Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 107


__ADS_3

"Sudahlah Jenny. Sekarang kamu pergi bersihkan dirimu dan jangan temui aku disini, nanti aku temui kamu di kafe tempat biasa kita bertemu," ucap Rendy sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


"Apa? aku dipermalukan seperti ini dan cuma itu tanggapan yang kamu berikan? Rendi ... kamu sadar gak sih secara tidak langsung kamu membela wanita itu," ucap Jenny yang tak terima karena Rendy menyuruhnya pergi.


Rendy yang terus fokus pada laptopnya kini beralih menatap Jenny dengan tatapan tajam.


"Dia istriku dan kamu kekasihku aku tidak tahu harus berbuat apa dan dengan sifat kamu yang seperti ini bisa saja sebenarnya kamu yang memulai duluan mengusik Liana." Rendy berucap sembari melangkahkan kakinya menghampiri Jenny.


"Jadi kamu nuduh aku?" ucap Jenny dengan nada lirih.


Rendy membelai rambut Jenny yang lengket karena disiram jus oleh Liana!


"Aku tidak menuduh dirimu."


Rendy meraih tangan Jenny lalu mengepalkan uang yang ia pegang ke tangan Jenny!


"Bersihkan dirimu," ucap Rendy dengan berbisik lalu mencium punggung tangan Jenny.


Jenny tersenyum, dengan terpaksa ia pergi dari ruangan Rendy dan meninggalkan area kantor milik kekasihnya itu!


Setelah Jenny sudah tak terlihat lagi dan setelah Rendy memastikan bahwa wanita itu sudah benar-benar pergi, Rendy berjalan menghampiri seorang satpam yang tengah berdiri didepan pintu masuk kantornya!


"Pak, kalau Jenny kesini. Jangan izinkan dia masuk kesini apapun alasannya saya tidak mau dengar dan saya tidak perduli," ucap Rendy kepada satpam itu dengan nada kesal.

__ADS_1


"Baik, Pak," sahut satpam itu sembari menundukkan kepalanya.


Rendy kembali masuk kedalam ruangannya dengan perasaan marah!


Rendy duduk di kursi kebesarannya tiba-tiba ia teringat pada Liana yang sedang pergi bersama Satya.


Sebelum pergi, Liana memang meminta izin kepadanya untuk pergi menemui Satya. Entah Liana ingin membalas perlakuannya atau memang sengaja ingin menyakiti dirinya yang pasti Liana meminta izin bahkan memaksa Rendy untuk mengizinkan Liana pergi.


Rendy mengepalkan tangannya, ada rasa marah dan cemburu dihatinya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengizinkan Liana pergi.


"Liana, aku gak bisa ngeliat kamu jalan sama laki-laki lain," lirih Rendy dengan tangan yang masih terkepal.


Di tempat lain.


"Shil, kita pulang aja saya gak jadi menemui teman lama saya," ucap Elma lalu meminum minumannya.


Elma terdiam tanpa kata.


"Saya rasa mereka akan mencegat kita dijalan pulang, karena keselamatan anda sedang terancam saya meminta beberapa bodyguard untuk membantu saya mengkawal anda," jelas Shila.


Tak lama Sam datang dengan membawa lebih dari lima bodyguard.


"Maaf, Bu sudah membuat anda menunggu," ucap Sam yang baru tiba ditempat itu.

__ADS_1


"Sam?" ucap Shila penuh tanya.


Shila meminta hanya dua atau tiga bodyguard namun ternyata Sam membawa tujuh bodyguard sekaligus yang dibagi menjadi dua mobil.


Sam nyengir kuda, ia tahu yang ada di otak Shila.


"Demi keselamatan, Ibu. Siapa tahu orang-orang yang mengejar mobilmu jumlahnya lebih dari lima orang. Bukan tidak mungkin kalau mereka sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari," jelas Sam.


Shila hanya bisa tersenyum menanggapi kelakuan partner seprofesinya itu.


"Ayo kita pulang," ucap Shila.


Shila berjalan dibelakang Elma dengan diikuti oleh beberapa bodyguard yang datang bersama Sam.


"Sam kamu disini sama aku," ucap Shila kepada Sam.


"Yang lain di mobil masing-masing. Satu mobil jalan didepan mobilku dan satu lagi dibelakang," ucap Shila menginstruksikan bodyguard lain.


Tanpa menjawab ucapan Shila, para bodyguard itu segera melakukan tugasnya!


"Aku yang nyetir," ucap Sam.


"Iyalah, masa aku." Shila berucap dengan senyum mengembang.

__ADS_1


Iring-iringan mobil itupun segera melintasi jalan yang terlihat sepi dari lalu-lalang kendaraan.


Bersambung


__ADS_2