Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
jatuh di sawah


__ADS_3

Hendra dan yudi dan juga keluarga Mita sedang berbincang hangat karena sudah lama suasana yang bahagia ini tidak terjadi.


"Maaf ya, Hen dan Nak Yudi, keadaan Rumah saya begini. Cuman ada 2 kamar. Tapi nanti biar kami tidur di kamar anak kami .biar kalian bisa istirahat dengan enak" ucap Ridho.


"Gak papa kok Dho, kami tidur di mana saja juga nyaman, di ruang tamu juga bisa. Dulu sebelum sukses juga cuman tidur dengan kasur  yang keras bahkan beralaskan karpet jadi gak usah repot-repot" timpal Hendra sedikit bercerita.


"Gak papa kok biar lebih enak saja. Lebih baik kalian istirahat saja, saya mau ke kepala desa dulu menunjukan surat-surat untuk pernikahan mereka besok" jelas Ridho.


"Kalau gitu saya ikut ya, sekalian mau lihat-lihat di sini apa ada perubahan gitu" jawab Hendra.


"Ya udah ayo lebih cepat lebih baik, nak Yudi bisa langsung istirahat di kamar bapak" ucap Ridho.


Jam menunjukan pukul 16:05. Mita ingin pergi ke sawah untuk mengambil sayuran yang akan ia masak hari ini. Ayah Mita petani ia banyak menanam sayur-sayuran dan juga padi, soal makan ia tak susah karena hasil menanam sendiri, saat apa yang ingin ia makan tinggal pergi ke sawah.


"Mit, kamu mau ke sawah ya, sekalian ya ambilkan jagung untuk kita bakar nanti malam" Meli bertanya pada Mita sebelum ia ke sawah.


" iya bu, nanti Mita ambilkan!! ya udah kalau gitu Mita pergi dulu ya" jawab Mita


Walaupun Mita hanya Gadis polos namun ia sangat lihai dalam memasak . Mita pun sering membantu kedua orang tuanya di sawah.


"Tunggu dulu. Lebih baik kamu ajak Yudi untuk sekalian melihat sawah, siapa tau ia ingin melihat pemandangan persawahan siapa tau juga dia mau" suruh Meli kepada anaknya.


"Tapi bu, Mita malu mau ngobrol sama dia, dia juga cuek nanti kalau Mita ajak dia gak mau gimana kan malu Mitanya" 


"Coba ajak dulu, kan siapa tau mau. Sebentar biar ibu yang panggilkan" ucap Meli dan melangkah pergi meninggalkan Mita


"Huh kenapa jantungku berdebar ya padahal kan Mita gak lari tapi kok kayak ngos-ngosan" ucap Mita dalam hatinya.


Tok! tok! tok! bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunan Yudi di dalam kamarnya yang hanya memainkan game di hpnya. Yudi yang mendengar ketukan pintu di balik kamarnya pun bergegas membuka pintu itu, dan yang ia lihat sesosok wanita paruh baya yang sebentar lagi menjadi ibu mertuanya.


"Eh ibu ada yang bisa Yudi bantu" tanya Yudi sopan.


"Bisa kamu temani Mita ke sawah gak, Mita, ibu suruh untuk mengambil beberapa jagung di sana. Sekalian kamu lihat-lihat pedesaan ini" jawab Meli lembut.


"Eh sawah ya bu, sebenarnya Yudi gak pernah pergi ke sawah soalnya di Jakarta gak ada sawah, tapi Yudi akan coba pergi ke sana lagian di rumah terus bosan" timpal Yudi. Pertama mendengar perjodohannya Yudi memohon agar tak dijodohkan namun sekarang malah ia setuju akan perjodohan dirinya. Sedikit demi sedikit ia menerima kenyataan tentang kehidupannya ini.


"Ya udah kalau gitu. Mita udah nunggu di depan rumah jadi segera temui dia" ucap Meli dengan senyum lembutnya.


"I-iya bu" 


Yudi pun menutup pintu kamar dan segera keluar rumah untuk menemui Mita. Mereka pun pergi ke sawah bersama.


