Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 44


__ADS_3

"Biani, aku ingin menyudahi hubungan kita, aku sudah memutuskan untuk hidup bersama Shania," ucap Leon kepada Biani.


"Apa! Apa kamu bilang, Leon? Kamu gak bisa seenaknya membuang aku begitu saja setelah apa yang kita lalui bersama," ucap Biani.


"Aku tidak bisa mencintai kamu lagi setelah aku tahu kalau ternyata kamu sangat jahat terhadap Shania."


"Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu Leon."


"Cinta tidak seperti itu, Biani! Yang kamu lakukan itu adalah kejahatan. Kejahatan yang tidak mungkin bisa aku terima."


"Leon, aku gak mau putus, aku masih sangat mencintai kamu."


"Maaf Biani. Hubungan kita cukup sampai disini, aku harap kamu jangan ganggu kehidupan aku lagi. Terimakasih untuk cinta yang sudah kamu beri dan terimakasih karena sudah memberi warna dalam hidupku, semoga kamu bahagia walau tanpa aku di sisimu."


"Nggak, Leon. Aku gak mau kita putus, aku cinta sama kamu, aku sayang sama kamu."


Biani menangis sembari menggenggam tangan Leon.


"Tapi aku sudah tidak mencintai kamu lagi, Biani. Rasa cinta aku untuk kamu sudah hilang sejak aku tahu kalau ternyata kamu ingin menghabisi nyawa Shania."


Leon melepaskan tangan Biani yang sedang menggenggam tangannya! Lalu pergi begitu saja meninggalkan Biani di tempat itu.


"Leon," lirih Biani.


Biani tak bisa menahan tangisnya, ia berdiri sambil menatap kepergian Leon.


Rintik hujan mulai turun dan membasahi tubuh Biani. Langit seakan ikut menangis menyaksikan kesedihan yang dirasakan oleh Biani.


Biani tetap berdiri di tempat semula membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhnya.


"Aaaaa!"


Biani berteriak sekeras suara yang ia miliki untuk melampiaskan kesedihannya. Ia duduk di atas aspal dengan hati yang hancur.


"Kenapa semua orang tidak adil padaku? Tidak ada seorangpun yang mengerti kan perasaanku," lirih Biani.


Biani terus menangis ditengah derasnya air hujan yang menetes membasahi tubuhnya.


"Nggak, aku gak boleh lemah. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap Biani didalam hatinya.


Sebuah mobil yang melintasi jalan itu, berhenti tidak jauh dari tempat Biani berada.


Seseorang turun dari mobil itu dengan menggunakan payung! Orang itu berjalan menghampiri Biani yang sedang duduk di atas aspal!


Laki-laki itu memayungi Biani dengan payung yang ia bawa lalu berjongkok di samping Biani!


"Mbak, kenapa duduk di tengah jalan dalam derasnya hujan. Anda sudah bosan hidup?" ucap laki-laki itu kepada Biani.


Biani menatap laki-laki yang tiba-tiba datang menghampirinya itu.


"Kamu?" ucap laki-laki itu.


"Rio," lirih Biani.


Rio langsung membantu Biani untuk berdiri lalu mengajaknya untuk masuk kedalam mobilnya!


"Kamu sedang apa malam-malam begini berada di jalanan yang sepi?"


Tanya Rio setelah mereka masuk ke dalam mobil.


Biani tidak menjawab, ia hanya diam, tubuhnya menggigil karena kedinginan, wajahnya pun terlihat pucat dengan bibir yang sudah berubah menjadi berwarna biru keunguan.


"Kamu bisa demam kalau begini," ucap Rio lagi.


Rio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumahnya!


Wajah Biani semakin pucat dan tubuhnya semakin melemah.


Setelah beberapa menit berkendara, Mobil yang dikendarai oleh Rio itu tiba di depan rumahnya.


Rio segera turun dari mobilnya lalu memangku Biani dan membawanya masuk kedalam rumahnya!


Biani sudah lemah hingga ia tidak melakukan protes sedikitpun terhadap apa yang dilakukan oleh Rio padanya.


"Bik, tolong bukakan pintu kamar tamu!" ucap Rio kepada asisten rumah tangganya.


Wanita paruh baya itu langsung berlari untuk membuka pintu kamar tamu itu!

__ADS_1


Setelah asisten rumah tangga itu membuka pintu kamar itu, Rio segera membaringkan tubuh Biani di tempat tidur!


"Tolong gantikan pakaian gadis ini!" ucap Rio kepada wanita paruh baya itu.


Biani yang masih memiliki kesadaran penuh mendengar dengan jelas setiap perkataan Rio kepada asisten rumah tangganya.


"Baik, Den tapi pakai baju siapa? Gadis ini pasti tidak membawa baju ganti," ucap asisten rumah tangga itu.


"Pakai baju Mama saja. Biar aku yang mengambilnya," ucap Rio.


Rio berjalan keluar dari kamar itu untuk mengambil pakaian milik Mamanya yang akan ia pinjamkan kepada Biani!


