Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 30


__ADS_3

Pagi hari, Shania sudah menyiapkan sarapan untuk Leon dan dirinya, namun Leon tidak menyentuh sedikitpun makan yang ia masak.


Leon langsung pergi ke kantor meski jam masih menunjukkan pukul 06:30 waktu setempat.


"Leon! Kamu gak sarapan dulu?" tanya Shania.


"Tidak. Aku mau sarapan di luar bareng sama Biani."


"Bukankah setiap hari, saat makan siang kamu selalu makan bareng sama dia? Tolong hargai aku sebagai istrimu."


"Shania, sudahlah jangan drama dipagi hari. Bukankah kamu juga tidak mencintai aku, kenapa kamu harus keberatan kalau aku ingin sarapan sama Biani?"


"Leon, aku sudah masak banyak pagi ini."


Leon tak menghiraukan Shania yang memintanya untuk sarapan di rumah bersamanya.


Leon terus berjalan ke luar rumah menuju mobilnya diparkiran!


Shania hanya menatap kepergok Leon dengan perasaan kecewa.


Leon pergi meninggalkan Shania sendirian di rumahnya.


...****************...


Di kediaman Elvan.


Elvan masih berada di kamarnya saat itu ia sudah selesai dengan semua urusannya, ia tinggal sarapan lalu setelah itu berangkat ke kantor.


Karena masih terlalu pagi, untuk sarapan Elvan berniat menghubungi Kayla. Entah kenapa sejak semalam Elvan terus memikirkan gadis itu.


Karena takut mengganggu Kayla di pagi hari, Elvan memilih mengirim pesan saja kepada Kayla.


📩 [Pagi, Kay]


📩 [Aku ganggu ya?]


📩 [Aku ingin bertemu denganmu, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu.]


📩 [Apa kamu ada waktu siang nanti? Pada saat jam makan siang.]


Setelah mengirim rentetan pesan itu, Elvan tak melepaskan ponselnya dari genggamnya.


Beberapa kali Elvan melihat ponselnya berharap Kayla membalas pesannya.


Karena tak kunjung mendapat balasan, Elvan keluar dari kamarnya untuk sarapan.


"Pagi, Mam," ucap Elvan kepada Mananya.


"Pagi, sayang," sahut Shila sembari terus menata makanan di meja makan.


"Papa mana?"


"Ada, masih di kamar."


"Lagi ngomongin Papa ya?" ucap Kendra yang sedang berjalan menghampiri Elvan dan Shila.


"Papa panjang umur, baru ditanyain eh orangnya udah nongol," ucap Shila sembari mengisi gelas kosong dengan air putih!


"Mau ngapain nanyain Papa?" ucap Ken.


"Cuma nanya saja, Pa. Aku pikir Papa udah pergi karena gak biasanya Papa gak nemenin Mama di sini," ucap Elvan.


"Oh, kirain mau ngajak Papa untuk melamar pacar kamu."


Elvan menatap Papanya.


"Pa, masih pagi. Jangan ajak Elvan berdebat," ucap Shila.


"Papa kan hanya mengutarakan apa yang Papa kira."


"Tiap hari juga Mama sama Papa membicarakan tentang itu. Kapan kamu kenalin Mama sama Papa ke pacar kamu, kapan kamu nikah, kapan Mama sama Papa punya cucu dan kalau ada yang lain Mama sama Papa membicarakan tentang anak gadisnya teman Mama," ucap Elvan tanpa henti.


"Jadi gimana, kamu mau gak ketemu sama anak gadisnya teman Mama?" tanya Shila.


"Kalau kalian memaksa, aku harus apa? Atur saja pertemuan dengan keluarga mereka," ucap Elvan yang merasa bosan terus ditanya-tanya.


Shila dan Ken saling pandang lalu tersenyum bahagia.


"Benarkah? Mama akan atur pertemuan antara keluarga kita dengan keluarga mereka, secepatnya," ucapan Shila.


Raut wajah penuh kegembiraan terpancar dari wajah Shila dan Ken.


...****************...


"Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Biani.


