Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 74


__ADS_3

Tiga hari setelah Kayla berhasil memenjarakan Jacky.


Siang itu, Kayla sudah berada di rumah sakit tempat Jenny dirawat.


Kayla berjalan menuju ruangan tempat Jenny dirawat!


Tanpa mengetuk pintu, Kayla langsung masuk ke dalam ruangan itu! Dia berjalan mendekati Jenny yang sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Jenny dengan nada ketusnya.


"Saya ke sini hanya untuk melihat perkembangan kondisi kesehatan Anda, Bu," sahut Kayla sembari terus berjalan mendekati Jenny.


"Tidak perlu sok-sok_an memperdulikan saya, padahal sebenarnya kamu sama sekali tidak memperdulikan saya."


"Maksud Anda? Saya ke sini memang untuk menjenguk, Anda."


"Kalau memang kamu perduli kepada saya, kenapa kamu memenjarakan Jacky, anak saya?"


"Karena anak Ibu bersalah dan harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Saya tidak kenal dengan anak-anak Ibu dan juga Ibu, sebenarnya saya memang tidak harus memperdulikan Anda tapi karena saya masih punya hati jadi saya datang ke sini untuk melihat kondisi Anda karena saya tahu putra Anda tidak bisa datang ke sini untuk menjenguk Anda," ucapan Kayla panjang lebar.


Jenny memalingkan wajahnya, dia tidak ingin melihat wajah Kayla.


Kayla meletakkan kedua tangannya di ranjang yang Jenny tiduri lalu sedikit membungkukkan badannya!


"Jika putra Anda tidak bersalah, saya tidak akan memenjarakannya dan lagi saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang polisi dan dalam kasus ini saya tidak bisa meringankan hukuman terhadap anak Anda terkecuali Leon ataupun keluarganya mencabut laporan mereka."


Jenny mulai meneteskan air matanya, dia teringat dengan masa lalunya. Jika saja dulu dia tidak melakukan kejahatan kepada Rendy mungkin sekarang keadaannya tidak seperti ini.


"Jangan menangis untuk hal yang tidak perlu ditangisi. Jacky dipenjara karena perbuatannya sendiri."


"Kamu tidak mengerti dengan perasaan saya," ucap Jenny disela tangisnya.


"Saya memang tidak tahu karena saya belum pernah menjadi seorang ibu."


Kayla menggenggam tangan Jenny dengan lembut.


"Kondisi seperti saat ini akan membantu Anda untuk menjadi kuat dari dalam. Percayalah, semua orang akan mendapatkan kebahagiaannya masing-masing."


Jenny menarik tangannya dengan kasar! "Lepaskan tangan saya."


Kayla tak berucap lagi, dia membiarkan Jenny menangis, menumpahkan semua kesedihannya.


...****************...


Biani sedang bekerja di salah satu kafe tempat anak-anak muda nongkrong, hari itu adalah hari pertama dia bekerja.


"Biani, tolong antarkan minuman ini ke meja itu ya!" ucap seseorang pada Biani sembari mengarahkan jari telunjuknya pada salah satu meja.


Tanpa menolak, Biani langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh teman satu kerjaannya.


Biani berjalan dengan membawa nampan yang diatasnya terdapat beberapa gelas berisi minuman.


Biani tersenyum ramah pada mereka lalu meletakkan minuman yang ia bawa di meja itu.


"Baru ya, Mbak kerja di sini?" ucap salah satu pengunjung laki-laki yang memesan minuman itu.


"Iya, Mas," ucap Biani dengan senyuman di bibirnya.


"Boleh kenalan?"


"Maaf, saya sedang bekerja."


Biani meninggalkan tempat itu dengan berjalan tergesa-gesa.


"Ada apa, Biani? Kenapa kamu jalannya terburu-buru seperti itu?" tanya temannya Biani.

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya sedang bersemangat untuk bekerja," sahut Biani.


Biani baru pertama kalinya bekerja dan untungnya di hari pertama dia bekerja, dia mendapatkan teman-teman yang baik padanya.


Gadis yang berdiri didepan Biani melihat ke arah pengunjung yang barusan Biani mengantar pesanan.


"Mereka anak-anak yang sering nongkrong di sini. Salah satu dari mereka adalah anaknya pemilik kafe ini," ucap gadis itu.


"Apa! Berarti salah satu dari mereka adalah bos kita dong?"


"Iya, tapi kamu tenang saja bukan dia yang memegang kafe ini."


Biani terdiam, sambil memikirkan sesuatu.


Beberapa detik kemudian Indah memetik jarinya didepan wajah Biani!


"Jangan bengong, ayo lanjut kerja," ucap Indah.


...****************...


"Van, aku pulang duluan ya!" ucap Leon sembari berjalan menuju lobby kantornya.


Elvan berjalan cepat untuk mensejajarkan langkahnya dengan Leon!


"Aku juga mau pulang," ucap Elvan.


"Ngapain pulang? Kamu diam saja di kantor, toh pulang juga gak ada istri yang nyambut kedatangan kamu."