Sudah hampir sampai di sawah ayah Mita namun mereka hanya berdiam tanpa mengobrol apapun.


"Huh kok jadi canggung ya suasananya" kata Yudi dalam benaknya.


"Apakah kakak sudah pernah pergi ke sawah" tanya Mita memecahkan keheningan di antara mereka.


"Um di Jakarta gak ada sawah. Di sana padat sama perumahan dan gedung-gedung perusahaan" jawab Yudi dengan melihat ke segala arah yang membuatnya terkagum-kagum akan keindahan pemandangan di sawah yang ia tuju.


"Wah benarkah kak" sahut Mita dengan wajah berbinar-binar ia pun  berjalan lebih cepat di depan Yudi. Mita berbalik dan menatap wajah Yudi dengan senyum lebarnya yang menampakan deretan gigi putihnya itu.


"Pasti disana sangat bagus ya kak. Apa di sana juga ada pasar malam seperti disini dan apa ada toko buku yang ceritanya menarik dan bagus-bagus" sahut Mita lagi bertanya dengan serius.


"Ya gitu deh. Ada, di Jakarta itu pasar malamnya sangat luas dan ramai pengunjungnya. Apa kamu gak pernah pergi ke pasar malam sampai nanya itu. Kalau toko buku di sana sih banyak dan ceritanya pun bagus-bagus?" Jelas Yudi dan masih menatap arah jalan di depannya dan seorang gadis yang selalu tersenyum sambil mengoceh di hadapannya


"Wah benarkah. Mita itu gak pernah pergi ke pasar malam selain ke sawah sama ke sekolah. Nanti kalau Mita sudah di jakarta Mita mau ke pasar malam! mau coba semua permainan di sana dan Mita juga mau baca buku yang ada di toko buku yang kakak sebutkan tadi" tuturnya dengan senyuman pertanda bahwa ia sangat ingin apa yang dikatakannya terjadi.

__ADS_1


Yudi yang menatap dari belakang hanya melihat gadis itu dengan senyuman kecilnya ia tak pernah bertemu gadis yang ceria dan kekanak-kanakan gini.


"Boleh kok kalau papa mengizinkan kamu" sahutnya lagi.


"Kalau gitu Mita harus berbuat baik dan patuh kepada papa Hendra supaya Mita bisa pergi ke tempat itu" ucapnya semangat.


"Kata bapak Mita tu gini, kalau kita mau berbuat patuh dan tidak membuat marah orang lain. Dia akan mengabulkan permintaan kita. Jadi Mita harus patuh dulu sama Papa Hendra biar nanti bisa ke pasar malam" jelas Mita sambil nyengir.


"Iya kamu bener kok" sahut Yudi meyakinkan kata-katanya dengan senyumnya juga. Eh barusan Yudi senyum loh padahal Yudi jarang senyum kayak gini.


"Kak kita sudah sampai sawah bapak dan kita harus melewati lumpur ini dan di ujung sana ada tanaman yang kami tanam kakak cepat lepaskan sendalnya" ucap Mita dan menunjuk ke arah ujung sawah yang ia pijaki, Mita sudah dulu nyemplung ke dalam lumpur yang sudah ditanami padi namun masih pendek.


"Kak ayo ikut " sahutnya lagi.


"Emang gak ada jalan lain apa, masa kita harus jalan di lumpur itu" tanya Yudi yang belum menjejakan kakinya ke dalam lumpur persawahan.


"Gak ada kak, lagian ini gak dalam kok cepat kak nanti ibu kelamaan nunggu sayurnya" sahut Mita lagi.


Mau tak mau Yudi pun harus ikut nyemplung ke dalam lumpur persawahan yang kini ada di depan matanya. Ditengah perjalanan tiba-tiba yudi terjatuh di tengah lumpur. Dan ia pun dibantu berdiri oleh Mita dengan keadaan setengah badan kotor.


*Gubrak


Mita pun menoleh kebelakang dan benar saja apa yang dilihat, ternyata ada yang sedang tidur di persawahan, eh bukan tidur tapi terjatuh. Bukan nya segera membantu ia malah menertawakannya dulu.


"Ya ampun kak kok bisa jatuh sih" ucapnya dengan suara ketawanya .