"Setiap hari kita ketemu, masa kangen," ucap Leon.


"Aku akan merasa rindu jika satu jam saja tidak memandang wajahmu."


"Kamu, kenapa jadi pinter gombal?"

__ADS_1


"Aku gak gombal, sayang. Aku serius."


Leon tersenyum sambil menatap wajah Biani.


"Kapan kamu menceraikan Shania?" tanya Biani.


Uhuk!


Uhuk!


Leon tersedak makanan yang belum sempat ia telan karena mendengar pertanyaan sang kekasih.


"Leon, pelan-pelan makan nya," ucap Shania sembari menyodorkan air minum kepada Leon.


Leon segera minum agar batuknya terhenti.


"Kamu sampai tersedak mendengar pertanyaan aku. Apa mungkin kamu sudah mencintai wanita itu?"


"Tidak Biani, tidak mungkin aku mencintai Shania. Hanya saja aku tidak bisa menceraikan Shania karena kalau aku menceraikan Shania, Orang tuanya Shania akan mencabut sahamnya dari perusahaan aku."


"Jadi kamu lebih mementingkan perasaan dibandingkan dengan aku?"


"Bukan begitu Bi. Perusahaan yang aku kelola akan mengalami kebangkrutan kalau tidak ada saham dari mereka."


"Kenapa tidak meminta meminta bantuan dari perusahaan yang Papamu kelola?"


"Tidak semudah itu, Biani. Kamu tidak akan mengerti."


"Aku memang tidak mengerti dan tidak mau mengerti, aku hanya ingin kita menikah dalam waktu dekat!"


Biani pergi meninggalkan Leon setelah menumpahkan kekesalannya.


"Biani! Biani tunggu!"


Leon mengejar Biani!


"Sudahlah Leon, aku tahu kalau ternyata kamu tidak benar-benar mencintaiku."


Biani menghentikan taksi yang lewat lalu segera masuk kedalam taksi itu.


"Biani, aku belum selesai bicara!"


Leon mengetuk kaca jendela taksi itu.


"Jalan, Pak!" ucap Biani kepada sopir taksi itu.


Tanpa menjawab, sopir taksi itu mulai melajukan kendaraannya dengan perlahan!


Leon berjalan sembari terus mengetuk kaca jendela mobil yang Biani tumpangi.


Karena taksi itu terus melaju, akhirnya Leon menyerah dan membiarkan Biani pergi meninggalkan dirinya.


...****************...


Di kantor.


Elvan baru tiba di kantor, dia langsung masuk kedalam ruangan pribadinya!


Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Elvan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu memeriksa apakah Kayla sudah membalas pesannya atau belum.


Elvan melihat nama Kayla terpampang di layar ponselnya. Elvan membuka pesan dari Kayla sembari menghempaskan bokongnya ke kursi kerjanya.


Ia mulai membaca pesan dari Kayla.


📩 [Temui aku di kafe xxx jam 12:30]


Kayla membalas pesan dari Elvan dengan singkat.


Setelah membaca pesan dari Kayla, Elvan meletakkan ponselnya di meja kerjanya!


"Irit banget balas pesannya," gumam Elvan.


"Apa para wanita suka mengirit perkataan mereka kepada laki-laki?" tanya Elvan kepada dirinya sendiri.


Sebuah senyuman terukir di bibir Elvan, ada rasa yang tak biasa saat mengetahui Kayla bersedia bertemu dengan dirinya.


"Apa, Kayla jodoh yang Tuhan kirimkan untukku?"


Sesaat kemudian, Elvan teringat dengan perkataannya tadi pagi kepada orang tuanya yang menyetujui pertemuan dengan keluarga teman Mamanya.


"Gimana dengan anaknya teman Mama?" gumam Elvan lagi.


"Gimana apanya?" tanya Leon yang mendengar perkataan Elvan.


"Leon, sejak kapan kamu di situ?"


"Baru saja."


"Gimana dengan anaknya teman Mamamu?" tanya Leon lagi.


Leon penasaran dengan perkataan Elvan barusan, selama ini Elvan memang jarang menceritakan tentang masalahnya kepada siapa pun termasuk Leon.

