
Elvan dan Kayla berjalan beriringan menghampiri orang tuanya lalu bergabung lagi bersama mereka.
"Tadi, pas di rumah bilangnya jangan lama-lama, tahunya pas udah ngobrol berdua seperti gak mau berpisah," ucap Shila sembari menatap Elvan.
Elvan tersenyum. "Mama, jangan ungkit masa lalu," ucapnya.
"Jadi, gimana? Keputusan kalian?" tanya Arkhna.
"Kalau aku emang udah suka sama Kayla sejak saat pertama kenal," ucap Elvan.
Tanpa ragu dan malu, Elvan mengakui perasaannya didepan keluarganya dan keluarga Kayla.
"Kalau kamu, Kay?" tanya Sam.
"Aku ... aku bersedia menerima perjodohan ini tapi sebelum semuanya dimulai, aku ingin mengatakan kepada calon suamiku dan juga calon mertuaku tentang pekerjaanku," ucap Kayla.
"Katakan saja, mereka memang berhak untuk tahu agar kedepannya tidak ada yang merasa keberatan dan merasa tertipu dengan pekerjaanmu," ucap Sam.
"Memangnya apa pekerjaan kamu?" tanya Elvan.
"Aku bekerja di xxx biasanya aku menjalankan misi secara rahasia tugasku terbilang sangat berbahaya karena aku orang yang pertama terjun ke lapangan untuk mencari informasi yang aku butuhkan untuk menyelesaikan kasus yang sedang aku tangani," jelas Kayla.
"Bisa dibilang kamu ini seorang pengintai rahasia yang bekerja dibalik penampilan kamu yang anggun dan sangat menarik. Tidak mungkin orang mengira dirimu sangat berbahaya sama seperti aku yang tertipu oleh penampilanmu itu," ucap Elvan panjang lebar.
"Kalau kamu suka kita lanjutkan perjodohan ini tapi kalau kamu gak suka silahkan pergi dan cari gadis yang lain saja," ucap Kayla.
"Maaf, Om, Tante bukannya aku tidak ingin menjadi bagian dari keluarga kalian tapi aku sangat mencintai pekerjaanku, sebenarnya aku tidak menganggap itu sebagai pekerjaan tapi aku menganggap pekerjaanku sebagai hobi ku," ucap Kayla kepada Shila dan Ken.
Shila menatap Arkhana lalu menatap Sam sebuah senyuman terukir di bibir Shila.
"Kalian mendidik Kayla tumbuh menjadi wanita tangguh yang tidak takut dengan apapun," ucap Shila.
"Kami hanya memberikan dan mendukung Kayla menjadi apa yang dia inginkan," sahut Sam.
"Van apa kamu tidak suka dengan wanita seperti Kayla? Dia cantik dan bisa menjaga dirinya sendiri loh," ucap Ken.
"Siapa bilang aku gak suka. Aku hanya heran, kenapa wanita seperti mereka suka menantang bahaya?" ucap Elvan.
"Mereka? Mereka siapa?" tanya Kayla.
"Ya kamu, lah. Mamamu, Mamaku kalian semua punya hobi yang mungkin membuat pasangan kalian khawatir," ucap Elvan.
"Mamamu? Tante Shila, tante juga."
Kayla menatap Shila dengan tatapan tak percaya.
"Ya, Mamaku juga hobinya menantang bahaya bahkan mengancam keselamatan jiwanya," ucap Elvan.
Kayla tersenyum mendengar perkataan Elvan.
"Sekarang kamu sudah tahu siapa aku boleh aku tahu siapa dirimu?" ucap Kayla.
"Apa, aku tidak punya rahasia seperti kalian. Aku hidup apa adanya, yang aku lakukan itulah diriku yang sebenarnya."
"Jadi apa kamu masih menyukai diriku? Meski sekarang kamu tahu siapa diriku?"
"Tentu saja iya. Kamu bisa jadi bodyguard pribadiku nanti," ucap Elvan dengan senyum nakalnya.
"Berarti jangan lama-lama lagi ya Van, Kay, secepatnya kami akan mengurus pernikahan kalian," ucap Ken.