"Eh bukannya dibantu malah di ketawain. Nanti kualat loh, kakak ini lebih tua dari kamu tau" ucap Yudi geram kepada Mita calon istrinya ini.


"Eh iya kak kelepasan nih. Abisnya muka kakak lumpur semua hanya mata doang yang kelihatan" ucap Mita yang masih tertawa namun membantu Yudi berdiri.


"Kak, tunggu dulu diam saja ya" Mita pun membuang semua lumpur yang ada di wajah Yudi menggunakan Jilbab yang ia kenakan, alhasil jilbabnya pun ikut kotor.


"Kalau di lihat dari dekat cantik juga dan perhatiannya ini sungguh membuatku tak bisa berfikir lagi di tambah tingkahnya yang sangat polos kok ya ada gadis seperti ini" ucap Yudi dalam hatinya.


"Tuh salahin lumpurnya. Kamu juga bukan langsung di bantu malah di ketawain dulu" ucapnya dengan bibir yang cemberut.


"Iya deh maaf soalnya kakak lucu sih wajahnya hitam semua" sahut Mita dengan polosnya.


Mereka pun melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke ujung sawah milik bapak Mita. Setelah mereka mengambil secukupnya sayur dan juga jagung mereka pun segera pulang.


"Di sini pemandangannya bagus ya, sejuk dan juga sunyi gak terlalu berisik" tanya Yudi pada Mita sehingga membuat Mita menolehnya.


"Ya begitulah pemandangan di sini. Mungkin karena Mita sudah biasa melihatnya jadi gak terlalu menarik tapi bagus untuk di pandang. Emang di Jakarta suasananya seperti apa kak" jawab Mita.


"Iya sih, kamu kan sudah lama tinggal di sini. Nanti kalau kamu sampai di sana kamu bisa lihat sendiri kok" sahut Yudi.


Selang beberapa menit mereka pun akhirnya sampai di rumah dan segera masuk sambil mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum"ucap mereka berdua.


"Waalaikumsalam" jawab Hendra, Ridho dan Meli serempak yang berada di dalam rumah.


"Hahahahaha wajah kamu kenapa Yud" tanya Hendra papanya.


Belum juga mereka masuk ke dalam rumah sudah dulu di sambut dengan tawaan.


"Udah dong pa jangan di ketawain terus malu nih Yudi" timpal Yudi pada papanya sehingga membuat mereka semakin tertawa. Yudi pun masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju dan langsung mandi. Sehingga Mita yang harus menjawab pertanyaan dari papanya Yudi.

__ADS_1


"Anu pah, tadi itu kakak jatuh di sawah" jelas Mita dengan sedikit senyum. Lalu ia pun masuk dengan membawa sayuran untuk di masak di dapur dan Mita pun segera mengupas kulit jagung. Di susullah Meli untuk membantunya memasak agar lebih cepat.


Sebentar lagi Azan Magrib berkumandang. Mita sedang menyiapkan air untuk wudhu, mereka pun wudhu dengan bergantian.


"Eh ini gimana cara wudhu nya?" ucap Yudi.


"Ditanya malah senyam-senyum!" Yudi keheranan melihatnya.


Mita langsung memberikan ember yang berukuran kecil kepada Yudi, namun ember itu terlihat bolong di tengahnya.


"Ember bolong buat apa?" Tanya Yudi heran menerima Ember itu.


"Ayo sini, biar Mita ajarin" ucap Mita sambil menaruh air pada ember itu, kemudian Yudi pun mulai berwudhu.


Mereka pun shalat Magrib berjamaah di rumah dengan Hendra menjadi imam. Setelah itu mereka segera menuju ke meja makan untuk makan malam karena sudah disiapkan dari tadi. Tidak lupa juga jagung bakar yang mereka panen jagungnya dari sawah Ridho.


Jam menunjukan pukul 04:00 Yudi terbangun dari tidurnya dikarenakan ia ingin membuang air kecil, perlahan ia membuka pintu kamar dan melihat kekanan dan kekiri setelah itu ia pergi ke kamar mandi namun ia tak berani karena gelap. Dan kamar mandinya pun berada di luar rumah bukan di dalam rumah. Saat Yudi ingin berbalik ia terkejut mendapati sosok Mita yang berdiri di belakangnya.


