Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 35


__ADS_3

Ken segera melajukan mobilnya perlahan! sebelum pulang ke rumahnya Ken harus mengantarkan Liana terlebih dahulu dan tetap tinggal di rumah Rendy untuk menjaga Liana sampai Kakaknya itu tiba di rumah.


Sebenarnya Liana tidak butuh penjagaan karena Liana bisa menjaga dirinya sendiri dengan ilmu bela diri yang pernah Liana pelajari dahulu.


Tapi karena Rendy yang meminta Ken untuk menjaga Liana, Ken tidak dapat menolak perintah dari kakak sekaligus bosnya itu.


"Li, kita sahabat kan?" tanya Ken sembari terus fokus berkendara.


"Ya, terus kenapa?" saut Liana.


"Boleh aku bertanya?" Ken bertanya kembali.


"Silakan. Apa yang mau kau tanyakan?" ucap Liana dengan senyum yang terus mengembang dibibirnya.


"Siapa kamu, sebenarnya?"


Ken tahu kalau Liana tidak suka berbelit-belit jadi ia bertanya langsung pada intinya.


"Seperti yang kamu lihat aku adalah seorang gadis yang nasibnya seburuk ini," ucap Liana seraya menatap Ken sekilas.


"Kamu, kok jawabnya gitu?" ucap Ken yang mulai merasa tidak enak hati kepada Liana.


"Aku tahu maksud pertanyaanmu. Kamu ingin tahu tentang kehidupanku tentang siapa orang tuaku dan siapa sebenarnya Liana Herdiawan ini," ucap Liana.


"Aku tidak memaksamu untuk menjawab pertanyaanku. Untuk seorang wanita kemampuan bela diri yang kau kuasai sungguh tidak bisa dianggap remeh," ucap Ken.


Sesekali Ken menatap Liana yang duduk di sampingnya.


"Kakekku adalah seorang pengusaha sukses. Dulu dia pernah menjodohkan ibu dengan laki-laki yang tidak ibu kenal. Selama berumahtangga dengan laki-laki itu, ibuku tidak pernah mendapatkan kebahagiaan akhirnya ibuku memilih untuk berpisah dengan laki-laki itu dan memilih hidup bersama ayah," jelas Liana panjang lebar.


"Lalu?" Ken bertanya kembali.


"Ya, akhirnya seperti ini. Karena kakek tidak merestui hubungan ayah dan ibu. Kakek tidak mewariskan sedikitpun hartanya kepada ibu, dan kamipun hidup seadanya seperti saat ini," saut Liana lagi.


"Soal bela diri yang kamu pelajari?"


"Ibuku yang menyuruhku untuk mempelajari ilmu bela diri. Ibu sudah tahu kalau suatu saat aku akan membutuhkannya untuk menjaga diriku sendiri. Sayangnya nasibku seburuk ini," ucap Liana.


Wajah yang tadinya terlihat biasa saja kini terlihat ada kesedihan didalamnya.


Liana menundukkan kepalanya, menyembunyikan kesedihan yang melanda hatinya.


"Jangan bicara seperti itu," ucap Ken yang tahu kalau saat ini Liana tengah bersedih.


"Memang itu kenyataannya. Aku menghindar dari kakek karena tidak ingin dijodohkan, dan sekarang ... ." Liana tak dapat melanjutkan ucapannya.


Tanpa Liana sadari air mata mulai mengalir di pipinya, walau ia sudah berusaha untuk tidak menangis tapi akhirnya air mata itu luruh juga.


"Jika ingin menangis, menangislah agar beban yang kau rasakan sedikit berkurang," ucap Ken.


Ken menatap kearah Liana dengan tatapan sendu. Walaupun ia tak merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Liana tapi Ken ikut merasakan kesediaanya.


"Kalau mau cerita, aku bersedia menjadi pendengar yang baik," ucap Ken menawarkan diri, "kita sahabat kan," sambung Ken lagi.

__ADS_1


"Aku takut kejadian yang menimpa ibuku akan terjadi padaku juga. Kamu tahu, kalau aku juga menikah dengan laki-laki yang tidak aku kenal, bedanya ibuku dijodohkan sedangkan aku karena ancaman," ucap Liana.


Air mata Liana terus mengalir bahkan semakin deras. Baru kali ini Liana mengungkapkan isi hatinya.


"Itu tidak akan terjadi. Rendy adalah orang baik-baik keluarganya juga orang baik-baik," ucap Ken sembari mengusap lengan atas Liana.


"Baik, menurutmu karena kamu adiknya dia," ucap Liana.


"Iya, aku memang adiknya. Lebih tepatnya adik angkatnya Rendy," ucap Ken sembari menatap Liana.


"Maksudnya, kamu bukan adik kandungnya Rendy?" tanya Liana.


"Iya. Mama mengadopsi aku dari panti asuhan," ucap Ken.


Liana terdiam, ia tak menjawab ucapan Ken.


"Hapus air matamu. Kita sudah mau sampai ke rumah," ucap Ken sembari menyodorkan saputangan kepada Liana.


Liana menerima saputangan itu lalu berkata, "terimakasih."


