Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 41


__ADS_3

tiga bulan berlalu.


Biani sudah keluar dari penjara karena Rendy meminta agar polisi membebaskan gadis itu atas permintaan Shania.


Karena sudah sering bersama dengan Shania, Leon mulai melupakan Biani dan mulai beralih mencintai Shania.


Setelah beberapa bulan hidup bersama dalam satu rumah, Leon masih merasa canggung terhadap Shania, ia belum berani untuk menyatakan cintanya terhadap wanita yang sudah ia nikahi beberapa bulan lalu.


Waktu itu hari masih siang jam menunjukkan baru pukul 11:00 waktu setempat.


Leon sedang dalam perjalanan menuju rumahnya! Dia ingin mengajak Shania makan siang di luar bersamanya.


Leon sudah merangkai kata untuk mengutarakan perasaannya terhadap istrinya sendiri, sepanjang perjalanan Leon terus menghafalkan kata-kata yang akan ia ucapkan kepada Shania, nanti.


Setibanya di halaman rumahnya, Leon melihatmu ada mobil asing yang terparkir di sana.


Leon turun dari mobilnya lalu memperhatikan mobil yang tidak dikenalnya itu!


"Mobil siapa ini?" gumam Leon.


Leon berjalan memasuki rumahnya! Dalam pikirannya, mungkin mobil itu milik saudara atau temannya Shania.


Setelah masuk ke dalam rumahnya, Leon melihat Shania sedang mengobrol dengan seorang laki-laki.


"Shania!"


Leon berjalan dengan langkah cepat, menghampiri Shania dan laki-laki itu.


Shania dan laki-laki itu menatap Leon yang sedang berjalan kearahnya!


"Leon, kamu sudah pulang?" ucap Shania tanpa merasa bersalah.


Leon tak menjawab pertanyaan Shania, dia terus berjalan mendekati Shania dan laki-laki itu!


Karena cemburu Leon langsung menghajar laki-laki itu dengan sangat keras hingga laki-laki itu meringis kesakitan.


"Leon, apa yang kamu lakukan?" Shania langsung panik karena Leon tiba-tiba menyerang teman laki-lakinya.


Shania segera membantu temannya untuk duduk kembali!


"Ya,ampun Rio, maaf ya," ucap Shania kepada temannya.


"Leon kamu apa-apaan sih!"


"Kamu yang apa-apaan! Berani-beraninya kamu membawa laki-laki masuk ke rumah kita tanpa seizin dari aku!"


Karena diselimuti amarah Leon berbicara dengan nada tinggi.


"Leon dengar dulu, penjelasan aku!"


Leon ingin menyerang laki-laki itu lagi namun laki-laki itu mengindari serangan Leon!


"Shania, aku pulang dulu. Sepertinya suamimu salah faham padaku," ucap Rio.


Rio segera pergi dari rumah Shania tanpa menatap Leon sedikitpun!


"Permisi," ucapan Rio sebelum pergi.


"Kamu kenapa sih Leon, memukul orang tanpa alasan yang jelas?"


"Kamu bilang tanpa alasan yang jelas? Jelas-jelas dia sedang berpacaran dengan wanita yang sudah menjadi istriku."


"Leon, kamu salah faham. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


"Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, tadi dia pegang-pegang tangan kamu. Tega ya kamu Shania, aku sudah mencintai kamu tapi kamu malah berpacaran dengan laki-laki lain."


Shania berdiri mematung saat mendengar pernyataan Leon yang ternyata sudah mencintainya.


"Ikut aku!"


Leon menarik tangan Shania membawanya masuk ke dalam kamarnya!


"Leon kamu mau apa? Lepaskan aku!"


Shania memutar tangannya agar terlepas dari genggaman Leon! Namun usahanya tidak berhasil karena Leon memegangi pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


Leon terus berjalan sembari menarik tangan Shania tanpa menghiraukan Shania yang meronta ingin lepas darinya.

