
Saat ini sudah waktunya jam makan siang.
Diana sudah siap untuk menjemput Ken dengan menggunakan motor maticnya, saat ia hendak melajukan motornya, Rendy berteriak memanggil namanya.
Diana menoleh kearah suara, "iya. Ada apa Pak?" ucap Diana.
"Kamu mau kemana?" tanya Rendy sembari terus berjalan menghampiri Diana.
"Mau jemput pak Kendra," jawab Diana jujur.
"Saya aja yang jemput," ucap Rendy.
"Jemput siapa?" tanya Liana yang tiba-tiba muncul dibelakang Rendy.
"Jemput Ken. Aku mau bikin perhitungan sama dia," jawab Rendy ketus.
"Kamu masih marah sama Ken? aku udah jelasin semuanya, udahlah jangan diperpanjang," ucap Liana.
"Iya, aku masih marah sama Ken. Kamu mau apa, mau belain dia?" ucap Rendy masih dengan nada ketusnya.
Liana mulai kesal dengan sikap suaminya, ia tidak tahu lagi harus berkata apa pada suaminya itu.
Liana memilih pergi meninggalkan Rendy dan Diana ditempat itu.
"Terserah!" Liana pegi dengan langkah yang dipercepat.
"Kamu aja yang jemput Ken, jangan bilang sama Ken kalau saya menanyakannya," ucap Rendy kepada Diana.
"Baik Pak," ucap Diana, "Kenapa gak dari tadi aja," sambung Diana didalam hatinya.
"Dasar keluarga aneh," ucap Diana lagi namun kata-kata itu hanya tersangkut di tenggorokannya saja. Tidak mungkin Diana berani mencibir didepan bosnya langsung.
Diana langsung tancap gas menuju rumah sakit.
Di rumah sakit.
Ken sedang bersiap untuk pulang. Ken duduk sembari memainkan ponselnya, karena Diana bilang dia akan menjemputnya terpaksa ia harus menunggu kedatangan Diana.
Sebenarnya Ken bisa pulang sendiri tapi karena ia tidak ingin mengecewakan Diana akhirnya ia membiarkan Diana menjemputnya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya Diana tiba di rumah sakit. Ia segera menuju ruangan tempat Ken dirawat.
"Sudah siap untuk pulang, Pak?" tanya Diana setelah tiba di ruangan itu.
"Akhirnya kamu datang juga. Iya, saya sudah gak sabar untuk pulang," ucap Ken dengan senyum ramahnya.
"Gimana aku gak kelepek-klepek, kalau senyumnya aja manis kaya madu gitu," ucap Diana didalam hatinya sembari menatap kearah bosnya itu.
"Diana! Diana!" ucap Ken sembari memetik jarinya didepan wajah Diana.
__ADS_1
Seketika tatapan Diana beralih ke tempat lain senyumnya juga hilang begitu saja.
"Malah bengong, kamu jadi nganterin aku pulang gak?" ucap Ken yang merasa heran kenapa tiba-tiba Diana melongo sambil memandanginya.
Seketika lamunan Diana buyar begitu saja saat sadar Ken telah memanggilku berkali-kali.
Ken dan Diana berjalan beriring menuju tempat parkir.
"Maaf ya Pak saya cuma punya motor butut ini, untuk menjemput anda," ucap Diana sembari menepuk-nepuk bodi kepala motor maticnya.
"Gak apa-apa. Justru seharusnya saya yang minta maaf karena saya sudah merepotkan kamu," ucap Ken sembari memakai helm.
"Saya yang bawa ya, kamu jadi penumpangnya," ucap Ken seraya menyodorkan tangannya kepada Diana meminta kunci motor milik Diana.
"Tapi Pak. Anda ... ?"
"Saya baik-baik saja." Ken mengambil paksa kunci motor itu dari tangan Diana lalu ia naik ke motor milik Diana.
"Diana, cepat naik! kamu mau ikut saya nggak?"
Diana tersenyum kecil, "baik Pak," ucap Diana lalu ia naik ke motor itu.
"Udah siap?" tanya Ken sembari menoleh kebelakang memastikan penumpangnya sudah duduk dibelakangnya.
"Udah. Jalan aja," saut Diana singkat.
