
Kini jam sudah menunjukan pukul 10 pagi jalanan masih tampak ramai tapi untungnya kali ini tidak macet dan mungkin kami datang agak sedikit cepat.
Butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke tujuan mereka. Sudah hampir 3 jam mereka berada di sebuah mobil untuk ke Desa di mana Mita tinggal. Selama itu juga Yudi tidak berkata apapun ia hanya pasrah dan tak ingin mencoba menolak perjodohan ini. Biasanya untuk pergi ke desa Ridho yakni di desa PADIAN butuh waktu 5 jam untuk sampai namun kali ini hanya melewati 3 jam lebih kami sudah memasuki desa dan sampailah kami pada rumah yang kami tuju
Tepat pukul 11:35 Yudi dan sang Ayah, sampai pada suatu Desa yang cukup terpencil. Pedesaan ini memang masih dipenuhi dengan pepohonan, udaranya sangat terasa sejuk dan menenangkan dan tidak tercemar oleh polusi. Tempatnya pun sangat dekat pada perbukitan.
"Pemandangan disini sangat bagus. Udaranya pun sangat sejuk, inikah pedesaan yang sering Papa sebutkan padaku" ucap Yudi dalam hatinya
"Gimana Yud, baguskan pemandangan disini. Disinilah papa lahir dan di sinilah juga papa besar Yud. Banyak kenangan yang papa buat di sini bersama teman papa yang selalu membantu papa." Jelas Hendra kepada anaknya
"Iya pah udah papa ceritain waktu itu bahkan sudah puluhan kali loh papa cerita. Tapi memang beda ya sama di jakarta, yang selalu ingar dan padat" sahut Yudi
"Nah itu mereka sudah menunggu di depan rumah untuk menyambut kita" ucap Hendra sambil menunjuk ke suatu perumahan yang cukup sederhana
"Dho, sebentar lagi kita bakal jadi besan" ucap Hendra saat menyalami Ridho. Sambil menyunggingkan senyuman nya.
"Iya tak terasa anak-anak kita yang akan meneruskan perjuangan kita dulu." Jawab Ridho
Yudi pun mencium tangan orang yang akan menjadi ayah mertuanya. Ia hanya terdiam tak berbicara apapun hanya mengamati apa yang mereka bicarakan
Yudi adalah anak pertama dan satu-satunya Hendra. Maka dari itu Hendra ingin Yudi mendapatkan istri yang berbakti dan tulus padanya, menemani Yudi di saat susah dan senang. Dan sosok Mitalah yang cocok padanya seorang perempuan yang sabar dan ceria, lagi pula Yudi termasuk anak yang sangat keras kepala.
Mereka pun masuk kerumah bersama untuk melanjutkan obrolannya di dalam rumah, karena Ridho tau pasti temannya kecapekan dikarenakan perjalanan jauh.
"Putramu Hen, ganteng banget " ucap Ridho tersenyum pada Yudi
"Kamu ini gak pernah berubah sukanya memuji orang" ucap Hendra
__ADS_1
"Tapi memang benar yang dikatakan Suami saya, Putra bapak ganteng banget" ucap Meli tersenyum saat keluar dari dapur dengan membawa minuman.
Yudi hanya tersenyum mendengar dirinya dipuji, tiba-tiba saat Mita sedang mengetik sebuah novel yang akan ia jual, merasa ada keributan di rumah nya langsung menghentikan aktivitasnya karena ia tak bisa fokus jika di rumahnya sangat ribut.
"MasyaAllah Dho, itu putrimu yang dulu kecil dan dekil sekarang kok cantik banget?" ucap Hendra melihat sesosok yang ia kenal dulu. Mita yang baru keluar dari kamarnya, ia langsung tersenyum dan segera menghampiri untuk menyalami Hendra.
"Iya benar ini dia Mita Putri kami" ucap Ridho. Saat ini Mita sudah duduk di samping nya.
Yudi hanya menatap wajah Mita, ia tak pernah melihat gadis secantik dia.
"Putri mu cantik banget ya" ucap Hendra tersenyum memandang Mita, yang dipandang hanya tersipu malu.
Mita yang dipuji pun langsung merona tanpa berkata-kata banyak.
"Makasih om. Mita ini cantik dari lahir, om, selain cantik mita juga pintar dan jago masak" jawab mita tanpa rasa sedikit malu pada Hendra, seolah-olah ia mempunyai banyak bakat. Melihat itu Meli langsung mencolek pinggang Mita agar ia sedikit sopan
"Sifatnya kok polos gini sih, ini mah gak seperti apa yang papa bilang walau cantik sih" tutur Yudi dalam hatinya
"Gak papa kok dia orangnya mudah akrab dan tingkahnya pun menggemaskan. Pokoknya besok sekitar jam 10 pagi, mereka harus segera dihalalkan" Timpalnya balik
Ridho dan Meli hanya mengangguk pertanda setuju, sedangkan anak-anak mereka hanya bisa tersenyum meng-iyakan.