"Ngebet banget pengen punya menantu?" ucap Arkhana.
dua keluarga itu tertawa renyah. Mereka tak menyangka putra dan putri mereka sudah saling kenal sebelum perjodohan itu dilangsungkan.
...****************...
Di rumah Leon.
Waktu sudah mulai malam, Shania masuk kedalam kamarnya setelah mengobrol lumayan lama dengan Leon.
Jam menunjukkan pukul 22:00 waktu setempat.
Leon ingin sekali menemui Biani namun rasanya itu tidak mungkin karena keluarganya Biani tidak mungkin mengizinkan Biani keluar malam.
Leon mengambil ponselnya dari dalam saku celananya! Ia menggerakkan jarinya mencari nomor ponselnya Biani.
Leon langsung menelpon Biani setelah menemukan nomornya.
Percobaan pertama tidak mendapat jawaban dari Biani, Leon mencoba menelpon Biani lagi untuk yang kedua kalinya, namun tidak ada respon juga dari kekasihnya itu.
__ADS_1
Hingga Leon mencoba menelpon Biani berkali-kali tapi tak kunjung berhasil, sepertinya Biani sudah tertidur.
"Bi, apa kamu sudah melihat aku di televisi, sehingga kamu tidak mau menerima telepon dariku?" tanya Leon kepada dirinya sendiri.
Leon berjalan memasuki kamarnya dengan perasaan gelisah!
Sesampainya di kamarnya, Leon duduk di sofa yang ada di kamarnya! Pikirannya terus memikirkan Biani, ia tahu Biani sedang marah padanya karena kejadian tadi siang.
Leon kembali mencoba menghubungi Biani, berharap kekasihnya itu menerima telepon darinya.
"Bi, angkat teleponnya. Aku ingin bicara," gumam Leon sembari terus memegang ponselnya.
Karena tak kunjung ada jawaban, Leon memutuskan untuk pergi ke rumah Biani untuk menemui kekasihnya itu!
Leon berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa!
Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia cepat sampai ke rumah sang kekasih!
Tidak sampai sepuluh menit, Leon sudah tiba di rumah Biani. Leon langsung turun dari mobilnya lalu berlari memasuki halaman rumah itu.
Leon mengetuk pintu rumah itu tanpa ragu! Beberapa kali mengetuk pintu itu, namun belum ada orang yang membukakan pintu, Leon terus mencoba mengetuk pintu itu berharap ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Setelah lama, Mamanya Biani membuka pintu itu!
"Leon, mau apa malam-malam kamu ke sini?" ucap Jenny yang terlihat baru terbangun dari tidurnya.
"Tante, maaf aku mengganggu istirahat tante. Aku ingin bertemu dengan Biani," ucap Leon.
"Biani sudah tidur. Lebih baik kamu pergi dari sini," ucap Jenny.
"Tante, tolong."
"Leon pergi dari sini! Tante harap kamu jangan menemui Biani lagi."
"Tante, aku mohon."
"Pergi Leon! Kami tidak bisa menerima penghinaan lagi dari keluargamu."
"Tante, aku mencintai Biani."
"Tante bilang pergi, Leon!" Jenny menaikan nada bicaranya.
"Ada apa, Mam ribut-ribut?" ucap Jacky.
"Leon," gumam Jacky.
Bugh!
Tanpa aba-aba Jacky memberi bogem kepada Leon.
Leon langsung jatuh tersungkur dengan satu kali pukulan.
Biani berlari menghampiri Leon yang terjatuh ke lantai!
"Leon," ucap Biani.
Biani duduk di samping Leon lalu membantu Leon untuk duduk.
"Biani, masuk!" teriak Jacky.
Biani tak menghiraukan teriakan Jacky, ia terus membantu kekasihnya yang baru terjatuh akibat ulah Kakaknya.
Jacky menarik Biani secara paksa lalu membawanya masuk kedalam rumahnya!
"Biani!" ucap Leon.
"Tante aku mohon, izinkan aku bicara sama Biani sebentar saja," ucap Leon kepada Jenny.
