Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 42


__ADS_3

Setelah mengantarkan dokter itu ke depan rumahnya, Leon segera masuk lagi ke dalam rumahnya untuk segera memberikan Shania obat.


Saat sedang berjalan melewati ruang tamu, Leon melihat selembar kertas yang tergeletak di lantai dekat kaki meja.


Leon sempat tidak menghiraukan kertas itu, tapi setelah beberapa saat ia merasa penasaran dengan apa yang tertulis pada kertas itu.


"Apa ini?" gumam Leon sembari mengambil kertas itu.


Leon membaca kertas itu dengan seksama.


"Resep obat," gumamnya lagi.


"Astaga, berarti laki-laki tadi itu ...." Leon meletakkan kertas itu di meja.


"Berarti Shania memang sedang sakit, kenapa dia gak bilang kalau sedang tidak enak badan?"


Leon segera berjalan menuju kamarnya!


Sesampainya didalam kamarnya, Leon menatap Shania yang sedang terbaring di tempat tidurnya dengan mata yang terpejam.


Ia menatap Shania dengan tatapan sendu, ada rasa bersalah karena sudah berbuat kasar terhadap wanita yang ia nikahi karena perjodohan itu.


Leon berjalan mendekat Shania lalu duduk di samping Shania!


"Shania, minum obat dulu," ucap Leon.


Leon tahu Shania tidak sedang tidur, dalam pikirannya mungkin Shania tidak ingin melihatnya.


Shania membuka matanya yang sembab akibat terlalu lama menangis.


"Shania, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini," ucap Leon dengan nada lirih.


Shania tak berucap ataupun bergerak. Pinggangnya terasa sakit hingga ia tidak bisa menggerakkannya.


Leon menyiapkan obat yang diberikan oleh dokter untuk Shania, tak lupa ia juga menyiapkan air minumnya.


"Minum obat dulu, agar kamu cepat sembuh."


Shania mencoba untuk duduk!


"Aww," lirih Shania.


Shania meringis kesakitan sembari memegangi perut bawahnya.


"Shania."


Leon langsung panik karena melihat Shania yang kesakitan.


Leon membantu Shania untuk duduk! Lalu setelah itu ia memberikan beberapa butir obat dari dokter tadi tak lupa Leon juga memberikan air minum kepada Shania.


"Shania, maafkan aku."


Shania tidak menanggapi perkataan Leon padanya, ia merasa kesal sekaligus kecewa dengan perlakuan Leon padanya.


Shania beranjak dari tempat tidur milik Leon, ia ingin beristirahat di kamarnya, namu kaki Shania tidak kuat menahan berat tubuhnya ditambah lagi pangkal pahanya masih terasa sakit membuatnya tidak bisa bergerak bebas.


"Shania, kamu mau kemana?" ucap Leon sembari menangkap tubuh Shania yang hampir terjatuh ke lantai.


"Ke kamarku," ucap Shania singkat.


"Kamu tidur disini saja."


Leon mengarahkan Shania untuk naik ke tempat tidurnya lagi.


Tak ingin banyak bicara, Shania menurut saja apa kata Leon, ia berbaring di tempat semula lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.


Leon terus menatap Shania yang sakitnya semakin bertambah akibat perbuatannya. Karena cemburu ia tidak bisa mengontrol emosinya hingga ia tak memberikan kesempatan Shania untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang Shania lakukan dengan laki-laki itu.


Merasa diperhatikan, Shania merubah posisinya, ia memiringkan badannya membelakangi Leon.


Leon berbaring di tempat tidurnya lalu memeluk Shania dari belakang!

__ADS_1


"Maaf," bisik Leon ditelinga Shania.


"Bisa-bisanya kamu minta maaf setelah membuatku kesakitan hingga aku tidak bisa berjalan," ucap Shania didalam hatinya.


Shania berusaha melepaskan tangan Leon yang melingkar di tubuhnya, namun usahanya gagal karena Leon semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan aku memelukmu," ucap Leon.


Shania tak menjawab, ia tidak ingin berbicara dengan Leon untuk sementara waktu.


Shania menutup matanya dan perlahan ia tertidur efek obat yang ia minum mulai Bereaksi pada tubuhnya.


...****************...


Di kantor.


Elvan sedang menunggu Leon kembali ke kantornya, sudah dua jam Elvan menunggu Leon namun Leon belum juga menampakkan batang hidungnya.


"Udah waktunya pulang, tuh anak belum balik juga," gumam Elvan.


"Ada yang lihat, Pak Leon gak?" tanya Elvan kepada karyawannya.


"Terakhir saya lihat, Pak Leon saat keluar pas jam makan siang, sepertinya beliau belum kembali ke kantor lagi," sahut salah satu karyawan itu.


Elvan berpikir sesaat, kenapa Leon belum kembali juga.


Elvan berjalan sembari merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya! Ia hendak menelpon Leon, ia khawatir terhadap orang pertama di perusahaannya itu.


Saat Elvan hendak menelpon Leon, Elvan melihat Leon sedang berjalan menghampirinya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menelpon Leon.


"Kamu dari mana? Jam segini baru balik?" ucap Elvan.


"Dari rumah," sahut Leon.


"Lama banget. Kamu tahu kan kerjaan kamu lagi banyak."


"Iya, tahu Van. Ini aku mau ngambil berkas untuk aku kerjakan di rumah nanti," ucap Leon.


"Shania sakit."


"Sakit lagi? Sakit apa?"


