Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 14


__ADS_3

Leon dan Shania sudah tinggal didalam satu rumah. Mereka tidak tinggal di rumah orang tuanya Shania ataupun di rumah orang tuanya Leon, setelah menikah dan sah menjadi pasangan suami istri, Leon membawa Shania tinggal di rumah yang sudah ia beli sejak lama.


Sebenarnya rumah itu ia siapkan untuk Biani, namun karena ia menikah dengan Shania jadilah Shania yang ia bawa tinggal di rumah tersebut.


Pagi itu, Shania sudah selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Leon. Karena belum ada asisten rumah tangga, Shania harus menyiapkan semuanya sendiri.


Leon sudah berpakaian rapi ia siap untuk berangkat ke kantor dipagi itu.


Leon berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum!


"Sarapan dulu," ucap Shania yang sedang menata makanan di atas meja makan."


Leon menatap makan yang sudah tertata rapi di meja makan.


"Makan saja sendiri, aku tidak akan pernah memakan makanan yang kamu masak. Aku hanya akan memakan makanan yang istriku masak untuk aku," ucap Leon datar.


Shania masih duduk santai di kursi.


"Aku kan istrimu," ucap Shania.


"Kamu memang istriku tepatnya istri di atas kertas, hanya istri di atas kertas," ucap Leon.


Leon sengaja mengulang perkataannya agar Shania tidak berharap banyak kepadanya.


Shania tersenyum selebar senyuman yang ia miliki.


"Baiklah, terserah kamu saja. Yang penting aku sudah melakukan tugas aku sebagai seorang istri, tentang kedepannya bagaimana kita jalani saja dulu."


"Perempuan aneh." Leon berjalan meninggalkan Shania tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang istrinya siapkan untuknya.


Shania hanya menatap Leon, mulutnya tertutup rapat seakan enggan untuk berucap.


Leon melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang!


Ditengah perjalanan beberapa pemotor menghadang mobil yang Leon kendarai. Mereka menghentikan mobil Leon dengan paksa!


Leon mencoba menghindar, namun kecepatan mobilnya tidak bisa mengalahkan motor yang mereka kendarai, akhirnya dengan terpaksa, Leon harus menghentikan laju kendaraannya!


Beberapa laki-laki itu menggedor kaca mobil bagian depan!


"Woi! Keluar lo!"


"Keluar!"


Para preman itu terus menggedor kaca mobil, agar Leon keluar dari mobilnya!


Leon berdecak kesal karena perjalanannya terganggu.


Dengan percaya diri, Leon keluar dari mobilnya!


"Mau apa kalian?" ucap Leon.


Tanpa kata, salah satu preman itu menyerang Leon!


Akhirnya perkelahian antara Leon dengan tiga orang preman itu dimulai.


Leon tak tahu apa yang mereka inginkan darinya, ia tidak sempat bertanya sebelumnya karena mereka langsung menyerangnya.


Baku hantam antara Leon dan preman-preman itu tidak bisa terhindarkan hingga Leon mulai kewalahan menangani mereka.


Setelah sepuluh menit, Leon terkulai lemah tak berdaya. Tubuhnya tergeletak diatas aspal.


"Rasain, lo," ucap salah satu preman itu.


"Mau kita apakan orang ini?" tanya preman yang satu lagi.

__ADS_1


"Biarkan saja dia disini! Bos melarang kita untuk menghabisinya."


"Ayo kita pergi!"


Preman-preman itu pergi meninggalkan Leon yang tergeletak penuh luka di jalanan.


Leon masih bisa mendengar perkataan orang-orang itu meski tubuhnya tak dapat terbangun lagi dan matanya tertutup.


Sedetik kemudian Leon merasa pusing lalu ia tak sadarkan diri.


...****************...


📞 "Rencana sudah berhasil dijalankan," ucap preman itu setelah berhasil menelpon seseorang.


📞 "Bagus, pastikan dia merasa kesakitan,"ucap seseorang dari sebrang telepon.


📞 "Beres, Bos."


📞 "Bagus. Bayarannya akan gue transfer nanti siang," ucap orang yang dipanggil bos oleh preman itu.


📞 "Oke, ditunggu."


Preman itu menutup teleponnya lalu segera melanjutkan perjalanannya!


...****************...


Di tempat yang lumayan jauh dari kediaman Leon dan Shania.