__ADS_1


"Aku mau dijodohkan," ucap Elvan.


"Apa! Dijodohkan?"


"Iya."


"Mending kamu tolak saja, daripada menderita seperti aku."


"Itu dia, aku udah menolak tapi Mama sama Papa memaksa karena katanya aku belum juga punya pacar," jelas Elvan.


"Nggak-nggak. Kamu gak boleh menerima perjodohan itu, aku gak mau kamu mengalami nasib yang sama seperti aku."


"Nggak lah, Leon. Mungkin saja aku dan dia akan bisa saling mencintai."


"Gak mungkin Van. Aku sudah merasakan gimana rasanya menikah karena dijodohkan."


"Leon, kenapa kamu jadi nakut-nakutin aku sih?"


"Van aku gak nakut-nakutin kamu. Aku bicara apa adanya, apa yang aku rasakan."


"Jangan bicara lagi, Leon. Sekarang kamu pergi dari sini, aku mau kerja!"


"Kamu ngusir aku?"


"Iya, karena aku mau memulai pekerjaanku."


Leon pergi meninggalkan ruang kerja Elvan tanpa protes!


Elvan menjadi kepikiran dengan perkataan Leon, ia menjadi takut dan ragu untuk menuruti permintaan kedua orang tuanya yang ingin dirinya menikah dengan gadis pilihan mereka.


Elvan tidak bisa fokus bekerja karena perkataan Leon terus terngiang di telinganya.


Tak terasa waktu sudah hampir jam makan siang namun Elvan belum menyelesaikan pekerjaannya sedikitpun.


Elvan meraih kunci mobilnya dari atas meja lalu berjalan keluar dari ruangannya!


"Mau kemana Van?" tanya Leon yang juga akan pergi ke luar.


"Cari makan. Kamu sendiri mau kemana?"


"Pulang. Aku mau makan siang di rumah."


"Katanya gak cinta, tapi menyempatkan diri untuk makan siang di rumah?"


Leon tak menjawab perkataan Elvan, dia langsung masuk ke mobilnya lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


"Aneh banget," gumam Elvan.


Elvan masuk kedalam mobilnya lalu mulai berkendara menuju kafe tempat dirinya janjian dengan Kayla!


Sepuluh menit berlalu, Elvan tiba di area parkiran kafe itu.


Elvan memarkirkan mobilnya lalu segera turun dari mobilnya!


Elvan berjalan memasuki area kafe itu sembari mengedarkan pandangannya ke semua arah mencari dimana keberadaan Kayla.


"Van!" Kayla memanggil Elvan sembari melambaikan tangannya.


Elvan menoleh ke arah suara lalu berjalan menghampiri Kayla setelah mendapati Kayla yang ternyata berada tak jauh darinya.


"Sudah lama menunggu?" tanya Elvan.


"Tidak, aku juga baru tiba. Baru beberapa menit lalu."


Elvan duduk di kursi yang berhadapan dengan Kayla.


"Sudah pesan makanan?" tanya Elvan.


Kayla menggelengkan kepalanya.


Elvan memanggil pelayan kafe itu lalu memesan dua makanan dan dua minuman.


Elvan masih terdiam dalam posisinya, ia tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana.


"Tadi katanya mau ada yang dibicarakan dengan aku. Mau bicara apa?" tanya Kayla karena Elvan belum juga membuka suaranya.


"Kayla, aku ... ak–"


"Kenapa? Kamu mau bicara apa?"


"Sebenarnya semenjak aku kenal sama kamu, aku ada rasa sama kamu. Aku gak tahu kamu suka atau tidak sama aku yang penting aku udah jujur dengan perasaanku sama kamu."


"Maksud kamu apa?"


"Maksudku, aku mencintaimu. Apa kamu mau menjadi pacarku?"


Kayla terdiam sesaat. Dalam hatinya ia bertanya. "Ini orang pernah nembak cewek gak sih? Gak romantis banget."


"Kay, aku siap menerima keputusan kamu, apa pun itu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2