"Tunggu saja, sebentar lagi juga aku punya istri yang setiap hari menyambut aku pulang dan mengantarkan aku ke depan pintu saat aku akan berangkat bekerja."


"Tapi sekarang kan belum."


"Kan aku juga bilangnya sebentar lagi. Tinggal sepuluh hari lagi."


"Cie yang gak sabar mau nikah."


Mereka berdua berjalan menuju parkiran sambil terus mengontrol! Setiap hari selalu ada saja topik pembicaraan diantara mereka. Hingga saat mereka tiba didepan mobil mereka masing-masing mereka baru berhenti mengobrol.


"Aku duluan ya, Kak," ucap Elvan pada Leon.


"Tumben manggil aku dengan sebutan itu."


"Udah lama gak manggil Kakak, ternyata aku merasa lebih nyaman manggil Kakak dibandingkan dengan sebutan Bos."


Elvan mulai melajukan mobilnya dengan perlahan.


Leon masih berdiri didepan mobilnya sambil menatap mobil yang dikendarai oleh Elvan.


"Dadar, anak aneh," gumam Leon sembari menggelengkan kepalanya.


Leon masuk ke dalam mobil dan perlahan dia juga pergi meninggalkan area kantornya.


Setelah setengah jam berkendara, Leon tiba di rumahnya. Dia berjalan memasuki rumahnya dengan langkah panjangnya!


Saat akan menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya, Leon melihat Shania yang sedang duduk di ruang keluarga. Dia mengurungkan niatnya untuk menuju kamarnya, ia beralih tujuan kini ia berjalan menghampiri Shania yang sedang asyik menonton televisi!


Leon melingkarkan tangan kanannya di dada Shania dari belakang lalu menghirup aroma wangi tubuh istrinya itu.


"Udah pulang? Kok aku gak ngeh?" ucap Shania.


"Gimana mau tahu, aku udah pulang atau belum, kamu nya saja terus fokus pada layar televisi."


Shania tersenyum lalu melepaskan tangan Leon yang melingkar di dadanya!


Shania berdiri lalu memeluk Leon.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku keasyikan nonton drakor," ucap Shania.


"Kamu ya, awas kalau kamu sampai selingkuh sama Jungkook, Le Min Hoo atau siapalah itu aku gak tahu."


Shania tersenyum geli, mendengar perkataan Leon yang memang tidak suka dengan drama Korea.


"Iih kamu kok gitu, kalau aku selingkuh sama mereka kan nanti anak kita jadi ada mirip-mirip koreanya," ucap Shania dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya.


"Enak saja, kamu pikir aku ini apa? Menurut kamu aku kurang ganteng, kurang keren?"


Shania tertawa kecil melihat Leon yang semakin kesal dibuatnya.


"Aku bercanda, Leon. Lagian mana mau mereka sama aku yang sebentar lagi perutku akan membuncit."


Leon mencubit hidung Shania perlahan.


"Aku mau mandi dulu habis itu aku mau main sama calon anak kita," ucap Leon.


Shania memegangi hidungnya. "Udah mancung, jangan dicubit-cubit terus. Sakit tahu," ucap Shania dengan gaya manjanya.


Leon tersenyum lalu meninggalkan Shania di ruang keluarga rumahnya tanpa sepatah kata pun!


...****************...


"Ma, aku mau keluar sebentar!" ucap Elvan meminta izin kepada Shila.


"Mau kemana?" tanya Ken yang sedang berjalan menuju ruang makan.


"Makan malam dulu, sayang!" ucap Shila yang sedang sibuk menata makanan untuk mereka makan malam.


"Aku mau makan malam di luar bersama Kayla," ucap Elvan.


"Oh, mau kencan toh," ucap Kendra.


Elvan tersenyum tipis. "Nggak, aku gak mau kencan," ucapnya.


"Lalu?" ucap Shila yang berjalan menghampiri Elva.


"Ya, mau makan biasa saja gak romantis seperti yang kalian pikiran."


"Romantis juga tidak apa-apa, Van. Mama sama Papa gak akan ngiri kok," ucap Shila seolah menggoda putra kesayangannya itu.


"Kalian ini, apaan sih. Udah ah aku mau pergi dulu!"


Elvan berjalan keluar dari rumahnya!


...****************...


Biani baru pulang dari tempat ia bekerja, Biani langsung ke rumah sakit setelah pulang bekerja.


"Ma, maaf ya aku datang kemalaman," ucap Biani.


Biani berjalan menghampiri Jenny!


"Kamu dari mana saja?" tanya Jenny.


"Ma, aku sudah dapat pekerjaan dan tadi siang adalah hari pertama aku bekerja," ucap Biani.


"Syukurlah kalau kamu sudah bekerja, Maaf ya Mama gak bisa bantu kamu."


"Mama bicara apa. Sudah seharusnya aku bekerja untuk membantu, Mama sekarang bukan Mama yang harus bekerja untuk aku."


"Kamu kerja apa, Nak?"


"Aku kerja di kafe, Ma."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2