Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 19


__ADS_3

Setelah sampai di rumahnya, Shania mengobati luka lebam yang terdapat pada seluruh tubuhnya dengan mengompresnya menggunakan air hangat.


"Wanita itu sangat keterlaluan."


"Awh!" Shania meringis kesakitan.


"Awas saja, akan aku balas setiap perlakuan yang kudapatkan dari kalian. Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan," ucap Shania.


Selesai mengompres lukanya, Shania berjalan memasuki kamarnya! Ia harus mengistirahatkan badannya yang terasa sakit.


Shania merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia tidak tertidur tapi matanya tertutup rapat sambil memikirkan rencana untuk membalas dendam kepada Biani namun tak membuat Leon benci kepadanya.


Waktu terus berjalan, tak terasa hari sudah sore. Shania menatap jam didinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 17:00 waktu setempat.


"Duh, aku belum masak buat makan malam, udah sore lagi," gumam Shania.


Shania berjalan keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga, untuk mengambil air minum di dapur.


Saat sedang berjalan menuju dapur, Shania berpapasan dengan Leon yang ternyata sudah pulang dari kantor.


Entah kapan Leon tiba di rumahnya, Shania tidak tahu karena ia sempat tertidur di kamarnya.


Shania tak menyapa Leon, begitu juga dengan Leon yang cuek terhadap Shania, hingga setelah Shania kembali dari dapur Leon baru menyadari bahwa terdapat luka lebam pada wajah Shania.


Leon yang sedang duduk di kursi ruang keluarga, segera berdiri lalu meraih tangan Shania agar istrinya itu menghentikan langkahnya.


"Shania, tunggu," ucap Leon.


Shania menghentikan langkahnya, namun tidak membalikkan tubuhnya. Ia tetap membelakangi Leon.


"Ada apa?" ucap Shania datar.


Leon terdiam, ada rasa ragu untuk menanyakan keadaan Shania karena takut Shania akan berpikir kalau dirinya perduli dengan Shania.


"Aku tidak masak untuk makan malam. Kalau mau makan, pesan saja via online," ucap Shania.


Shania mulai melanjutkan langkahnya! Namun Leon menahannya.


Leon berjalan ke hadapan Shania lalu menatap wajah Shania!


"Kenapa kamu terluka seperti ini?" tanya Leon.


Karena Leon melihat ada banyak luka lebam bukan hanya pada wajah saja melainkan pada tangan dan kaki Shania juga, akhirnya Leon mengesampingkan rasa gengsi nya.


"Kalau pun, aku katakan, kamu gak akan percaya," ucap Shania.


"Shania, katakan! Kenapa kamu terluka, siapa yang melakukan ini padamu?" ucap Leon.


"Tanya sama kekasihmu yang kamu bangga-banggakan itu."


Shania berjalan meninggalkan Leon.


"Biani?" tanya Leon pada dirinya sendiri.


"Biani tidak mungkin melakukan itu!" ucap Leon sembari menatap Shania yang sedang berjalan menaiki anak tangga.


"Aku sudah bilang, kalau pun aku katakan yang sejujurnya kamu tidak akan percaya," ucap Shania setelah menghentikan langkahnya.


Shania turun lagi dari tangga itu, dia berjalan menghampirimu Leon yang sedang berdiri menatapnya.


"Temui pihak mall xxxx lalu minta rekaman CCTV di area parkiran. Kamu akan tahu yang sebenarnya terjadi," ucap Shania dengan tatapan tajam.

__ADS_1


Leon tak berucap lagi, ia merasa tidak percaya dengan pernyataan Shania.


Shania berjalan cepat menaiki anak tangga dan memasuki kamarnya.


"Perlahan, Leon akan membencimu Biani," ucap Shania didalam hatinya setelah ia duduk di bibir tempat tidurnya.


Sebuah senyuman sinis terukir di bibir Shania.


"Kita mulai permainan ini," ucap Shania.


...****************...


Biani berjalan memasuki rumahnya dengan perlahan. Perutnya masih terasa sakit akibat terkena bogem dari Shania.


"Wanita brengsek itu membuat perutku kesakitan," gumam Biani.


"Bi, kamu kenapa? Kok seperti lagi kesakitan?" tanya Jenny.


Biani menatap mamanya lalu bersikap seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Ma," ucap Biani dengan senyuman yang dipaksakan.


"Tapi ... ." (Jenny)


"Ma, aku capek. Aku ke kamar dulu ya," ucap Biani karena tak ingin ditanya-tanya oleh mamanya.


"ya sudah. Istirahatlah, sebentar lagi kita makan malam bersama," ucap Jenny.


Biani berjalan memasuki kamarnya!


