Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 32


__ADS_3

Di kediaman Elvan.


Keluarga itu sedang bersiap untuk pergi ke salah satu restoran yang dijadikan tempat untuk mempertemukan Elvan dengan anak dari temannya Shila.


Elvan keluar dari kamarnya lalu berjalan menghampiri Papa dan Mamanya yang sudah menunggunya di ruang utama rumahnya!


"Ma, gimana penampilan aku? Apa sudah terlihat seperti laki-laki gagah seperti yang selalu diimpikan oleh para wanita?" ucap Elvan dengan senyuman di bibirnya.


"Waw, anak Mama ganteng banget," ucap Shila.


Shila memperhatikan penampilan Elvan dari atas sampai bawah.


"Anak Papa juga kali. Kalau gak ada Papa gak mungkin ada Elvan," sambung Kendra.


Shila menatap sang suami lalu tertawa kecil.


"Rupanya ada yang pengen diakui."


"Ma, Pa. Nanti jangan lama-lama ya di sananya," ucap Elvan.


"Iya, paling dua jam," ucap Shila.


"Apa! Dua jam? yang benar saja, itu kenalan atau pacaran?" ucap Elvan.


"Kenalan sekalian pacaran. Itu kalau kalian cocok ya," ucap Ken.


"Kalau gak cocok?"


"Harus cocok," ucap Shila singkat.


"Pa, Ma, kalian udah janji kalau aku gak cocok sama dia, Mama sama Papa gak akan memaksa."


"Iya, Van. Mama hanya bercanda kok."


"Jadi kapan kita berangkat? Atau mau tetap di rumah saja?" ucap Ken.


"Di rumah saja. Lebih baik Pa."


"Itu mau nya kamu." Shila menekan pipi Elvan dengan sedikit kuat.


Elvan tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Keluarga itu pun berangkat dari rumahnya menuju restoran tempat mereka janjian.


...****************...


Di rumah Leon dan Shania.


Leon berdiri di balkon lantai dua rumahnya sembari memegang pagar tralis, pandangannya tertuju pada taman yang berada di halaman depan rumahnya.


Leon mengingat kebersamaannya dengan Shania tadi siang.


"Aku sampai lupa sama Biani saat aku bersama dengan Shania tadi siang," ucap Leon didalam hatinya.


Leon menatap layar ponselnya, ia ingin menelpon Biani untuk menjelaskan apa yang terjadi tadi siang.


"Leon," ucap Shania.


Leon mengurungkan niatnya untuk menelpon Biani karena ada Shania di tempat itu.


"Kamu belum tidur?" ucap Leon.


Shania berjalan menghampiri Leon yang masih berada di tempat semula hanya saja kini laki-laki itu berdiri menghadap ke arah Shania.


"Aku belum ngantuk. Kamu sendiri, lagi ngapain di sini?"


"Cari angin, aku gak bisa tidur."


"Aku juga gak bisa tidur karena memang sekarang belum waktunya tidur kan."


Leon tertawa kecil. Dalam hatinya ia merasa konyol karena membahas tentang tidur padahal baru saja habis maghrib.


Shania berdiri di samping Leon, ia juga memegang besi tralis seperti yang Leon lakukan.


Shania dan Leon sama-sama menatap taman yang ada di halaman rumahnya. Beberapa menit berlalu mereka berada di tempat yang sama, namun tak ada pembicaraan diantara keduanya.


"Aku harap kamu sudah bisa menerima aku sebagai istrimu, Leon," ucap Shania didalam hatinya.


"Shania," ucap Leon membuka percakapan diantara mereka.


"Ya," sahut Shania singkat.


"Maaf ya."

__ADS_1


"Maaf untuk apa?"


"Aku sudah berkata kasar dan sudah menghina dirimu diawal pernikahan kita. Aku baru tahu kalau ternyata kamu bisa sebaik ini padaku."


"Aku sudah memaafkan kamu. Lagi pula, baik apanya? Perasaan, aku biasa saja deh."


"Kamu selalu mengurus aku dengan baik meski aku tidak menganggap dirimu sebagai istriku."


"Aku sudah bilang kalau aku akan melakukan tugasku sebagai seorang istri meski aku tahu kamu belum bisa menerimanya aku dalam hidupmu."


Leon menatap Shila dengan tatapan yang mendalam.


"Aku baru sadar kalau ternyata bukan hanya Biani yang bisa bersikap manis padaku, ternyata kamu juga bisa melakukannya."


"Leon," ucap Shania.


"Kenapa memandangku seperti itu? Aku takut."


"Maaf, Shania. Aku hanya ingin memperhatikan wajahmu lebih lama lagi."


"Tidak, jangan lakukan itu."


"Kenapa?"


"Kalau kamu jatuh cinta padaku, Biani akan marah padaku."


Shania tertawa renyah sembari terus memandang Leon.


Leon hanya menatap Shania yang sedang tertawa tanpa ada kata ataupun senyuman yang menghiasi bibirnya.


...****************...


Keluarga Elvan sudah tiba di restoran yang mereka tuju.


Mereka turun dari mobilnya lalu berjalan memasuki restoran itu.


Shila dan Ken mengedarkan pandangannya mencari orang yang akan bertemu dengan mereka, sedangkan Leon berjalan biasa saja karena memang ia tidak tahu bagaimana sosok orang yang akan ia temui.


"Itu, mereka," ucap Shila.


Ken dan Elvan mengikuti arah jari telunjuk Shila yang tertuju ke meja yang letaknya agak jauh dari jarak meja lainnya.


