
"Udah beberapa hari, Rio gak nemuin aku. Apa dia tidak mau menerima aku ya, Ma?" ucap Biani kepada Jenny.
"Mama gak tahu, Nak. Maafkan Mama ya," ucap Jenny.
"Kenapa, Mama minta maaf? Ini kan bukan salah Mama."
"Semua salah Mama. Yang terjadi pada kamu dan juga Kakakmu semuanya adalah kesalahan Mama."
Jenny menangis di tempat itu, dia tak kuasa menahan air matanya dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya.
"Mama bicara apa? Lupakan semua yang terjadi kepada aku dan Kakak. Sekarang, Mama sarapan dulu, aku harus berangkat bekerja."
"Kalau saja dulu, Mama tidak melakukan kejahatan, mungkin sekarang kalian tidak akan seperti ini."
"Sudahlah, Ma jangan terus mengingat masa lalu karena masa lalu hanya membuat Mama terus bersedih."
Jenny mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya lalu mengukir senyuman di bibirnya.
"Terimakasih, karena kamu masih menyayangi Mama seperti dahulu."
"Ma, tidak perlu berterimakasih. Sudah seharusnya seorang anak menyayangi dan mencintai orang tuanya. Maaf karena aku pernah membenci Mama."
"Tidak, kamu tidak perlu minta maaf."
Biani melihat jam di tangannya lalu ia menatap Jenny.
"Ma, aku berangkat kerja dulu ya," ucap Biani.
"Iya, sayang. Hati-hati ya."
Biani tersenyum tipis lalu mencium punggung tangan Mamanya.
"Biani pamit ya, Mam. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Biani langsung berlalu meninggalkan Mamanya yang masih terbaring di rumah sakit.
...****************...
Kayla sedang menemui Jacky di kantor polisi. Dia menyempatkan diri untuk menjenguk Jacky karena tahu keluarganya tidak mungkin menemuinya di sana.
Kayla tahu, Jenny sedang sakit dan Biani harus bekerja untuk menutupi semua kebutuhannya.
"Apa kabarmu?" tanya Kayla.
"Aku baik-baik saja. Untuk apa kamu datang ke sini, apa belum cukup bukti untuk memenjarakan aku seumur hidupku?" sahut Jacky.
"Jangan bicara seperti itu. Aku datang hanya untuk melihat dirimu saja, tidak ada yang lain."
"Wanita seperti dirimu sangat cerdik. Bagaimana bisa aku percaya dengan ucapan mu setelah aku tahu siapa dirimu."
"Jacky, aku benar-benar tidak punya maksud lain, aku hanya menjenguk mu ke sini karena aku tahu keluargamu belum ada yang ke sini untuk menemui dirimu."
"Berarti kamu masih menyelidiki keluarga aku? Kayla tolong jangan ganggu mereka, mereka tidak tahu apa-apa tentang semua yang aku perbuat terhadap Leon dan keluarganya."
"Aku tahu. Karena itu lah aku masih memperdulikan mereka juga. Jangan kamu pikir aku tidak punya hati setelah menjebloskan kamu ke penjara aku juga akan menyakiti keluargamu. Tidak Jacky, tugasku adalah melindungi yang benar dan memberi pelajaran kepada orang yang bersalah."
"Mau mu apa dari keluargaku?"
"Tidak ada. Aku tidak kenal kalian dan aku juga tidak butuh apa-apa dari kalian. Waktu kita bicara sudah habis, aku pergi dulu lain kali kalau aku punya waktu, aku akan ke sini lagi untuk menemui dirimu."
Kayla pergi dari tempat itu tanpa menunggu Jacky menjawab perkataannya.
...****************...
__ADS_1
Uuek!
Uuek!
Setelah beberapa hari Shania tidak merasakan mual, tiba-tiba dia merasakan mual lagi.
Shania berlari ke kamar mandi karena takut muntah di kamarnya!
Shania membersihkan bibirnya dari sisa muntah yang masih tertinggal di bibirnya dengan air.
"Duh, kok aku mual lagi? Kepalaku juga pusing lagi," gumam Shania.
Shania berjalan perlahan menuju tempat tidurnya, dia merasa lemas seperti tidak bertulang.
Shania berbaring di atas tempat tidurnya sembari memegangi perutnya.
"Kenapa perutku juga jadi sakit?" gumam Shania lagi.
Ingin sekali Shania meminta tolong pada Leon namun sayangnya saat itu Leon sedang tidak di rumah.
Saat itu, seperti biasa Leon sedang berada di kantornya untuk bekerja.
Shania meraih ponselnya lalu menelpon asisten rumah tangganya.
📞 "Halo, Bik tolong ke sini ya!" ucap Rea setelah asisten rumah tangganya menerima teleponnya.
