Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 93


__ADS_3

Setelah melewati masa yang panjang, kini tibalah hari pernikahan antara Elvan dan Kayla.


Para tamu undangan sudah hadir untuk menyaksikan dan memberi restu pada kedua mempelai.


Saat itu Elvan sudah siap untuk melakukan ijab kabul dia duduk di depan penghulu dan walinya Kayla.


"Sudah siap?" tanya Pak penghulu.


"InsyaAllah, siap," sahut Elvan.


"Mari kita mulai acara hari ini."


Elvan menjabat tangan walinya Kayla dan mereka memulai ijab kabelnya.


"Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau saudara Elvan Anggara bin Kendra Argantara dengan anak saya yang bernama Kayla Shamantha dengan mas kawinnya seperangkat alat shalat beserta perhiasan seberat dua ratus lima puluh gram dibayar tunai."


Lalu Elvan menjawab.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kayla Shamantha binti Sam Bagaskara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Elvan mengucapkannya dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana, para saksi sah?" ucap Pak penghulu.


"Sah."


"Sah," ucap para saksi dan orang-orang yang menyaksikannya.


"Alhamdulillah."


Kayla mencium tangan Elvan untuk yang pertama kalinya.


Karena Kayla dan Elvan baru saja sah menjadi pasangan suami istri. Pak penghulu memberikan sedikit arahan kepada mereka bagaimana cara menjadi istri dan suami yang baik agar pernikahan mereka langgeng.


Setelah semuanya selesai, Pak penghulu itu pergi meninggalkan tempat itu dan kini tinggal menjalankan resepsi pernikahan mereka.


Elvan dan Kayla berpindah tempat, kini mereka berdiri di atas pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari kerabat dekat, teman dan para tamu undangan yang lainnya yang ingin mendoakan mereka.


...****************...


"Bi kamu mau gak nemenin aku ke acara nikahan?" tanya Rio.


Biani terdiam karena masih fokus pada pekerjaannya.


"Bi."


"Iya, Pak Bos tunggu sebentar," sahut Biani.


"Kamu ditanya diam saja."


"Ke pernikahan siapa?" tanya Biani.


"Pernikahan teman."


"Kapan dan jam berapa?"


"Sebenarnya acaranya hari ini, siang ini tapi kita datang malam saja karena mereka mengadakan waktu dua sesi yaitu siang dan malam harinya."


"Tamu undangan nya banyak ya?"


"Tentu saja banyak, mereka orang terkenal. Banyak orang yang mengenali mereka."


"Kalau kamu dapat undangan dari mereka berarti kamu termasuk orang kalangan atas dong. Aku malu menghadiri acara pernikahan orang kaya."


"Kenapa harus malu? Lagi pula mereka tidak hanya mengundang orang-orang kaya saja, mereka juga mengundang orang-orang kalangan menengah ke bawah."


"Tapi–"


"Tidak ada tapi-tapian, pokoknya aku mau kita pergi. Nanti jam tujuh malam aku jemput kamu ya."


"Tadi nanya mau atau tidak, giliran aku nolak, sekarang malah maksa."


Rio tersenyum tipis. "Kalau aku gak pergi sama kamu aku harus pergi sama siapa? Pacarku kan kamu bukan Indah atau pun orang lain."


Biani tertawa kecil. "Kamu bisa saja."


Melihat Rio dan Biani sangat mesra, Galang merasa tidak nyaman rasanya dia ingin menjauhkan Kakaknya itu dari Biani, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa karena memang dia tidak berhak atas Biani.


Galang pergi meninggalkan kafe itu dengan tanpa menatap Rio dan Biani sedikitpun saat dirinya melewati mereka!


Galang berjalan cepat karena tak ingin dirinya lebih terbakar oleh api cemburu. Sebenarnya Galang sudah berusaha untuk mengikhlaskan Biani untuk Rio namun dia tidak bisa membohongi perasaannya.