"Dari mana saja, jam segini baru pulang?" ucap Jacky.


"Lain kali jangan pulang lewat dari jam tujuan malam. Tidak baik anak gadis keluyuran malam," ucap Jacky.


"Iya, Kak."


Biani melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


"Sudahlah Jacky, adikmu kan gak setiap hari pulang malam. Lagian sekarang masih sore, baru juga jam berapa, belum sampai jam sepuluh malam," ucap Jenny sembari mengelus pundak Jacky!


"Kalau gak dibilangin, nanti kebiasaan, Ma," ucap Jacky.


"Mama tahu, nanti Mama bilangin pelan-pelan ya. Kamu tahu kan adikmu seperti apa?" ucap Jenny.


Jenny pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka makan malam sedangkan Jacky berjalan menuju teras rumahnya.


Seperti biasa, kalau Jacky sedang santai, dia akan duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


...****************...


Hari sudah memasuki tengah malam, namun Leon belum bisa tidur karena terus teringat dengan perkataan Shania.


Leon merasa tidak percaya dengan apa yang Shania katakan. Dalam pikiran Leon, tidak mungkin Biani bisa dan tega melakukan penganiayaan kepada Shania sedangkan membunuh seekor kucing saja Biani merasa tidak tega dan kasihan terhadap kucing itu.


Leon mengingat perkataan terakhir dari Shania yang mengatakan kalau ia akan tahu setelah melihat rekaman CCTV yang berada di mall xxxx.


Saat itu jam menunjukkan pukul 23:00 waktu setempat.


Leon beranjak dari duduknya lalu mengganti pakaiannya. Ia ingin membuktikan kalau bukan Biani yang memukuli Shania.


Leon berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia tak menghiraukan waktu yang mulai memasuki tengah malam.

__ADS_1


Leon terus berjalan menuju mobilnya! Ia akan pergi ke mall xxxx untuk melihat kejadian yang menimpa Shania.


Leon melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang tidak terlalu ramai membuatnya tidak terlalu khawatir akan terjadinya kecelakaan lalu-lintas.


Setelah berkendara selama sepuluh menit, akhirnya Leon tiba di tempat yang ia tuju.


Leon berjalan menghampiri seorang satpam yang berjaga di sana!


"Pak apa di area parkiran ada CCTV-nya?" tanya Leon kepada satpam itu.


"Ada. Kenapa ya, Pak?" ucap Satpam itu.


"Saya ingin melihat rekaman CCTV itu," ucap Leon.


"Maaf, Pak kami tidak bisa memperlihatkan rekaman CCTV kami kepada sembarangan orang," ucap Satpam itu.


"Istri saya mengalami kekerasan fisik dan itu terjadi di area parkiran mall ini, saya ingin tahu siapa yang sudah melakukan itu kepada istri saya," jelas Leon.


"Maaf, Pak kami tidak bisa," ucap satpam itu.


Leon memperlihatkan, identitas dan kartu namanya, agar satpam itu bisa mengizinkannya untuk melihat rekaman CCTV itu.


"Saya bisa menuntut pihak mall ini dengan tuduhan menyembunyikan bukti kekerasan yang dialami oleh istri saya," ucap Leon.


"Maaf, Pak. Mari saya antar ke ruangan CCTV," ucap satpam itu setelah melihat identitas Leon.


Leon tersenyum, lalu mengikuti langkah satpam itu.


"Silahkan, Pak!" ucap satpam itu.


Leon masuk ke ruang itu dan seorang yang bertugas di ruangan itu mulai memperlihatkan rekaman semua CCTV dari semua arah.


"Saya ingin lihat rekaman di area parkiran," ucap Leon.


Orang itu menuruti perkataan Leon dan mulai memutar videonya.


"Rekaman di jam berapa yang Anda ingin lihat, Pak?" tanyanya.


"Sekitar jam 14:00 atau jam 13:00," ucap Leon.


"Baik."


Setelah orang itu memutar video rekaman itu, Leon melihat Shania yang mulai masuk kedalam mobilnya.


"Tolong mundurkan rekamannya," ucap Leon.


Orang itu menuruti perkataan Leon tanpa berucap.


"Jeda videonya!" ucap Leon.


Leon melihat segerombolan wanita mengeroyok Shania namun orang-orang itu tidak terlihat jelas.


Tanpa diminta, pekerja itu memperbesar gambarnya agar Leon melihat dengan jelas orang-orang yang berada di dalam rekaman itu.


"Biani," gumam Leon.


Leon mengcopy video itu atas izin dari pihak mall tesebut.


Setelah mendapatkan apa yang ingin ia ketahui, Leon segera pergi meninggalkan mall tersebut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2