"Tadi abis aku p–" Leon tak melanjutkan perkataannya hampir saja dia keceplosan berbicara.


"P. P apa Leon?" ucap Elvan penasaran.


"Ng_nggak, maksud aku ini ... anu." Leon kesulitan mencari alasan.


"Apa, Leon? Kamu jangan macam-macam ya."


Elvan menatap Leon dengan tatapan tajam.


"Apaan sih kamu Van. Tadi aku peluk Shania, ya aku peluk Shania," ucap Leon.


"Yakin? Bukan pukul?" Elvan masih menatap Leon dengan tatapan tajamnya.


"Nggak lah. Masa aku mukul istriku sendiri."


"Kalau dipeluk, kenapa bisa sampai sakit?"


Elvan terus menanyai Leon karena tidak ingin Leon melakukan kekerasan terhadap Shania.


"Jadi ceritanya gini, Van. Tadi pas aku pulang, aku meluk Shania dari belakang karena Shania terkejut dengan perlakukan aku yang tiba-tiba meluk dia, dia loncat dan akhirnya terjatuh," jelas Leon berbohong.


"Serius?"


"Iya, Van masa aku bohong sih sama kamu."


"Leon!"


Saat Elvan dan Leon berbicara, terdengar suara seseorang yang memanggil nama Leon.

__ADS_1


Leon dan Elvan menoleh ke arah suara secara berbarengan.


"Biani?" ucap Leon.


Leon dan Elvan saling bertatapan, keduanya tidak mengetahui kalau ternyata Biani sudah keluar dari penjara.


Grep!


Biani memeluk Leon dengan sangat erat.


Leon tak merespon pelukan Biani, ia hanya berdiri mematung tanpa kata dan tanpa pergerakan, sementara Elvan merasa tidak suka dengan perlakuan Biani terhadap Leon.


Elvan pergi meninggalkan Leon dan Biani karena tidak ingin melihat sepasang kekasih itu melepas rindu. Elvan tahu gaya berpacaran mereka yang tidak biasa hingga membuatnya tidak sudi melihatnya.


"Elvan, ngapain pergi sih. Bukannya bantuin aku," ucap Leon didalam hatinya.


"B_Biani, jangan seperti ini. Malu dilihat para karyawan ku," ucap Leon.


"Aku tahu kamu pasti berusaha untuk membebaskan aku dari penjara. Terimakasih, sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu." Biani mencium pipi Leon berkali-kali.


Leon terlihat kebingungan, ia tidak membebaskan Biani bahkan ia juga tidak tahu siapa yang sudah membebaskan kekasih yang sudah tak dicintainya itu.


"Biani, lepaskan!" Leon melerai tangan Biani yang melingkar di tubuhnya.


"Kenapa, Leon? Kamu tidak merindukan aku?"


"Kapan kamu pulang dari penjara?"


"Dua hari yang lalu. Kenapa kamu tidak menemui aku? Padahal kamu tahu aku sudah bebas."


"Biani, sekarang aku sibuk. Kita bicara nanti ya, sekarang kamu pulang dan nanti aku kabari kamu setelah aku ada waktu untuk bertemu denganmu."


"Leon aku sangat merindukan kamu, tapi sepertinya kamu tidak merindukan aku? Kenapa, Leon? Apa wanita itu sudah meracuni otakmu sehingga kamu sudah tak memperdulikan aku lagi?"


"Cukup, Biani! Tolong kamu pergi, sudah aku katakan kalau aku sedang sibuk."


Leon pergi meninggalkan Biani di tempat itu tanpa menatap Biani sedikitpun!


Biani menatap punggung Leon dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia sangat merindukan kekasihnya itu namun sedikitpun Leon tidak membalasnya.


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi Leon?" gumam Biani.


Biani pergi dari kantor Leon dengan menggenggam rasa kecewa yang teramat dalam.


Sepanjang perjalanan pulang, Biani terus menangis, sesuatu yang ia takutkan kini terjadi juga, ia sadar mungkin Leon membencinya karena perbuatannya terhadap Shania tapi semua itu ia lakukan hanyalah untuk mendapatkan Leon kembali kepadanya.


Tak terasa taksi yang ia tumpangi sudah tiba di depan rumahnya.


"Mbak, sudah sampai," ucap sopir taksi itu.


"Oh, sudah sampai ya. Maaf, saya lagi kurang fokus."


Biani segera turun dari taksi itu lalu mulai berjalan memasuki rumahnya.


"Kamu dari mana, Bi?" tanya Jenny yang melihat Biani baru datang dari luar.


"Bukan urusan Mama," sahut Biani ketus.


Biani terus berjalan memasuki kamarnya tanpa menatap Jenny sedikitpun.


"Biani! Jangan berbicara tidak sopan sama Mama," ucap Jacky yang melihat Biani bersikap tidak ramah pada mamanya.


Biani tidak menghiraukan perkataan Kakaknya ia terus berjalan memasuki kamarnya! Biani membanting pintu dengan sangat keras karena kesal terhadap waktu yang ia lalui hari ini.


"Anak itu." Jacky mengepalkan tangannya.


"Biarkan saja, Nak. Biani ber hak membenci Mama karena Mama yang menyebabkan hidupnya menjadi seperti ini," ucap Jenny.


Sejak mengetahui masa lalu Jenny dengan Rendy. Biani menjadi membenci Mamanya dan semenjak ia bebas dari penjara ia belum mengobrol dengan Mamanya meski hanya untuk melepas rindu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2