Untuk berteriak memanggil asisten rumah tangganya saja Shania sudah tidak bisa, saat itu kondisi tubuhnya sangat lemah.
📞 "Baik, Bu saya akan segera ke sana," sahut asisten rumah tangganya dari sebrang telepon.
📞 "Saya tunggu, cepat ya!"
Shania mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu asisten rumah tangganya berucap lagi.
Shania meletakkan ponselnya di atas meja lalu berdiam diri untuk menunggu asisten rumah tangganya datang ke kamarnya.
Tak lama suara ketukan pintu terdengar oleh Shania.
"Bu!" ucap asisten rumah tangga itu dari luar kamar Shania.
"Masuk!" ucap Shania.
asisten rumah tangga itu membuka pintu kamar Shania lalu segera berjalan menghampiri majikannya yang sedang berbaring di tempat tidur!
"Ada apa, Bu? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Inem asisten rumah tangganya Shania.
"Bik, aku kok lemes banget, kenapa ya?" ucap Shania.
"Ibu habis muntah ya?
"Iya, Bik."
Inem langsung menuangkan air hangat kedalam gelas yang selalu ada didalam kamar majikannya itu lalu segera memberi majikannya minum.
"Minum dulu, Buk!" ucap Inem sembari menyodorkan air minum dalam gelas ke mulut Shania.
"Kalau habis muntah memang suka lemas, Bu. Tunggu sebentar ya, Inem buatkan teh manis agar bisa menambah sedikit tenaga," ucap Inem lalu pergi setelah memberi Shania minum!
Tak perlu menunggu lama Inem sudah kembali dengan segelas teh di tangannya.
"Minum dulu, Bu."
Shania langsung meminum teh hangat itu.
"Terimakasih, Bik," ucap Shania.
__ADS_1
"Mau saya panggilkan dokter, Bu? Atau saya kasih tahu Pak Leon saja?"
"Tidak perlu, saya mau istirahat saja. Bibik boleh pergi," ucap Shania.
"Baiklah, kalau gitu saya permisi. Kalau butuh apa-apa jangan turun ya, Bu telpon saya saja nanti saya yang akan menyiapkan semua kebutuhan Ibu."
"Iya, terimakasih ya Bik."
Asisten rumah tangga itu langsung pergi meninggal Shania di kamarnya. Sebentar ia merasa khawatir terhadap majikannya itu tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena majikannya itu memintanya pergi meninggalkannya.
...****************...
Di tempat kerjanya Biani menjalankan pekerjaannya dengan baik dan benar, dia tidak mau melakukan kesalahan karena dia tidak ingin dipecat dari pekerjaannya.
"Bi, jangan bolak-balik terus, duduklah sebentar. Biar yang lain yang membersihkan meja itu," ucap Indah.
Biani tersenyum tipis. "Gak apa-apa aku suka kok melakukannya," sahut Biani.
"Tapi kamu belum duduk sedetikpun sejak kamu tiba ke sini. Ini udah jam berapa, memangnya kamu tidak capek?"
"Capek ya pasti, namanya juga kerja kan."
"Hai. Lagi pada ngapain?" ucap seorang laki-laki.
"Tidak ada," ucap Indah.
"Siapa namamu?" ucapnya pada Biani.
"Biani," sahut Biani singkat.
Biani mulai melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan laki-laki itu.
"Aku belum selesai bicara!"
Laki-laki itu menghentikan langkah Biani dengan memegangi tangan Biani.
"Maaf saya sedang bekerja, saya tidak ingin dipecat karena kebanyakan mengobrol."
"Kamu tidak akan dipecat, tidak akan ada yang bisa memecat kamu tanpa izin dariku."
"Apa, kamu?" Biani berdiri terpaku sembari menatap laki-laki itu.
"Siapa kamu?" tanya Biani.
"Kafe ini milik Kakakku, dan manajer di sini tidak akan membuatmu jika tidak ada izin dariku."
Biani menatap Indah yang sedang berdiri agak jauh darinya.
"Namaku Galang."
Biani tersenyum tipis. "Baiklah aku harus memanggilmu apa? Pak, Mas, Abang atau apa?"
Galang tertawa kecil, "panggil saja Galang."
"Galang, sekarang aku sedang bekerja tolong jangan ganggu aku ya."
Biani melangkahkan kakinya meninggalkan Galang!
Galang terus menatap punggung Biani yang terus menjauh.
"Cantik, jutek tapi sepertinya dia baik," gumam Galang.
"Gadis manis. Jangan harap kamu bisa lepas dariku setelah aku jatuh cinta padamu. Aku tidak akan berhenti berusaha mendapatkan cintamu sebelum aku memilikimu," ucap Galang didalam hatinya.
Galang terus menatap Biani yang sedang melakukan pekerjaannya hingga Biani merasa risih dan tidak nyaman karena terus diperhatikan.
__ADS_1
Bersambung