
"Lagi ngelamunin apa?" tanya Shila kepada Elvan.
Elvan terhenyak saat mendengar pernyataan mamanya, lamunannya seketika buyar begitu saja.
"Mama, ngagetin saja," ucap Elvan.
"Pertanyaan, Mama gak dijawab?"
"Mama udah tahu belum kalau istrinya Leon dirawat di rumah sakit?" Elvan bertanya balik.
"Dirawat?" Shila menatap Elvan penuh tanya.
"Iya, dia baru saja mengalami kekerasan oleh orang tidak dikenal," ucap Elvan.
Elvan sengaja tidak mengatakan bahwa kekasihnya Leon yang mencelakakan Shania.
"Kok gak ada yang ngasih tahu, Mama?"
"Ini aku lagi ngasih tahu, Mama."
"Maksud Mama, Om Rendy ataupun Tante Liana gitu yang kasih tahu ke Mama. Bukan kamu."
"Aku ataupun mereka yang ngasih tahu, Mama kan sama saja."
"Iya sih, emang sama. Gimana keadaan Shania sekarang?" tanya Shila.
"Dia masih lemah dan masih dalam pengawasan ketat dari tim dokter," jelas Elvan.
"Sudah lapor polisi?"
"Tadi sih belum."
"Kenapa?"
"Mama nanya terus, kayak wartawan saja. Biarkan itu menjadi urusan mereka, kita gak usah ikut campur," ucap Elvan yang tak ingin terus ditanyai oleh mamanya.
"Kok ngambek. Mama kan hanya ingin tahu."
Elvan tak berucap lagi.
"Eh ngomong-ngomong gimana dengan Kayla?" tanya Shila.
"Gimana apanya?" Elvan berucap sambil memainkan ponselnya.
"Kapan dia siap nikah?"
"Gak tahu," sahut Elvan singkat.
"Kok gak tahu? Kamu kan pacarnya."
"Aku gak tahu, Ma. Mama tahu kan pekerjaan dia apa? Katanya dia baru siap menikah setelah menyelesaikan misinya," jelas Elvan.
"Kalau gitu kamu senasib sama Papa, Van," ucap Ken yang baru tiba di ruangan itu.
"Papa nyamber saja kayak setrum," ucap Shila.
"Senasib gimana, Pa?" tanya Elvan.
"Dulu waktu Papa ngajak Mamamu menikah, Papa juga harus menunggu sampai Mamamu menyelesaikan misinya," jelas Ken.
"Perempuan memang selalu berbuat seenaknya."
"Ya, mereka selalu bertindak sesuka hati mereka."
Elvan dan Kendra tertawa bersama.
"Kalian apaan sih. Kok ngomongin perempuan didepan perempuan," ucap Shila.
Ken dan Elvan saling pandang lalu tertawa kecil.
"Ada yang tersinggung ni," ucap Ken.
__ADS_1
"Biasa, Pa. Perempuan memang gak mau disalahkan dan gak mau dikalahkan," ucap Elvan.
Shila merasa kesal karena terus digoda oleh suami dan putranya.
"Anak sama Papanya kok gak jauh beda. Sama-sama ngeselin."
Shila pergi meninggalkan Elvan dan Ken.
"Dih, Mama marah, Pa," ucap Elvan.
"Gara-gara kamu tuh," ucap Ken.
"Kok Papa jadi nyalahin aku?"
"Ya, emang kamu yang salah."
"Kan Papa yang mulai duluan tadi."
"Terserah kamu saja. Papa mau nyamperin Mamamu dulu, kalau Mama beneran marah bisa-bisa kita gak ada sarapan besok pagi!"
Ken berjalan menyusul istrinya ke kamarnya.
Elvan menatap kepergian Papanya, sebuah senyuman terukir di bibirnya. Elvan membayangkan jika dirinya sudah menikah nanti, mungkinkah ia bisa seromantis orang tuanya.
...****************...
Di rumah sakit.
Leon sedang menemani Shania di ruang rapatnya.
Saat itu Leon sendiri yang menjaga Shania karena orang tuanya sudah pulang, orang tuanya Shania juga sudah pulang, Leon yang menyuruh mereka untuk pulang karena Leon tidak ingin merepotkan mereka.
"Shania, kenapa kamu gak bilang kalau Biani pernah menyakitimu saat kamu di rumah sakit, waktu itu?" tanya Leon sembari menggenggam tangan Shania.
"Kalau pun aku mengatakannya, kamu gak akan percaya," sahut Biani.
Leon tak berucap lagi, Shania memang benar, ia tidak mungkin percaya dengan pernyataan Shania.
"Biani melakukan itu padaku semata-mata karena dia cinta sama kamu," ucap Shania.
"Cinta tidak seperti itu, Shania. Dia tahu kalau aku hanya mencintainya, seharusnya dia tidak melakukan hal ini padamu."
Mendengar perkataan Leon yang hanya mencintai Biani, Shania merasakan sesak di dadanya entah kenapa ia merasa cemburu.
"Kamu sadar gak sih Leon, aku cemburu mendengar pernyataan kamu. Aku mulai sayang sama kamu," ucap Shania didalam hatinya.