__ADS_1


Sebelah tangan Shania berpegangan pada railing tangga agar tubuhnya tidak terseret oleh Leon.


Shania berpegangan dengan kuat sehingga Leon merasa kewalahan untung membawa Shania, akhirnya Leon memangku tubuh Shania dengan paksa!


"Leon, turunkan aku! Kamu mau apa?" ucap Shania sembari meronta.


Leon tak menanggapi perkataan Shania, dia terus berjalan memasuki kamarnya.


Setelah berada di dalam kamarnya Leon menghempaskan tubuh Shania ke tempat tidurnya! Lalu Leon mengunci pintu kamarnya.


Shania menatap Leon dengan penuh rasa takut.


Leon berjalan menghampiri Shania yang masih berbaring di tempat tidurnya sembari membuka satu-persatu kancing kemeja yang ia kenakan!


"Leon, kamu mau apa?"


Shania segera duduk dan menyeret mundur tubuhnya!


"Aku mau mengambil hak aku sebagai suamimu," ucap Leon sembari menatap Shania tajam.


Shania turun dari tempat tidur itu lalu berjalan mundur menghindari Leon.


"Nggak. Jangan lakukan itu padaku."


Bukannya Shania tidak ingin memberikan hak Leon sebagai seorang suami, tapi ia tidak ingin melakukan itu disaat kemarahan sedang menyelimuti hati Leon.


Leon terus berjalan mendekati Shania yang terus berjalan mundur untuk menjauh darinya.


"Kamu, mau kemana Shania?"


Shania berlari ke pintu lalu berusaha membuka pintu yang terkunci itu!


Leon menarik tangan Shania membawa Shania kedalam pelukannya!


"Kamu gak akan bisa keluar dari sini karena pintunya sudah aku kunci," ucap Leon.


"Leon, sadarlah. Kamu membuat aku takut."


Leon menyandarkan punggung Shania ke dinding lalu mengunci kaki Shania dengan kakinya agar Shania tidak bisa berlari lagi.


"Leon," lirih Shania.


"Jangan, Leon." Shania menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Merasa tak ingin bermain lebih lama lagi, Leon melepaskan tangan Shania yang menghalangi wajahnya, ia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Shania sembari memegangi tangan Shania dari belakang!


Tangan kirinya mencengkram leher belakang Shania agar Shania tidak bisa menghindari serangannya!


"Jangan, Leon. Kamu sadar gak sih Leon?" Shania berucap dengan nada lirih dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Aku melakukan ini dengan kesadaran penuh. Saat ini aku ingin menyempurnakan pernikahan kita."


Leon mulai me****t bibir Shania dengan kasar. Shania hanya menangis karena ia tidak bisa berbuat apa-apa.


Setelah beberapa menit, Leon membawa Shania ke tempat tidur.


Shania ingin menggunakan kesempatan itu untuk menghindar tapi Leon sudah lebih dulu menindih badannya.


"Jangan, Leon. Jangan sekarang!"


Shania mendorong dada Leon agar menyingkir dari atas tubuhnya!


Leon menyatukan kedua belah tangan Shania tepat di atas kepala Shania lalu memeranginya dengan sebelah tangannya. Tangan Leon yang satunya mulai meraba dan me****s benda kenyal yang terdapat pada bagian dada Shania.


Shania terperanjat, ia terkejut dengan perlakuan Leon padanya.


Meski mencoba menyingkirkan Leon dengan sekuat tenaga, Shania tetap tidak bisa membuat Leon melepaskannya.


Leon mulai membuka baju yang Shania kenakan dan perlahan ia melihat pemandangan yang sama-srkalu belum pernah ia lihat.


Leon meneguk ludahnya, hasratnya semakin memuncak setelah ia membuka seluruh pakaian yang menempel ditubuh Shania.


