
Pagi telah tiba matahari mulai menampakkan sinarnya.
Liana mulai membuka matanya perlahan dan pandangan pertama yang ia lihat adalah wajah sang suami.
"Ih, kenapa aku harus meluk dia sih?" ucap Liana didalam hatinya saat ia tahu kalau ia memeluk Rendy, "dari kapan aku meluk dia? malu-maluin aja."
Perlahan Liana menarik tangannya yang melingkar dipinggang Rendy namun Rendy menahan tangan Liana, "mau kemana? biarin seperti ini dulu," ucap Rendy yang tetap menutup matanya.
"Mas."
"Hmm."
"Udah pagi." Liana mencoba menarik tangannya lagi.
Lagi-lagi Rendy menahan tangan Liana agar tetap pada posisi semula.
Rendy membuka matanya, senyum manis ia suguhkan untuk istri tercintanya.
"Coba dari dulu tidur bersama pasti udah ada Rendy junior," ucap Rendy sembari terus memeluk Liana.
"Apaan sih?" Liana cemberut.
"Kamu nyaman kan tidur sambil meluk aku?" ucap Rendy sembari mengedipkan sebelah matanya.
Liana tak menjawab ucapan Rendy.
"Buktinya kamu tidak mengubah posisi tidurmu dari awal kamu meluk aku sampai saat ini," sambung Rendy dengan gaya nakalnya.
"Udah ih jangan ngebahas itu, lagian aku gak sengaja meluk kamu," ucap Liana sembari membelakangi Rendy.
Rendy merapatkan tubuhnya ke tubuh Liana lalu memeluk istrinya dari belakang, "I love you," bisik Rendy ditelinga Liana.
Tanpa disadari Liana tersenyum dalam diamnya. Ada rasa bahagia yang ia rasakan saat mendengar ucapan suaminya.
"Kamu gak balas ucapanku?" ucap Rendy sembari mengeratkan pelukannya.
"Mas, aku mau mandi tolong lepaskan tanganmu," ucap Liana sembari menggeliat.
"Kalau aku gak mau?"
"Mas tolonglah." Liana sedikit memohon agar terlepas dari suaminya.
"Mandi bareng yuk."
Liana berbalik badan lalu mencubit perut Rendy.
"Aww! aww! sakit Li." Rendy meringis sembari memegangi perutnya.
"Mau aku tendang atau mau aku hajar," ucap Liana ketus.
Rendy duduk disamping Liana sambil mengerutu sendiri.
"Nasib punya istri tangguh."
Liana meninggalkan Rendy di tempat tidur, ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah dua puluh menit Liana selesai dengan ritual mandinya, ia segera keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap.
Liana berjalan menghampiri suaminya yang masih terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
"Mas, kok tidur lagi. Kamu mau ke kantor gak?" ucap Liana yang melihat suaminya masih memejamkan matanya.
"Aku masih ngantuk Li." Rendy enggan membuka matanya rasa ngantuk yang melandanya membuat ia sulit terbangun.
"Mas cepat bangun." Liana menguncang-guncangkan bahu Rendy.
Terpaksa Rendy membuka matanya lalu duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Semalam aku gak bisa tidur Li, gara-gara kamu meluk aku terus," ucap Rendy dengan muka bantal khas bangun tidur.
"Malah nyalahin aku. Kan tadi aku udah bilang kalau aku gak sengaja meluk kamu," ucap Liana sambil menyisir rambutnya.
"Gara-gara kamu, aku jadi gak bisa tidur karena aku anteng ngeliatin wajah kamu," ucap Rendy.
Liana mengulum bibirnya, sebuah senyum tipis terukir dibibirnya.
"Ngapain ngeliatin orang tidur? kayak gak ada kerjaan lain aja. Cepat mandi sana! nanti telat ke kantor lagi," cerocos Liana.
"Peluk dulu," ucap Rendy dengan gaya manjanya.
Liana memutar bola matanya, "kenapa aku jadi terjebak gini," gerutu Liana.
"Peluk." Rendy mengulangi perbuatannya.
Dengan terpaksa Liana memeluk suaminya.
"Udah. Suamiku yang tampan dan baik hati mandi gih biar wangi," ucap Liana sembari mengelus pipi suaminya.