Galang yang terlanjur mencintai Biani merasa sulit untuk melupakan gadis yang sudah mengisi ruang hatinya itu.


Rio dan Biani menatap Galang dengan tatapan bingung.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Biani.


"Gak tahu, kenapa tuh anak," sahut Rio.


Biani terdiam sambil terus menatap kepergian Galang.


"Dia cemburu, sama kita, Bi. Aku tahu Galang masih menyimpan rasa cinta untuk mu. Kamu pura-pura tidak tahu atau kamu memang tidak tahu tentang perasaan Galang saat ini?" ucap Rio didalam hatinya.


Saat mereka sama-sama terdiam, Indah datang menghampiri mereka!


"Pak Bos, karena sekarang, Pak Bos pacaran sama Biani, boleh dong kita minta naik gaji?" ucap Indah.


Rio menatap karyawan yang sudah lama bekerja di kafe nya itu.


"Naik gaji lagi? Bukannya baru beberapa bulan lalu kalian naik gaji ya?" sahut Rio.


Indah mengulum bibirnya, sebuah senyuman terukir di sana.


"Iya sih, Pak Bos. Tapi-tapi Pak Bos, boleh dong aku minta komisi sedikit?"


"Komisi apa? Kamu ini, Biani kan dibesarkan oleh orang tuanya bukan sama kamu kok kamu yang sibuk minta komisi."


"Kalian pada ngomongin apa sih?" ucap Biani.


"Ya, ngomongin kamu lah. Emang gak dengar apa?" ucap Indah.


"Dengar, hanya saja kalian bicara dari naik gaji sampai ke komisi sampai bawa-bawa Mamaku," ucap Biani.


"Udah ah, Bi kita pergi yuk!" ajak Rio.


"Pak Bos aku sedang kerja, gak bisa pergi-pergi," sahut Biani.


"Kamu gak boleh menolak permintaan Bos sekaligus pacar kamu ini."


"Pak Bos, aku juga ikut pergi dong," ucap Indah.


"Kalau kamu juga ikut pergi, siapa yang di sini?"


Indah nyengir kuda menampakkan giginya yang rapi.


"Kalau aku gak boleh nolak, baiklah aku akan pergi bersama kamu," ucap Biani.


"Gitu dong, dari tadi kek."


Galang menggenggam tangan Biani lalu menariknya, membawanya ke luar dari kafe nya!


"Pergi saja sana. Jangan lupa oleh-olehnya untuk aku ya!" seru Indah.


...****************...


Di pesta pernikahan antara Elvan dan Kayla.


Mereka duduk di pelaminan dengan raut wajah yang dipenuhi kebahagiaan, bak Raja dan Ratu mereka berdua terlihat sangat mempesona.


Elvan yang tampan dan Kayla yang cantik, membuat mereka terlihat sangat serasi.


Para tamu undangan mulai bergantian memberikan selamat kepada kedua mempelai, setelah itu satu-persatu mereka meninggalkan pesta itu.


...****************...


Di taman yang terdapat di depan rumahnya, Galang duduk di kursi taman, dia menatap bunga-bunga yang sedang bermekaran.


"Aargh!"


Galang berteriak frustasi.


"Kenapa disaat aku benar-benar mencintai seseorang gadis, gadis itu mlah sudah dimiliki oleh orang lain," gumam Galang dengan nada lirih.


Dia mengacak rambutnya lalu berdiri dan melangkahkan kakinya tanpa arah tujuan!


"Den Galang Kenapa?" tanya salah satu satpam kepada satpam lainnya.


"Gak tahu, mungkin dia lagi putus cinta," sahut temannya.


Dua satpam itu memperhatikan Galang yang terlihat sedang bersedih itu.


...****************...


Di salah satu pusat perbelanjaan, Rio dan Biani sedang melihat-lihat gaun pesta.


"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Biani kepada Rio.