Leon mulai melakukan permainan inti, namun beberapa mencoba tidak kunjung berhasil juga. Sementara Shania sudah kelelahan karena terus melakukan perlawanan terhadap Leon agar Leon mengurungkan niatnya untuk mengambil hak nya dari Shania.


Shania memekik merasakan sakit yang amat kuat saat Leon berhasil membobol pertahanannya.


Leon terus melanjutkan permainannya meski Shania terus meringis kesakitan.

__ADS_1


Hingga setelah hampir setengah jam, Leon baru memasuki puncak permainannya, ia mempercepat gerakannya saat akan pelepasan.


Shania yang merasa kesakitan, terus meringis sambil mencengkram bahu Leon dengan sangat keras hingga kukunya membuat luka pada bahu Leon.


Leon selesai dengan permainannya, ia turun dari atas tubuh Shania!


"Terimakasih," ucapnya lalu mencium pipi Shania.


Shania tak menghiraukan perkataan Leon, seluruh tubuhnya terasa lemas dan pangkal paha nya terasa masih sangat sakit hingga ia kesulitan untuk bergerak.


Tiba-tiba kepalanya terasa pusing pandangannya juga terlibat buram.


"Leon," lirih Shania.


Leon duduk lalu menatap Shania yang sudah memejamkan matanya.


"Shania!" ucap Leon.


Shania tidak merespon perkataan Leon.


Leon membelai pipi Shania namun Shania tetap terdiam tanpa pergerakan.


"Shania!"


Leon panik setelah menyadari bahwa Shania tengah pingsan.


"Astaga, Shania kamu kenapa?"


Leon segera meraih ponselnya lalu menghubungi dokter agar segera datang ke rumahnya untuk memeriksa keadaan istrinya.


Setelah menelpon dokter, Leon segera memakai pakaiannya yang berceceran di sembarang tempat! Setelah itu baru ia memakaikan pakaian Shania.


Saat hendak memakaikan pakaian Shania, Leon melihat sedikit bercak darah di sprei nya.


"Darah," gumam Leon.


Leon semakin khawatir terhadap Shania setelah melihat ada darah pada sprei yang melekat di tempat tidurnya.


"Shania, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau akan terjadi seperti ini."


Tak lama asisten rumah tangganya mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, dokternya sudah datang!" ucap asisten rumah tangganya dari luar kamarnya.


Leon segera membuka pintu kamarnya yang masih terkunci!


"Silakan masuk, dokter," ucap Leon kepada dokter wanita itu.


Asisten rumah tangganya langsung pergi meninggalkan majikannya bersama dokter itu!


"Dokter, tolong periksa keadaan istri saya. Dia tidak sadarkan diri."


Dokter itu memeriksa keadaan Shania.


Setelah beberapa menit dokter itu selesai memeriksa Shania.


"Istri saya kenapa, Dok?"


Dokter itu menatap Leon.


"Istri Anda kelelahan," ucap dokter itu.


"Lalu kenapa ada darah?"


"Kalian baru melakukan hubungan suami istri?" tanya dokter itu.


Leon mengangguk pelan, sebenarnya ia malu harus mengakui hal itu tapi ia harus jujur demi keselamatan Shania.


"Hal itu wajar terjadi, karena ada selaput yang rusak akibat hantaman benda tumpul yang mengakibatkan pendarahan kecil itu terjadi," jelas dokter itu.


"Apa setelah ini istri saya akan baik-baik saja?"


"Tentu saja. Istri Anda sampai pingsan karena Anda melakukannya disaat yang tidak tepat. Lain kali kalau istri Anda sedang tidak sehat, jangan lakukan hal itu ya."


Leon terdiam mendengar perkataan dokter itu.


"Ternyata Shania sedang sakit, bisa-bisanya aku tidak mengetahui bahwa Shania sakit," ucap Leon didalam hatinya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan pembicaraannya, dokter itu segera pergi dari rumah Leon tak lupa sebelum pergi dokter itu memberikan obat untuk Shania, kepada Leon.


Bersambung


__ADS_2