Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 54


__ADS_3

Kini Shania sudah di pindahkan ke rumah sakit yang berada di kota, ia sudah melewati pemeriksaan dokter dan kini sudah berada di ruang rawat inap.


Leon segera menemui Shania setelah tahu bahwa istrinya itu dirawat di rumah sakit yang sama dengan dirindukan dirawat.


Perlahan Leon membuka pintu ruang rawat Shania! Leon tak langsung masuk kedalamnya, ia berdiri mematung di ambang pintu sembari menatap Shania yang terbaring lemah.


"Shania," gumam Leon.


Liana mengelus lengan atas Leon dengan lembut lalu berkata. "Kuat ya, Nak. Kamu harus kuat, Shania selamat, calon bayimu juga selamat."


Shila Elvan dan Kayla yang berada di dalam ruangan itu menatap Leon dengan tatapan sendu.


Elvan berjalan menghampiri Leon lalu memapahnya untuk sampai pada Shania yang sedang terbaring di atas hospital bad.


"Shania, suamimu datang untuk menemui dirimu," ucap Shila sembari mengelus pucuk kepala Shania.


Shania membuka matanya dengan perlahan lalu melihat Leon yang sedang berjalan tertatih ke arahnya sembari dibantu oleh Elvan.


Air mata mulai mengalir dari pelupuk Shania, betapa ia sangat merindukan sang suami.


Leon memeluk Shania yang sedang terbaring! Karena masih lemah, Shania tidak bisa duduk walaupun hanya sebentar saja.


"Shania, maafkan aku karena aku tidak bisa menolongmu," ucap Leon sembari terus memeluk Shania dengan erat.


Shania balas memeluk Leon. "Kenapa harus minta maaf? Ini bukan salahmu."


Shania berucap dengan suara yang masih lemah.


Tak ingin melihat kesedihan pada Leon dan Shania, Kayla memilih keluar dari tempat itu!


Elvan yang melihat Kayla pergi langsung menyusul Kayla ke luar ruangan itu!


"Kay! tunggu," ucap Elvan.


Kayla menghentikan langkahnya. "Ada apa?" ucapnya setelah membalikkan tubuhnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Elvan.


"Tidak kemana-mana, aku hanya ingin mencari udara yang lebih segar."


"Aku ikut."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju taman yang terdapat di halaman rumah sakit itu!


Di dalam ruangan tempat Shania dirawat.


"Sayang, kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Liana sembari menatap Shania.


"Aku baik-baik saja, Ma," sahut Shania.


Liana meneteskan air matanya, tangannya mengelus pucuk kepala Shania dengan lembut! Tidak ada perkataan lagi yang keluar dari mulut Liana, hanya ada kesedihan di sana.


"Shania, kamu cepat sembuh ya. Tante harus pergi karena masih ada yang harus tante urus," ucap Shila.


"Tante, terimakasih banyak," ucap Shania.


Shila tersenyum tipis lalu pergi dari ruangan itu!


Kini tinggal Leon, Shania dan Liana di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Apa yang mereka lakukan padamu, sehingga kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Leon.


"Mereka tidak melakukan sesuatu apa pun pada diriku, mereka membiarkan aku kehausan dan kelaparan selama aku disekap oleh mereka. Aku baru mendapatkan minum setelah tante Shila, Elvan dan Kayla datang itu pun bukan mereka yang memberiku minum, melainkan tante Shila yang memberiku minum," jelas Shania.


Mendengar pernyataan Shania, Leon dan Liana merasa kasihan kepada Shania.


Leon mengepalkan tangannya, rahangnya mengerat hingga mengeluarkan suara gemeltuk giginya yang beradu.


"Aku akan buat perhitungan dengan mereka."


...****************...


Di taman rumah sakit.


"Van, misi yang aku jalankan sudah hampir selesai. Kapan kamu akan menikahi diriku?" tanya Kayla.


"Secepatnya dong."


"Kamu masih mau menikahi diriku?"


"Tentu saja, kenapa tidak?"


Kayla menyandarkan kepalanya di bahu Elvan!


"Aku lelah, aku pinjam bahu mu ya," ucap Kayla.


"Izin tapi sudah melakukannya."


Kayla tertawa kecil tapi tak mengubah posisinya. "Kalau gak boleh bilang saja," ucapnya.


"Kay, apa yang akan kamu lakukan sama preman-preman itu?"


"Lalu setelah itu?"


"Aku akan menghabisi mereka."


Elvan menatap Kayla dengan tatapan aneh, raut wajahnya terlihat panik dan ketakutan.