"Mau beli kostum untuk nanti malam," sahut Rio.


"Memangnya tidak ada pakaian yang lama? Sampai harus beli yang baru."

__ADS_1


"Ada. Aku maunya kita beli yang baru yang warnanya sama biar kelihatan cocok dan serasi."


"Tapi, Pak Bos aku dibelikan kan? Aku belum gajian loh."


Rio mencubit hidung Biani, dia merasa gemas dengan perkataan kekasihnya itu.


"Kalau kita sedang tidaka di kafe, bisa gak jangan panggil aku dengan sebutan Pak Bos?"


"Terus maunya dipanggil apa?"


"Ya, yang romantis dikit dong seperti sayang, misalnya."


Biani mengerucutkan bibirnya beberapa centi lalu berkata. "Maunya."


"Iya emang mau aku seperti itu."


Mereka berdua melanjutkan pencariannya.


Setelah memasuki salah satu toko, Rio melihat sebuah gaun berwarna merah maroon.


"Bi, lihat gaun ini," ucap Rio sembari meraih gaun yang dikenakan oleh manekin itu.


"Waw gaun yang sangat indah," gumam Biani.


"Kamu coba ya, cocok gak buat kamu."


Biani tersenyum lalu menyentuh bahan gaun itu lalu ia melihat harganya yang ternyata melebihi gajinya selama satu bulan.


"Apa! Untuk gaun seperti ini saja harganya sampai semahal ini?"


Rio membekap mulut Biani dengan tangannya!


"Ssst! Bicaranya jangan keras-keras, malu sama pengunjung lain," ucap Rio.


Rio melepaskan tangannya setelah berbicara pada Biani.


"Maaf, aku kaget saja sama harganya."


"Kaget gimana?"


"Kalau kita beli di pasar harga segitu dapat satu lusin mungkin bisa lebih," ucap Biani.


"Kamu ini gimana? Di sini barang-barang branded semua. Emang harganya segitu, rata-rata ya segitu harganya."


"Aku tahu, tapi apa gak kemahalan kamu beliin aku gaun dengan harga segitu?"


"Ya, nggak lah sayang. Kamu mau beli lebih dari satu pun aku siap bayarin semua belanjaan kamu."


Biani tersenyum ke arah Rio lalu mengusap pipi Rio dengan lembut.


"Kamu memang baik. Terimakasih, cinta," ucap Biani.


Rio meraih tangan Biani yang masih menempel di pipinya!


"Aku cinta sama kamu, aku siap mengorbankan semua milikku untuk dirimu jangankan uang, nyawa pun akan aku berikan untuk kamu."


"Kamu sosweet banget. Aku makin cinta sama kamu."


"Sekarang kamu coba gaun ini ya, kalau cocok kita beli."


Biani menuruti perkataan Rio, dia mengambil gaun itu lalu masuk ke dalam ruangan khusus untuk mencoba pakaian. Sementara Rio menunggu di ruang tunggu yang tersedia di toko itu.


Setelah beberapa menit, Biani keluar dari ruangan itu!


"Rio," ucap Biani.


Rio menatap Biani dari atas sampai bawah dengan mata yang tidak pernah berkedip satu kali pun.


"Bi, coba berputar!"


Biani memutar tubuhnya dihadapan Rio.


"Oke. Kamu cantik banget," gumam Rio.


Biani berdiri menghadap Rio, sebuah senyuman terbaik ia suguhkan untuk Rio.


"Terimakasih," ucapnya.


"Kita beli yang ini saja. Sekarang tinggal cari buat aku," ucap Rio.


"Serius kamu mau belikan ini untukku?"


Rio tersenyum sembari meraih tangan Biani!


"Serius lah masa nggak," ucapnya sembari mengelus punggung tangan Biani.

__ADS_1


Mereka melanjutkan pencarian mereka ke toko yang lain toko khusus pakaian dan aksesoris laki-laki.


Bersambung


__ADS_2