kalian sebahagia ini, tanpa kalian tahu aku dan Leon tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti yang kalian rasakan."


"Udah cocok? Aku lepas ya, Ma," ucap Shania.


"Iya, sayang."


...****************...


Karena terlalu lama menangis, akhirnya Biani tertidur di pelukan mamanya.


Jenny terus mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang!


Air mata menetes membasahi pipinya, saat Jenny mengingat masa lalunya yang membuat putrinya harus menanggung akibatnya.


"Semua ini terjadi karena, Mama. Maafkan Mama, Nak," ucap Jenny didalam hatinya.


"Kalau saja, Mama tidak bertemu dengan Papanya Leon, mungkin saat ini nama kamu yang tertulis di undangan pernikahan ini. Semua ini memang salah Mama, Mama yang bersalah bukan Papanya Leon ataupun keluarganya Leon."


Jenny terus berbicara didalam hatinya sambil terus menangis menyesali perbuatannya dimasa lalu.


Sebelum bertemu dengan Jenny, keluarga Leon sangat menerima Biani dengan baik meski mereka tahu Biani terlahir dari orang sederhana. Mereka tidak pernah keberatan dengan keluarga Biani karena mereka tidak pernah memandang seseorang dari status sosialnya.


Tapi setelah Rendy tahu Biani adalah putri dari Jenny dan Bram rasa trauma mulai muncul lagi dikepalanya sehingga Rendy menjadi tidak menyukai Biani karena takut Biani akan seperti Mamanya.

__ADS_1


Rendy tidak ingin masa lalunya terulang kepada putra kesayangannya.


Bersambung


__ADS_2