
"Temani aku sebentar saja," ucap Jenny dengan gaya manjanya.
"Gak bisa. Aku sibuk lain kali saja ya," ucap Rendy dengan lembut.
Jenny mengerucutkan bibirnya beberapa centi.
"Yaudah aku ngerti," ucap Jenny sembari cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong, sayang," ucap Rendy dengan senyuman manisnya.
Jenny masih cemberut tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku balik ke kantor ya, sayang. Ingat jangan temui aku di kantor," ucap Rendy sembari mengelus pipi mulus milik Jenny.
Rendy mengecup kening Jenny dengan lembut lalu memberikan sejumlah uang berwarna merah kepada Jenny dan Rendy pun langsung pergi meninggalkan Jenny di kafe itu!
Jenny menatap kepergian Rendy dengan senyum penuh kemenangan.
"Tidak terlalu sulit untuk mempermainkan seorang Rendy," gumam Jenny.
"Dapet duit tuh," ucap Bram.
"Kamu baru sampai?" ucap Jenny.
"Dari tadi. Aku lihat ada Rendy jadi aku bersembunyi dulu," jelas Bram sembari meraih uang dari Jenny.
"Itu punyakku," ucap Jenny.
"Bagi dua, sayang," ucap Bram.
Jenny mendengus kesal. "Aku yang kerja keras kamu ikut menikmati," ucapnya.
"Kalau bukan aku yang mengenalkan kamu sama Rendy kamu gak mungkin sampai seperti ini," ucapnya Bram.
Jenny mulai kesal karena ia terlalu diperbudakkan oleh kekasihnya sendiri.
"Aku ini pacarmu sampai kapan aku harus berpura-pura mencintai Rendy?" Jenny mulai bosan dengan sandiwara yang selama ini ia jalani.
__ADS_1
"Sabar, sayang. Setelah kita mendapatkan uang yang banyak dari Rendy kita akan pergi dan akan tinggal di luar negeri," ucap Bram merayu Jenny.
Jenny tersenyum lalu memeluk laki-laki yang benar-benar ia cintai itu.
Dikediaman Elma.
"Ken kamu gak boleh pulang ke rumah kamu dulu sebelum kamu benar-benar sembuh," ucap Elma.
"Iya, Mam," sahut Ken yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Bu, boleh saya bicara sebentar sama Pak Kendra?" ucap Shila.
Ken menatap Shila penuh tanya.
"Boleh, kalau gitu saya ke kamar dulu," ucap Elma.
"Tidak perlu, Bu karena saya ingin mengajak Pak Ken ke kamar saya," ucap Shila lagi.
"Kamar? kalian gak mau ngelakuin apa-apa kan?" ucap Elma sembari menautkan kedua alisnya.
"Tidak, Bu. Saya ingin menunjukkan kado ulang tahun untuknya," jelas Shila.
"Oh, saya pikir mau apa?" ucap Elma sembari tersenyum.
"Jangan berburuk sangka dulu, Ma," ucap Ken sembari beranjak dari duduknya!
"Permisi," ucap Shila.
Shila berjalan menuju kamarnya dengan Ken yang mengekor dibelakangnya!
"Silahkan masuk!" ucap Shila setelah membuka pintu kamarnya.
Ken memasuki kamar Shila, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar itu.
"Disini, Pak," ucap Shila yang tengah berdiri didepan sebuah meja.
Ken menghampiri Liana!
__ADS_1
"Mana kado ulang tahunnya?" ucap Ken.
"Gak ada," sahut Shila sambil tersenyum.
"Lalu, mau apa kita kesini?" tanya Ken lagi.
"Apa orang ini yang melukai anda?" tanya Shila sembari menunjukkan sebuah KTP.
Ken meneliti KTP itu dengan seksama.
"Dari mana kamu dapat ini?" tanya Ken.
"Dari tempat anda ditemukan tepat berada dibawah tubuh anda," jelas Shila.
"Mereka bertiga dan salah satunya orang yang memiliki KTP ini," ucap Ken yang masih mengenali orang yang telah mencelakakan dirinya.
"Saya akan memulai penyelidikan. Saya harap anda tidak langsung bertindak kalau anda bertemu dengan orang ini," jelas Shila.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Saya curiga ada seseorang dibalik kejadian yang menimpa anda. Saya tidak akan menangkapnya dulu karena saya ingin tahu siapa yang jadi dalang dibalik semua ini," jelas Shila.
"Oke," sahut Ken singkat.
Shila berbalik badan hendak berjalan ketempat lain namun karena Ken berdiri tepat dibelakangnya akhirnya Shila menabrak Ken dengan tidak sengaja.
Karena Shila akan terjatuh spontan Ken merangkul pinggang Shila dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi memegang lengan atas Shila.
Shila dan Ken terlihat seperti sedang berpelukan, kedua pasang mata itu saling beradu pandang dalam waktu beberapa detik hingga akhirnya Shila melepaskan diri dari tangan Ken yang melingkar di pinggang rampingnya!
"Maaf, Pak saya gak sengaja," ucap Shila.
"Sengaja juga tidak apa-apa. Kalau mau meluk saya bilang aja nanti saya kasih gratis," ucap Ken menggoda Shila.
"Jangan bercanda. Kita sedang serius, Pak." Shila berjalan menuju lemari pakaiannya untuk mengambil sesuatu.
Bersambung
__ADS_1