"Katanya cinta itu buta. Cinta tidak mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, mungkin dalam pikiran Biani, jika dia menyingkirkan aku dari hidupmu dia akan menjadi satu-satunya wanita yang akan mengisi ruang hatimu," ucapan Shania.
"Tidak, Shania. Tetap saja Biani bersalah dalam hal ini. Cinta tidak bisa dijadikan alasan untuk seseorang melakukan kejahatan."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan kepada Biani?"
Leon tak menjawab pertanyaan Shania.
"Aku ke toilet dulu," ucap Leon mencoba mengindari pertanyaan Shania.
Shania menatap punggung Leon sampai tak terlihat lagi.
"Aku tahu kamu tidak akan bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat Biani terluka ataupun menderita," ucap Shania didalam hatinya.
"Aku belum merencanakan bagaimana cara membongkar kebusukan Biani tapi Biani sendiri yang membongkar kebusukannya," gumam Shania.
Shania menghela nafasnya lega.
"Aku jadi tidak perlu bersusah payah untuk membuat Leon tahu dengan kejahatan yang Biani lakukan," gumam Shania lagi.
Setelah sepuluh menit, Leon kembali ke ruangan tempat Shania dirawat.
"Maaf karena membuatmu menunggu lama," ucap Leon.
"Tidak masalah," ucap Shania.
__ADS_1
Leon berjalan menghampiri Shania!
"Leon, kapan aku boleh pulang dari sini?" tanya Shania.
"Belum tahu, kondisimu belum stabil," sahut Leon.
"Aku sudah tidak betah di sini."
"Lagian siapa yang betah tidur di rumah sakit," celetuk Leon.
Shania tersenyum kearah Leon. "Kamu benar, tidak mungkin ada orang yang betah tidur di rumah sakit."
Leon menatap jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22:00 waktu setempat.
"Sudah malam, cepat tidur," ucap Leon.
"Kamu juga."
"Iya, nanti aku tidur setelah memastikan kamu benar-benar tidur."
"Selamat malam." Shania memejamkan matanya.
Leon terus menatap wajah Shania dalam waktu yang cukup lama dengan mata yang tidak berkedip sekali pun.
"Shania aku gak tahu hati kamu terbuat dari apa, aku sering melontarkan kata-kata kasar padamu tapi kamu masih mau bertahan denganku dan juga Biani sudah berkali-kali menyakitimu bahkan berusaha menghilangkan nyawamu tapi kamu masih bisa memaafkannya dan tidak melaporkannya ke polisi," ucap Leon didalam hatinya.
Leon terus menatap wajah Shania hingga akhirnya setelah lama memandangi wajah itu, Leon ikut tertidur, perlahan ia menyusul Shania ke alam mimpi.
Seseorang yang mencurigakan memperhatikan Leon dan Shania dari kaca kecil yang terdapat pada pintu ruangan tempat Shania dirawat.
Orang itu hendak masuk ke ruangan itu, namun tiba-tiba ada orang yang mencegahnya dan menarik paksa orang itu ke luar rumah sakit!
"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan saya," ucap orang itu.
Kayla membuka penutup wajahnya!
"Sebenarnya saya tidak ingin ikut campur urusan kamu tapi saya lihat kamu membawa pisau kecil disaku bajumu."
Kayla lah yang mencegah orang mencurigakan itu masuk kedalam ruangan tempat Shania dirawat.
"Saya bilang jangan ikut campur urusan saya. Pergi kamu dari sini!" ucap laki-laki itu.
Saya tidak mengenal kamu dan orang yang ada didalam ruangan itu, tapi saya tidak akan membiarkan kamu melukai orang lain."
"Kamu ingin bermain-main rupanya."
Laki-laki itu menyerang Kayla dengan menggunakan pisau kecil yang ia bawa!
Dengan santainya dan tanpa rasa takut Kayla melawan laki-laki itu.
Kayla memang sengaja mencari tahu siapa saja orang yang berniat menyakiti Leon dan Shania atas permintaan Elvan.
Laki-laki itu terus berusaha menyerang Kayla namun Kayla selalu berhasil menghindari serangannya!
Beberapa menit berkelahi, laki-laki itu merasa dirinya tidak dapat mengalahkan Kayla, akhirnya laki-laki itu lari menyelamatkan dirinya!
Setelah memastikan Kayla tidak mengejarnya, laki-laki itu berjalan ke sebuah gang kecil yang ada di sekitar rumah sakit itu.
"Maaf, Bang, gue gagal melakukan tugas gue," ucap laki-laki itu.
"Bodoh! Kenapa bisa gagal!"
"Ada seorang wanita yang menghalangi gue. Kali ini lo gak usah bayar gue, luka ini gue gratiskan buat lo," ucap laki-laki itu sembari memperlihatkan luka bekas pukulan dari Kayla.
Jacky berdecak kesal. Setiap dia akan melukai Leon ataupun keluarganya selalu saja gagal.
"Dasar tidak berguna, lagian gue mau bayar apa? pekerjaan lo saja gak selesai," ucap Jacky.
Jacky sengaja menyuruh orang untuk membuat luka Shania semakin parah agar Leon dan keluarganya semakin tersiksa melihat orang yang mereka sayangi semakin melemah, Namun usahanya gagal karena preman yang ia suruh tidak berhasil menjalankan tugas yang ia berikan.
Bersambung
__ADS_1