Di rumahnya. Biani sedang bersiap untuk menjalankan rencananya untuk menyingkirkan Shania dari kehidupan Leon.


"Mau kemana, Bi pagi-pagi gini?" tanya Jenny.


"Ketemu teman, Ma," sahut Biani beralasan.


Biani tidak mungkin mengatakan bahwa ia akan melakukan kejahatan terhadap istrinya Leon karena, Mamanya akan melarangnya.


"Iya, Ma kan lama diperjalanan. Mama tahu kan motor butut aku itu sering mogok di jalan," jelas Biani.


"Ya sudah, setelah ini kita sarapan bersama," ucap Jenny.


Jenny keluar dari kamar Biani lalu berjalan menuju kamar Jacky untuk mengajak putranya itu sarapan bersama!


Tok!


Tok!


Tok!


Jenny mengetuk pintu kamar Jacky!


Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Jacky, Jenny tak kunjung mendapat jawaban dari putranya.


"Jacky, kamu sudah bangun belum, Nak?" ucap Jenny dari luar kamar.


"Tumben, anak itu kesiangan," ucap Jenny didalam hatinya.


"Udah, Ma," ucap Jacky dari belakang Jenny.


Jenny terperanjat mendengar suara Jacky yang berasal dari belakangnya.


Jenny membalikkan badannya!


"Kamu dari mana, kok udah ada di luar?" tanya Jenny.


"Dari halaman, Ma. Olahraga sedikit," ucap Jacky.

__ADS_1


Jenny menggelengkan kepalanya.


"Ayo sarapan! Kamu mau kerja gak?" ucap Jenny.


"Kerja dong, kalau gak kerja kita gak punya uang," sahut Jacky.


Jenny berjalan menuju meja makan terlebih dahulu disusul dengan Jacky dibelakang Jenny. Biani pun mengekor di belakang Kakaknya!


Mereka duduk lalu mulai menyantap makan yang sudah Jenny siapkan untuk mereka sarapan.


"Cantik banget. Mau kemana?" tanya Jacky kepada Biani setelah selesai sarapan.


"Ketemu teman," sahut Biani.


"Oh, ketemu teman."


...****************...


Leon tersadar dari pingsan nya.


Perlahan Leon membuka matanya. "Dimana aku?" ucap Leon sembari mengedarkan pandangannya.


"Kamu di rumah sakit," ucap Kayla.


Leon menatap orang yang berbicara padanya.


"Kamu?"


"Ya, aku yang bawa kamu kesini," ucap Kay seolah tahu apa yang ingin Leon katakan.


"Terimakasih," ucap Leon.


Kayla tersenyum. Ini kali kedua mereka bertemu namun dalam situasi yang berbeda.


Tak lama Shania datang ke ruangan itu!


"Leon, kamu gak apa-apa?" ucap Shania.


Leon terdiam dalam tatapan tak suka dengan kedatangan Shania.


"Suami kamu baik-baik saja. Tidak usah khawatir," ucap Kayla.


"Pasti kamu yang membawa suamiku ke sini, terimakasih," ucap Shania.


"Sama-sama. Karena kamu sudah ada di sini, aku permisi karena aku ada urusan lain,"ucap Kay.


"Iya, silahkan! Sekali lagi terimakasih," ucap Shania.


Setelah Kayla pergi, Shania menatap Leon namun tak sepatah kata pun ia ucapkan kepada Leon.


"Aku baik-baik saja. Kamu pergi dari sini," ucap Leon.


"Aku ingin sekali pergi dari sini, untuk apa aku menemani dan mengurus suami yang tidak bertanggungjawab seperti kamu tapi aku harus tetap di sini sampai mamamu datang dan pergi lagi dari sini," ucap Shania tak kalah dingin dari sikap Leon padanya.


Leon terdiam, dalam pikirannya ia bertanya kenapa wanita yang ia nikahi itu masih memperdulikan dirinya dan keluarganya.


Shania duduk di kursi yang ada di samping hospital bad tempat Leon berbaring!


"Kenapa bisa begini?" tanya Shania.


"Tidak usah sok perhatian."


"Setidaknya aku tahu harus berkata apa saat mamamu bertanya padaku," ucap Shania dengan santainya.


"Aku yang akan menjelaskan semua kepada mamaku," ucap Leon.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2