
Leon dan Shania sedang berada di salah satu restoran favorit keluarga Leon, mereka sedang menunggu orang tuanya Leon datang ke tempat itu untuk makan siang bersama.
keduanya duduk dalam meja yang sama namun tidak ada sedikitpun pembicaraan diantara mereka.
Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Shania asyik membalas chat entah dari siapa sedangkan Leon asyik main game online.
Di tempat yang lumayan jauh dari restoran itu.
"Jack, ngapain lo berdiri di sini?" tanya Dion.
"Gue mau melancarkan rencana gue untuk balas dendam sama Leon," sahut Jack.
Jacky berdiri sembari menegang alat yang akan ia gunakan untuk membuat Leon dan Shania celaka dengan tatap yang terus tertuju pada restoran tempat Leon dan Shania berkunjung.
"Kalau mereka tahu bagaimana, di sana ada cctv."
"Aku tahu, aku sudah merusak dua cctv yang mengarah ke parkiran."
"Lalu kenapa lo masih di sini?" Dion bertanya lagi.
"Saat gue mau memotong kabel rem mobil Leon, gue dengar katanya orang tuanya Leon akan datang ke restoran itu juga. Gue lagi nunggu mereka datang," jelas Jacky.
Di dalam Restoran.
"Kalau, Mama sama Papaku sudah tiba, aku minta bersikaplah seperti layaknya pasangan suami istri," ucap Leon kepada Shania.
Shania yang sedang menatap layar ponselnya beralih menatap Leon. Shania tak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.
Tak lama Rendy dan Liana tiba di halaman restoran itu.
Leon yang tahu orang tuanya sudah tiba di tempat itu, meletakkan ponselnya lalu menggenggam tangan kiri Shania.
Shania menatap Leon lalu Leon memutar bola matanya ke arah pintu masuk restoran tersebut.
Shania mengikuti mata Leon dan dia melihatmu orang tuanya Leon sedang berjalan ke arahnya.
Shania meletakkan ponselnya lalu membiarkanmu Leon menggenggam kedua belah tangannya.
"Sudah nunggu lama?" tanya Liana.
Leon menarik tangannya! Seolah dia kaget mendengar suara Mamanya.
"Tidak perlu malu, kalian kan sudah menikah," ucap Rendy.
"Mama, Papa, silahkan duduk!" ucap Shania dengan senyuman ramahnya.
Rendy dan Liana tersenyum ke arah Shania lalu duduk bersama padangan muda itu!
"Mbak!" Leon melambaikan tangannya sambil memanggil pelayan restoran itu.
Tak lama seorang pelayan menghampiri mereka lalu memberikan buku menu yang ada di sana!
Keluarga Leon mulai memilih makanan yang ingin mereka pesan.
Di area parkir.
__ADS_1
Seorang laki-laki berjalan menghampiri mobil Leon dan Rendy! Karena Jacky tidak ingin gagal dalam rencananya, dia menyuruh orang yang mengerti dengan kendaraan untuk memotong rem mobil milik Leon dan Rendy.
Jacky berdiri di tempat yang lumayan jauh sembari terus memperhatikan gerak-gerik orang suruhannya.
"Lo yakin, Jack?" tanya Dion.
Dion yang tahu bagaimana sifat Jacky, merasa tidak percaya kalau temannya itu berani melakukan hal senekat itu.
"Yakin. Gue sakit hati sama mereka yang memandang keluargaku dengan sebelah mata." Jacky terus melihat ke arah laki-laki yang ia suruh.
"Ternyata sakit hati bisa membuat lo tega membuat orang lain celaka."
Sebelumnya Jacky tidak pernah berbuat jahat kepada siapa pun meski banyak orang yang tidak suka padanya. Jenny memang selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun.
"Gue gak mungkin melakukan ini kalau mereka tidak memulai duluan. Lo tahu kan gue sayang banget sama Biani, gue gak bisa melihat dia menangis."
Dion yang sudah berteman lama dengan Jacky hanya diam sambil berdiri di samping Jacky.
Laki-laki itu baru merusak rem mobil milik Leon. Baru dia akan merusak mobil Rendy, keluarga Rendy berjalan ke arahnya! Mereka sudah selesai makan siang dan akan segera pulang.
Laki-laki itu segera pergi meninggalkan tempat itu sebelum dirinya ketahuan.