Rendy tersenyum penuh kemenangan. "Cium," ucapnya.
"Nggak mau. Kalau mau itu, nanti setelah kamu mandi," ucap Liana sembari meninggalkan suaminya.
Kini Liana sedang berada di dapur untuk memastikan asisten rumah tangganya sudah menyiapkan sarapan atau belum.
"Sarapan apa hari ini?" tanya Liana kepada asisten rumah tangganya.
"Seperti yang Anda lihat, Nyonya."
Liana tersenyum kepada asisten rumah tangganya.
"Bibik memang selalu bisa ku andalkan."
"Itu memang sudah menjadi tugas saya," ucap asisten rumah tangga Liana.
"Bik Ida mau kemana?" tanya Liana saat melihat asisten rumah tangganya berjalan meninggalkannya.
"Mau nyiram tanaman. Apa ada yang harus bibik kerjakan, Nyonya?" tanya Bik Ida asisten rumah tangga di rumah Rendy.
"Sarapan dulu, Bik sebelum melakukan pekerjaan yang lain biar Bibik gak lemas dan gak gampang capek," ucap Liana dengan senyum ramahnya.
Liana memang tak pernah membedakan setatus sosial ia selalu menyamaratakan pandangannya terhadap semua orang.
Rendy menghampiri istrinya yang kini tengah berdiri didepan meja makan.
"Jangan diliatin terus, makanannya gak bakal ilang kok," ucap Rendy yang baru tiba di ruang makan.
"Udan ganteng ternyata," ucap Liana sembari menarik kursi untuk ia duduki.
"Emang tadi gak ganteng?" ucap Rendy sembari duduk disamping Liana.
__ADS_1
"Nggak. Tadi kamu nyebelin," ucap Liana sembari mengisi piring yang ia pegang dengan nasi dan teman-temannya.
"Benarkah?" Rendy nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
Liana memberikan piring yang sudah ia isi kepada Rendy.
"Sarapan dulu, biar gak kehabisan ide untuk merayu aku," ucap Liana.
Mereka sarapan dalam diam. Setelah selesai sarapan Rendy segera berangkat ke kantor sedangkan Liana, hari ini ia memilih tetap di rumah karena akan memindahkan barang-barangnya ke kamar suaminya.
"Mana janjimu? kenapa belum ditepati?" tanya Rendy sebelum keluar dari rumah.
"Janji apa?" Liana bertanya balik.
"Tadi aku minta ini," ucap Rendy sembari menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
Tak ingin berlama-lama Liana segera mencium pipi Rendy.
"Udah."
Rendy masih berdiri didepan Liana senyum misterius terukir dibibirnya.
"Kenapa belum berangkat juga?" tanya Liana yang melihat suaminya masih berdiri ditempat semula.
Tanpa berkata Rendy menarik tangan Liana lalu mencium bibir istrinya sekilas.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya sayang," ucap Rendy.
Liana memajukan bibirnya beberapa centi membuat Rendy semakin gemas kepada istrinya itu.
"Jangan cemberut nanti aku cium lagi nih," goda Rendy.
"Mas!"
Rendy segera pergi meninggalkan Liana sebelum istrinya itu marah dan mencubitnya lagi.
Di kantor.
Ken sedang memeriksa ulang beberapa berkas yang sudah ia kerjakan di rumahnya.
"Ken," ucap Rendy yang baru tiba di kantor.
Ken menoleh ke arah suara.
"Baru nyampe?" ucap Ken lalu kembali fokus pada kerjaannya.
"Ken maaf ya." Rendy berjalan menghampiri Ken lalu duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya Ken.
"Maaf? maaf untuk apa?" tanya Ken sembari terus fokus pada berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Untuk semuanya. Gue sengaja cuekin lu karena gue pengen tahu Liana udah cinta atau belum sama gue," jelas Rendy.
"Terus bagaimana hasilnya?" tanya Ken.
"Belum pasti. Tapi tadi malam gue udah tidur sekamar sama Liana," ucap Rendy.
Ken menatap Rendy dengan tatapan tak percaya, "benarkah?"
"Ya," saut Rendy singkat.
__ADS_1
"Lo udah cinta juga kan sama Liana? jangan sampai lo cuma main-main sama dia," ucap Ken.
Bersambung.