"Oh, ya. Istri kamu kenapa kok gak ikut?" Tanya Ridho heran.
"Saya emang sengaja cuman berdua, soalnya ini kan pernikahannya juga dadakan, istri saya juga jaga diri soalnya lagi hamil tua mungkin beberapa bulan lagi melahirkan. Maka dari itu saya tidak memperbolehkannya ikut walau dia ingin ikut sebenarnya. Dan nanti kalau sudah melahirkan kalian jangan lupa untuk berkunjung ke jakarta ya. Oh iya 5 hari lagi saya akan kembali ke jakarta. Jadi kita ngelaksanain ijab kabul saja, untuk resepsinya habis Mita lulus, gak apakan?" ucap Hendra menjelaskan.
"Iya Hen gak papa kok, saya mah setuju-setuju saja. Asalkan Mita menikah sah di mata Agama dan Negara itu saja sudah cukup sebenarnya" ucap Ridho tersenyum.
__ADS_1
"Mita ini kan masih SMA dan bentar lagi akan akan lulus. Nanti sekolah nya di pindah saja ke Jakarta" jelasnya lagi membuat Mita mematung.
Mita terkejut namun hatinya senang. Ia kira hanya sampai sini ia mencari ilmu ternyata dugaannya salah. Mita masih bisa sekolah setidaknya sampai dia lulus SMA
"Tapi kami ini gak punya uang buat biayanya. Apalagi di Jakarta pasti mahal biayanya" timpal Meli yang duduk di samping suaminya dengan ragu akan pertanyaannya.
"Kalau masalah biaya jangan dipikirkan, soalnya Mita sudah jadi tanggung jawab Yudi nanti. Lagi pula, anak saya kan masih bisa dan masih mampu menjamin semua kebutuhan Mita" Ucapnya lagi dengan memandang wajah Ridho serius.
Mendengar itu, bapak Mita sungguh tak menyangka. Sungguh hatinya begitu mulia sejak kecil hingga sekarang tak pernah berubah, walaupun dia sudah sukses pun masih tetap baik.
"kamu emang gak pernah berubah ya. Masih baik dari dulu sampai sekarang" tutur Ridho terharu
"Kamu ngomong apa sih, kita ini tumbuh dari kecil sampai kita punya kehidupan masing-masing dan kamu itu udah aku anggap saudara sendiri" timpal Hendra
Dulu Hendra adalah orang yang kurang mampu ia hanya tinggal bersama ibunya apalagi ibunya waktu itu sakit-sakitan dan saat ia merasa susah untuk makan selalu ada Ridho yang membantunya, yang memberi ia makan dan bantuan setiap masalah yang datang. Saat itulah masa-masa susahnya Hendra hanya ditemani oleh Ridho, dan saat ibunya Hendra menghembuskan nafas terakhirnya pun hanya sahabatnya yang menguatkannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan sahabatnya itu.
"Tapi saya gak enak ngerepotin kamu. Menjadi Besan mu saja, saya sudah sangat bahagia" ucap Ridho merasa tak enak.
"Keputusanku sudah bulat! Mita tetap akan Sekolah di Jakarta, berkat kamu juga aku bisa seperti sekarang ini dan ini saatnya saya yang membalas apa yang kamu lakukan untuk saya dulu. Mita mulai sekarang adalah Putri saya" Ucap Hendra tegas.
Mita sangat terharu mendengar kebaikan hati sahabat Ayahnya itu, dirinya tidak menyangka bahwa calon mertuanya begitu baik pada keluarganya. Dan kata-katanya sangat menyentuh hatinya.
"Makasih yah om. Mita janji akan berusaha lebih keras lagi dan nanti Mita juga akan membanggakan Om, ibu dan juga ayah" ucap Mita dengan mata yang berkaca-kaca.
Yudi yang melihat itu hatinya tersentuh melihat persahabatan ayahnya itu. Mungkin juga harus menerima kenyataan tentang perjodohannya dan membuka hatinya untuk seorang gadis dari desa ini.
"Jangan panggil om ya Nak, panggil saja Papah" timpal Hendra tersenyum, Mita pun mengangguk dan memeluk Ibunya yang berada tak jauh dari sisinya.
__ADS_1
"Sudahlah, sebaiknya kita jangan banyak sedih. Hari ini kan hari bahagia buat Kita. Karena sebentar lagi menjadi keluarga" Ucap Hendra terkekeh. Dan mereka pun tersenyum bersama dalam satu keluarga yang terjalin.