"Mama sama Papa pulang dulu ya," ucap Liana kepada Leon dan Shania.
Shania tersenyum kepada ibu mertuanya itu.
"Mama sama Papa begitu baik dan ramah kepadaku beda dengan anak kalian yang selalu dingin dan selalu melempar kata-kata yang membuatku sakit hati," ucap Shania didalam hatinya.
Laki-laki itu berlari menghampiri Jacky yang berada di sebrang jalan.
"Saya tidak punya kesempatan untuk merusak rem mobil satunya lagi," ucap laki-laki itu kepada Jacky.
"Mobil sedan itu!" Laki-laki itu menunjuk ke arah mobil Rendy.
"Tak masalah, lain kali bisa kita lakukan lagi."
Jacky memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah kepada laki-laki itu! "Pergi dan tutup mulutmu rapat-rapat."
Laki-laki itu mengangguk lalu segera pergi dari tempat itu.
"Lihat saja Leon, kamu gak akan bisa selamat hari ini," gumam Jacky.
Rendy dan Liana masuk ke mobilnya lalu mulai meninggalkan Leon dan Shania.
"Hati-hati, Ma, Pa," ucap Leon.
"Kamu juga, sayang. Jaga istrimu baik-baik," ucap Liana dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Shania dan Leon berdiri sambil menatap kepergian orang tuanya.
Setelah mobil yang dikendarai oleh Rendy sudah tak terlihat lagi, Leon mengajak Shania masuk ke mobilnya karena mereka juga akan pulang.
"Sandiwaramu tadi sangat bagus," ucap Leon kepada Shania setelah mereka berada di dalam mobil.
"Seharusnya itu bukan sandiwara, Leon. Aku berharap kamu bisa melakukan hal seperti tadi dengan penuh cinta dan kasih sayang," ucap Shania didalam hatinya.
__ADS_1
Leon mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang!
"Ini bukan jalan pulang," ucap Shania.
Setelah berkendara selama lima menit lebih, Leon tidak menyetir mobilnya menuju arah rumahnya.
"Aku tahu, aku mau ketemu sama Biani sebelum kita pulang."
"Turunkan aku di sini, aku pulang naik taksi saja."
"Baiklah, kalau itu maumu."
Leon menginjak pedal rem mobilnya namun remnya tidak berfungsi sama sekali.
Leon mulai panik, dia menginjak pedal remnya berkali-kali namun memang rem mobilnya itu tidak berfungsi karena sudah dirusak oleh orang suruhannya Jacky.
"Shania."
"Ada apa Leon, kenapa kamu panik gitu?" tanya Shania.
"Remnya tidak berfungsi, Shania."
"Apa!"
Shania ikut panik mendengar pernyataan Leon.
Mobil yang dikendarai oleh Leon terus melaju kencang, Leon dan Shania semakin panik karena mereka akan melewati jalanan yang menurun.
"Shania, mobil ini akan masuk jurang, kita harus melompat dari sini," ucap Leon.
"Kamu gila ya, gimana cara melompatnya?" Shania semakin ketakutan.
Leon membuka sabuk pengaman yang ia kenakan lalu membuka sabuk pengaman yang digunakan oleh Shania!
"Leon, apa yang kamu lakukan?"
"Kita harus keluar dari mobilnya ini."
"Tapi Leon, aku takut."
Leon menatap Shania dengan tatapan dalam. "Kita akan selamat. Percaya sama aku."
Leon mengambil jaket miliknya yang berada di bangku belakang mobilnya lalu memakaikannya kepada Shania.
Setelah Shania memakai jaket itu dengan benar, Leon membuka pintu mobil sebelah kiri!
"Leon, aku takut."
Leon tak berucap, dia memeluk Shania dengan sangat erat lalu membawa Shania melompat dari mobilnya!
Shania memeluk Leon dengan sangat erat, wajahnya ia benamkan di dada Leon karena tak ingin melihat apa yang akan mereka lalui.
"Kalau aku mati, maafkan aku, Leon karena sudah menyimpan dendam padamu," ucap Shania didalam hatinya sembari terus memeluk Leon.
Sesaat setelah mereka melompat dari dalam mobil, mobil milik Leon itu terjun bebas ke jurang.
__ADS_1
Mereka berdua berguling di atas kerasnya aspal! Mereka baru berhenti berguling saat punggung Leon membentur trotoar.
Bersambung