...****************...


Leon baru tiba di rumahnya dengan pakaian yang basah, tadi setelah ia pergi ia juga kehujanan saat sedang berjalan menuju mobilnya.


Leon langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah.


Shania yang melihat Leon basah kuyup hanya membiarkan laki-laki itu melakukan apa yang ingin dia lakukan, Shania segera keluar dari kamar itu meninggalkan Leon sendiri!


Leon menatap Shania hingga punggung Shania tidak terlihat lagi.


"Kamu masih marah padaku, Shania?" ucap Leon didalam hatinya.


Leon segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan urusannya, Leon keluar dari kamarnya menghampiri Shania yang mungkin sudah menunggunya untuk makan malam!


...****************...


Rio yang seorang dokter langsung memeriksa kondisi tubuh Biani.


"Kamu demam," ucap Rio.


Rio mengambil obat demam untuk Biani lalu membantu Biani untuk meminum obat itu.


"Ternyata dia seorang dokter," ucap Biani didalam hatinya.


"Siapa itu, sayang?" tanya Mamanya Rio sembari berjalan menghampiri Rio yang sedang duduk dibibir ranjang!


"Dia temanku, Ma," sahut Rio.


"Siapa namamu, Nak?" tanya Mamanya Rio kepada Biani.


"Biani, tante," sahut Biani dengan suara yang masih terdengar lemah.


"Ma, boleh gak malam ini Biani nginap disini? Besok pagi baru aku antarkan dia pulang," ucap Rio.


"Boleh-boleh saja, sayang tapi bagaimana dengan keluarganya? Nanti mereka khawatir kepada Biani."


"Kita bisa mengabari keluarganya dengan menelpon, Ma," ucap Rio kepada Mamanya.


Rio menatap Biani yang sedang terbaring di atas tempat tidur. "Kamu punya ponsel kan, Bi?" tanya Rio kepada Biani.


Biani mengangguk pelan mengiyakan perkataan Rio.


"Boleh kan, Ma?" tanya Rio lagi kepada Mamanya.


"Boleh, sayang."


"Terimakasih ya, Tante. Maaf sudah merepotkan kalian," ucap Biani.


...****************...


"Sudah makan malam belum?" tanya Shania kepada Leon dengan raut wajah datar.


"Aku ingin makan malam bersama denganmu," sahut Leon.


"Ya udah, makan saja." Shania melanjutkan mengunyah makanannya.


Biasanya Shania akan mengisikan piring kosong milik Leon dengan makan kesuksesan Leon lalu menyuruh Leon untuk menghabiskan makanan itu, tapi kali ini tidak, Shania membiarkan Leon mengambil sendiri makanan yang akan ia makan.


Tidak ada percakapan antara Leon dan Shania di ruang makan itu hanya ada kesunyian dan suara denting piring yang sesekali beradu dengan sendok.


Setelah selesai makan Shania langsung pergi meninggalkan Leon di ruang makan.


Leon terus memperhatikan gaya berjalan Shania yang terlihat aneh setelah ia meminta haknya dengan paksa.

__ADS_1


Leon merasa bersalah karena sudah membuat Shania kesakitan.


Karena melihat Shania kesulitan menaiki anak tangga, Leon bergegas membantu Shania untuk naik ke lantai dua rumahnya.


"Biar aku bantu!" Leon memangku Shania tanpa menunggu persetujuan dari Shania.


"Aku bisa jalan sendiri. Turunkan aku," ucap Shania.


"Aku tidak bisa membiarkan kamu berjalan dalam kesakitan," ucap Leon sembari terus berjalan.


Setelah tiba di lantai dua rumahnya, Leon membawa Shania masuk ke kamarnya!


"Ke kamarku saja," ucap Shania.


"Mulai hari ini kita tidur dalam satu kamar yang sama," sahut Leon.


Shania tidak berucap lagi, dalam hatinya ia merasa kesal karena Leon mulai berani memaksa dirinya, meski begitu ia tidak bisa melawan karena memang dirinya sudah menjadi hak Leon sepenuhnya.


Leon membaringkan tubuh Shania di tempat tidurnya! lalu ia duduk di samping Shania.


"Shania, aku ingin menjadi jalani rumah tangga kita layaknya seperti sepasang suami istri pada umumnya, aku harap kamu menerima keputusan aku ini."


"Mau tidak mau aku harus menyetujuinya karena kamu sudah mem******a aku, bagaimana kalau nanti aku hamil?" ucap Shania datar.


"Kalau pun kamu tidak menyetujuinya, aku tidak akan melepaskan kamu karena aku sudah menanam benih ku pada dirimu."


Shania memutar bola matanya malas.


"Bisa-bisanya dia menjadikan itu sebagai alasan," ucap Shania didalam hatinya.


Leon terus menatap Shania yang sedang berbaring di tempat tidurnya.


"Jangan menatapku seperti itu," ketus Shania.


Bersambung



CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."

__ADS_1


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.


__ADS_2