Ken mulai melajukan kendaraannya perlahan.
"I-iya Pak," saut Diana terbata-bata karena ia terlalu gerogi.
Dengan ragu-ragu Diana memegang pinggang Ken sesekali ia melepaskan pegangan tangannya dari pinggang bosnya itu.
Diana merasa canggung terhadap bosnya itu. Apalagi diam-diam ia menyukai bosnya itu, membuat perasaannya campur aduk ada rasa bahagia, gerogi, malu dan lainnya.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan diantara Diana dan Ken.
Diana sibuk mengendalikan detak jantungnya yang berdetak kencang tak karuan sedangkan Ken terus fokus berkendara.
"Pak, ini kan arah ke kantor?" ucap Diana yang baru menyadari kalau Ken membawanya menuju kantor tempat ia bekerja.
"Iya, saya memang mau ke kantor," saut Ken sembari terus menatap kedepan.
"Apa gak sebaiknya anda pulang saja untuk beristirahat?"
"Saya akan pulang setelah mengantar kamu ke kantor," saut Ken.
"Kalau gini, namanya bukan saya yang membantu anda tapi jadinya saya yang ngerepotin anda karena harus nganterin saya ke kantor," ucap Diana panjang lebar.
"Gapapa, lagian saya juga mau ngambil berkas untuk saya kerjakan nanti di rumah," jelas Ken.
__ADS_1
"O, ya Diana kamu udah makan siang belum?" tanya Ken.
"Belum. Tadi saya langsung ke rumah sakit," ucap Diana yang memang ia belum makan siang karena udah gak sabar pengen ketemu sama bos pujaannya.
"Kenapa gak bilang dari tadi kalau kamu belum makan? padahal kita bisa mampir ke rumah makan dulu tadi," ucap Ken.
Diana hanya diam tak menjawab perkataan bosnya itu.
"Sekarang sudah terlanjur tiba di kantor. Kita makan di kantin aja," ucap Ken kepada Diana.
Ken memarkirkan motor yang ia kendarai lalu berjalan santai menuju kantin sedangkan Diana masih berdiri di tempat pertama ia menginjakkan kakinya.
"Diana, kamu ngapain diam aja? cepat kesini," ucap Ken yang baru menyadari kalau Diana tidak ada dibelakangnya.
"I-iya Pak." Diana melangkahkan kakinya menghampiri bosnya, "Pak, apa anda tidak malu makan bareng saya?" tanya Diana ragu-ragu.
Ken menyunggingkan senyum manisnya, "kenapa harus malu?" ucapnya.
"Anda adalah pemilik perusahaan ini sedangkan saya hanya ... ."
"Jangan berpikir aneh-aneh ayo ikut saya." Ken menarik tangan Diana membawanya ke kantin.
Banyak pasang mata yang melihat pemandangan yang tak biasa itu.
"Diana mau dibawa kemana?"
"Beruntung banget jadi Diana bisa dekat sama Pak Ken."
"Seandainya gue yang ada diposisi Diana."
Kira-kira seperti itulah kata-kata karyawan lain yang melihat Ken dan Diana, apalagi melihat Diana makan bareng bos kedua di perusahaan itu banyak temannya yang merasa iri tapi ada juga yang ikut bahagia melihat temannya bisa dekat dengan bosnya.
"Pak, orang-orang pada mandangin kita," ucap Diana yang mulai tak nyaman dengan pandangan orang-orang disekitarnya.
"Biarin aja. Mata, mata mereka, kita gak bisa melarang mereka mau melihat kemana," ucap Ken sembari terus mengunyah makanannya.
Saat Ken dan Diana sedang melanjutkan makannya, Rendy menghampiri keduanya.
"Dasar lemah, gitu aja harus masuk rumah sakit," celetuk Rendy saat ia tiba didekat adiknya itu.
Ken hanya diam sambil terus memakan makanannya. Sementara Diana yang tidak tahu apa-apa hanya duduk dalam diam.
"Masih cemburu?" ucap Ken setelah menghabiskan makanannya.
"Awas lo ya, kalau berani deketin bini gue," ucap Rendy.
Bersambung
Sambil nunggu Tiba-tiba menikah up lagi, mampir yuk ke karya temanku dijamin seru.
__ADS_1