"Ayo kita ke sana!" ucap Shila.


Mereka berjalan menghampiri temannya Shila yang sudah tiba di restoran itu lebih dahulu.


"Hai, Shil, akhirnya dateng juga," ucap Arkhana.


"Maaf ya, kami datang terlambat," ucap Shila.


"Ini pasti anak gadis kamu," ucap Shila sembari menatap seorang gadis yang duduk di samping Arkhana.


"Iya, dia anakku."


"Silahkan duduk, Pak, Bu."


Suaminya Arkhana mempersilahkan Ken dan Shila untuk duduk.


"Di mana putramu?" tanya Arkhana.


"Ada, itu lagi jalan menuju ke sini," ucap Shila.


"Calon menantu kita cantik ya, Ma," ucap Ken kepada istrinya.


"Om bisa aja," ucap anak gadis itu.


"Sayang, cepat ke sini," ucap Shila.


Elvan berjalan menghampiri orang tuanya yang sudah duduk bersama keluarga yang akan dipertemukan dengannya.


Kayla dan dan keluarganya berdiri saat Elvan datang!


"Kamu!" ucap Kayla dan Elvan berbarengan dengan tangan yang saling menunjuk satu sama lain.


"Kalian udah kenal?" tanya Shila.


"Om, Tante."


Elvan mencium tangan Arkhana dan Sam secara bergantian.


Ken dan Shila menatap putranya yang sudah terlihat dekat dengan keluarga Arkhana.


Kayla tersenyum tipis kearah Elvan dan Elvan pun membalasnya.

__ADS_1


"Kalau udah kenal kenapa kemarin-kemarin nolak untuk bertemu?" ucap Shila.


Kenapa tersenyum. "Aku kan gak tahu kalau yang Mama maksud itu adalah Kayla," ucap Elvan.


"Kamu juga, Na. Udah kenal sama anakku kok gak bilang-bilang."


"Aku kan gak tahu kalau Elvan ini anakmu."


Shila dan Arkhana tertawa renyah.


"Ibu-ibu kalau udah ketemu, pasti lupa sama suaminya," ucap Sam kepada Ken.


"Nggak kok, Pa," ucap Arkhana kepada suaminya.


Kayla dan Elvan saling bertatapan, keduanya tak menghiraukan orang tuanya yang sedang berbincang. Senyum mengembang dari bibir Kayla dan Elvan.


"Kelihatannya, mereka cocok," ucap Shila.


Elvan beralih pandangan, sedangkan Kayla menundukkan kepalanya karet malu.


"Kalau tahu, aku akan dijodohkan dengan Kayla, aku pasti gak akan nolak," ucap Elvan tanpa ragu.


"Hubungan kalian sudah sejauh mana, sehingga orang tuanya Kayla sampai sedekat ini padamu Van?" tanya Shila kepada putranya.


Elvan tak menjawab pertanyaan Mamanya, dia hanya menanggapi dengan senyuman.


"Elvan pernah beberapa kali ke rumah untuk menjemput lalu mengantarkan Kayla," ucap Arkhana.


"Sepertinya, Elvan laki-laki yang bertanggungjawab seperti, Papanya," ucap Sam.


"Kamu bisa saja, Sam."


"Papa juga kenal sama Om Sam?" tanya Elvan.


"Kenal dong. Om Sam ini teman Papa dulu," ucap Ken.


"Lebih tepatnya, Om ini adalah orang yang bertugas melindungi keluarganya Papamu dulu," sambung Sam.


"Jangan bahas masa lalu. Sekarang kita bahas tentang Elvan sama Kayla saja," ucap Ken.


"Jadi gimana, Van, Kay. Kalian setuju gak sama perjodohan ini?" tanya Ken kepada putranya dan calon menantu pilihannya.


Elvan tak langsung menjawab pertanyaan Papanya, dia menatap Kayla tanpa berkedip.


"Kay, gimana dengan pertanyaan aku tadi siang?" ucap Elvan kepada Kayla.


Kayla tersenyum. "Masa kita mau ngobrol disini," ucap Kayla.


Elvan beralih menatap keluarganya lalu menatap kedua orang tuanya Kayla.


"Boleh kami minta waktu untuk mengobrol berdua?" ucap Elvan kepada keluarganya.


"Tentu saja, boleh," ucap Arkhana.


"Om, Tante. Aku pinjam anak kalian sebentar." ucap Elvan kepada Arkhana dan Sam.


Karena tahu kedua orang tuanya Kayla akan memberinya izin, tanpa menunggu jawaban dari Arkhana ataupun Sam, Elvan langsung mengajak Kayla menjauh dari keluarganya!


"Sebelumnya orang tua kamu sudah membahas tentang perjodohan ini atau belum?" tanya Elvan.


"Sudah, tapi aku menolak."


"Kenapa?"


"Karena aku gak tahu siapa yang akan dijodohkan denganku."


"Lalu sekarang?" Elvan menatap wajah Kayla.


"Jangan menatapku seperti itu."


"Aku ingin menatap calon istriku, kenapa gak boleh?"


Kayla tak berucap lagi.


"Jadi, kamu mau gak jadi pacar aku? Atau mau langsung jadi istriku?"


Kayla menganggukkan kepalanya.


"Yang mana, pacar atau istri?"


"Dua-duanya," sahut Kayla.


Elvan merasa bahagia dengan jawaban dari Kayla.

__ADS_1


Mereka berdua menghampiri keluarganya yang berada agak jauh dari tempat mereka!


Bersambung


__ADS_2