Kayla yang tadinya menjadikan bahu Elvan sebagai penopang kepalanya, kini tidak lagi karena Elvan menarik tubuhnya secara tiba-tiba.


"Kamu kenapa?" tanya Kayla.


"Kamu serius akan menghabisi nyawa mereka?"


Kayla tertawa lepas. "Siapa yang akan menghabisi nyawa mereka? Kamu pikir aku ini seorang mafia yang bisa seenaknya membunuh orang?"


"Tadi kamu bilang–"


"Aku hanya bercanda. Aku hanya menjalankan tugasku, tentu saja aku akan menyerahkan mereka ke pihak yang berwajib tapi itu nanti setelah aku mendapatkan apa yang ingin aku ketahui dan setelah mereka merasakan apa yang Shania rasakan."


"Aku pikir kamu ...."


"Tidak lah. Meski menurutmu pekerjaanku sangat berbahaya tapi se berbahaya apa pun lawan yang aku temui aku tidak pernah membunuh orang."


Saat keduanya sedang asyik mengobrol, Shila datang ke tempat itu.


"Van, Kay!" ucap Shila.


Mereka berdua menoleh ke arah belakang dan langsung mendapati Shila yang sedang berdiri di belakang mereka.

__ADS_1


"Mama," ucap Elvan.


"Mama mau pulang. Kasihan Papa ditinggal sendirian."


"Pulang bareng aku saja, aku juga mau pulang," ucap Elvan.


"Kayla gimana?"


Kita antar Kayla dulu."


Shila mengangguk pelan.


"Kay, tante serahkan preman-preman itu sama kamu ya," ucap Shila pada Kayla.


"Siap, tante. Mereka akan menjadi urusanku."


...****************...


Di lobby rumah sakit.


Satya dan Alisa berlari menuju ruangan tempat Shania dirawat! Mereka baru pulang dari luar negeri setelah beberapa hari di sana untuk mengurus perusahaan mereka yang ada di negeri tetangga itu.


Tanpa mengetuk pintu, Alisa membuka pintu itu lalu segera masuk ke dalam ruangan yang didalamnya terdapat Shania dan suaminya!


"Shania," ucap Alisa sembari berjalan menghampiri Shania yang sedang terbaring.


Alisa langsung memeluk dan mencium putri kesayangannya itu.


"Kamu kenapa, apa yang terjadi padamu?" tanya Alisa.


"Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas," ucap Liana.


Orang tuanya Shania memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Shania dan Leon, karena Liana tidak ingin mereka tahu, ia mengatakan bahwa anak dan menantunya mengalami kecelakaan saat berkendara.


"Maaf kami datang terlambat karena kami harus melalui perjalanan yang sangat panjang," ucap Satya.


"Tidak apa-apa Pak Satya, saya juga baru datang barusan karena harus menguras pekerjaan terlebih dahulu," sahut Rendy.


Alisa menatap putrinya dengan tatapan sendu, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, ia tak tega melihat kondisi sang putri saat itu.


Bersambung.


Seperti biasa author akan membawakan rekomendasi novel dari author lain yang pastinya author dan karyanya keren abis.


Jangan lupa mampir juga ya ke sana dengan novel yang berjudul.


Judul: Pemuas Ranjang Ceo


Karya: Momoy dandelion


Blurb:


Sudah tiga tahun Bara dan anaknya ditinggalkan oleh sang istri, Silvia yang lebih memilih mengejar karir daripada mempertahankan rumah tangganya. Kondisi perekonomian Bara jauh meningkat, namun tidak memiliki wanita di sampingnya. Zack menyarankan agar Bara mau menikah lagi dan mengakhiri kesendiriannya. Namun, Bara masih trauma menjalin hubungan lagi dengan wanita.


Retha, seorang guru TK dengan segala permasalahannya, terpaksa harus mengambil pekerjaan sampingan sebagai pemberi layanan pijat plus plus demi membayar hutang sang ayah dan biaya sekolah adiknya.


Kedua insan yang saling membutuhkan itu akhirnya dipertemukan saat Retha ternyata mendapat panggilan untuk melayani Bara yang ternyata ayah dari muridnya. Meskipun memalukan, Retha tetap melakukan pekerjaannya demi uang. Sementara, Bara juga membutuhkan seorang wanita untuk mengisi kekosongan hidupnya.


Bagaimana kelanjutan kisah Bara dan Retha? Akankah cinta mereka berlabuh?

__ADS_1



__ADS_2