"Tidak bisa, Leon." Jenny berucap dengan nada lirih.
Air mata Jenny mengalir begitu saja, sebenarnya ia tidak tega melihat dua orang yang saling mencintai harus terpisah karena masa lalu orang tua.
"Pergi dari sini, Leon! Tante mohon pergi dari sini," ucap Jenny.
"Tante, aku ...."
"Pergi!" Jenny meninggalkan Leon didepan pintu rumahnya!
Bruk! Jenny menutup pintu dengan keras sehingga Leon terperanjat mendengar suara pintu yang tertutupi itu.
__ADS_1
Leon berdiri didepan pintu sambil terus menatap pintu yang tertutup itu.
Perlahan Leon berjalan meninggalkan halaman rumah Biani!
Didalam rumah.
Jacky terus menyeret Biani dengan paksa!
"Kak, lepaskan aku!"
Jacky tak menghiraukan Biani yang meronta ingin lepas dari cengkraman nya.
"Jacky, sudah, Nak." Jenny mencoba menghentikan putranya.
Jacky mendorong tubuh Biani ke tempat tidurnya lalu meninggalkan dia di dalam kamarnya!
Jacky mengunci pintu kamar Biani dari luar, agar adiknya itu tidak bisa pergi dari rumah untuk menemui Leon.
"Jacky, jangan terlalu keras kepada adikmu," ucap Jenny.
"Dia harus mengerti, Ma. Kita tidak mungkin bisa menjadi bagian dari keluarga mereka meski Biani sangat mencintai Leon."
"Mama tahu, Nak tapi jangan seperti ini, kasihan adikmu."
"Biarkan Biani tetap di kamarnya. Dia harus mengerti kalau sebenarnya Leon tidak mencintainya."
Jenny tak menjawab lagi perkataan Jacky, ia pergi meninggalkan putranya yang sedang dalam keadaan marah itu!
...****************...
Leon melajukan mobilnya dengan sangat perlahan, ia merasa sedih dan kecewa dengan perlakuan keluarganya Biani terhadapnya.
"Aku begitu mencintaimu, Bi."
Leon terus menyetir meski pandangannya tidak begitu jelas karena ia menyetir sambil meneteskan air matanya.
Leon menghentikan mobilnya di tepi jalan yang terlihat sepi dari lalu-lalang kendaraan.
"Aaaaaa!"
Leon berteriak sekeras suara yang ia miliki.
Ingin sekali ia marah namun ia tidak tahu harus marah kepada siapa.
Leon berteriak berkali-kali menumpahkan semua amarahnya. Setelah puas berteriak dan dirinya sudah sedikit merasa tenang, Leon kembali melajukan mobilnya, ia harus pulang karena tidak mungkin ia tidur di jalan dan lagi ia tidak mungkin membiarkan Shania sendirian di rumahnya.
...****************...
Keesokan harinya.
Shania sudah selesai dengan semua pekerjaannya di dapur, ia juga sudah menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul 07:00 waktu setempat, namun Leon belum juga keluar juga dari kamarnya.
Dengan terpaksa Shania mengetuk pintu kamar Leon, dalam pikirnya mungkin Leon masih tertidur.
Tok! Tok! Tok!
Shania mengetuk pintu kamar Leon dengan perlahan.
"Leon, kamu mau ke kantor gak? Udah siang ni," ucap Shania dari depan pintu kamar Leon.
Shania masih setia menunggu didepan pintu kamar Leon menunggu Leon keluar dari kamarnya.
Tak lama Leon keluar dengan masih menggunakan pakaian tidur!
"Leon, kamu?"
Shania menatap Leon dengan terheran-heran.
Tidak seperti biasanya, Leon bangun sampai kesiangan seperti ini.
"Shania, aku kesiangan. Untung kamu membangunkan aku."
"Tumben kesiangan."
Shania menang tidak mengetahuinya kalau semalam Leon pergi dari rumah karena ia sudah tertidur.
"Aku mandi dulu ya," ucap Leon.
__ADS_1
"Shania menganggukkan kepalanya lalu ia pergi ke lantai utama rumahnya!
Bersambung