"Tidak perlu berterimakasih. Kita sahabat kan," ucap Ken sembari menatap Liana tanpa berkedip.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu jatuh cinta," ucap Liana. Senyumnya mulai menghiasi bibirnya lagi.


Ken memalingkan wajahnya tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Kalau kamu bukan istri dari kakakku, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu," ucap Ken dalam hatinya.


"Ken! kenapa jadi melamun?"


"Kita sudah sampai. Ayo turun," ucap Ken mengalihkan pembicaraan.


Liana dan Ken turun dari mobil lalu mulai melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21:15. wib. Namun Rendy belum juga tiba di rumah.


Liana mulai cemas. Liana mengkhawatirkan suaminya yang belum kunjung pulang padahal hari sudah malam.


"Li, kamu istirahat aja biar aku yang nungguin Rendy pulang," ucap Ken yang melihat Liana mondar-mandir gak jelas.


"Tapi, Ken. aku takut terjadi apa-apa sama Rendy," ucap Liana.


"Sekhawatir itu itu kah? kamu sudah jatuh cinta padanya?" selidik Ken.


Liana menghentikan gerakkannya, ia berdiri menghadap Ken. Liana mengulum bibirnya lalu tersenyum tipis.


"Jadi, dugaanku benar," ucap Ken.


"Sedikit. Tapi kamu jangan kasih tahu kakakmu, karena aku tidak ingi dia tahu dulu," ucap Liana pada Ken.


Ken tertawa kecil, "Ternyata cewek galak kaya kamu bisa jatuh cinta juga," ucap Ken sembari terus tertawa.


"Ken jangan meledekku," ucap Liana. Kini wajah Liana berubah kemerahan.

__ADS_1


"Sorry-sorry. Secepat itu kamu bisa jatuh cinta sama Rendy?" ucap Ken.


Dalam hati Ken ada perasaan takut. Takut kalau nantinya Rendy akan mengecewakan Liana.


Apalagi Ken tahu kalau sampai saat ini Rendy masih mencintai Jenny.


"Semoga saja kau selalu bahagia, Li." Ken berucap didalam hatinya.


"Ken, terimakasih sudah menjagaku," ucap Liana Karena Ken terdiam dalam beberapa saat.


Ken tersenyum kepada Liana. "Tidak usah berterimakasih. Lagian aku tidak menjagamu karena kamu bisa menjaga dirimu sendiri kan," ucap Ken kepada Liana.


Lama Ken dan Liana berbincang, berbagai topik obrolan sudah mereka lewati, kini jam menunjukkan pukul 22:35 wib.


Malam sudah mulai larut, Ken dan Liana pun sudah mulai mengantuk.


Tanpa Liana sadari ia mulai tertidur di sofa tempat ia mengobrol dengan Ken. Sedangkan Ken tidak berani membangunkan Liana, Ken membiarkan Liana tidur di sofa itu, lalu Ken memilih pergi ke halaman untuk menghindari adanya fitnah dan hal-hal tidak baik lainnya.


Ken duduk di kursi yang ada di teras depan rumah Rendy lalu Ken mengambil ponselnya dari saku celananya.


Ken mengetik sebuah pesan untuk Markonah, ia penasaran kapan dua pengkhianat itu pulang ke tanah air.


Setelah Ken selesai mengirim pesan. Rendy baru tiba di rumah, Ken segera menghapus bekas chat yang ia kirimkan kepada Markonah.


"Ken, kamu masih disini?" ucap Rendy yang baru tiba di rumah.


"Ya. Lo sendiri kan yang nyuruh gue jagain Liana. Gue gak berani pulang kalo lo belum ada film rumah," saut Ken yang masih duduk ditempat semula.


"Liana udah tidur ya?" tanya Rendy sembari melangkahkan kakinya menghampiri Ken.


"Baru aja Liana tidur. Gue gak berani ngebangunin dia, jadi gue biarin aja Liana tidur di sofa," ucap Ken.


Rendy dan Ken berjalan beriringan menuju ke dalam rumah.


"Kenapa gak lo pindahin ke kamar?" ucap Rendy sambil memandangi istrinya.


"Et dah, mana gue berani. Liana itu bini lo, bukan pacar gue," ucap Ken yang tengah berdiri dibelakang Rendy.


Rendy nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih, "lo istirahat aja, makasih udah jagain bini gue," ucap Rendy.


Tanpa menjawab ucapan kakaknya, Ken segera menuju kamar tamu untuk beristirahat.


Rendy tersenyum melihat wajah istrinya yang terlihat cantik walaupun sedang tertidur.


Rendy memangku tubuh Liana lalu membawanya ke dalam kamar istrinya!


Bersambung


Terimakasih sudah mampir. Bagi yang suka ceritanya jangan lupa dukung author dengan cara Like, komen, hadir and vote nya ya.


Sambil nunggu Tiba-tiba menikah up lagi mampir yuk ke novel temanku. Ceritanya pasti seru.


Judul : Terlemah yang tak terkalahkan.

__ADS_1


Karya : Zahroni nurhafid



__ADS_2