
Pagi hari, seperti biasa Biani sudah bersiap-siap untuk bekerja. Meski dirinya memilih untuk tidak lagi menjalin hubungan percintaannya dengan Rio tapi dalam urusan pekerjaan Biani masih ingin menjalin hubungan dengan baik, hubungan antara karyawan dan bosnya saja.
"Bi, kamu mau kerja?" tanya Jenny.
"Iya, Ma. Aku harus bekerja," sahut Biani.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu saja."
...****************...
Shania berdiri didepan cermin besar yang ia bisa melihat seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah.
Dia berdiri sembari memandangi dirinya dari pantulan cermin itu, tangannya ia letakan di perutnya yang mulai membuncit sambil sesekali ia memposisikan dirinya miring ke kanan dan ke kiri agar dia bisa melihat tubuh bagian belakangnya!
Leon datang lalu memeluk Shania dari belakang!
"Kenapa dilihatin terus hmm?" ucap Leon sembari membenamkan dagunya dipundak Shania.
Posisi mereka terlihat jelas dari pantulan cermin itu, Leon memeluk Shania dengan penuh kasih sayang, mereka terlihat begitu mesra seakan tidak pernah punya beban hidup.
"Leon aku jelek ya, sekarang? Perutku sudah buncit dan mulai gak cocok pakai baju apapun juga," ucap Shania.
"Tidak, kamu tetap terlihat cantik meski dengan kondisi seperti ini," sahut Leon.
"Kamu tidak bohong?"
"Untuk apa aku berbohong? Lagi pula tidak ada untungnya bagiku."
Shania tersenyum tipis sambil menggenggam erat tangan Leon yang melingkar di perutnya.
"Kamu mau ke kantor gak, hari ini?"
"Ke kantor dong. Aku harus kerja kalau tidak nanti kita gak punya uang."
"Kalau gitu lepaskan pelukanmu dan ayo kita sarapan!"
"Baiklah sayang."
Leon mencium leher Shania lalu melepaskan pelukannya!
...****************...
Di kediaman Elvan dan Kayla.
Kayla sedang memakaikan dasi suaminya, dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Kayla melakukan tugasnya dengan sangat baik.
"Kay," ucap Elvan.
"Ya, Mas ada apa?" sahut Kayla.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin menyebut nama kamu saja."
Kayla tertawa kecil. "Kamu ini, aneh-aneh saja."
"Kamu serius mau melanjutkan pekerjaan kamu yang menantang itu?"
Awalnya Elvan merasa ragu untuk menanyakan hal itu tapi ia mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya kepada Kayla.
"Iya, kenapa memangnya? Kamu tenang saja, Mas. Aku gak akan pergi-pergi atau menginap di luar selama aku bertugas."
"Bukan itu maksudku. Maksudku ... sebenarnya aku hanya merasa khawatir."
"Aku tahu kamu pasti khawatir tapi kamu harus pergi aku akan baik-baik saja."
"Aku tahu kamu adalah wanita kuat yang tidak pernah terkalahkan kamu adalah wanita hebat yang kebetulan aku miliki juga." ucap Elvan.
...****************...
Di kampus tempat Rania kuliah.
Galang berjalan memasuki area kampus itu, dia mencari-cari sosok Rania, gadis yang selalu datang mengganggu pikirannya itu!
"Sorry kak, saya mau tanya kakak lihat Rania gak?" tanya Galang kepada salah satu mahasiswa yang berpapasan dengannya.
"Maaf, aku belum lihat gadis itu," jawab mahasiswa itu.
"Oh, terimakasih ya kak."
Mahasiswa itu hanya menanggapi perkataan Galang dengan senyuman ramahnya lalu dia berlalu pergi.
Galang terus berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke semua arah berharap dirinya bisa menemukan Rania!
"Aku cari dia ke mana, gak mungkin aku ke rumahnya, aku kan gak tahu dimana rumahnya," gumam Galang.
"Galang! Galang!"
Saat Galang sedang berjalan tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya.
Galang menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya agar bisa melihat orang yang berteriak memanggil namanya.
"Rania," gumam Galang.
"Katanya kamu nyariin aku ya?" ucap Rania setelah tiba di dekat Galang.
"Iya. Kamu tahu dari mana?" sahut Galang.
"Temanku yang tadi kamu tanyai itu."
"Oh jadi dia temanmu? Rania aku butuh bantuan kamu."
"Bantuan apa?"
__ADS_1
"Bisa kita bicara ditempat lain?"
"Tentu saja, ayo kita ke taman!"
Mereka berdua berjalan menuju taman yang terdapat di area kampus itu!
Satu jam lebih mereka mengobrol, setelah Galang menjelaskan panjang lebar, akhirnya Rania bersedia membantunya.
"Serius kamu mau bantu aku?" tanya Galang.
"Iya, tentu saja."
"Baik, saat jam makan siang ya."
"Oke, kita ketemuan di mana?"
"Aku jemput kamu saja ke sini."
"Tapi motorku?"
"Kita urus itu nanti."
...****************...
Di kafe.
Biani bekerja seperti tidak memiliki semangat, dia terus melamun, memikirkan tentang kisah cintanya yang selalu berakhir di tengah jalan.
"Bi, kamu kenapa sih?" tanya Indah yang melihat Biani terus murung.
"Gak apa-apa, Ndah," sahut Biani.
"Jangan bohong. Kamu pasti lagi mikirin Rio dan Galang."
"Tidak, aku hanya ...."
"Sudahlah, Bi kalau kamu sayang sama Rio kamu lanjutkan saja hubungan kamu sama dia."
"Gak bisa, Ndah aku gak mau menjadi orang yang merusak hubungan mereka sebagai kakak adik."
"Galang itu masih terlalu muda untuk memutuskan hal seperti ini, lagi pula aku rasa cinta dia ke kamu itu hanya cinta monyet nanti juga kalau nemu yang lain dia langsung lupa sama kamu."
Biani menghela nafasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Sudahlah, aku gak mau bahas itu."
...****************...
Di tempat kerjanya, Rio tidak bisa fokus sebelum dapat bicara dengan Biani dia terus melihat jam di tangannya, Rio menunggu saat jam makan siang tiba karena saat itu dia akan menemui Biani di kafe nya.
Saat itu masih kurang lima menit untuk tepat pada jam dua belas siang namun Rio sudah meninggalkan rumah sakit tempat ia bekerja, dia sangat ingin cepat-cepat menemui Biani.
__ADS_1
Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin cepat sampai ke kafe nya!
Bersambung