"Astagfirullah setan" ucapnya kaget dan langsung menutup matanya.


Mita pun lagi-lagi tertawa melihat wajah terkejutnya Yudi.


"Ini Mita kak bukan setan" ucapnya pelan.


"Kamu ngapain malam-malam keluar kamar?" Tanya Yudi.


"Udah mau subuh kak, Mita mau masak air dan bikin minuman hangat, sebentar lagi juga orang rumah pada bangun semua. Kakak mau ngapain" jelas Mita ditambah bertanya dengan seriusnya.


"Saya mau ke kamar mandi" ucap Yudi menjawab.


"Itu kamar mandinya di sana." Ucap Mita menunjuk ke luar.


"Tau itu kamar mandi. Tapi kenapa di taruh di luar, gini aja kamu tunggu di sini. Kalau aku teriak-teriak tolongin" sahut Yudi.


"Ya udah Mita tunggu di sini deh. Mita tau loh ciri-ciri orang yang takut" ledek Mita.


"Siapa juga yang takut, Eh kamu jangan tinggalin aku yah, awas aja kalo di tinggal" ucap Yudi yang merasa tidak biasa dengan kamar mandi yang berada di luar rumah. Mita hanya menurut, dia menunggu Yudi sembari duduk di tempat yang tak jauh.


"Jangan ngintip, awas aja kalo ngintip! Ingat kita belum muhrim!" ucap Yudi sedikit teriak. Mita hanya terkekeh mendengar nya, lagi pula dirinya tidak ada niatan sedikitpun untuk mengintip Yudi.


"Hey Kecil! jangan coba-coba kabur, tetap di situ" teriak Yudi, tiba-tiba lampu yang berada di kamar mandi redup. Membuat Yudi panik, Mita hanya menahan tawa saat Yudi merasa takut.


"Eh kok lampunya mau mati, Kecil jangan tinggalin aku" ucap Yudi berusaha dengan cepat dan keluar dari kamar mandi.


"Dari tadi manggil kecil emang siapa yang kecil" gerutu Mita hingga didengar oleh Yudi.


"Kamu lah kecil siapa lagi, tubuh kamu lebih pendek dari aku jadi cocokan kalau aku panggil si kecil" jawab Yudi.


"Ternyata kakak tuh penakut" ledek Mita.


"Bukan takut, aku mah gak pernah takut. Cuma kamar mandinya aja kejauhan." Elak Yudi tak mengaku bahwa ia memang takut. Mendengar itu Yudi merasa kesal dengan tingkah polos Mita, walau sebenarnya dia sedikit ingin tertawa.


Saat ini Yudi tidak peduli dengan ledekan Mita, Yudi berusaha menutupinya karena dia tidak ingin orang menganggapnya penakut. Tak lama kemudian akhirnya Lampu kembali normal, membuat hati Yudi sedikit lega.


Semua orang pun terbangun dari tidurnya dan segera mengambil air wudhu karena Adzan subuh berkumandang. Rencananya proses ijab Qabul akan dilaksanakan jam 10 pagi namun itu kelamaan takutkan nanti teman-teman Mita pada tahu, jadi rencana mereka diubah yaitu setelah shalat subuh.


Setelah menjalani Sholat subuh berjamaah, Mita dan keluarga sudah siap untuk menjalani proses Ijab Qobul. Sebelum itu, Hendra sudah menanyakan pada Mita tentang mahar apa yang ia inginkan, namun Mita hanya menjawab kalau ia ingin maharnya surah Ar-rahman, meskipun Yudi dari keluarga yang berkecukupan, Ia selalu dididik tentang agama sehingga ia meng iyakan apa yang Mita minta. Masalah mahar itu sudah dipenuhi oleh Yudi.

__ADS_1


Pernikahan Mita sangat sederhana, hanya dihadiri oleh keluarganya. Dan calon Ayah mertua.


"Bisa di mulai?"ucap pak penghulu.


__ADS_2